Diposkan pada Cerita Pendek, Romance, Slice of Life

Kebebasan Cinta

Apa esensi dari menulis?

Jika ditanya seperti itu aku pasti hanya akan menggeleng dan mengangkat bahu. Menulis adalah kegiatan yang misterius. Ada saat-saat ketika menulis sebagai sebuah kebutuhan, sementara di lain waktu bisa menjadi hal yang paling diabaikan. Mulanya, aku berpikir menulis untuk dikenal, meninggalkan jejak keberadaanku di dunia ini barang setitik, namun perasaan itu pun pudar dan waktu mengajariku bahwa menulis untuk diriku sendiri saja sudah cukup. Tapi ketika aku menulis untuk diriku sendiri, aku pun berakhir dengan tidak menulis apa pun karena menulis untuk diri sendiri itu sangat membosankan. Jadi, kuputuskan untuk menulis tanpa tujuan dan membebaskan diriku untuk menulis apa yang aku inginkan tanpa memikirkan bagaimana tulisanku itu bermanifestasi dalam benak orang-orang yang membacanya—termasuk diriku sendiri.

“Sampai sekarang gue masih gak percaya kalau gue jatuh cinta sama cewek kayak lu?”

Ivan bertopang dagu, menatapku yang bahkan tidak peduli dengan kehadirannya sedari tadi. Duduk berhadapan di kedai kopi langganan setiap akhir pekan adalah kegiatan rutin sepasang kekasih, begitu juga dengan kami, namun yang membedakan kami dengan pasangan lain adalah aku—gadis kutu buku yang berdandan asal rapi dengan layar laptop yang tak lekang dari pandangan matanya. Pasangan-pasangan lain di kedai ini menatap kami heran, tak jarang yang menertawakan, bahkan lain waktu pernah ada segerombolan cewek jalang yang terang-terangan menggoda pacarku, tapi anehnya aku tak peduli.

“Seandainya lu bisa milih, lu mau jatuh cinta sama cewek yang kayak gimana?” tanyaku dingin sedikit tersinggung dengan pernyataannya meski aku sudah tahu hal itu bahkan sejak ia mengajakku berpacaran.

“Er, entahlah, mungkin kayak cewek itu.” Aku melirik cewek yang duduk sendirian di sudut kedai, tubuhnya lampai tinggi semampai, mengenakan hot pant yang matching dengan tank top ketatnya. Rambut panjangnya diikat tinggi, memamerkan tattoo bunga di belakang telinganya. Jemarinya yang berkuteks merah bermain di atas keypad smartphone-nya dan dari ekspresinya yang tidak sabaran kuduga ia tengah menunggu seseorang; mungkin pacarnya atau teman-teman sesama jalangnya. Well, secara keseluruhan penampilan cewek itu mengingatkanku pada model sampul majalah Playboy yang dibeli adikku sepekan yang lalu dan aku langsung meyakini bahwa cewek itu adalah tipe ideal berjuta-juta cowok di luar sana—bukan hanya Ivan atau adikku saja.

“Kenapa gak dicoba aja?” tanggapku setelah menilai cewek itu secara cepat. Pembicaraan ini mulai menarik, kututup file naskah yang harus kurevisi malam ini dan mengangkat wajahku menatap cowok di depanku ini.

Ivan mengangkat  sebelah alisnya. “Maksud lu?”

“Samperin gih, mumpung dia sendirian,” terangku sembari menumpuk kedua tanganku di atas meja, lantas menyeringai, mencoba mengatakan restuku jika Ivan ingin jatuh cinta pada cewek lain dengan ekspresiku.

Ivan terdiam, menatapku lekat-lekat, wajah gantengnya itu  terlihat bingung; menerka-nerka permainan konyol apa lagi yang sedang aku rencanakan karena aku memang suka bermain dengan perasaannya. Kami sudah saling mengenal nyaris seumur hidup kami, cinta yang bermula dari persahabatan teman masa kecil memang yang paling awet sekaligus yang paling menjemukan. Tapi tepat peringatan hari jadi kami yang ketiga, Ivan pernah mengaku padaku bahwa sampai detik ini ia masih tidak bisa membaca isi kepalaku dengan mudah dan hal itulah yang membuatnya bertahan dalam hubungan ini karena ia yakin membutuhkan waktu seumur hidup untuk dapat mengerti seperti apa diriku yang sebenarnya. Hahaha, dan aku percaya itu.

“Jangan becanda, kalau gue bener-bener jatuh cinta dan mutusin lu gimana?” kata Ivan setelah menyadari bahwa aku benar-benar serius dengan ucapanku.

Mendengar hal itu aku hanya tertawa kecil. “Gue pasti merana,” jawabku jujur. “Gue bakal galau selama berbulan-bulan dan mogok nulis. Gue bakal meruntuki keputusan gue dan menyesal kenapa harus bertindak konyol dengan nantangin lu kayak gini, tapi setelah itu gue yakin kalau gue bakal memperbaiki hidup gue dan justru bersyukur dengan keputusan itu karena dengan begitu gue akhirnya tahu bahwa gue sama sekali tidak mengenali cowok yang udah sepuluh tahun jadi sahabat gue dan tiga tahun jadi pacar gue ini. Well, singkat kata, gue pastikan kalau pada akhirnya gue bakal bersyukur dan berbahagia.”

“Lu ngetes gue?” Ivan kini terlihat risih, harga dirinya terancam, dan di saat-saat seperti ini aku tahu ia pasti akan mengambil keputusan sembrono.

“Tergantung jawaban lu.” aku kembali memanasi, mengerling nakal padanya dan Ivan kembali meradang.

“Dasar iblis,” umpat Ivan jengkel seraya berdiri dari bangkunya tanpa mengalihkan pandangannya dariku. “Kita lihat aja siapa yang bakal menyesal nanti.”

Tawaku mengiringi langkah Ivan mendekati cewek sampul majalah Playboy tadi, orang-orang yang sedari tadi memperhatikan percekcokan kami menatapku prihatin tapi aku justru tersenyum simpul seraya kembali membuka lembar baru Microsoft Word di layar laptop-ku; memulai kisah baru dengan sudut mata tak lepas dari sosok Ivan yang tengah mencoba merayu.

Aku mulai menulis ketika Ivan mulai mengucapkan sapaan pertamanya. Dari tempat dudukku aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan namun gerak-gerik Ivan dan cewek itu sudah cukup bercerita untukku. Ivan meminta izin untuk duduk di kursi kosong yang ada di depan cewek itu dan cewek itu mempersilakan. Mereka mulai berbicara, mungkin dimulai dengan membicarakan status mereka masing-masing dan ketika Ivan selesai bercerita mereka berdua serempak menoleh ke arahku—tampaknya Ivan berbicara jujur bahwa ia tengah dicobai oleh pacarnya untuk jatuh cinta lagi—dan cewek itu pun langsung tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya kasihan. Ivan mengangguk dan cewek itu pun meraih tangan Ivan untuk menyampaikan rasa prihatinnya. Ivan pun tersenyum, lantas mencium tangan cewek itu untuk mengucapkan terima kasih. Cewek itu tersipu-sipu, tak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan cinta cowok seganteng Ivan yang disia-siakan oleh pacarnya.

Untuk beberapa waktu yang mereka bicarakan sepertinya hanya menjelek-jelekanku, tapi kemudian pembicaraan mereka pun mulai beralih ke hal-hal yang lebih intim. Seiring perubahan suasana di antara Ivan dan cewek jalang itu, gerakan jemariku di atas key board pun semakin cepat, kata-kata meluncur begitu saja tanpa bisa kubendung, dan aku suka perasaan seperti ini. Kini, aku tak perlu melihat Ivan untuk mengerti apa yang sedang ia bicarakan pada cewek itu, aku sudah terlalu mengenal cowok itu untuk mengetahui setiap ucapan serta gerak-geriknya; bagaimana Ivan tersenyum, berbicara manis, matanya yang menatap lekat, sentuhan tangannya, lumatan bibirnya, serta erangannya ketika kami bercinta. Semuanya.

Yah, Ivan mungkin memerlukan waktu seumur hidup untuk mengenalku, tapi aku bahkan tak perlu melihatnya untuk mengetahui apa akan terjadi setelah ini.

000

“Brengsek, lu ngibulin gue ya…”

Ivan menggeliat di sampingku, tubuh telanjangnya meringkuk malas di dalam selimut karena AC di kamarnya membuat keringat di tubuhnya menjadi sengatan dingin yang menggigit. Untuk beberapa saat hening menyergap kami, Ivan menanti tanggapanku, tapi aku terlalu sibuk berkutat dengan layar laptop di pangkuanku—menyelesaikan revisi naskah serta cerita pendek yang baru saja kuselesaikan.

“Hah, harusnya gue tahu sejak awal kalau lu cuman ngerjain gue.” Ivan mengeluh lagi, lebih cenderung meruntuki kebodohannya ketimbang menyalahkan permainanku. Akhirnya, aku tertawa untuk menanggapi perkataannya.

“Pakai ketawa lagi, dasar sialan!” Ivan menoyor kepalaku ringan dan aku semakin nyaring tertawa. “Harusnya lu gue hukum sampai pagi, biar tahu rasa lu gak bisa bangun dari tempat tidur. Sial.”

Tadi, ketika obrolan Ivan dan  cewek jalang itu mulai intim dan cewek itu pun merayu untuk diajak ke apartemennya, Ivan baru menyadari bahwa usahanya untuk membuatku cemburu seperti itu benar-benar sia-sia tatkala mendapatiku tidak memperhatikannya dan justru sibuk berkonsentrasi dengan tulisanku. Aku bukan sekali dua kali melakukan hal ini—menjadikan usaha-usaha Ivan menyeleweng sebagai objek tulisanku—tapi sering sekali! Ivan harusnya tahu diri, kalau ia tak mungkin bisa jatuh cinta dengan cewek lain selain cewek nerdy yang berada di sebelahnya ini. Entah apa masalahnya, aku tidak tahu, tapi yang jelas selama kami bersama tak pernah sekalipun usaha penyelewengan itu berhasil.

“Lu nyantet gue ya?” Ivan menatapku dari balik selimut, lekat-lekat, mencoba memastikan dirinya sendiri bahwa hubungan kami selama ini nyata, bukan manipulasi dukun semata. “Heh, jawab gue, gue nanya serius nih. Kenapa setiap kali gue selingkuh lu gak pernah marah? Seolah-olah lu yakin kalau gue gak bisa putus dari lu?” Aku diam saja tak menanggapi pertanyaan konyolnya dan Ivan pun mengerang jengkel karena aku mengabaikannya. Buru-buru cowok itu melingkarkan lengan kekarnya di perutku  lantas mencium dan menggigit kecil pingganggku—mencari perhatian.

“Ivan… gue sibuk,” kataku dengan nada memelas, risih karena tak bisa menulis kalau begini.

“Jawab dulu pertanyaan gue.”

Ouch! Ivan!”

Ivan menggigit pinggangku tepat dikulitnya karena tubuhku hanya ditutupi bra dan celana dalam yang dibelikan oleh Ivan beberapa waktu yang lalu. Dia bilang kalau pakaian dalamku sangat membosankan dan membeliku selusin pakaian dalam imitasi Victoria Secret, saat kukatakan jika ia serius memberiku hadiah seharusnya ia memberiku yang asli, tapi Ivan pun berdalih tentang gajinya di firma hukum yang pas-pasan dan malam itu kami pun berakhir di atas single bed kamarnya ini sebagai balasanku atas hadiahnya tadi. Yah, memangnya apa yang bisa kuharapkan dari seorang Ivan selain wajahnya yang ganteng?

Okay, okay,” kataku akhirnya, lantas meletakan laptop-ku di lantai dan beringsut masuk ke dalam selimut bersama Ivan; kupeluk cowok itu lantas mencium pundaknya gemas, mengira-ngira apa ia bakal menyerangku lagi setelah pembicaraan ini.

“Sekarang lu mau tanya apa? Buruan, gue sibuk.”

Ivan merenggangkan pelukanku hingga kami bertukar pandangan dengan dahi saling menempel. Tangannya mengurai rambut panjangku yang kusut kemudian mengelus punggung dan pingganggku lembut.

“Kenapa lu gak pernah cemburu?” tanya Ivan sembari mengecup bibirku ringan. “Lu tahu gak udah berapa kali gue nyeleweng?”

Aku mendesah panjang, lantas mengulum tersenyum. “Gue tahu semua selingkuhan lu kok,” ungkapku enteng dan hal itu langsung membuat matanya membulat.

“Seriusan?”

“Serius, sejak kita pacaran lu udah lima kali selingkuh dari gue dengan cewek yang berbeda. Nadia, Irma, Ivy, Lisa, dan Elsa. Semua temen-temen gue,” terangku menegaskan dan Ivan sepertinya kehabisan kata-kata.

“Mereka cerita ke lu?” tanya Ivan  ragu-ragu, menjauhkan sedikit kepalanya dariku karena merasa bersalah, namun perlahan kutarik lagi wajahnya mendekat dan tertawa renyah.

“Gak, gue tahu sendiri. I can smile your scent in their body, so I just knew it like that.”

Mendengar jawabanku itu Ivan balas tertawa, hambar. “Sudah gue duga, lu pasti manusia mutan. Kenapa lu bisa tahu semua tentang gue sementara gue bahkan gak bisa ngertiin lu barang secuil pun.”

“Jangan tanya gue, itu masalah lu,” sahutku setengah tertawa.

“Hey.” Ivan memanggilku dengan nada serius dan menatapku lekat-lekat, menghentikan geliat geli di wajahku.

Sorry, gue selingkuh sama temen lu,” katanya penuh penekanan, sementara aku hanya melebarkan senyumku mendengar hal itu.

“Udah gue maafin dari dulu-dulu,” balasku sembari menempelkan bibirku di bibirnya dalam-dalam, melumatnya sebentar sebelum akhirnya tertawa kecil. “Lagi pula lu tahu sendiri kalau semua usaha lu selingkuh dari gue itu malah jadi bahan tulisan gue kan? Gue justru berterima kasih. Hahaha.”

“Heh, jadi lu pengen gue sering-sering selingkuh?” Ivan membenturkan dahi kami bersama dan aku semakin nyaring tertawa.

“Emang lu masih sanggup selingkuh dari gue?” aku balas bertanya dan Ivan pun langsung menyadari bahwa hatinya sudah tak sanggup lagi menampung beban rasa bersalah dariku.

“Gue cuman ragu apa lu cinta sama gue atau enggak,” bisik Ivan di telingaku; ungkapan itu sudah sering kali kubaca di wajahnya namun baru kali ini kudengar ia mengatakannya secara langsung. “Sejak dulu gue tahu hidup lu cuman untuk menulis, tapi ketika lu bilang kalau lu bersedia jadi pacar gue, gue kira lu bisa lebih serius ke gue dan berhenti tergila-gila dengan layar laptop lu itu.”

“Jadi lu cemburu sama laptop gue?” sambarku cepat, perutku mulai geli.

“Jangan bercanda, lu tahu maksud gue apa,” tanggap Ivan datar, tak suka candaanku di kala ia memintaku untuk serius.

“Lu tahu kan, Van, gue gak mungkin milih antara nulis atau lu,” kataku akhirnya, dan kutahu Ivan mengerti itu sejak pertama kali ia mengenalku.

“Gue cinta sama lu dengan cara yang sama ketika gue menulis.” Kurapatkan tubuhku dan Ivan hingga udara tak berjarak di antara kami, berusaha membuatnya nyaman agar ia mau mendengarkan apa yang akan kukatakan padanya. “Gue gak pernah mengurung tulisan gue, gue menulis dengan bebas dan membiarkan tulisan gue menjadi apa adanya.

“Sama dengan cinta gue ke lu, gue yakin cara paling tepat untuk mencintai seseorang adalah dengan membebaskan, karena untuk mengerti apa itu cinta, pertama-tama gue harus mengerti apa itu kebebasan.”

Ivan terdiam napasnya naik turun secara teratur, mencoba memahami apa yang baru saja kusampaikan padanya. Kemudian, ia menatapku lekat, menangkap pantulan wajahnya di mataku dan berkata, “I don’t know what to say.”

Aku tertawa. “Fall for me again?” godaku dan Ivan pun ikut tertawa

Never stop,” bisik Ivan mesra dan kami pun kembali berpagutan, melebur diri dalam cinta yang menampakan dirinya dalam arti dari sebuah kebebasan.

 End.

A/N

I dedicate this short story for Paulo Coelho, because He thought me how to love and dream 😀

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

12 tanggapan untuk “Kebebasan Cinta

    1. Hahaha, sedang bereksperimen dan menantang diri sendiri dengan menulis lain drpd biasanya. Belakangan saya senang mengangkat sudut cinta yg seperti ini. Bukan berarti saya setuju sex bebas. Esensi yg ingin saya sampaikan di sini adalah kebebasan mencintainya. Bukan pergaulannya. 🙂 oh ya terima kasih sudah membaca ya mbak. Semoga masih mau lirik2 tulisan saya yg lain.

      1. Hahaha, padahal kepengen banget nulis tanpa batas, tapi pasti ketahan sama ketidaksenonohan itu. Gak banyak penulis yang bisa bikin kata-kata senonoh jadi indah dan nyaman di baca 😄 aku sih gak bisa. Hahaha.

  1. Hai.. 🙂
    Aku baru pertama kali mampir kesini. Tergelitik untuk membaca artikel ini karena judulnya menurut ak sih bikin penasaran.

    Bagus banget ceritanya. Ditunggu cerita-cerita lainnya ya.

    Salam Blogwalking, ^^,
    Sanz Yu (Sanzeda Fay Lupe)
    *Please Visit My Blog too*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s