[Coretan Dicta] Loneliness

Bagiku kesepian dan sendirian itu memiliki arti yang sangat berbeda dan benar-benar tidak identik. Kenapa? Karena ketika aku sendirian, aku justru merasa memiliki diriku sendiri seutuhnya. Sejujurnya, aku bukanlah orang yang supel, aku ini bertingkah ekstrovert hanya untuk mencari perhatian namun sesungguhnya, jauh di dalam diriku ini ada sisi introvert yang kadang kala mengambil alih.

Ada suatu waktu dalam masa hidupku aku tidak memiliki kepercayaan kepada keluargaku sendiri, termasuk mama dan papa. Sehingga, ketika aku merasa sendirian, aku merasa aku bisa melakukan semuanya dengan bebas tanpa merasa terkekang oleh kehadiran mereka.

Perasaan aku-lebih-senang-sendiri itu semakin menjadi saat SMP, aku pergi merantau ke ibukota provinsi Palangka Raya dan berpisah dengan Mama dan Papa yang tinggal di Muara Teweh (salah satu kabupaten di Kalteng). Di sana aku tinggal bersama Tante dan Om-ku yang tidak dikaruniai anak dan kurang-lebih aku sangat dimanjakan di sana—well, mengingat berat badanku naik 20 kg sampai aku lulus SMP sih, hahaha.

So, singkat kata, selama aku menjalani masa-masa SMP-ku, aku nyaris sama sekali tidak merasakan rindu yang mendalam kepada orangtua—terutama Mama. Sejak kecil ikatan terkuatku memang ada pada Papa, biasalah, anak perempuan pasti dekatnya ke Papa, tapi itu pun menurutku tidak cukup dalam dan mengakar sekali. Jadi ya, soso gitu perasaannya. Sampai akhirnya kuakhiri masa SMP-ku dan pindah ke Banjarmasin untuk menempuh masa SMA dengan segala pengalaman yang terduga. Hahaha.

Aku di-bully di SMA, kemudian mengalami krisis kepercayaan diri dan jati diri sementara tak ada satu pun keluarga terdekatku yang dapat menolong. Pertama kali aku menceritakan perihal di-bully itu ke papa dan papa malah menyarankan untuk pindah sekolah! Argh, what the… waktu itu dalam benakku, solusi pindah sekolah adalah hal terburuk yang aku terima, karena sesakit-sakitnya rasa ter-bully yang aku terima, aku TIDAK INGIN LARI dari masalahku itu. Itu tindakan pengecut, dan Papa-ku sendiri yang mengajakku untuk menjadi pengecut? Hatiku hancur, meskipun aku tahu maksud Papa waktu itu baik.

Lalu aku cerita ke Eyang dan tanteku perihal di-bully itu, mereka mendengarkan dengan baik dan memberiku solusi yang lain yaitu… pergi ke psikater! Wohooo, perasaan kayak Marshanda deh, disangka gila dan stress gitu. Hahaha. Mereka bilang itu untuk kebaikan, tapi hatiku masih berkata itu bukan solusi yang baik dan akhirnya ide itu pun tak pernah terlaksana sampai sekarang. Untung saja waktu itu aku tidak dibawa ke psikiater beneran, mungkin aku bisa dikasih obat anti-stress dan lain sebagainya ya. Hahaha.

Hantaman lain yang kuterima saat SMA adalah saat Papa pergi dengan damai terbebas dari segala penyakit yang dideritanya selama ini dan disimpan dalam peti mati berwarna putih gading itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar merasa kesepian. Saat aku di-bully, aku masih punya beberapa teman yang mau menemaniku dan mendengarkan segala tangisanku, tapi ketika aku kehilangan Papa, aku tidak punya siapa-siapa lagi di rumah.

Hubungan dengan Mama tidak pernah berjalan mulus, kami tidak pernah dekat satu sama lagi karena kami benar-benar sama-sama keras kepala. Aku sudah tidak ingat berapa kali membuat Mama nangis, dan aku juga sudah tidak ingat berapa kali aku menangis karena Mama. Aku punya satu orang adik laki-laki yang benar-benar dekat dengan Mama, dan aku cemburu juga marah karena dengan begitu sempurna sudah dunia ini berkonspirasi untuk menusukku dengan perasaan kesepian itu.

Untungnya, saat itu aku tidak tinggal serumah dengan Mama. Aku masih di Banjarmasin, menempuh sisa-sisa masa SMA-ku, mencoba mengatasi masalah pem-bully-an itu sendirian. Jadi, kubiarkan saya rasa kesepianku itu tertekan oleh kebebasanku karena tinggal sendirian itu. Oh ya, aku lupa bilang, sampai detik ketika aku menulis coretan ini aku sama sekali tidak pernah menceritakan kasus pem-bully-an itu kepada Mama. Mungkin Mama tahu tentang kasus itu dari Eyang atau Tante-ku, tapi aku yakin ia tidak pernah tahu dariku secara langsung. Jadi, bisa disimpulkan kan bagaimana renggangnya hubunganku dengan Mama ini?

But, time passed so fast dan people change slowly. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi sebelum Papa meninggal mau pun setelah Papa meninggal, problematika yang muncul dan lain sebagainya, usaha-usaha untuk membuka hati dan mencoba mengerti Mama, semua perubahan diriku serta fisikku, dan semua hal yang terjadi dalam hidupku selama ini yang gak akan habis kuceritakan di dalam coretan-coretanku ini, pelan namun pasti mengajariku berbagai macam hal. Lantas perasaan kesepian itu pelan-pelan menghilang meski tidak benar-benar terlupakan.

Lalu, gempuran rasa kesepian yang kedua terjadi adalah masa sekarang. Sebenarnya, aku benar-benar merasa kesepian ketika aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukanku gagal SBMPTN tahun ini. Aku sudah kepalang bingung dengan progress online shop-ku yang tidak kunjung berjalan mulus, dan halangan yang kesannya tidak ada habis-habisnya. Aku mulai menjadi diriku yang dulu seperti yang kuceritakan di coretan yang ini (Kembali Berrcermin dan Menangis), sisi introvert-ku kembali muncul dan berkuasa, rasa kepercayaanku pada keluarga kembali pupus dengan beberapa kejadian yang melukai hatiku yang dulu sudah berusaha kusembuhkan (Ah, aku akan menceritakan kejadian ini di lain waktu, perlu banyak sekali lembar halaman Ms. Word untuk menjelaskannya pada kalian) dan semuanya terlihat semakin rumit bagiku.

But, once again, God shows me His way to Cheer me up.

Seorang teman dunia maya kemarin me-mention-ku di Twitter dan menyampaikan pesan ini.

capture-20140811-115705

Dia mengirimiku lagu Miley Cyrus-Climb yang ia cover sendiri dan membuatku kembali tersadar tentang jalan hidup yang sedang aku tempuh ini memang gak mudah, karena ketika aku memilih jalan hidup yang mudah dan aman-aman saja, aku tidak akan menjadi apa pun. Seperti ikan patin yang tinggal di tambak dan dikasih makan bama agar gendut, ikan itu pun hidup dengan sangat nyaman di sana tanpa tahu akhirnya mereka di-‘bunuh’ juga untuk disantap. Aku tidak ingin seperti ikan patin itu, aku ingin menjadi ikan salmon yang berani melawan arus meski ia tahu banyak ancaman yang menantinya di ujung sana. Hahaha, aduh, perumpamaanku kok amburadul banget ya, ah sudahlah, lanjutkan saja coretan ini.

Detik itu juga setelah aku tersadar, aku kembali membuka coretanku yang kutulis di hari pengumuman SBMPTN waktu itu, dan membaca-baca komentar yang singgah di sana. Lagi-lagi aku menyadari… huft, aku memang sendiri di sini, tapi aku tidak kesepian. Di luar sana, entah di sisi Indonesia yang mana, ada banyak sekali orang yang merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang dan mereka juga berjuang seperti aku di sini.

capture-20140811-120100 capture-20140811-120533 capture-20140811-120410 capture-20140811-120338 capture-20140811-120310 capture-20140811-120151

Silakan buka tulisanku itu dan baca lebih banyak komentar inspiratif yang tertoreh di sana—Tentang Hidupku Setelah SBMPTN 2014. Aku menemukan kekuatanku kembali setiap kali aku membaca komentar-komentar mereka dan bersyukur (sekali lagi bersyukur dan akan terus bersyukur) karena aku hidup di jalan ini.

Akhir coretan, aku hanya ingin bercerita tentang perasaanku sekarang, bahwa aku mungkin memang sendirian di sini—di kota kecil bernama Muara Teweh ini aku tinggal tanpa teman karena mereka semua pergi merantau untuk kuliah—dan aku berjuang menantang kebosanan dan rasa putus asa hanya bersama Mama dan laptop serta handphone tempatku berinteraksi dengan dunia. Tapi ketahulah, sedikitpun aku tidak merasa kesepian, karena melalui kata-kataku ini serta komentar-komentar kalian dan kerlingan mata kalian di blog-ku ini…

Aku menemukan hidupku kembali utuh.

Ini bukan hanya tentangku, tapi juga tentang semua orang yang mengalami hal yang sama denganku. Ketahulah melalui coretanku ini, karena kekuatanku yang terbesar bukan hanya dari orang-orang sekitarku, tapi juga kalian yang singgah di sini, dan mencecap sedikit hidupku yang tertoreh di setiap katanya.

TERIMA KASIH.

5 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Loneliness

  1. Ping-balik: SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar | Kata-Kata Dicta

  2. ilham fernanda

    Hai Benedikta, coretan kamu yg diatas persis sekali sama yang aku alami dulu.Mungkin karena prinsip kita sama kali Ya.Sekarang aku sudah melupakan hal itu.Thanks motivasinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s