Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Mimpi yang Terakomodir

Aku sedang kacau. Aku menulis coretan ini sambil terisak seperti orang bodoh. Selama berbulan-bulan ini, setelah sekian banyak euforia menjadi pengangguran karena kalah dari pertempuran SBMPTN 2014, aku mulai kehilangan arah. Jalan yang dulunya terang benderang ingin kutempuh kini mulai terlihat kabur, gelap, dan lebur.

Mungkin kalian, para penikmat kata, para penyimak blog-ku, atau yang mencuri-curi lihat di sini juga sudah mulai menyadari kalau belakangan ini posting-an di blog-ku beraroma frustasi. Tidak begitu penuh optimisme seperti dulu saat mengejar mimpi kuliah ke ITB. Tulisanku belakangan terasa melankolis, dan lebih menunjukkan kepada dunia bahwa aku sedang mencoba bertahan bukan bersiap untuk bertarung.

Kenapa?

Singkat saja, ternyata kekalahan itu benar-benar menyakitkan. Pada awalnya aku berjuang untuk bertahan dari serangan sosial, aku pikir aku bisa mengatasinya, tapi keluarga besarku justru menambah perkara dan menyerangku dengan wajah-wajah mereka yang penuh kekecewaan dan harapan-harapan mereka yang terlalu tinggi. Segala tekanan dan harapan yang berbungkus nasihat dan kata-kata ‘Yah, kalau kamu gak mau ya Tante sih gak papa’ atau ‘Mama maunya kamu kayak gini sih, tapi kamunya dulu  ngotot banget ya udah’ atau ‘Kamu itu orangnya keras kepala, sangat keras kepala. Kamu selalu gak mau dengar apa kata orang. Coba sekali-sekali kamu  nurut apa kata keluarga. Kami itu sayang sama kamu’ benar-benar membuatku tertekan.

Aku MUAK!

MUAK dengan semua kekonyolan yang hidup ini hibahkan padaku! Aku tidak tahu apa yang Tuhan inginkan dari diriku sekarang ini, permainan apa lagi yang sedang Ia mainkan, Ya Tuhan, APA LAGI??? Aku benar-benar berantakan sekarang. Kacau. Lelah. Capai. Merasa nyaris sinting dengan semua orang dalam hidupku! Aku ingin lari saja. Aku ingin kabur. Aku ingin menghilang. Aku benar-benar ingin berada di tempat yang hanya ada diriku saja sendiri. Ya, aku ingin sendirian… aku ingin sendirian dan berpikir dan mencari dan menemukan lagi jalanku.

Aku benar-benar ingin membagi beban ini pada seseorang, aku ingin membagi rasa ingin pada seseorang atau pada siapa pun yang ada di muka bumi ini, tapi aku tidak punya siapa pun, aku sadar kalau selama ini aku sendirian dan aku benar-benar tidak memiliki siapa pun tempatku bertopang. Tidak masyarakat, teman-teman, bahkan keluarga karena dari mereka semualah aku ingin kabur.  Akhirnya, aku pun memilih blog ini lagi untuk meluapkan segala keluh kesahku.

Aku tahu, para pembaca blog ini tidak bisa men-judge-ku. Ya benar, kalian semua yang sedang membaca ini tak bisa menghakimiku karena apa yang kalian tahu tentangku hanya melalui kata-kata yang kutorehkan pada blog ini. Hal itu membuatku nyaman dan lebih mudah untuk bercerita. Di dunia ini, tidak ada satu pun yang mengerti perasaanku, jadi hanya aku sendirilah yang harus mencoba mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku menulis untuk diriku sendiri, apa yang kutulis sekarang adalah salah satu cara agar aku tetap waras. Terapi mental mungkin? Aku pernah mendengar seorang psikiater berkata menulis salah satu sarana terapi bagi orang depresi atau setengah gila. Yah, aku harap dengan ini aku bisa jadi sedikit lebih waras dari sebelumnya.

Anyway, lajut tentang keadaanku. Kalian tahu tidak, kepalaku sekarang terasa nyaris pecah karena mengakomodir semua mimpi. Mimpiku sekarang rasanya bukan lagi milikku sendiri, mimpiku sekarang miliki orangtua, keluarga dan semua orang yang mengharapkan keberhasilanku sesuai pandangan mereka. Sukses bagi mereka jelas bukan sukses bagiku, tapi karena aku belum berhasil meraih suksesku seperti mereka, mereka memaksakan pandangan mereka padaku.

Dengan cap dari seluruh keluarga sebagai anak keras kepala stadium kronis, rasanya benar-benar tidak nyaman jika penyakit keras kepala ini terus menerus tertancap di kepalaku seperti baleho. Maka aku berubah, padahal, keras kepala dan teguh akan pendirian bedanya hanya setipis kertas, aku kira aku teguh tapi keluargaku berkata kalau aku keras kepala. Ya sudahlah, aku pasrah, aku mundur dan mengakui kalau itu memang kekeraskepalaan. Lalu, aku mencoba berubah, mulai mengiyakan seluruh perkataan mereka, mengakomodir apa yang mereka inginkan juga harapan-harapan mereka. Ketika kusampaikan mimpi dan keinginanku, mereka berkata, ‘MIMPI KAMU ITU TERLALU MENGAWANG-AWANG, TERLALU TINGGI! KAMU MIMPI HARUS MENGINJAK TANAH! KAMU GAK MAMPU! KAMU HARUS DOWN GRADE MIMPI KAMU!’

Jika aku masih jadi anak yang keras kepala seperti dulu, mungkin aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan dan tegus akan pendirianku seperti sebelumnya, tapi sekarang… aku sudah menyerah menjadi anak keras kepala seperti dulu dan pasrah, maka aku iyakan saja apa yang mereka katakan. Semakin banyak yang mereka katakan padaku dan aku menerimanya—dengan harapan agar mereka bahagia and please stop giving a fuck about my life—aku pun semakin men-down grade mimpiku, serendah-rendahnya, sampai aku tak punya gairah lagi untuk mengejar mimpi itu.

Rasa pasrah, menyerah, dan kalah dalam mengejar mimpi ini benar-benar menyiksaku. Ini seperti bukan diriku selama ini, apa berubah semenyakitkan ini? Apa perubahan membuatku menjadi bukan diriku? Seseorang pernah berkata padaku ‘Fake it ‘till you become it’, and I’M REALLY A FAKER RIGHT NOW! Saking muaknya aku pada diriku sendiri sekarang ini, aku bahkan tidak menyangka kalau kalimat seperti ini terlontar dari mulutku tadi.

‘Terserah kuliah di mana, asal kuliah aja.’

Mendengar kalimat itu Mama benar-benar marah, sekali lagi dikecewakan olehku dan aku sendiri pun kecewa pada diriku sendiri. Aku sudah kehilangan gairah untuk bertarung! Benar-benar HILANG! Gila, apa kini aku telah menjadi orang gagal? Luka-luka yang aku rasakan bahkan tidak sebesar mereka yang sekarang kukagumi. Lukaku ini hanya sayatan kecil dan aku sudah menyerah sedemikian rupa? Gila, aku benar-benar gila. Tapi…

Aku lelah, aku capai, aku muak mendengar nasihat-nasihat mereka, aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi seluruh intervensi mimpi itu selain mengakomodir semuanya dan akhirnya menyerah atas mimpiku sendiri! Memberikan persetujuan dan PATUH! Menurunkan ego, keteguhan dan kekeraskepalaanku selama ini, dan menyerah! IYA, MENYERAH! Kalian tidak salah baca. Aku membiarkan semua orang mengganggu mimpiku dan menghancurkannya agar AKU tidak dianggap keras kepala seperti dulu.

Yah, mungkin saja mereka benar, mungkin juga aku tidak cukup keras mengejar mimpi yang ingin aku capai jadi mimpi itu terasa begitu jauh dan mengawang-awang. Atau… mungkin juga sebagian diriku ingin menyerah dari mengejar mimpi itu. Ada banyak aspek seperti biaya yang kuabaikan saat mengejar mimpi itu, ketika aspek itu menamparku dan aku tersadar, maka mimpi itu terlihat semakin tidak mungkin tercapai. Ditambah lagi nasihat keras seorang tanteku yang berkata seperti ini, ‘Aku gak setuju kamu kuliah di Bandung. Bandung itu ngeri! Pergaulannya bebas! Di sana tempat orang-orang borjuis dan punya uang! Biaya hidup mahal! Kamu gak mikir Mama-mu yang cari uang, apa lagi tahun depan kamu kuliah bareng adekmu, mikir! Ke mana Mama-mu cari uang selain pinjam sana-sini?’

Hah… Gila… kepalaku berdenyut keras sekali sampai mau mati rasanya. Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa diriku setelah ini. Rasanya benar-benar menyiksa, menangis pun tidak membuatku merasa lebih baik. Mungkin perasaanku akan menjadi lebih baik setelah menulis ini, tapi aku tahu di kemudian hari masih akan ada tulisan-tulisan lain akibat rasa frustasi dan depresi seperti yang aku rasakan sekarang ini. Yah, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi, separuh diriku sekarang ada di dalam blog ini, sejarah hidupku ada di sini dan semoga saja saat nanti aku membuka blog ini kembali dan membaca posting lawas tentang masa mudaku ini aku akan tersenyum dan berkata, ‘Kok bisa aku berpikiran seperti itu dulu?’ Semoga…

Penutup, sekarang aku benar-benar men-down grade mimpiku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi ini semua, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku pikirkan. Sampai sepanjang ini aku menulis kau tidak memecahkan satu pun masalahku, tak satu pun yang aku mengerti di hidup yang sedang aku jalani ini. Apa yang kuinginkan (atau orang-orang disekitarku ingin agar aku inginkannya) sekarang tak setinggi mimpi kuliah di ITB. ITB hanya untuk orang-orang pintar dan kaya, itu yang dikatakan keluargaku, sedangkan aku tidak begitu pintar pun tidak kaya, pendidikan yang tidak merata membuat orang-orang di Pulau Jawa punya lebih besar kesempatan tembus di ITB ketimbang aku yang biasa-biasa saja dan tinggal di Kalimantan, dan aku pun menerma pendapat itu.

Hahaha, lihat, betapa getirnya tulisanku sekarang ini. Sangat bertolak belakang dengan tulisanku di awal dulu. Ternyata telah banyak sekali yang berubah pada diriku selama beberapa bulan belakangan ini dan diam-diam aku merindukan diriku yang dulu, yang berani mengambil risiko dan menentang dunia. Apa aku bisa kembali? Apa aku berani untuk kembali? Entah, lihat saja nanti, lihat saja kemana hidup ini membawaku dan menjadikan aku apa. Pertanda itu tak kunjung datang dan aku tak bisa menemukannya meski aku mencarinya, mungkin kini aku pun mulai meragukan pertanda Tuhan itu dan meyakini kalau sesuatu seperti itu tak pernah ada. Tuhan mungkin saja hanya sekedar konsep yang diciptakan oleh manusia. Tuhan itu ada, tapi tak benar-benar ada. Tuhan ada kalau kita percaya, dan semoga saja aku masih punya sisa rasa percaya kalau Tuhan itu memang ada.

Semoga.

(Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin *cross sign*)

Iklan

14 thoughts on “[Coretan Dicta] Mimpi yang Terakomodir”

  1. Saya berharap untuk tidak di judge sebagai orang sok bijak atau sok menasehati, namun jujur saya juga pernah mengalami apa yang kamu rasakan, persis ketika tamat SMA dan tidak tembus SBMPTN 2011 (dulu namanya SNMPTN) atau lebih tepatnya tidak ikut SBMPTN 2011 karena kegundahan beban keinginan keluarga dan perkataan saudara-saudara. Saya sempat kehilangan diri karena itu semua.

    Barangkali saya bercerita saja, mudah-mudahan kamu lebih mudah menerima dengan bercerita.

    Saya anak desa Pelawan di sebuah kabupaten di Jambi, Sarolangun namanya. Saya anak bungsu dari 4 saudara yang tidak memiliki ayah sejak berumur 4 tahun, saya dan saudara saya semuanya laki-laki, hanya ada satu perempuan dalam keluarga kami, yaitu Ibu. Jarak umur saya dengan saudara saya yang tiga itu terbilang jauh, mereka satu sama lain berjarak 3 tahun, saya dan saudara di atas saya (saudara ketiga) berjarak 9 tahun, jarak umur saya dengan saudara tertua adalah 15 tahun. Saudara-saudara saya bisa saya katakan gagal dalam membahagiakan Ibu karena kenakalan mereka, pendidikan tertinggi mereka hanya SMA, bahkan di antara mereka hingga saat ini ada yang masih pengangguran dan masih menyusahkan Ibu. Barangkali sampai di sini kamu bisa bayangkan bagaimana beban yang harus saya pikul demi martabat keluarga, belum lagi di tambah dengan kontra dengan saudara kerap kali terjadi dan secara fisik sayalah yang harus mengalah. Seorang anak desa tanpa Ayah harus memikul beban seberat ini. Dari SD hingga SMP saya bersekolah di desa, benar-benar desa, tak ada harapan untuk orang bermimpi tinggi di sana, paling banter adalah menjadi peternak kerbau. Hingga waktu lulus SMP saya putuskan untuk merantau seorang diri ke kota Jambi dan mencoba masuk salah satu SMA favorite di sana, bahkan hampir ditolak karena tidak punya link dan berasal dari SMP kampungan. Di tengah kondisi tuntutan demikian rupa saya tetap berjuang, akhirnya saya masuk SMA N 2 Kota Jambi, salah satu sekolah favorit di sana, dan saya nge-kos di sana, sendirian, betul-betul sendirian.

    Selepas lulus saya tidak ikut SBMPTN karena keinginan saudara saya untuk langsung bekerja, mereka semua menghujat saya apabila memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi, alasan yang mereka katakan, “untuk apa kuliah? hanya menghabiskan uang Ibu saja, ujung-ujungnya akan senasib seperti kami! lebih baik kerja langsung saja!”
    Pada satu titik saya sangat tertampar dengan perkataan mereka, memang keluarga kami tergolong kurang mampu selepas kepergian Ayah. Ibu hanya terdiam, namun dalam diamnya saya menangkap isyarat, beliau mendukung keinginan saya sepenuhnya, seakan dalam diam itu beliau berkata, “Ibu memang bukanlah Ibu sosialita yang punya banyak uang, tapi dengan gigih keinginanmu Ibu akan usahakan, sekalipun berutang ke rentenir.”

    Akhirnya, masa-masa SBMPTN selesai, teman-teman bercerita tentang kampus pilihan mereka, tentang UGM, UI, ITB, IPB dan lainnya, sedangkan saya hanya termenung bingung hendak melangkah kemana. Hingga tiba pada satu titik saya “marah” pada Tuhan dan mempertanyakan “keadilannya.”

    Di tengah “kemarahan” itu saya teringat dengan kata-kata Andrea Hirata, kurang lebih seperti ini, “… ingatlah pada suatu saat ketika kau lelah mengejar mimpimu, berdo’alah maka Tuhan akan memeluk mimpimu,” pada saat itu saya meralat “kemarahan” saya pada Tuhan dan mencoba berdo’a pada-Nya.

    Pada masa penantian kelulusan ternyata Tuhan mendengar do’a saya, saya mendapat surat undangan + beasiswa ke Joga, tepatnya di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, kemudian saya berangkat seorang diri Ke Jogja dengan bus tanpa persetujuan saudara-saudara saya, seorang anak baru lulus SMA menyetop bus ke Jogja dan menawar harganya seorang diri saja, modal saya betul-betul hanya do’a dari Ibu, awalnya sedikit menyesal kenapa tidak megikuti tes masuk Universitas Gadjah Mada. Saya teringat lagi dengan perkataan Albert Einstein, “… bukan di mana tempatmu belajar yang terpenting, bukan pula siapa yang mengajarimu, tapi apa yang kau pelajari itulah yang terpenting.” Intinya belajar bisa di mana saja dan bisa dengan siapa saja.

    Dan sekarang saya temukan diri saya kembali seperti dulu, seorang anak desa pemimpi ulung yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga berani mewujudkannya. Dan sekarang saya sedang berjuang untuk menyandang toga dari dua kampus kenamaan di Jogja, Universitas Islam Indonesia dan UIN Sunan Kalijaga.

    Barangkali kondisi saya dahulu tak seburuk kondisimu kini, tapi teruslah berjuang dan strugle dengan mimpi-mimpimu, kuliah bisa di mana saja, tak begitu penting apa yang bisa kau dapatkan, tetapi apa yang kau bisa berikan yang utama. Jangan kalah karena tidak masuk ITB, karena kau lebih berharga dari pada ITB itu. Saya tidak bermaksud menggurui, hanya saya menuturkan pengalaman saya. Saya dan kamu sama, bedanya saya dulu pernah merasakan kondisimu saat ini, dan kamu belum merasakan kondisiku saat ini.Semoga dengan cerita ini kamu bisa semangat lagi dalam mengejar mimpi, apapun itu seperti kata Andrea Hirata, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu.”
    Sebagai penutup saya kutipkan perktaan Lao Tze, “Care about what other people think and you will always be their prisoner.”

    Semangat ya.. 😀
    Salam kenal dan hangat dari Jogja. 🙂

    1. *speechless*

      waktu pertama kali baca komentar kakak ini di blog saya, saya bener-bener lagi down berat. Terus pas selesai baca, saya pengen nangis lagi. Terima kasih sudah berbagi dengan saya ya Kak, cerita kakak ini menjadi salah satu komentar terbaik di blog saya. Jadi pengen pajang di kamar, hahahaha.

      Maaf gak bisa balas panjang lebar juga, saya pengen cerita, tapi nanti saja di postingan biar lebih rapi dan nyaman dibaca. sekali lagi terima kasih atas komentar luar biasanya ini. saya benar-benar merasa tersanjung. Semoga saya bisa melalui fase hidup saya ini lebih baik.

  2. Tetep semangat yah kak. Kita sama-sama berjuang. sampai sekarang aku masih bingung mau jurusan apa padahal udah kelas 2 sma. Aku punya impian, tapi sepertinya sulit untuk diwujudkan. Kita harus banyak banyak berdoa pada Tuhan agar Tuhan membuka jalan bagi kita umat yang percaya padaNya 🙂

  3. Halo kak saya lulusan tahun ini 2016. Ketika saya membaca beberapa blog kakak saya seperti melihat diri saya sendiri. Begitu idealis, keras kepala, pengejar mimpi, dan menginginkan sekolah di ITB pula. Saya juga gagal masuk ITB tahun ini. Saya tahu benar betapa menyakitkan ketika mendengar cerita teman-teman yang berhasil lanjut di kampus Ganesha itu. Sejauh ini saya hanya lari ingin menghilang saja dari kenyataan. Setiap malam saya juga berusaha menguatkan agar tangis saya tidak jatuh. Saya masih ingin memperjuangkan ITB tahun depan. Saya senang kini kakak dapat sekolah di UGM yang bisa dibilang Universitas top di Indonesia. Saya hanya minta doa untuk perjuangan saya. Terima kasih, rasanya senang bisa berbagi dengan kakak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s