Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Unfocus Moment

Please, go f*ck your own writing, Dict! Whatever, you s*ck!

Hahaha, maaf, coretan ini dibuka dengan kalimat kasar, tapi emang itu yang sedang aku rasakan sekarang ini. Kenapa aku bisa merasa begitu? Ini karena aku selalu menulis ketika aku merasa ingin dan butuh menulis, kadang kala hasrat ingin menulis itu tak bisa ditahan-tahan sehingga seketika itu juga aku memutuskan untuk menulis tanpa berpikir dua kali.

Dan akhirnya, ketika aku menulis aku menemukan kalau isi kepalaku keluar begitu saja tanpa ada filter yang memadai, karena satu-satunya momen ketika aku tak perlu berpikir adalah ketika aku sedang menulis. Aku menulis apa saja yang ada dipikiranku saat itu, tak peduli apa kata orang yang membacanya atau apa kata dunia tentangku. Aku tahu, dengan menulis aku menjadi diriku sendiri. Ada kebebasan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata tentang kegiatan menulis ini, jadi aku biarkan saja semua kata-kata yang tertoreh di blog ini menjadi arsip dari riak-riak pemikiran yang muncul dan tenggelam. Lantas, ketika suatu hari nanti aku membaca ulang semua tulisan itu, aku bisa menemukan kesalahan-kesalahanku dan mencari kebenaran di antara kata-katanya.

Jadi, hahaha, jangan heran ya, untuk kalian yang mengikuti blog-ku ini dari awal dan menemukan keanehan-keanehan atau hal-hal absurd dari tulisanku ini, karena seperti yang aku bilang sebelumnya aku menulis ketika aku merasa ingin dan membutuhkan kegiatan itu hingga tidak memikirkan kewarasan dari setiap kata-katanya.

Sama seperti kejadian dan perasaan yang sedang aku renungkan sekarang ini.  Beberapa hari yang lalu aku ngecoret  tentang My True Dream, dan mengaku di sana kalau aku ingin mencoba untuk memupuk mimpi menjadi penulis lagi. But, as I thought, the time is not right. Sebesar apa pun keinginanku untuk mulai menulis kalimat pertama novel-ku atau bahkan membangun cerita di kepala, tak ada satu pun yang mucul.

Pertanyaannya: KENAPA BISA?

Hahaha, setelah kurenungkan semalam dan sepanjang perjalanan lari pagiku tadi, ternyata jawabannya sangat simple: aku tak bisa menulis buku pertamaku karena itu bukan saatnya.

Harus kuakui, selama ini aku selalu menomorduakan mimpi menjadi penulis itu meskipun itulah mimpi sejatiku. Bukan, bukan karena aku tidak menginginkannya, tapi aku selalu merasa itu bisa menunggu dan saatnya belum tepat. Dunia seolah-olah memberiku pilihan-pilihan yang lebih penting untuk kukejar ketimbang melangkah di jalan seorang penulis.

Choosing one path means abandoning others – if you try to follow every possible path you will end up following none Paulo Coelho

Selama ini aku mengira kalau aku bisa menghubungkan seluruh passion dan mimpiku menjadi satu dan menjalaninya dengan baik. Mungkin aku bisa menjadi seorang wirausaha sambil menulis, mungkin aku bisa belajar untuk tahun depan sambil mengerjakan novelku, mungkin aku bisa berwirausaha sambil belajar untuk tahun depan juga. Hahaha, segala kemungkinan itu, waktu-waktu yang yang kuhabiskan setiap harinya untuk membagi setiap detik untuk menjalaninya bersamaan ternyata sama sekali tidak membuahkan  hasil. Aku sama sekali tidak berjalan ke mana pun, dan aku diam di tempat. Sekali lagi, kenapa?

Karena aku tidak fokus.

Aku baru sadar kalau aku adalah orang yang seperti itu, aku mungkin tahu apa yang ingin aku lakukan tapi apa yang ingin aku lakukan ternyata banyak sekali! Aku ingin melakukan semuanya, tapi tentu saja itu tidak mungkin dan aku harus memilih. Ada masa depan di sana yang ingin aku kejar setengah mati, aku tahu masa depan seperti apa, tapi untuk meraihnya aku harus memilih jalan mana untuk pergi ke sana. Aku tidak bisa memilih semuanya karena seperti sekarang, aku hanya akan tersesat dan kebingungan sendiri.

Maka kuputuskan, untuk berhenti mencoba seluruh kemungkinan itu dan memutuskan untuk mengabaikan beberapa dan salah satunya adalah:

Stop trying to be a writer.

No, I’m not giving up yet, I believe I can reach it. But, right now, the other path is easier, bukan karena aku berhenti mengambil risiko-risiko dalam hidupku, tapi untuk terus bermimpi kamu harus benar-benar terjaga. Bisa dibilang, jangan takabur, tapi aku sebenarnya selalu takabur dan menjadi takabur itu menyenangkan karena dengan begitu aku tahu kesalahan-kesalahan apa yang aku buat dan bisa menertawakannya. Hahaha. But, let’s stop here, be wise for a moment lah Dict, kamu sekarang bukan anak-anak lagi yang setiap pilihannya bisa dimaafkan.

Lagipula, dengan menyadari bahwa menjadi pro-writer itu mimpi yang memiliki perjalanan yang panjang, aku juga ingin menunggu. Menunggu apa? Hehehe, pertanda, the omen, hal yang selalu kusebut-sebut dalam nyaris semua tulisanku belakangan ini. Aku pikir, alasan kenapa aku tidak bisa mulai menulis buku pertamaku meski aku ingin, alasan kenapa aku akhirnya harus memilih, alasan kenapa aku harus menunda mimpi menjadi seorang penulis adalah karena pertanda itu belum ada. Dengan semua itu, Tuhan seolah-olah berkata padaku:

 “Stop, trun around, and fix your mess. I won’t let you go through this path before you learn from the other path. Open your heart, WAIT My omen.”

 

 

So, I answer while smiling, “As you wish, God, I’ll do what do you want. No problem.” Then trun around.   

Hahaha, terdengar pasrah di telinga orang-orang yang suka menuntut pada Tuhan, tapi bagiku pribadi di sanalah esensi dari berdoa dan menjawab Bahasa Dunia. Aku tidak bisa menuntut Tuhan untuk mengabulkan doaku, aku berdoa banyak hal pada-Nya dan tidak seluruh doaku akan terjawab, tapi dengan menambahkan ‘terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu’ di akhir doa aku menyadari bahwa hidupku di dunia ini adalah untuk menikmati pertanyaan: What the hell is God what me to do in this f*cking life?

Sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya dan aku rasa memang tidak perlu dicari jawaban dari pertanyaan itu. Tuhan akan menjawabnya ketika waktunya sudah tiba, hahaha. Sementara itu, sekarang yang bisa aku lakukan adalah memilih jalanku dan membuka hatiku untuk mendengar pertanda-pertanda yang akan ditunjukkan padaku. Aku percaya, jika memang menjadi penulis adalah mimpi sejatiku, Tuhan pasti akan membawaku ke jalan di mana mimpiku berada.

Just, wait His omen. Hehe.  

Iklan

1 thought on “[Coretan Dicta] Unfocus Moment”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s