[Musikalisasi Puisi] Catur

catur

 

Setiap hari aku menghitung sisa bidak di papan caturku

Satu… dua… tiga…

Tiga pionku telah tandas kemarin lusa

Satu… dua…

Dua bentengku runtuh kemarin

Lalu, satu lagi…

Mentriku terancam dipancung hari ini

Aku mendengus, jengkel juga kesal

Waktu berdecit di sisiku

Tapi aku hanya bertopang dagu

Berpikir keras tentang langkahku setelah ini

Karena langkahku

Menentukan bidak mana yang akan menemui ajalnya besok pagi

“Ini sulit,” keluhku

Meratapi pasukan yang tinggal segelintir

Sejenak aku melirik

Raja gendut tua itu  terlihat gemetaran

Hanya ada kuda di sisinya

Serta dua pion yang mengompol

Sedang sisa bidakku tersebar tak tentu arah

Entah ingin menyerang,

Mengancam,

Atau sekadar ada

Ah… aku memang tak pandai bermain catur

Apalagi melawan kehidupan

Aku tidak tahu strategiku

Bahkan sejak bukaan pertama

Gerakanku acak-acakan

Bunuh saja bidak di depan mata tanpa tahu itu hanya umpan

Sementara kehidupan adalah pemain pro

Ia tahu akan menghancurkanku sejak ia majukan pion pertamanya dua petak

Gerakannya begitu mulus dan manis

Dan aku pun terbuai olehnya tanpa sadar satu demi satu bidakku masuk kubur

Kini ia menyeringai

Menatapku angkuh

Dan berseloroh

“Catur bukan milik kita, Dinda, menyerahlah dan cumbui saja aku malam ini,”

Tapi aku menolak

Bosan sudah membanting papan dan menggauli bibirnya

Selalu begitu kalau aku sudah muak mencoba menaklukannya

Kali ini, aku masih punya bidak untuk dimainkan

Dan aku tak ingin menyerah

Sampai nanti kepala raja bersimbah darah di atas papan

Baru bisa dengan puas kubiarkan

Kehidupan menjajah tubuhku

Seenak jidatnya

[Fanfiction/Oneshot] The One and Only

cunddle1

Title                       :               The One and Only

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (IKON / YG Entertainment)

–          Lee Seung Young (Original Character)

Lenght                  :               oneshot

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               NC-17

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast kecuali OC bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

===

“Berapa umurmu saat kau menikah dulu?”

Lee Seung Young menyeringai, lalu menggeliat malas sembari merengsek masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh tanpa busananya. Pria yang berbaring di sampingnya itu pun turut masuk ke dalam selimut, melekatkan tubuh mereka bersama dan memeluk wanita itu dari belakang. Sejenak Seung Young merasakan tengkuknya geli karena pria itu kembali menciumi sisa-sisa keringat permainan mereka, sebelum akhirnya pertanyaan itu pun diajukan lagi karena Seung Young tak jua menjawabnya.

“Apa kau menikah karena ‘kecelakaan’?”

Seung Young pun terkekeh, geli karena pria itu tak mau menyerah untuk mengorek masa lalunya.

“Untuk apa mencari tahu, Chanwoo-ya?” Seung Young balas bertanya. Ia menarik jemari pria bernama lengkap Jung Chanwoo itu dan menciumnya mesra. Aroma tembakau menguar dari sana, dan Seung Young menyukainya meski ia bukan perokok.

“Bukankah itu normal?” Chanwoo mengusap cambangnya yg belum sempat ia cukur di punggung Seung Young, kembali menghirup parfume mawar yang selalu membuatnya kepalang sakau untuk menerjang wanita itu ke atas kasur. “Aku kekasihmu, aku ingin tahu tentangmu.”

Mendengar Chanwoo yang terkesan memberengut, Seung Young pun tergelak dan menepuk-nepuk pipi pria itu yang kini menempel di sisi kepalanya.

“Don’t be so rush, Young Man…” sahut Seung Young dan Chanwoo pun mengerang kesal.

“Don’t treat me like a kid.” Chanwoo menggigit telinga Seung Young gemas dan Seung Young pun semakin nyaring tertawa. “Aku sudah 24 tahun,” imbuh Chanwoo.

“Dan aku 40,” timpal Seung Young buru-buru. “Apa yang bisa menahanku untuk tidak memandangmu sebagai anak-anak?”

Dan Chanwoo pun bungkam; tak pernah berhasil memenangkan permainan adu mulut ini barang sekali. Sementara itu, Seung Young pun membiarkan hening merajai di antara mereka sembari terus mengecup jemari yang beberapa saat yang lalu menjelajahi tubuhnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan sensasi itu, bibir yang berpagut, dada yang berdebar, desahan  yang meracau di udara, serta puncak birahi yang nikmatnya tiada tara. Seumur hidup masa mudanya ia hanya bercinta dengan satu pria dan bersama dengan pria itu ia membangun keluarga serta memiliki seorang anak. Cinta benar-benar membutakannya, tapi tetap saja, tak pernah sekali pun ia menyesali keputusannya kawin lari kala itu.

“18 tahun.”

“Huh?”

“Umurku baru 18 tahun saat kami menikah.”

Chanwoo mengerjap, mengangkat wajahnya sedikit untuk memandang wanita itu dan berharap menemukan cengiran jenaka di sana. Tapi tidak, Chanwoo tak salah dengar dan Seung Young serius dengan ucapannya.

“Tapi aku tidak menikah dengannya karena ‘kecelakaan’.” Seung Young kembali menerangkan dan Chanwoo pun mendengarkan sembari mengeratkan pelukannya. “Hyun Ra lahir tepat di hari ulang tahunku yang ke-20, ia kado terindah dari Tuhan di umurku yang baru menginjak dua puluhan.”

“Tapi… kenapa?” Chanwoo tak kuasa bertanya, pikirannya masih merasa kalau apa yang dikatakan Seung Young itu hal paling absrud yang pernah didengarnya. Tapi, mengingat umur Hyun Ra yang hanya terpaut tiga tahun lebih muda darinya, rasanya semua menjadi masuk akal.

Mendengar pertanyaan yang barang tentu selalu terlontar dari orang-orang yang ia kisahkan tentang sejarah hidupnya, Seung Young pun tersenyum. Lalu, perlahan ia berbalik hingga matanya berpadu dengan mata Chanwoo yang masih menyisakan sorot tak percaya. Sejenak Seung Young memandang wajah di hadapannya ini lekat-lekat, sebelum akhirnya kembali menjawab pertanyaan yang Chanwoo lontarkan.

“Aku masih muda. Cinta menyapaku terlalu dini dan aku tak bisa berbuat apa pun selain menerimanya.” Seung Young merapatkan tubuhnya pada Chanwoo, menempelkan dahi mereka satu sama lain dan keintiman kembali terjalin di antara mereka. “Saat pertama kali aku mengenalnya, aku langsung tahu, he’s the one. The one and only. I don’t want nobody else but him.

Baca lebih lanjut

[Fanfiction/Chaptered] Part 2: Trilogy – Wait For Me

chanwoo_iKON

Title                       :               Wait For Me

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON /Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 2/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

000

Apa yang terjalin di antara Jung Chanwoo dan Liz tidak pernah bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada kalanya, kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing hingga diam pun menjadi satu-satunya cara untuk ditunjukkan. Chanwoo tak pernah terkejut ketika menemukan dirinya merasa begitu nyaman berada di samping Liz, begitu pula gadis punkie itu, yang tidak menyangka laki-laki ‘tenang’ seperti Chanwoo bisa menerima prilaku urakannya dengan santai. Bersama mereka menemukan kenyamanan, bersama mereka menemukan potongan puzzle yang sepertinya telah lama hilang. Namun, jika dengan bersama mereka hanya menjadi lengkap tanpa mengerti arti dari kelengkapan itu, hidup pun punya cara tersendiri untuk membuat mereka mengerti.

“Tunggu aku.”

Chanwoo meremas jemari Liz erat dan gadis itu pun tersenyum, menangkap mata Chanwoo dengan kilat-kilat kebahagiaan yang tersembunyi di balik air mata. Liz tidak terisak, tapi ia menangis. Ia turut bahagia, tapi air mata tak mau berhenti mengalir. Kata-kata tak pernah berhasil mengungkapkan perasaannya, jadi ia hanya diam dan menangis. Berharap Chanwoo mengerti hatinya tengah bergumul dengan hebat.

Liz pikir ia gadis yang kuat karena sejak awal ia telah mempersiapkan diri jika momen ini tiba. Tapi tetap saja, kenyataan selalu lebih pahit dari bayangannya. Ia benci harus mengucapkan selamat tinggal, karena selamat tinggal selalu menghantarkan orang-orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.

“Tunggu aku, aku pasti kembali,” ulang Chanwoo, kata-katanya terdengar tegas dan meyakinkan, meski ia sendiri tahu jauh di dalam hatinya ada begitu banyak kekhawatiran, kesedihan dan ketidakpastian yang menggerogoti masa depannya.

Sementara itu, air mata masih meleleh di wajah Liz, celak hitamnya luntur merusak make up malam itu. Tapi untaian senyum masih menghiasi dan Chanwoo tahu gadis itu baik-baik saja. Chanwoo pun balas tersenyum, ia sadar kalau ia tidak perlu berkata apa pun lagi. Seperti biasa, kata-kata tak pernah bekerja untuk mereka, jadi laki-laki itu memilih untuk menarik Liz dalam pelukannya dan menenggelamkan tubuh mungil itu di dadanya. Ia yakin kaos putihnya akan kotor oleh make-up Liz yang luntur. Tapi tak mengapa, ia bisa mencuci bajunya hingga bersih, tapi momen ini tak akan pernah bisa ia hapus untuk selamanya.

Sampai kutemukan jalanku, sampai kugapai mimpiku, tunggu aku Liz, tunggu aku hingga saat takdir memperbolehkan kita bertemu kembali dan akan kukatakan semua yang ingin kaudengar dariku. Chanwoo berbisik di dalam hati, mengeratkan pelukkannya sembari mengecup ubun-ubun gadis itu lembut. Pelan-pelan tetes- tetes air mengalir di sudut matanya, tapi Chanwoo tidak terisak, ia tersenyum. Chanwoo bahagia, tapi ia hanya ingin menangis karena ia tahu kalau ia tak akan bertemu lagi dengan gadis dalam pelukannya ini untuk waktu yang lama.

Sangat lama.

Baca lebih lanjut

[Musikalisasi Puisi] Untuk Jodohku yang Sedang Disimpan Tuhan

romantic couple love kiss cute alone sad wallpapers (7)

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Kira-kira seperti apa kita akan bertemu?

Pernahkah kau bertanya-tanya?

Bagiku

Aku selalu ingin bertemu denganmu dalam keadaan tidak sengaja

Seperti cinta pada pandangan pertama

Saat tubuh kita bertabrakan di lobi hingga kertas-kertas berhamburan

Dan tangan kita yang tak sengaja bersentuhan

Heh, lucu ya? Murahan gitu

Kok bisa-bisanya aku ingin mengenang kita dalam adegan seperti itu

Tapi aku ingin merasakannya

Cinta yang murahan itu

Tampaknya indah

Bukan begitu?

Cinta?

Sudah banyak bukan?

Mereka yang menghargai mahal cinta

Berakhir dengan sendirian menanti di sudut

Karena cinta yang mahal kadang kala terlalu sulit untuk dimiliki

Makanya

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Aku ingin cinta kita murahan

Kalau malam minggu

Kita di rumah saja

Duduk di teras

Ngobrol

Sambil makan martabak

Kalau kamu mau jalan

Ajak aku ke pasar malam

Gak usah bawa uang atau ponsel

Cukup ceban di saku kita masing-masing

Gak usah beli apa-apa di sana

Cukup makan jajanan sambil berdiri

Murah kan?

Ingat ya

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Cinta yang murahan namanya juga cinta

Siapa bilang

Cinta harus nonton di bioskop

Nge-mall

Belanja

Ngabisin duit

Hanya untuk menunjukan kalau cinta

Dihargai sebegitu mahalnya

Padahal

Cinta tidak pernah meminta label harga

Cinta tumbuh

Cinta hidup

Cinta ada

Karena kita bersama

Mengisi ruang juga waktu

Yang nantinya saat kita tinggalkan

Menyisakan jejak kupu-kupu kebahagian

Sesederhana itu?

Iya, sesederhana itu

Jadi,

Untuk jodohku yang sedang disimpan Tuhan

Saat kita bertemu nanti

Biarkanlah semesta bekerja

Jangan malu untuk mengenalku

Tatap mataku dan jabat tanganku erat-erat

Saat itu juga kita akan mengobrol panjang lebar

Bertukar kata juga kisah tentang sejarah hari-hari lalu

Pada saat itulah cinta akan jatuh lagi untuk kedua kalinya

Di antara kita

Setelah pandangan pertama

[Fanfiction/Chaptered] Part 1: Trilogy – CLIMAX

BwvzdGzCAAEg7kW[1]

Title                       :               Climax

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON wannabe/Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 1/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

===

Jung Chanwoo tak pernah tahu bahwa bagaimana rasanya memiliki sesuatu. Sejak kecil, ia hanya mengenal dengung kamera yang berputar mengelilinginya dan menuntut objek terbaik yang bisa ditangkap. Kamera sudah menjadi benda yang merekam hidupnya dan ia merasa hidupnya telah dimiliki oleh kamera-kamera itu. Ya, ia tak memiliki apa pun, kamera telah merebut semua darinya, masa kanak-kanaknya, teman-temannya, serta kemampuannya untuk bermimpi.

Heh? Mimpi?

Hahaha. Sejak kapan ia punya mimpi? Ayahnya mengira berpolah di depan kamera adalah mimpinya, tapi Chanwoo tak pernah merasa kalau ia menginginkan hal itu. Kala itu, umurnya baru 10 tahun, ia tengah digandeng ayahnya di sepanjang Apgujeong-dong untuk menghabiskan akhir pekan yang jarang sekali mereka nikmati bersama. Tiba-tiba seseorang menegur mereka, pria itu berbicara begitu bersemangat sembari menunjuknya dengan mata berbinar, ayahnya pun tersipu lalu tertawa.

Chanwoo menahan napasnya sejenak dan turut tersenyum pada pria yang telah membuat ayahnya tertawa itu. Ia jarang melihat ayahnya tersipu dan tertawa, semenjak ibunya menyerah pada kanker dan meninggalkan mereka, ayah terasa begitu jauh. Chanwoo yakin ayah ingin menenggelamkan kesedihan tentang ibu bersama pekerjaannya, jadi ia tak pernah protes  atau menuntut macam-macam, ia ingin jadi anak yang baik dan patuh agar ayahnya tidak merasa sedih. Apa pun akan ia lakukan agar ayah bisa tertawa lagi bersamanya seperti dulu.

‘Chanwoo-ya, mulai besok kau akan belajar akting di depan kamera.’ Suatu ketika—setelah pertemuan dengan pria di Aphujong-dong itu—ayah berkata padanya sambil tersenyum begitu lebar, matanya berbinar senang dengan bias kebanggaan di sana. Chanwoo tak mengerti apa itu ‘belajar akting’ tapi melihat wajah ayahnya, ia yakin kalau itu satu-satunya kesempatan baginya untuk membuat pria paruh baya bertubuh gempal itu bahagia.

‘Ya, Ayah! Aku akan belajar akting!’ sahutnya penuh semangat, dan ayahnya pun tertawa senang sembari memeluknya. Chanwoo benar-benar tak akan pernah melupakan hari itu, karena mulai detik itu ia telah melupakan kepentingan dirinya sendiri demi senyum bangga ayahnya.

“Chanwoo-ya on set!”

Lamunan Chanwoo buyar tatkala suara lantang sutradara drama tempatnya beperan sebagai cameo memanggilnya. Ia pun langsung berdiri dan melangkah cepat menuju lokasi penggambilan gambar, seorang make up aktris membuntutinya dan memperbaiki sedikit tatanan rambutnya sebelum kamera berputar dan dunianya kembali tersedot ke dalam sosok yang tak pernah ia kenali.

Camera rolling, action!

===

Tidak, Chanwoo tidak pernah berperan sebagai tokoh utama dalam sebuah drama. Karirnya dalam berakting tidak gemilang, selain hanya menjadi cameo sosok muda dari aktor ternama Lee Min Ho, mengambil sedikit bagian di beberapa film layar lebar ber-budget rendah dan sekali muncul dalam video musik boy band legendaries Dong Bang Shin Ki. Kebanyakan waktunya ia habiskan untuk belajar di sekolah, mengerjakan tugas-tugasnya, serta les akting seminggu sekali di sebuah sanggar. Namun, meskipun karirnya tak begitu bersinar, tak urung Chanwoo melihat ayahnya tersenyum tatkala memutar ulang rekaman-rekaman dirinya saat pulang bekerja. Ayahnya tak pernah tahu kalau ia selalu mengintip dari balik pintu dan turut menonton bersama sembari menikmati tawa bangga ayahnya. Pemandangan itu adalah sesuatu yang berharga bagi Chanwoo, ia ingin terus membuat ayahnya bangga seperti itu agar kesedihan akan ibu tak lagi menyelimuti mereka berdua. Tapi…

‘CUT! Jung Chanwoo! Ekspresimu terlalu datar! Kau berakting frustasi, bukan berperan sebagai batu!’

‘Hei, Chanwoo! Jika kusuruh berlari, jangan hanya berlari! Kau juga harus berakting! Kau tidak hanya menjual wajahmu di depan kamera!’

 ‘Yak! Chanwoo! Apa kau mendengar apa kataku?’

‘Chanwoo! Seriuslah!’

 ‘Chanwoo!’

Sudah cukup. Chanwoo sudah muak. Kamera benar-benar menelannya bulat-bulat, ia tidak bisa menyangkal dirinya sendiri, dirinya lebih kuat dari peran yang ia mainkan. Berakting di depan kamera belakangan membuatnya tersiksa dan nyaris gila. Meski semangat membuat ayahnya bahagia masih membara, tapi tekanan yang ia terima mulai melunturkan semuanya.

Chanwoo ingin berhenti.

Tapi jika ia berhenti, apa yang lagi yang bisa ia lakukan untuk ayahnya?

Slurp! Chanwoo menyedot milkshake cokelat yang baru saja ia dibeli kuat-kuat hingga membuat beberapa orang yang melangkah di dekatnya menoleh, tapi ia terus saja berjalan dan mengabaikan sekelilingnya. Mullae-dong pukul tujuh malam terlihat mulai ramai, ditambah lagi ini akhir pekan, biasanya banyak sekali musisi jalanan yang melakukan pertunjukan di sepanjang trotoar. Belakangan Chanwoo memilih untuk ke sini ketimbang pergi ke sanggar. Ayahnya tidak tahu akan hal ini, tentu saja, karena ayah pasti akan sangat sedih jika sampai mengetahuinya.

Hey ho, pretty boy!”

Chanwoo mendengar sebuah suara menyapa dan tubuhnya langsung terasa tertarik ke belakang ketika seseorang merangkul bahunya erat. Chanwoo mengenali suara itu dan langsung menoleh ke samping untuk menemukan mata kenari yang menjadi salah satu alasan ia memilih untuk kemari.

“Oh, annyeong, Liz,” sapa Chanwoo, senyumnya mengembang membalas cengiran gadis berpakaian punk itu.

“Hei, bagi minumanmu!” seru Liz saat melihat milkshake cokelat di tangan Chanwoo.  Rambut pendek bergaya bob-nya berkibar saat ia melompat-lompat kecil mencoba meraih milkshake yang langsung Chanwoo sembunyikan di balik jaket denimnya.

“Kau ‘kan ada pertunjukan malam ini,” kata Chanwoo sama sekali tidak membiarkan Liz menyeruput sedikit pun cairan cokelat itu.

“Ya, ampun Chanwoo, yang benar saja. Milkshake tidak akan membuat suaraku terdengar seperti Hulk!” Liz berkacak pinggang dan Chanwoo pun tergelak.

“Baiklah, baiklah.” Chanwoo pun menyodorkan milkshake cokelatnya dan gadis itu pun langsung menyambar minuman itu senang.

Slurp! Milkshake kembali tersedot hingga mengeluarkan suara dan orang-orang pun kembali menoleh,  Chanwoo masih tak peduli apa lagi Liz yang dari dandanannya saja melabeli dirinya sendiri sebagai gadis paling cuek di dunia.

“Hei, Chanwoo…” Liz mulai melangkah dan Chanwoo mengiringinya. Milkshake telah tandas tapi Liz suka mengunyah es batu, jadi ia hanya membuang tutup gelas dan mulai memasukan potongan-potongan kecil es batu ke dalam mulutnya. “Kau ingin bernyanyi bersamaku malam ini?” katanya sambil mengunyah es batu.

“Apa?” Chanwoo terbelalak, merasa konyol dengan ide itu. “Aku tidak bisa bernyanyi,” imbuhnya.

Liz menyikut laki-laki itu. “Suaramu lumayan,” katanya.

“Kau ingin mempermalukanku di depan umum, huh?” Chanwoo balas menyikut dan membuat Liz nyaris tersedak es batu.

“Tidak, aku serius, aku ingin kau ikut bernyanyi denganku,” desak Liz lagi.

“Tidak mau, aku menonton saja.” Chanwoo masih bersikukuh.

“Kau takut?”

“Aku tidak takut. Aku tidak mau, tidak bisa.”

“Hahaha, dasar penakut!”

Liz melempar gelas milkshake yang kini benar-benar kosong ke tempat sampah di dekatnya lalu mendelik sinis pada Chanwoo. “Kalau kau tak ingin berakting lagi, kenapa tidak bernyanyi saja?” sindirnya.

Chanwoo terdiam, sejenak ia berpikir ada benarnya juga, tapi ide menjadi penyanyi itu kelewat batas. “Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana,” aku Chanwoo dan Liz pun menyeringai.

“Kau bisa bernyanyi lagu apa?”

“Huh?”

“Kau tahu lagu Twinkle Twinkle Little Star?”

Chanwoo mengerjap, masih tidak paham apa maksud pertanyaan Liz  hingga gadis itu mengabaikannya dan berlari menuju segerombolan musisi jalanan yang sedang check sound dengan perkakas elektriknya di  sebuah bench. Liz berbicara sebentar pada pemimpin kelompok yang sepertinya ia kenali kemudian berlari kembali pada Chanwoo untuk menyeret laki-laki itu ke sana.

“Tidak… tidak, Liz!” Chanwoo berseru tatkala menyadari apa yang baru saja Liz prakarsai, tapi Liz keburu menyampirkan sebuah gitar elektro di bahunya, memainkan senarnya beberapa saat untuk memastikan benda itu berfungsi dan berteriak cukup nyaring di depan mic.

Hey ho, everyone!”

Chanwoo ingin kabur, tapi dua orang laki-laki—komplotan musisi jalanan yang sepertinya sudah diperintahkan Liz—menahan gerakannya, mendorongnya maju hingga terjengkang ke sisi Liz dan memberinya mic. Kini Chanwoo tak bisa kabur, orang-orang mulai berkumpul; lebih-lebih merasa malu pada dirinya sendiri, ia justru takut mempermalukan Liz dan rombongan musisi jalanan yang panggungnya ia pijak ini.

“Namaku Liz!” sapa Liz dan orang-orang bersorak, kebanyakan dari mereka telah mengenal Liz karena gadis itu memang salah satu bintang di jalan ini. Chanwoo semakin gugup, dadanya berdebar kencang, lirik lagu Twinkle Twikle Little Star berantakan di kepalanya, dan ia tak tahu harus berbuat apa selain merasa canggung.

“Malam ini aku ingin memperkenalkan seorang teman pada kalian.” Liz melirik Chanwoo, dan seluruh perhatian tertuju pada laki-laki itu. Chanwoo mencoba menarik senyum, tapi gugup membuat senyumnya terlihat mengerikan dan beberapa orang tertawa melihat kegugupannya yang begitu kentara.

“Namanya Jung Chanwoo. Ia tidak pernah menyanyi sebelumnya dan aku memaksanya bernyanyi sekarang juga, yah, kalian bisa lihat dari wajahnya sih.” Tawa semakin banyak terdengar menanggapi perkataan Liz itu dan membuat Chanwoo semakin kikuk. “Jadi, untuk lagu pertama aku akan membukanya dengan lagu yang sangat mudah.” Senar gitar dipetik dan intro lagu anak-anak itu terdengar. “Kalian tahu lagu apa itu?”

Semua orang tertawa dan beberapa di antaranya menyerukan judul lagu Twinkle Twinkle Little Star. Sejak awal, Chanwoo tahu itu bukan tawa yang mengejek—orang-orang yang bergaul di tempat ini tak pernah mengejek satu sama lain—melainkan tawa geli dan gembira karena tengah menonton sebuah pertunjukan. Tapi tetap saja…

“Hei, Chanwoo.” Liz menjauhi mic dan mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Chanwoo. “Relax man, anggap saja kau sedang berakting. Hanya saja, kali ini tidak ada kamera dan…” Liz menggantung ucapannya dan Chanwoo melihat gadis itu tersenyum begitu lebar, memamerkan gingsul gigi serinya yang manis sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya.

“Kau menjadi dirimu sendiri.”

Chanwoo terperangah, dalam beberapa detik kegugupannya langsung hilang dan saat intro lagu mulai bergaung dan Liz menyanyikan frasa pertama, Chanwoo pun mengiringi Liz dengan suaranya yang apa adanya. Semua orang tertawa, gembira, dan merasa terhibur, tapi kegugupan, rasa takut dan malu yang semula menggerogoti Chanwoo kini sirna. Yang tersisa hanya dirinya sendiri serta Liz yang berdiri bersama-sama dengannya di sana, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Chanwoo ia merasakan sesuatu yang lain juga berbeda. Karena kali ini ia memiliki sesuatu.

Chanwoo memiliki sebuah panggung.

Baca lebih lanjut