[Coretan Dicta] Mimpi yang Terakomodir

Aku sedang kacau. Aku menulis coretan ini sambil terisak seperti orang bodoh. Selama berbulan-bulan ini, setelah sekian banyak euforia menjadi pengangguran karena kalah dari pertempuran SBMPTN 2014, aku mulai kehilangan arah. Jalan yang dulunya terang benderang ingin kutempuh kini mulai terlihat kabur, gelap, dan lebur.

Mungkin kalian, para penikmat kata, para penyimak blog-ku, atau yang mencuri-curi lihat di sini juga sudah mulai menyadari kalau belakangan ini posting-an di blog-ku beraroma frustasi. Tidak begitu penuh optimisme seperti dulu saat mengejar mimpi kuliah ke ITB. Tulisanku belakangan terasa melankolis, dan lebih menunjukkan kepada dunia bahwa aku sedang mencoba bertahan bukan bersiap untuk bertarung.

Kenapa?

Singkat saja, ternyata kekalahan itu benar-benar menyakitkan. Pada awalnya aku berjuang untuk bertahan dari serangan sosial, aku pikir aku bisa mengatasinya, tapi keluarga besarku justru menambah perkara dan menyerangku dengan wajah-wajah mereka yang penuh kekecewaan dan harapan-harapan mereka yang terlalu tinggi. Segala tekanan dan harapan yang berbungkus nasihat dan kata-kata ‘Yah, kalau kamu gak mau ya Tante sih gak papa’ atau ‘Mama maunya kamu kayak gini sih, tapi kamunya dulu  ngotot banget ya udah’ atau ‘Kamu itu orangnya keras kepala, sangat keras kepala. Kamu selalu gak mau dengar apa kata orang. Coba sekali-sekali kamu  nurut apa kata keluarga. Kami itu sayang sama kamu’ benar-benar membuatku tertekan.

Aku MUAK!

MUAK dengan semua kekonyolan yang hidup ini hibahkan padaku! Aku tidak tahu apa yang Tuhan inginkan dari diriku sekarang ini, permainan apa lagi yang sedang Ia mainkan, Ya Tuhan, APA LAGI??? Aku benar-benar berantakan sekarang. Kacau. Lelah. Capai. Merasa nyaris sinting dengan semua orang dalam hidupku! Aku ingin lari saja. Aku ingin kabur. Aku ingin menghilang. Aku benar-benar ingin berada di tempat yang hanya ada diriku saja sendiri. Ya, aku ingin sendirian… aku ingin sendirian dan berpikir dan mencari dan menemukan lagi jalanku.

Aku benar-benar ingin membagi beban ini pada seseorang, aku ingin membagi rasa ingin pada seseorang atau pada siapa pun yang ada di muka bumi ini, tapi aku tidak punya siapa pun, aku sadar kalau selama ini aku sendirian dan aku benar-benar tidak memiliki siapa pun tempatku bertopang. Tidak masyarakat, teman-teman, bahkan keluarga karena dari mereka semualah aku ingin kabur.  Akhirnya, aku pun memilih blog ini lagi untuk meluapkan segala keluh kesahku.

Aku tahu, para pembaca blog ini tidak bisa men-judge-ku. Ya benar, kalian semua yang sedang membaca ini tak bisa menghakimiku karena apa yang kalian tahu tentangku hanya melalui kata-kata yang kutorehkan pada blog ini. Hal itu membuatku nyaman dan lebih mudah untuk bercerita. Di dunia ini, tidak ada satu pun yang mengerti perasaanku, jadi hanya aku sendirilah yang harus mencoba mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku menulis untuk diriku sendiri, apa yang kutulis sekarang adalah salah satu cara agar aku tetap waras. Terapi mental mungkin? Aku pernah mendengar seorang psikiater berkata menulis salah satu sarana terapi bagi orang depresi atau setengah gila. Yah, aku harap dengan ini aku bisa jadi sedikit lebih waras dari sebelumnya.

Anyway, lajut tentang keadaanku. Kalian tahu tidak, kepalaku sekarang terasa nyaris pecah karena mengakomodir semua mimpi. Mimpiku sekarang rasanya bukan lagi milikku sendiri, mimpiku sekarang miliki orangtua, keluarga dan semua orang yang mengharapkan keberhasilanku sesuai pandangan mereka. Sukses bagi mereka jelas bukan sukses bagiku, tapi karena aku belum berhasil meraih suksesku seperti mereka, mereka memaksakan pandangan mereka padaku.

Dengan cap dari seluruh keluarga sebagai anak keras kepala stadium kronis, rasanya benar-benar tidak nyaman jika penyakit keras kepala ini terus menerus tertancap di kepalaku seperti baleho. Maka aku berubah, padahal, keras kepala dan teguh akan pendirian bedanya hanya setipis kertas, aku kira aku teguh tapi keluargaku berkata kalau aku keras kepala. Ya sudahlah, aku pasrah, aku mundur dan mengakui kalau itu memang kekeraskepalaan. Lalu, aku mencoba berubah, mulai mengiyakan seluruh perkataan mereka, mengakomodir apa yang mereka inginkan juga harapan-harapan mereka. Ketika kusampaikan mimpi dan keinginanku, mereka berkata, ‘MIMPI KAMU ITU TERLALU MENGAWANG-AWANG, TERLALU TINGGI! KAMU MIMPI HARUS MENGINJAK TANAH! KAMU GAK MAMPU! KAMU HARUS DOWN GRADE MIMPI KAMU!’

Jika aku masih jadi anak yang keras kepala seperti dulu, mungkin aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan dan tegus akan pendirianku seperti sebelumnya, tapi sekarang… aku sudah menyerah menjadi anak keras kepala seperti dulu dan pasrah, maka aku iyakan saja apa yang mereka katakan. Semakin banyak yang mereka katakan padaku dan aku menerimanya—dengan harapan agar mereka bahagia and please stop giving a fuck about my life—aku pun semakin men-down grade mimpiku, serendah-rendahnya, sampai aku tak punya gairah lagi untuk mengejar mimpi itu.

Rasa pasrah, menyerah, dan kalah dalam mengejar mimpi ini benar-benar menyiksaku. Ini seperti bukan diriku selama ini, apa berubah semenyakitkan ini? Apa perubahan membuatku menjadi bukan diriku? Seseorang pernah berkata padaku ‘Fake it ‘till you become it’, and I’M REALLY A FAKER RIGHT NOW! Saking muaknya aku pada diriku sendiri sekarang ini, aku bahkan tidak menyangka kalau kalimat seperti ini terlontar dari mulutku tadi.

‘Terserah kuliah di mana, asal kuliah aja.’

Mendengar kalimat itu Mama benar-benar marah, sekali lagi dikecewakan olehku dan aku sendiri pun kecewa pada diriku sendiri. Aku sudah kehilangan gairah untuk bertarung! Benar-benar HILANG! Gila, apa kini aku telah menjadi orang gagal? Luka-luka yang aku rasakan bahkan tidak sebesar mereka yang sekarang kukagumi. Lukaku ini hanya sayatan kecil dan aku sudah menyerah sedemikian rupa? Gila, aku benar-benar gila. Tapi…

Aku lelah, aku capai, aku muak mendengar nasihat-nasihat mereka, aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi seluruh intervensi mimpi itu selain mengakomodir semuanya dan akhirnya menyerah atas mimpiku sendiri! Memberikan persetujuan dan PATUH! Menurunkan ego, keteguhan dan kekeraskepalaanku selama ini, dan menyerah! IYA, MENYERAH! Kalian tidak salah baca. Aku membiarkan semua orang mengganggu mimpiku dan menghancurkannya agar AKU tidak dianggap keras kepala seperti dulu.

Yah, mungkin saja mereka benar, mungkin juga aku tidak cukup keras mengejar mimpi yang ingin aku capai jadi mimpi itu terasa begitu jauh dan mengawang-awang. Atau… mungkin juga sebagian diriku ingin menyerah dari mengejar mimpi itu. Ada banyak aspek seperti biaya yang kuabaikan saat mengejar mimpi itu, ketika aspek itu menamparku dan aku tersadar, maka mimpi itu terlihat semakin tidak mungkin tercapai. Ditambah lagi nasihat keras seorang tanteku yang berkata seperti ini, ‘Aku gak setuju kamu kuliah di Bandung. Bandung itu ngeri! Pergaulannya bebas! Di sana tempat orang-orang borjuis dan punya uang! Biaya hidup mahal! Kamu gak mikir Mama-mu yang cari uang, apa lagi tahun depan kamu kuliah bareng adekmu, mikir! Ke mana Mama-mu cari uang selain pinjam sana-sini?’

Hah… Gila… kepalaku berdenyut keras sekali sampai mau mati rasanya. Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa diriku setelah ini. Rasanya benar-benar menyiksa, menangis pun tidak membuatku merasa lebih baik. Mungkin perasaanku akan menjadi lebih baik setelah menulis ini, tapi aku tahu di kemudian hari masih akan ada tulisan-tulisan lain akibat rasa frustasi dan depresi seperti yang aku rasakan sekarang ini. Yah, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi, separuh diriku sekarang ada di dalam blog ini, sejarah hidupku ada di sini dan semoga saja saat nanti aku membuka blog ini kembali dan membaca posting lawas tentang masa mudaku ini aku akan tersenyum dan berkata, ‘Kok bisa aku berpikiran seperti itu dulu?’ Semoga…

Penutup, sekarang aku benar-benar men-down grade mimpiku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi ini semua, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku pikirkan. Sampai sepanjang ini aku menulis kau tidak memecahkan satu pun masalahku, tak satu pun yang aku mengerti di hidup yang sedang aku jalani ini. Apa yang kuinginkan (atau orang-orang disekitarku ingin agar aku inginkannya) sekarang tak setinggi mimpi kuliah di ITB. ITB hanya untuk orang-orang pintar dan kaya, itu yang dikatakan keluargaku, sedangkan aku tidak begitu pintar pun tidak kaya, pendidikan yang tidak merata membuat orang-orang di Pulau Jawa punya lebih besar kesempatan tembus di ITB ketimbang aku yang biasa-biasa saja dan tinggal di Kalimantan, dan aku pun menerma pendapat itu.

Hahaha, lihat, betapa getirnya tulisanku sekarang ini. Sangat bertolak belakang dengan tulisanku di awal dulu. Ternyata telah banyak sekali yang berubah pada diriku selama beberapa bulan belakangan ini dan diam-diam aku merindukan diriku yang dulu, yang berani mengambil risiko dan menentang dunia. Apa aku bisa kembali? Apa aku berani untuk kembali? Entah, lihat saja nanti, lihat saja kemana hidup ini membawaku dan menjadikan aku apa. Pertanda itu tak kunjung datang dan aku tak bisa menemukannya meski aku mencarinya, mungkin kini aku pun mulai meragukan pertanda Tuhan itu dan meyakini kalau sesuatu seperti itu tak pernah ada. Tuhan mungkin saja hanya sekedar konsep yang diciptakan oleh manusia. Tuhan itu ada, tapi tak benar-benar ada. Tuhan ada kalau kita percaya, dan semoga saja aku masih punya sisa rasa percaya kalau Tuhan itu memang ada.

Semoga.

(Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin *cross sign*)

Tentang Tuhan, Jiwa-Jiwa dan Benang-Benang Kehidupan

Aku melihat kehidupan ini seperti benang. Tuhan memintalnya dengan begitu rapi dan menyerahkannya pada jiwa-jiwa di muka bumi ini sambil berkata, “Buatlah sesuatu dengan ini.”

Seluruh jiwa saling berpandangan, memandang pintalan benang itu bingung. Ya, Tuhan meminta buatlah sesuatu. Ia tidak meminta jiwa untuk membuat baju dengan itu atau sesuatu yang lebih spesifik. Tapi kebanyakan jiwa akhirnya memutuskan untuk menjahit dengan benang itu. Mereka pikir benang memang untuk menjahit dan benang tak berguna jika tidak digunakan untuk menjahit.

Tapi sayang, mungkin Tuhan lupa, tak semua jiwa bisa menjahit dengan baik. Mereka yang bisa menjahit berlomba-lomba untuk menjahit barang-barang terindah yang nanti bisa dipersembahkan kepada Tuhan. Ada yang membuat jas, gaun, pakaian Tidur, kerudung, sarung tangan, selimut dan lain-lain. Semua itu Tuhan terima dengan baik dan mereka pun mendapatkan imbalan sesuai dengan apa yang mereka berikan. Namun, Tuhan pun bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian menjahit?”

“Karena benang memang untuk menjahit,” jawab jiwa-jiwa itu serempak.

Tuhan tersenyum lalu menunjuk benang-benang yang masih tersisa di mesin-mesin jahit mereka. “Apa yang akan kalian lakukan dengan sisa benang-benang itu?”tanya Tuhan.

“Kami telah selesai. Kami tidak tahu apa lagi yang harus kami lakukan dengan sisa benang-benang itu,” jawab salah satu dari mereka.

Lalu, sekali lagi Tuhan berkata, “Buatlah sesuatu.”

Namun, mereka yang telah menjahit memutuskan untuk tidak menggubris dan akhirnya memilih untuk istirahat. Mereka sudah menjahit dan untuk menjahit lagi memerlukan wakti yang tidak sebentar, lagipula tubuh mereka sudah terlalu renta untuk melakukan sesuatu. Beristirahat pun menjadi pilihan terbaik, sampai akhirnya Tuhan mengambil lagi benang-benang sisa itu dan jiwa-jiwa pun hanya mendapatkan apa yang sudah mereka terima.

Sementara itu, bagaimana dengan jiwa-jiwa yang tak bisa menjahit? Apa yang mereka lakukan dengan benang-benang itu?

Kebanyakan dari mereka tetap memutuskan untuk menjahit meski tidak tahu sama sekali caranya menjahit. Mereka percaya, benang hanya untuk menjahit, mengaitkan kain yang satu dengan yang lainnya menjadi sesuatu yang berguna. Namun, karena tak bisa menjahit, kadang kala benang-benang mereka terlilit mesin jahit lalu menjadi kusut. Setiap kali mereka mencoba mengurai benang-benang itu dan kembali menjahit, benang kembali kusut bahkan semakin kusut. Tapi mereka terus mencoba dan mencoba untuk membuat sesuatu dengan menjahit, karena benang memang untuk menjahit. Hingga mereka kehabisan benang dan apa yang mereka hasilkan pun jauh dari berguna. Yah, mereka menjahit karena benang untuk menjahit, apa pun hasilnya, itu tidak penting bagi mereka karena yang mereka tahu mereka harus menjahit. Maka, Tuhan kembali bertanya pada jiwa-jiwa itu, “Kenapa kalian menjahit?”

“Karena yang kami tahu benang itu untuk menjahit.”

Tuhan pun kembali tersenyum dan memberikan imbalan yang pantas bagi mereka sesuai apa yang mereka lakukan.

Lalu, kemanakah sisa jiwa-jiwa yang tak bisa menjahit pun tak ingin mencoba untuk menjahit?

Mulanya, segelintir jiwa-jiwa ini merasa panik. Mereka hanya bisa menyimpan benang-benang itu di saku kumal mereka dan merenung. Apa yang harus mereka lakukan dengan benang-benang indah yang diberikan Tuhan itu? Pagi, siang, malam mereka terus berpikir, waktu bergulir dan pada tiap detiknya kata-kata Tuhan terus meneror mereka untuk membuat sesuatu dengan benang-benang itu. Sampai akhirnya, beberapa dari segelintir orang-orang itu pun menyerah untuk mencari cara lain agar benang-benang itu menjadi sesuatu dan memutuskan untuk memaksa diri mereka menjahit seperti jiwa-jiwa kebanyakan. Mereka menyerah untuk menemukan dan kembali berputar.

Kini yang tersisa hanya sebuah jiwa. Jiwa ini begitu keras kepala untuk tidak menggunakan benang miliknya menjahit, ia yakin bahwa benang ini bisa membuat sesuatu yang lain, bukan hanya sekedar untuk menjahit. Jiwa-jiwa lain menghinanya, menyebutkan kebodohannya, merayunya untuk menjahit saja, dan hanya menyebutkan kesalahan-kesalahannya.

Lalu suatu hari, ia termenung di bawah pohon besar dan bersandar di batangnya yang kokoh. Ia mulai bertanya-tanya apa jalan yang diambilnya ini telah benar? Segala nasihat serta ejekan, pun hinaan yang ia terima mulai mempengaruhi hatinya. Kebanyakan dari mereka memang benar, terutama pada bagian keras kepala itu, apa ia bermimpi terlalu besar? Ia memang ingin benangnya membuat sesuatu yang besar, menggunakannya untuk menjahit membuatnya sama saja seperti jiwa-jiwa yang lainnya. Jiwa yang satu ini ingin benangnya menghubungkan banyak hal, ia ingin jiwanya dilihat dunia dan menghubungkan hal-hal besar, bukan hanya sekedar kain. Mimpi itu terus di bergema di kepalanya, membayangi tidur dan jaganya hingga ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Sampai sebuah pertanyaan yang paling ingin dihindarinya pun terlintas.

Apa ia harus menyerah atas mimpinya?

Kepalanya berkata ya, dan hatinya pun nyaris menuruti hingga tanpa sengaja ia melihat tangkai-tangkai pohon yang patah di bawah kakinya dan dalam sekejap hatinya pun menjerit.

Jika tak ingin menjahit jangan menjahit! Jika tak bisa meraih mimpimu, ubah mimpimu!

Jiwa ini pun mengeluarkan benang di sakunya, lalu memungut tangkai-tangkai pohon yang patah sebanyak mungkin dan memilahnya sesuai ukuran yang sama. Lalu tak lama kemudian, ia mulai disibukan dengan pekerjaan melilitkan tangkai-tangkai pohon yang patah itu satu sama lain. Awalnya ia melakukan itu karena tak punya pilihan dan hasrat hati sesaat. Namun, lama kelamaan ia mulai menyukainya.

Secara ajaib benang-benang itu mengaitkan tangkai-tangkai yang patah satu sama lain, membentuk pola, lalu tanpa sadar menjadi figura, hiasan dinding, pajangan, dan karya seni lainnya. Ketika jiwa ini kehabisan benang dan napasnya mulai putus-putus karena lelah. Ia pun berdoa kepada Tuhan untuk memberinya benang yang lebih panjang, ia ingin terus menghubungkan tangkai-tangkai yang patah. Maka, Tuhan pun berkata, “Mengapa kau gunakan benangmu untuk mengaitkan tangkai-tangkai yang patah?”

Jiwa itu pun menyahut, “Karena aku tidak bisa menjahit dan tak ingin menjahit. Aku ingin benangku menghubungkan hal-hal besar, tapi ternyata aku hanya bermimpi. Lalu kuputuskan melalukan apa yang aku bisa dan ternyata aku bisa menghubungkan tangkai-tangkai yang patah menggunakan benangku. Aku sangat menyukai apa yang telah kubuat dengan benangku sekarang dan berharap Tuhan mau memberiku benang yang lebih panjang agar aku bisa terus melakukannya.”

Tuhan pun kembali tersenyum, Ia mengumpulkan seluruh karya yang telah jiwa itu buat sampai sejauh ini dan meletakannya di atas lemari-lemari yang menyimpan seluruh pakaian dari pekerjaan jahit menjahit. Karya itu terlihat sangat berbeda dari yang lainnya, mencolok dengan cara yang luar biasa.

“Benangmu telah habis dan aku tak bisa memberimu lebih dari itu. Tapi ketahuilah, kau telah membuat sesuatu yang luar biasa dengan benangmu.”

Dan jiwa itu pun mendapatkan imbalan yang setimpal dengan apa yang telah ia buat.

Ya, akhir kata, beginilah caraku memandang kehidupan, karena kehidupan bagiku adalah sebuah benang dan aku sendirilah jiwa yang akan menentukan apa yang akan aku buat dengan benangku ini.

[Coretan Dicta] TITIK BALIK

“Hai, sekarang kuliah di mana?”
“Eh, aku belum kuliah, nunggu tahun depan.”
“Loh, kenapa? Kok gitu?”
“Iya, kemarin gak keterima di ITB. Karena gak ada pilihan kedua aku akhirnya ngulang”
“Oh…”

Kemudian hening yang mencekam. Aku tersenyum dengan dibuat-buat dan mereka menatapku prihatin; mengasihani diriku yang belum kuliah.

“Terus sekarang ngapain?”
“Ya cari pengalaman yang lain aja. Coba buka toko online gitu.”
“Oh, gitu… ya udah semoga sukses aja ya.”

Dan perbincangan pun ditutup dengan ekspresi kasihan, prihatin dan mengejek yang dicampur menjadi satu; berbalas senyum yang tak tulus; lalu mereka meninggalkanku seolah-olah aku adalah manusia paling rendah di muka bumi ini.

Yah, perbincangan seperti itu sudah acapkali terjadi selama berbulan-bulan belakangan ini. Mulanya hatiku masih bisa mengobati luka dari perkataan dan ekspresi-ekspresi itu. Tapi semakin sering perbincangan itu terjadi, semakin kuat hatiku dilukai dan akhirnya di titik ini aku hanya bisa bilang:

AKU MUAK

Aku sudah capek mengalami percakapan itu. Semakin hafal aku dengan dialognya, semakin lemah pertahananku untuk terus berpura-pura kuat. Semua yang kutulis waktu itu mulai terasa seperti sebuah kebohongan besar dan aku adalah orang paling idiot di muka bumi ini.

Aku selalu mengira kalau aku pasti bisa melalui hari-hari setelah pertempuran SBMPTN 2014 yang tidak kumenangkan waktu itu dengan kuat dan berani. Tapi semakin ke sini, tekanan yang berasal dari keluargaku bahkan lebih hebat ketimbang percakapan terkutuk itu.

Keluarga besar Eyang Suripno memang bukan orang terpandang di tanah Kalimantan. Mereka hanyalah keluarga transmigran yang tumbuh dari kecil dan dihina, hingga akhirnya berhasil menyekolahkan kelima anaknya hingga bangku perguruan tinggi dengan empat di antaranya menjadi sarjana sukses. Semua jenjang itu berlalu dengan mulus dan luar biasa lantas menuai decak kagum dari orang-orang sekitar dan sampai sekarang itulah kebanggaan terbesar keluarga ini.

Hingga di suatu masa, tanpa tendeng aling-aling keluarga ini digampar oleh tingkah cucu pertama mereka, yaitu AKU, yang tidak kuliah sesuai jadwal dan beridealis tinggi serta keras kepala stadium kronis.

Bagaimana jika kalian adalah salah satu dari bagian keluarga ini?

MALU?

Itu sudah pasti dan tidak diragukan lagi. Cucu emas yang digadang-gadang menuai pujian justru malah membuat meradang dengan mimpi yang setinggi langit dan polah kepala batunya. Ya, aku sudah mencoreng keluarga ini, bahkan lebih parah dari berbuat bidah. Ekspektasi terlampau tinggi kepadaku menuai kecewa yang teramat sangat dan kekecewaan mereka itu lebih buruk dari sekadar percakapan memuakan itu.

Setiap kali percakapan itu berlangsung, ekspresi keluargaku adalah yang paling melukai hatiku. Mereka tak mengatakan secara gamblang betapa kecewanya mereka padaku, tapi hal itu justru membuatku semakin sengsara dan pikiranku berantakan. Sepanjang berbulan-bulan ini aku hanya bisa merenung, berpikir dan bercermin.

WHAT’S WRONG WITH ME?

Semua jadi berantakan. Semua terasa salah dan tidak benar. Perasaan bersalah yang berlarut-larut itu pun kini berubah menjadi penyesalan yang luar biasa dan saat aku melihat ke belakang, yang ada hanya rasa sakit. Pandanganku mulai gelap, dan masa depan pun menjadi abu-abu. Semua terasa absrud dan aku lengah untuk menemukan pertanda-pertanda Tuhan hingga akhirnya aku pun ditegur keras oleh Tuhan sekali lagi.

Eyang Putriku masuk rumah sakit dan kali ini benar-benar parah.

Sekali lagi aku ditampar, kenangan tentang alm. Papa 2 tahun lalu kembali merengsek masuk ke dalam hatiku dan sekali lagi kualami titik balik dalam hidupku.

Semua kesombongan, rasa congkak, keras kepala, dan idealisme yang selama ini kubangun pun runtuh. Tak bersisa. Hancur berkeping-keping. Aku sadari itu semua adalah biang kerok dari semua ini, dan satu-satunya yang harus aku lakukan sekarang adalah membuang itu semua.

TAPI AKU TETAP TIDAK MEMBUANG MIMPIKU.

Aku masih mengejar ITB, tapi aku tidak gelap mata seperti pertarunganku sebelumnya. Aku aku sudah mengobati luka-luka bekas kekalahanku waktu itu dan mempelajari kesalahan-kesalahanku serta berlatih. Aku yakin, dipertarunganku berikutnya, aku sudah lebih siap dan percaya diri untuk memenangkan pertempuran.

I’M COMING SBMPTN 2015, I’LL BEAT YOU SO HARD ‘TILL IT HURTS!