[Coretan Dicta] My True Dream

“Jika kau adalah seorang penulis, maka menulislah.”

 

Belakangan aku mulai gila (emang kapan sih kamu gak gila, Dict?) dengan apa yang sudah, sedang dan akan aku lakukan dalam hidupku. Aku banyak menulis tulisan tentang diriku dan bercermin dari semua tulisanku itu lantas menyadari banyak hal ketika aku menulis. Aku tahu apa yang aku inginkan dalam hidupku nanti, it’s something like, ‘I’m gonna be the boss I won’t work under anybody’ dan hal tersimple untuk menjadi bos kecil dalam hidup ini adalah  menjadi seorang wirausaha. Aku yakin aku bisa melakukannya, aku sudah memulainya dan percaya bahwa ini adalah awal yang baik.

But then, I’m thinking over again, and these question come up: is that true? Is that your own dream, Dict?

I remember, Om-ku lah yang mengatakan bahwa bekerja di bawah orang lain sama saja menjadi pantat gajah, dan itu kurang mengesankan karena lebih baik menjadi kepala semut ketimbang pantat gajah. Yeah, you know what I mean lah, gak usah dijelaskan panjang lebar perdebatan hidup tentang pekerjaan ini. Intinya, pekerjaan di dunia ini terbagi menjadi dua, bekerja di perusahaan orang lain atau membangun perusahaan sendiri. Mana yang lebih baik, masing-masing orang yang menentukan, tapi aku memutuskan untuk memilih yang kedua: membangun perusahaan sendiri.

Jadi, sebenarnya ide menjadi wirausaha itu bukan dari dirimu sendiri, Dict? Bisa dibilang iya, karena pada mulanya aku justru berpikir menjadi seorang penulis.

Pertanyaan yang muncul kemudian di kepala kalian pasti: Kenapa ingin menjadi penulis? Akan kujawab jujur, karena hanya itu yang aku bisa. Dulu, saat membangun blog Kata-Kata Dicta ini, aku ingat semangat menjadi seorang penulis sungguh membara dan berapi-api. Aku ingin membuat sebuah novel, kumpulan cerpen, lantas menerbitkannya dan aku bisa menyandang status penulis itu dengan bangga. Seperti Paulo Coelho, seperti Raditya Dika, seperti Winna Effendi, seperti mereka yang berhasil menembus tembok persaingan dan menjadi juara dengan kata-kata mereka. Ya, aku ingin kata-kataku juga di dengar, meski hanya sedikit orang yang peduli, setidaknya mereka tahu aku ada.  Sesederhana itu.

Tapi kemudian, gempuran realitas datang dan perlahan tapi pasti aku melupakan mimpiku menjadi penulis. Sekarang aku menulis untuk diriku sendiri; mencoba tetap waras dengan menulis, dan keinginan untuk menyuarakan kata-kata itu keseluruh penjuru dunia perlahan pupus. Aku yakin mimpiku itu bisa menunggu, aku harus berhasil masuk ke dunia kerja ini dulu sebelum mimpi itu kukejar setengah mati. Menjadi wirausaha adalah pekerjaan yang paling mendekati mimpiku menjadi seorang penulis, karena aku tahu jika aku memiliki perusahaan sendiri aku bisa mengerjakan tulisanku kapan pun aku mau. Namun, malam ini aku kembali bertanya-tanya, sudah benarkah semua yang kulakukan ini?

Maka, dengan tenang aku kembali bertaruh, meskipun keragu-raguan itu masih saja ada dan menyelimuti setiap malamku: akan kucoba lagi memupuk mimpi menjadi seorang penulis. Pada kenyataannya, menjadi seorang wirausaha saja keluargaku ini sudah pontang-panting berkoordinasi untuk ‘menyelamatkan’ masa depanku. Mereka pikir, aku tak akan bisa maju jika menjadi wirausaha karena pekerjaan itu penuh risiko, tidak aman, dan aku akan miskin lantas diejek tetangga, dan sekarang aku kembali gila dengan kembali memupuk mimpi menjadi penulis?

Hahaha, kita lihat apa reaksi mereka saat suatu hari nanti aku menyuarakan mimpi ini; menangis kecewa atau menatapku prihatin.

Aku tahu, dengan gagal masuk ITB tahun ini dan memutuskan untuk mengulang tahun depan sudah cukup membuat seluruh keluargaku malu. Aku ini anak pertama dari ibu yang juga anak pertama dan ayah yang juga anak pertama, keluarga dari Papa serta keluarga dari Mama kedua-duanya menaruh harapan besar padaku. Tentu saja aku tidak bisa mempermalukan mereka dengan terus menerus mengejar mimpi-mimpi gilaku, tapi satu hal yang kuyakini:

THIS IS MY LIFE.

Aku bukan boneka keluargaku meski aku berhutang pada mereka karena telah membesarkanku. Aku yang akan memutuskan sendiri jalanku dan aku akan bahagia dengan jalan yang kupilih sendiri tanpa dipengaruhi oleh siapa pun. Meski aku harus menelan pahitnya diejek, dicemooh, tatapan prihatin, atau kesedihan dari semua orang di sekitarku, aku tahu itu semua adalah harga yang harus aku bayar karena mengambil jalan yang semua orang kira adalah sebuah gegilaan.

“Tell your heart that the FEAR of suffering is worse than the suffering itself and no heart has ever suffered when it goes in search of it’s dream.”Paulo Coelho, The Alchemist

Katakan pada hatimu bahwa ketakutan untuk menderita itu lebih buruk daripada penderitaan itu sendiri dan tak ada satu hati pun yang menderita ketika ia pergi mencari mimpinya. *I can’t stop smiling while writing after quoting his words*

Aku tahu sejak awal kalau hatiku ini tidak sekuat yang kusangka, aku sering goyah, kadang juga ketakutan itu datang dan menghancurkan seluruh keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini aku tumpuk. Tapi Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkanku tentang mimpi-mimpiku dan mengajariku tentang hal-hal baru melalui pertanda-pertanda-Nya. Aku yakin Tuhan tak pernah menutup telinga dengan doa-doaku, ia selalu berbicara denganku melalui Bahasa Dunia—bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang mau membuka hatinya sejenak dan mendengarkan kalau Dunia ini bicara sebagai perpanjangan suara Tuhan.

Dan sekarang aku sedang melakukannya; membuka hati untuk mendengarkan Bahasa Dunia, dan aku percaya bahwa aku mendengar kalau Dunia ini berkata bahwa mereka sedang bekerja sama untuk membantuku memeluk seluruh mimpi-mimpi gilaku.

Iklan

5 thoughts on “[Coretan Dicta] My True Dream

  1. Jika hari ini aku menarik garis ke belakang aku bakal terheran-heran karena begitu banyak kegagalan yang menyertai langkahku.

    Aku gagal masuk kelas bahasa dan malah biologi
    Aku gagal masuk sekolah perawat dan malah perhotelan
    Aku gagal bekerja di hotel dan malah kursus komputer
    Aku gagal masuk di perusahaan keren dan malah cuma jadi admin perusahaan keluarga
    Aku gagal menyenangkan hati ibuku karena gajiku tak seberapa
    dan beberapa kegagalan lain lagi
    Tapi kalau aku tidak melewati semua kegagalan itu kemarin, ternyata aku tidak akan jadi menejer hotel hari ini.

    tetap semangat dicta

    😀 😀 😀

    1. Hiks, makasih ya kakak udah setia selalu kasih komen di blog saya. Saya senang sekali kalau baca komentar2 penyemangat dari Kakak 😀 Semoga hidup kakak dilimpahi kebejoan dan berkah juga ya! 😀

  2. aku memang punya pekerjaan tapi passionku pada menulis, aku merasa menulis itu penyeimbang hidupku, andai nanti aku sudah pensiun aku pasti menghabiskan sisa hidupku dengan menulis, karena pekerjaan terbaik itukan hobby yang dibayar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s