Diposkan pada Cerita Pendek, Slice of Life, Spiritual

Smile Through The Rain

A_smile_in_the_rain_by_candlelight_maniac

Bian benci sekali dengan musim hujan juga guntur yang menggelegar. Baginya, musim yang menghabiskan waktu dua bulan dalam setahun itu benar-benar kala yang paling buruk. Ia harus siaga setiap waktu dengan jas hujan, payung, atau jaket, dan hal itu sangat merepotkan. Ditambah lagi kondisi cuaca yang tidak bersahabat itu acapkali menyebar virus-virus penyakit dan jika ia terjangkit, segala sumpah serapah pasti keluar dari mulutnya yang tertutup masker sepanjang waktu, karena itulah orang-orang pun langsung menjauh kalau sampai Bian terjangkit penyakit-penyakit musim hujan—entah itu flu, batuk atau pun demam—karena pria itu akan menjadi manusia paling annoying di muka bumi ini dengan terus menerus mengutuki hujan.

“Ah, kampret, hujan lagi! Belum juga Desember udah kayak gini, gak bisa di-skip aja ya musim hujannya? Loncatin ke tahun depan gitu. Argh! Mana lupa bawa jas hujan lagi! Sialan!” Bian mengomel sendirian di depan pintu gedung perpustakaan kampusnya, suasana lumayan lenggang meski waktu baru menunjukkan pukul tiga sore, mungkin hujan yang datang tiba-tiba ini membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

“Cih.” Bian mendecak jengkel, lantas berbalik masuk kembali sembari merapatkan jaket denimnya dan melipat kedua tangan di depan dada. Di susurinya lagi tangga menuju lantai dua gedung perpustakaan dan memutuskan menunggu hujan reda sembari membaca beberapa modul rekomendasi dosen Akuntansi-nya.

Mata Bian melirik kanan dan kiri, mencari tempat yang dikiranya cukup nyaman untuk duduk, hingga tiba-tiba saja matanya terpaku pada pemandangan paling aneh yang baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya. Bian terbujur kaku dan berdiri diam di tempatnya berada, pandangannya lurus lantas mencoba memahami fenomena di depannya itu.

Hujan dan guntur sedang beradu bersama kilat di luar sana, barang tentu memekakan telinga semua orang di mana pun ia berada, apa lagi Bian yang sangat membenci suara-suara yang membuatnya tak bisa tidur itu. Tapi gadis berjilbab biru yang sedang pria itu tatap sekarang ini sama sekali tidak terlihat merasakan hal yang sama seperti dirinya. Gadis itu sengaja memutar kursinya yang berada di dekat jendela hingga ia bisa bertatapan langsung dengan hujan di luar sana. Mata kecilnya mengerjap-ngerjap senang tatkala kilat menyambar langit di atasnya, sementara senyum lebar pun tak mau ketinggalan untuk melengkapi bingkai wajah oval itu saat menanggapi gelegar guntur. Bian pun kembali keheranan tatkala mendapati pakaian tertutup yang dikenakan gadis itu terlihat terlalu normal di udara sedingin ini. Tidakkah gadis itu ingin mengenakan jaket berlapis-lapis untuk melapisi hijab-nya itu? Tidakkah tubuh lampai itu merasa kedinginan? Menyadari hal itu harga diri Bian sebagai pria langsung terluka karena ia benar-benar merasa kedinginan sekarang ini.

Beberapa menit berlalu dan Bian masih sibuk meniti gadis berjilbab biru itu. Ia ingin sekali berlalu dan berpura-pura tidak peduli, tapi sebagian besar hatinya berontak dan meyakinkan dirinya kalau momen ini tak bisa terlewatkan begitu saja. Maka, tanpa ragu Bian melangkahkan kakinya mendekati gadis itu, menarik kursi yang berada tepat di hadapannya dan duduk di sana tanpa meminta izin terlebih dahulu.

“Heh, lihat apa sih?”

Gadis berjilbab biru itu rerlonjak kaget, sontak menoleh kepada Bian yang baru saja merusak kesenangnya menatap hujan badai di luar sana. Tapi bukannya marah, gadis itu hanya tertawa kecil dan mengangkat bahu santai.

“Lihat hujan, seru banget cuacanya  hari ini. Hahaha.”

Mendengar jawaban yang ternyata lebih aneh dari apa yang dilihatnya, Bian mengerutkan dahinya dalam-dalam.

“Cuaca kayak gini seru? Dari mananya?” Bian mulai nyablak, masih tak sadar kalau sifat inilah yang membuat orang-orang sering keki padanya.

“Nama kamu siapa?” tanya gadis berjilbab biru itu, tak memedulikan pertanyaan Bian barusan. “Kalau ngajak ngomong orang kelanin diri dulu dong,” imbuhnya sembari mengulurkan tangan sementara senyum ramah mengikuti.

Bian yang kagok dibaik-baikin seperti itu langsung menyambut jemari lentik yang menggantung itu lantas memperkenalkan diri, “Fabian Sentosa, Fekon, Akuntansi, semester tiga. Panggil aja Bian.”

“Syafira Fauziah Ariska, FKIP, Pendidikan Biologi, semester satu. Biasa dipanggil Riri. Salam kenal ya, Kak.”

Oh, anak baru, pantesan gak pernah lihat muka-mukanya, eh lagian anak IPA juga ding gak mungkin main-main di Fekon, pikir Bian dalam hati sembari menarik tangannya lagi.

“Gak usah pake ‘Kak’, pake aku-kamu aja biar setara. Aku gak suka senioritas gitu, emang masih hidup di zaman penjajah,” kata Bian mengoreksi panggilan Riri tadi padanya, gadis itu pun tersenyum dan mengangguk.

“Jadi, jelasin sama aku.” Bian menunjuk hujan badai diluar sana dengan dagunya tanpa mengalihkan pandangan dari gadis di hadapannya. “Apa yang bikin cuaca super nyebelin kayak gini seru?”

Riri kembali mengangkat bahu dan tertawa. “Yah, seru aja, emang perlu ada alasannya?”

“Harus ada,” sambar Bian tidak terima jawaban seperti itu. “Jujur nih ya, aku benci banget musim hujan apa lagi hujan yang kayak gini. Bikin repot, ribet, dan musibah di mana-mana. Belum lagi kalau udah musim flu-batuk-deman gitu nyebar. Argh, pokoknya musim kayak gini nih yang bikin aku nuai banyak dosa, mencak-mencak gak jelas sampai orang-orang males deket-deket sama aku gara-gara keseringan marah sama hujan. Kayak orang gila, tapi emang hujan badai kayak gini bisa bikin gila karena berhentinya lama.”

“Hahahahaha,” tawa Riri terdengar disela gempuran guntur yang menampar kaca jendela dan Bian semakin dibuat terheran-heran dengan reaksi itu.

“Kenapa malah ketawa, sih? Aku serius. Aku benci banget sama hujan,” kata Bian risih dan Riri justru kembali tergelak sebelum akhirnya menjawab santai.

“Gak, lucu aja, baru pertama kali ini ketemu orang yang benci sama hujan sampai sebegitunya,” sahut Riri, tanpa menyembunyikan riak-riak geli di wajahnya.

“Aku juga baru pertama kali lihat orang yang suka banget sama hujan badai sampai sebegitunya,” balas Bian tak mau kalah, ia mulai tidak sabaran. “Sekarang jawab aja deh, kenapa kamu bilang hujan badai yang super nyebelin kayak gini seru? Itu pemikiran paling aneh yang pernah aku dengar, tahu gak.”

“Oke, Oke, aku jawab…” kata Riri akhirnya; berusaha mencoba menahan tawa dengan mengulum senyum sebelum akhirnya menjawab dengan tenang.

“Aku suka sama hujan badai kayak gini karena langit itu membosankan kalau terlalu cerah.”

Lagi-lagi dahi Bian berkerut dalam, meminta Riri menjelaskan lebih jauh jawabannya itu dengan raut wajahnya.

“Kamu pernah ngebayangin langit tanpa hujan gak, Bi?” Riri malah balas bertanya dan Bian hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu; tidak tahu juga tidak mengerti.

“Langit yang sepanjang tahun cerah, tenang, dan damai itu benar-benar membosankan,” ulang Riri dengan penuh penekanan. “Cuaca yang terlalu cerah membuat orang-orang jauh dari waspada, mereka menjalani runitas sebagaimana mestinya tanpa khawatir langit mendung dan mengguyur mereka. Jika hujan tidak ada dan langit terus menerus cerah, rutinitas itu akan terus berlangsung tanpa henti—terus menerus hingga orang-orang lupa untuk bersyukur pada Tuhan akan langit yang cerah itu. Sampai sini kamu ngerti maksudku?”

Bian melipat kedua tangannya di depan dada dan mencoba mencerna, tapi penjelasan Riri terlalu absurd baginya. Ia bukan orang yang suka hal yang berbelit-belit.

To the point aja deh, aku gak ngerti maksudmu,” jawab Bian akhirnya, dan Riri pun hanya terkekeh geli untuk yang kesekian kalinya.

“Hidup itu jangan mau enaknya terus, Tuhan kasih hujan itu biar manusia belajar susah dan tahu pentingnya bersyukur,” kata Riri gamblang dan Bian akhirnya mengerti maksud gadis itu.

“Ah, sok romantis kamu, pasti ngutip di buku novel picisan!” timpal Bian, masih tidak terima pemikiran aneh seperti itu. Ia sebenarnya sudah sering mendengar hal serupa di film-film mellow drama yang acapkali diputar kakak perempuannya di rumah dan ia merasa itu hal yang menggelikan, lagipula, di film-film itu yang diumpamakan adalah hujan rintik-rintik yang romantis, bukan hujan badai seperti ini.

Mendengar Bian yang masih mencoba mencekal perkataannya, Riri hanya mendesah pasrah dan tersenyum penuh pengertian. “Ya, udah kalau gak sepaham, itu toh pemikiranku bukan kamu. Aku malas berdebat, memaksakan pemikiran sendiri sama orang lain itu kayak maksain bebek kawin sama ayam tahu gak, hahaha. Setiap individu diciptakan berbeda dan aku gak masalah dengan itu. Silakan kamu membenci hujan sementara aku di sini cinta setengah mati sama hujan, perbedaan itu menyenangkan asal saling menghargai.”

Riri menutup perdebatan dengan gencatan senjata dan Bian pun langsung mengempaskan punggungnya di sandaran kursi. Meski kelihatannya ia masih memiliki prinsipnya tentang hujan dan memenangkan pembicaraan, entah kenapa ia tidak merasa senang dengan hal itu.

Waktu hening tercipta dan Riri kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menikmati hujan badai luar sana dengan mata yang bersinar cerah dan senyum yang tak pudar sedari tadi. Sementara Bian pun kembali menatap pemandangan aneh itu, masih tak habis pikir dengan apa yang ia lihat bahkan setelah ia mendengar sendiri alasannya.

Detik jarum jam sudah berputar puluhan kali dan hening masih meraja di antara mereka, Bian enggan membuka modulnya dan justru memilih menikmati ekspresi Riri sekarang ini. Diliriknya sekilas hujan di luar sana dan kembali menatap Riri, terus bergantian beberapa kali, dan masih tidak memahami kenapa gadis itu bisa memiliki ekspresi seperti itu saat menatap langit mengerikan di luar sana seolah-olah itu adalah pertunjukan sirkus.

Bian bertopang dagu dan mendesah, menggeleng-gelengkan kepalanya, lantas memutuskan untuk tenggelam dalam pikirannya sendiri; membiarkan Riri menikmati hujan badai di luar sana tanpa perlu diganggu lagi olehnya. Hingga tanpa sadar waktu berlalu seiring langit yang berangsur-angsur berberes dengan pertunjukan hujannya dan yang tersisa hanya rintik-rintik di atas genteng. Bian yang tadi mengabaikan Riri dengan melamunkan segala macam hal pun tak sadar sampai akhirnya gadis itu selesai dengan aktivitasnya lantas memecah keheningan.

“Bi, aku lupa bilang sama kamu tadi.” Bian menegakan tubuhnya dan menatap Riri yang pandangannya masih terpaku pada langit di luar sana. “Ada satu alasan lagi kenapa aku suka hujan badai selain karena dinginnya yang menggigit, gemuruh, kilat serta air bah-nya yang selalu mengingatkan aku untuk menikmati kepahitan dalam hidupku serta bersyukur. Hujan juga mengajariku satu hal penting lagi, hal sebenarnya sering sekali dilupakan oleh orang-orang sepertimu yang selalu menganggap kalau hujan adalah sesuatu yang patut di benci…” Riri tersenyum lebar, lantas menunjuk langit dan memaksa Bian menoleh ke tempat telunjuk itu mengarah.

“Hujan memang menyebalkan, ia juga bisa bawa musibah, tapi kalau kita mau melihat lebih teliti dan memperhatikan lebih jeli di balik awan-awan gelap itu. Kamu bisa melihat kalau bukan hanya jalanan yang becek, serta luapan lubang-lubang selokan yang dibawa hujan badai, tapi juga keindahan yang hanya akan terlihat ketika semua itu berlalu.”

Bian menahan napasnya di paru-paru dan membiarkan dirinya tenggelam dalam momen itu. Ia mungkin masih membenci hujan serta seluruh bencana yang dibawa oleh musim itu, tapi ia pasti tidak akan pernah melupakan indahnya pelangi yang sedang ia tatap bersama Riri saat ini.

Tidak akan pernah.

Fin.

A/N:

Cerpen ini special untuk Siti Fatima Afriska, temen dunia maya dan juga pecinta hujan badai yang baru nemenin ngobrol dua hari ini tapi sudah asyik banget dan kayaknya bakal nyambung terus untuk hari-hari kedepannya. Hahaha, makasih ya buat obrolan ringannya. Menjadi mood boster untuk menikmati hari-hari yang belakangan sangat membosankan. Semoga masih mau nemenin aku ngobrol ya, see you next chit chat! *peyuuuk*

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s