Diposkan pada Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] TITIK BALIK

“Hai, sekarang kuliah di mana?”
“Eh, aku belum kuliah, nunggu tahun depan.”
“Loh, kenapa? Kok gitu?”
“Iya, kemarin gak keterima di ITB. Karena gak ada pilihan kedua aku akhirnya ngulang”
“Oh…”

Kemudian hening yang mencekam. Aku tersenyum dengan dibuat-buat dan mereka menatapku prihatin; mengasihani diriku yang belum kuliah.

“Terus sekarang ngapain?”
“Ya cari pengalaman yang lain aja. Coba buka toko online gitu.”
“Oh, gitu… ya udah semoga sukses aja ya.”

Dan perbincangan pun ditutup dengan ekspresi kasihan, prihatin dan mengejek yang dicampur menjadi satu; berbalas senyum yang tak tulus; lalu mereka meninggalkanku seolah-olah aku adalah manusia paling rendah di muka bumi ini.

Yah, perbincangan seperti itu sudah acapkali terjadi selama berbulan-bulan belakangan ini. Mulanya hatiku masih bisa mengobati luka dari perkataan dan ekspresi-ekspresi itu. Tapi semakin sering perbincangan itu terjadi, semakin kuat hatiku dilukai dan akhirnya di titik ini aku hanya bisa bilang:

AKU MUAK

Aku sudah capek mengalami percakapan itu. Semakin hafal aku dengan dialognya, semakin lemah pertahananku untuk terus berpura-pura kuat. Semua yang kutulis waktu itu mulai terasa seperti sebuah kebohongan besar dan aku adalah orang paling idiot di muka bumi ini.

Aku selalu mengira kalau aku pasti bisa melalui hari-hari setelah pertempuran SBMPTN 2014 yang tidak kumenangkan waktu itu dengan kuat dan berani. Tapi semakin ke sini, tekanan yang berasal dari keluargaku bahkan lebih hebat ketimbang percakapan terkutuk itu.

Keluarga besar Eyang Suripno memang bukan orang terpandang di tanah Kalimantan. Mereka hanyalah keluarga transmigran yang tumbuh dari kecil dan dihina, hingga akhirnya berhasil menyekolahkan kelima anaknya hingga bangku perguruan tinggi dengan empat di antaranya menjadi sarjana sukses. Semua jenjang itu berlalu dengan mulus dan luar biasa lantas menuai decak kagum dari orang-orang sekitar dan sampai sekarang itulah kebanggaan terbesar keluarga ini.

Hingga di suatu masa, tanpa tendeng aling-aling keluarga ini digampar oleh tingkah cucu pertama mereka, yaitu AKU, yang tidak kuliah sesuai jadwal dan beridealis tinggi serta keras kepala stadium kronis.

Bagaimana jika kalian adalah salah satu dari bagian keluarga ini?

MALU?

Itu sudah pasti dan tidak diragukan lagi. Cucu emas yang digadang-gadang menuai pujian justru malah membuat meradang dengan mimpi yang setinggi langit dan polah kepala batunya. Ya, aku sudah mencoreng keluarga ini, bahkan lebih parah dari berbuat bidah. Ekspektasi terlampau tinggi kepadaku menuai kecewa yang teramat sangat dan kekecewaan mereka itu lebih buruk dari sekadar percakapan memuakan itu.

Setiap kali percakapan itu berlangsung, ekspresi keluargaku adalah yang paling melukai hatiku. Mereka tak mengatakan secara gamblang betapa kecewanya mereka padaku, tapi hal itu justru membuatku semakin sengsara dan pikiranku berantakan. Sepanjang berbulan-bulan ini aku hanya bisa merenung, berpikir dan bercermin.

WHAT’S WRONG WITH ME?

Semua jadi berantakan. Semua terasa salah dan tidak benar. Perasaan bersalah yang berlarut-larut itu pun kini berubah menjadi penyesalan yang luar biasa dan saat aku melihat ke belakang, yang ada hanya rasa sakit. Pandanganku mulai gelap, dan masa depan pun menjadi abu-abu. Semua terasa absrud dan aku lengah untuk menemukan pertanda-pertanda Tuhan hingga akhirnya aku pun ditegur keras oleh Tuhan sekali lagi.

Eyang Putriku masuk rumah sakit dan kali ini benar-benar parah.

Sekali lagi aku ditampar, kenangan tentang alm. Papa 2 tahun lalu kembali merengsek masuk ke dalam hatiku dan sekali lagi kualami titik balik dalam hidupku.

Semua kesombongan, rasa congkak, keras kepala, dan idealisme yang selama ini kubangun pun runtuh. Tak bersisa. Hancur berkeping-keping. Aku sadari itu semua adalah biang kerok dari semua ini, dan satu-satunya yang harus aku lakukan sekarang adalah membuang itu semua.

TAPI AKU TETAP TIDAK MEMBUANG MIMPIKU.

Aku masih mengejar ITB, tapi aku tidak gelap mata seperti pertarunganku sebelumnya. Aku aku sudah mengobati luka-luka bekas kekalahanku waktu itu dan mempelajari kesalahan-kesalahanku serta berlatih. Aku yakin, dipertarunganku berikutnya, aku sudah lebih siap dan percaya diri untuk memenangkan pertempuran.

I’M COMING SBMPTN 2015, I’LL BEAT YOU SO HARD ‘TILL IT HURTS!

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

5 tanggapan untuk “[Coretan Dicta] TITIK BALIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s