[Fanfiction/Chaptered] Part 1: Trilogy – CLIMAX

BwvzdGzCAAEg7kW[1]

Title                       :               Climax

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON wannabe/Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 1/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

===

Jung Chanwoo tak pernah tahu bahwa bagaimana rasanya memiliki sesuatu. Sejak kecil, ia hanya mengenal dengung kamera yang berputar mengelilinginya dan menuntut objek terbaik yang bisa ditangkap. Kamera sudah menjadi benda yang merekam hidupnya dan ia merasa hidupnya telah dimiliki oleh kamera-kamera itu. Ya, ia tak memiliki apa pun, kamera telah merebut semua darinya, masa kanak-kanaknya, teman-temannya, serta kemampuannya untuk bermimpi.

Heh? Mimpi?

Hahaha. Sejak kapan ia punya mimpi? Ayahnya mengira berpolah di depan kamera adalah mimpinya, tapi Chanwoo tak pernah merasa kalau ia menginginkan hal itu. Kala itu, umurnya baru 10 tahun, ia tengah digandeng ayahnya di sepanjang Apgujeong-dong untuk menghabiskan akhir pekan yang jarang sekali mereka nikmati bersama. Tiba-tiba seseorang menegur mereka, pria itu berbicara begitu bersemangat sembari menunjuknya dengan mata berbinar, ayahnya pun tersipu lalu tertawa.

Chanwoo menahan napasnya sejenak dan turut tersenyum pada pria yang telah membuat ayahnya tertawa itu. Ia jarang melihat ayahnya tersipu dan tertawa, semenjak ibunya menyerah pada kanker dan meninggalkan mereka, ayah terasa begitu jauh. Chanwoo yakin ayah ingin menenggelamkan kesedihan tentang ibu bersama pekerjaannya, jadi ia tak pernah protes  atau menuntut macam-macam, ia ingin jadi anak yang baik dan patuh agar ayahnya tidak merasa sedih. Apa pun akan ia lakukan agar ayah bisa tertawa lagi bersamanya seperti dulu.

‘Chanwoo-ya, mulai besok kau akan belajar akting di depan kamera.’ Suatu ketika—setelah pertemuan dengan pria di Aphujong-dong itu—ayah berkata padanya sambil tersenyum begitu lebar, matanya berbinar senang dengan bias kebanggaan di sana. Chanwoo tak mengerti apa itu ‘belajar akting’ tapi melihat wajah ayahnya, ia yakin kalau itu satu-satunya kesempatan baginya untuk membuat pria paruh baya bertubuh gempal itu bahagia.

‘Ya, Ayah! Aku akan belajar akting!’ sahutnya penuh semangat, dan ayahnya pun tertawa senang sembari memeluknya. Chanwoo benar-benar tak akan pernah melupakan hari itu, karena mulai detik itu ia telah melupakan kepentingan dirinya sendiri demi senyum bangga ayahnya.

“Chanwoo-ya on set!”

Lamunan Chanwoo buyar tatkala suara lantang sutradara drama tempatnya beperan sebagai cameo memanggilnya. Ia pun langsung berdiri dan melangkah cepat menuju lokasi penggambilan gambar, seorang make up aktris membuntutinya dan memperbaiki sedikit tatanan rambutnya sebelum kamera berputar dan dunianya kembali tersedot ke dalam sosok yang tak pernah ia kenali.

Camera rolling, action!

===

Tidak, Chanwoo tidak pernah berperan sebagai tokoh utama dalam sebuah drama. Karirnya dalam berakting tidak gemilang, selain hanya menjadi cameo sosok muda dari aktor ternama Lee Min Ho, mengambil sedikit bagian di beberapa film layar lebar ber-budget rendah dan sekali muncul dalam video musik boy band legendaries Dong Bang Shin Ki. Kebanyakan waktunya ia habiskan untuk belajar di sekolah, mengerjakan tugas-tugasnya, serta les akting seminggu sekali di sebuah sanggar. Namun, meskipun karirnya tak begitu bersinar, tak urung Chanwoo melihat ayahnya tersenyum tatkala memutar ulang rekaman-rekaman dirinya saat pulang bekerja. Ayahnya tak pernah tahu kalau ia selalu mengintip dari balik pintu dan turut menonton bersama sembari menikmati tawa bangga ayahnya. Pemandangan itu adalah sesuatu yang berharga bagi Chanwoo, ia ingin terus membuat ayahnya bangga seperti itu agar kesedihan akan ibu tak lagi menyelimuti mereka berdua. Tapi…

‘CUT! Jung Chanwoo! Ekspresimu terlalu datar! Kau berakting frustasi, bukan berperan sebagai batu!’

‘Hei, Chanwoo! Jika kusuruh berlari, jangan hanya berlari! Kau juga harus berakting! Kau tidak hanya menjual wajahmu di depan kamera!’

 ‘Yak! Chanwoo! Apa kau mendengar apa kataku?’

‘Chanwoo! Seriuslah!’

 ‘Chanwoo!’

Sudah cukup. Chanwoo sudah muak. Kamera benar-benar menelannya bulat-bulat, ia tidak bisa menyangkal dirinya sendiri, dirinya lebih kuat dari peran yang ia mainkan. Berakting di depan kamera belakangan membuatnya tersiksa dan nyaris gila. Meski semangat membuat ayahnya bahagia masih membara, tapi tekanan yang ia terima mulai melunturkan semuanya.

Chanwoo ingin berhenti.

Tapi jika ia berhenti, apa yang lagi yang bisa ia lakukan untuk ayahnya?

Slurp! Chanwoo menyedot milkshake cokelat yang baru saja ia dibeli kuat-kuat hingga membuat beberapa orang yang melangkah di dekatnya menoleh, tapi ia terus saja berjalan dan mengabaikan sekelilingnya. Mullae-dong pukul tujuh malam terlihat mulai ramai, ditambah lagi ini akhir pekan, biasanya banyak sekali musisi jalanan yang melakukan pertunjukan di sepanjang trotoar. Belakangan Chanwoo memilih untuk ke sini ketimbang pergi ke sanggar. Ayahnya tidak tahu akan hal ini, tentu saja, karena ayah pasti akan sangat sedih jika sampai mengetahuinya.

Hey ho, pretty boy!”

Chanwoo mendengar sebuah suara menyapa dan tubuhnya langsung terasa tertarik ke belakang ketika seseorang merangkul bahunya erat. Chanwoo mengenali suara itu dan langsung menoleh ke samping untuk menemukan mata kenari yang menjadi salah satu alasan ia memilih untuk kemari.

“Oh, annyeong, Liz,” sapa Chanwoo, senyumnya mengembang membalas cengiran gadis berpakaian punk itu.

“Hei, bagi minumanmu!” seru Liz saat melihat milkshake cokelat di tangan Chanwoo.  Rambut pendek bergaya bob-nya berkibar saat ia melompat-lompat kecil mencoba meraih milkshake yang langsung Chanwoo sembunyikan di balik jaket denimnya.

“Kau ‘kan ada pertunjukan malam ini,” kata Chanwoo sama sekali tidak membiarkan Liz menyeruput sedikit pun cairan cokelat itu.

“Ya, ampun Chanwoo, yang benar saja. Milkshake tidak akan membuat suaraku terdengar seperti Hulk!” Liz berkacak pinggang dan Chanwoo pun tergelak.

“Baiklah, baiklah.” Chanwoo pun menyodorkan milkshake cokelatnya dan gadis itu pun langsung menyambar minuman itu senang.

Slurp! Milkshake kembali tersedot hingga mengeluarkan suara dan orang-orang pun kembali menoleh,  Chanwoo masih tak peduli apa lagi Liz yang dari dandanannya saja melabeli dirinya sendiri sebagai gadis paling cuek di dunia.

“Hei, Chanwoo…” Liz mulai melangkah dan Chanwoo mengiringinya. Milkshake telah tandas tapi Liz suka mengunyah es batu, jadi ia hanya membuang tutup gelas dan mulai memasukan potongan-potongan kecil es batu ke dalam mulutnya. “Kau ingin bernyanyi bersamaku malam ini?” katanya sambil mengunyah es batu.

“Apa?” Chanwoo terbelalak, merasa konyol dengan ide itu. “Aku tidak bisa bernyanyi,” imbuhnya.

Liz menyikut laki-laki itu. “Suaramu lumayan,” katanya.

“Kau ingin mempermalukanku di depan umum, huh?” Chanwoo balas menyikut dan membuat Liz nyaris tersedak es batu.

“Tidak, aku serius, aku ingin kau ikut bernyanyi denganku,” desak Liz lagi.

“Tidak mau, aku menonton saja.” Chanwoo masih bersikukuh.

“Kau takut?”

“Aku tidak takut. Aku tidak mau, tidak bisa.”

“Hahaha, dasar penakut!”

Liz melempar gelas milkshake yang kini benar-benar kosong ke tempat sampah di dekatnya lalu mendelik sinis pada Chanwoo. “Kalau kau tak ingin berakting lagi, kenapa tidak bernyanyi saja?” sindirnya.

Chanwoo terdiam, sejenak ia berpikir ada benarnya juga, tapi ide menjadi penyanyi itu kelewat batas. “Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana,” aku Chanwoo dan Liz pun menyeringai.

“Kau bisa bernyanyi lagu apa?”

“Huh?”

“Kau tahu lagu Twinkle Twinkle Little Star?”

Chanwoo mengerjap, masih tidak paham apa maksud pertanyaan Liz  hingga gadis itu mengabaikannya dan berlari menuju segerombolan musisi jalanan yang sedang check sound dengan perkakas elektriknya di  sebuah bench. Liz berbicara sebentar pada pemimpin kelompok yang sepertinya ia kenali kemudian berlari kembali pada Chanwoo untuk menyeret laki-laki itu ke sana.

“Tidak… tidak, Liz!” Chanwoo berseru tatkala menyadari apa yang baru saja Liz prakarsai, tapi Liz keburu menyampirkan sebuah gitar elektro di bahunya, memainkan senarnya beberapa saat untuk memastikan benda itu berfungsi dan berteriak cukup nyaring di depan mic.

Hey ho, everyone!”

Chanwoo ingin kabur, tapi dua orang laki-laki—komplotan musisi jalanan yang sepertinya sudah diperintahkan Liz—menahan gerakannya, mendorongnya maju hingga terjengkang ke sisi Liz dan memberinya mic. Kini Chanwoo tak bisa kabur, orang-orang mulai berkumpul; lebih-lebih merasa malu pada dirinya sendiri, ia justru takut mempermalukan Liz dan rombongan musisi jalanan yang panggungnya ia pijak ini.

“Namaku Liz!” sapa Liz dan orang-orang bersorak, kebanyakan dari mereka telah mengenal Liz karena gadis itu memang salah satu bintang di jalan ini. Chanwoo semakin gugup, dadanya berdebar kencang, lirik lagu Twinkle Twikle Little Star berantakan di kepalanya, dan ia tak tahu harus berbuat apa selain merasa canggung.

“Malam ini aku ingin memperkenalkan seorang teman pada kalian.” Liz melirik Chanwoo, dan seluruh perhatian tertuju pada laki-laki itu. Chanwoo mencoba menarik senyum, tapi gugup membuat senyumnya terlihat mengerikan dan beberapa orang tertawa melihat kegugupannya yang begitu kentara.

“Namanya Jung Chanwoo. Ia tidak pernah menyanyi sebelumnya dan aku memaksanya bernyanyi sekarang juga, yah, kalian bisa lihat dari wajahnya sih.” Tawa semakin banyak terdengar menanggapi perkataan Liz itu dan membuat Chanwoo semakin kikuk. “Jadi, untuk lagu pertama aku akan membukanya dengan lagu yang sangat mudah.” Senar gitar dipetik dan intro lagu anak-anak itu terdengar. “Kalian tahu lagu apa itu?”

Semua orang tertawa dan beberapa di antaranya menyerukan judul lagu Twinkle Twinkle Little Star. Sejak awal, Chanwoo tahu itu bukan tawa yang mengejek—orang-orang yang bergaul di tempat ini tak pernah mengejek satu sama lain—melainkan tawa geli dan gembira karena tengah menonton sebuah pertunjukan. Tapi tetap saja…

“Hei, Chanwoo.” Liz menjauhi mic dan mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Chanwoo. “Relax man, anggap saja kau sedang berakting. Hanya saja, kali ini tidak ada kamera dan…” Liz menggantung ucapannya dan Chanwoo melihat gadis itu tersenyum begitu lebar, memamerkan gingsul gigi serinya yang manis sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya.

“Kau menjadi dirimu sendiri.”

Chanwoo terperangah, dalam beberapa detik kegugupannya langsung hilang dan saat intro lagu mulai bergaung dan Liz menyanyikan frasa pertama, Chanwoo pun mengiringi Liz dengan suaranya yang apa adanya. Semua orang tertawa, gembira, dan merasa terhibur, tapi kegugupan, rasa takut dan malu yang semula menggerogoti Chanwoo kini sirna. Yang tersisa hanya dirinya sendiri serta Liz yang berdiri bersama-sama dengannya di sana, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Chanwoo ia merasakan sesuatu yang lain juga berbeda. Karena kali ini ia memiliki sesuatu.

Chanwoo memiliki sebuah panggung.

===

Jung Chanwoo pertama kali bertemu dengan Liz saat kali ketiga ia membolos kelas aktingnya. Ia sedang menyusuri jalanan Seoul tak tentu arah, membunuh waktu sampai waktunya ia pulang. Secara tak sengaja ia melihat Liz sedang memetik gitarnya di trotoar jalan, waktu itu bukan di Mullae-dong, melainkan jalanan sepi yang nyaris tidak ada orang yang berlalu lalang. Gadis itu terlihat tenang, sembari menyanyikan lagu You and I milik John Lagend versi akustik dalam damai. Chanwoo tak dapat menahan dirinya untuk berhenti dan menjadi satu-satunya penonton Liz di sana. Saat gadis itu menuntaskan pertunjukkannya, Chanwoo pun bertepuk tangan sangat keras.

Liz tertawa mendapati Chanwoo yang bertepuk tangan sangat keras meski sendirian dan perkenalan pun berlangsung normal di antara mereka. Liz bercerita, seharusnya ia berada di Mullae-dong saat itu, tapi ia menunjuk hak boot-nya yang patah dan memilih untuk bermain solo tanpa penonton di sini saja dari pada pulang dan tidak melakukan apa pun sepanjang malam.

Semenjak pertemuan itu, Chanwoo tak pernah sekali pun melewatkan akhir pekan tanpa berkunjungi Mullae-dong dan menonton Liz. Ia telah menjadi fans nomor satu gadis itu; menikmati seluruh pertunjukkannya sampai waktu pulang tiba atau menghabiskan sisa malam mengobrol panjang lebar berdua saja ditemani cola dan creeps.

Kebiasaan itu telah berlangsung cukup lama dan anehnya benar-benar membuatnya nyaman, Chanwoo pun tak pernah berpikir kalau hal itu akan berubah. Tapi semenjak malam penuh bintang ber-soundtrack Twinkle Twinkle Little Star kala itu, Chanwoo kini tak lagi menjadi penonton, melainkan bersanding dengan Liz di nyaris setiap pertunjukkan gadis itu.

Mulanya ia benar-benar kikuk, setiap minggu Liz memintanya untuk menghafalkan berbagai macam lagu dari yang mudah sampai lagu yang sama sekali belum pernah ia dengar. Meski Chanwoo bersikeras tidak ingin bernyanyi, Liz selalu punya cara untuk membuatnya bersuara di depan mic. Orang-orang mulai mengenalinya sebagai ‘Teman Liz’ yang amatir—penghibur di setiap pertunjukan gadis itu, namun lambat laun ia berhasil mengumpulkan kepercayaan dirinya dan mendapatkan beberapa pujian dari penonton. Ia mengingat dirinya saat pertama kali disuruh berakting di depan kamera, perasaan itu lebih menakutkan ketimbang berdiri dan bernyanyi di depan orang-orang yang tidak ia kenali ini. Chanwoo tak pernah memiliki tempatnya sendiri bila berada di depan kamera, sementara di sini—di trotar, di bench, di panggung yang terbuat dari drum bekas—Chanwoo memiliki tempatnya sendiri. Tempat yang membuatnya  bisa  bersuara dan bertindak sesuka hati.

Ah, Chanwoo benar-benar menyukai keadaannya sekarang, ia menemukan mimpinya bersama Liz, dan berharap duet yang dimulai dari kekonyolan ini tak pernah berakhir.

“Tidak, tidak… aku tidak ingin terus-terusan berduet denganmu.” Liz menggeleng keras sembari meletakan creeps kejunya di atas paha. Chanwoo mengerutkan keningnya dalam, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan jawaban itu. Ia kira Liz juga ingin mereka terus berduet, maka dari itu ia mengajukan beberapa ide nama bagi persekutuan mereka ini dan berharap gadis itu menyetujui salah satunya. Maka dengan begitu, ia merasa benar-benar memiliki semuanya.

You are not belong with me. Here? It’s a big no no. This is not your place.” Liz meraih kembali creeps-nya dan meninggalkan percakapan dalam hening dengan suara kunyahan-kunyahan dari mulutnya.  Chanwoo yang masih tak menyangka dengan penolakan Liz yang tanpa pikir dua kali itu hanya bisa terdiam, tak tahu harus berkata apa. Hingga Liz menuntaskan makanannya dan kembali menatap laki-laki yang sedari tadi duduk di sampingnya; Chanwoo masih saja diam tak bersuara. Menahan kesal di dada.

“Kau bisa berada di panggung yang lebih besar dari ini,” kata Liz serius, menatap Chanwoo lekat-lekat. “Kau punya kesempatan yang lebih besar dari ini. Lebih banyak lampu, sorak sorai, juga uang. Aku tidak bisa menahanmu di sini selamanya.”

“Kenapa kita tidak melakukannya bersama-sama?”Chanwoo masih tidak mengerti. Liz yang menjebloskannya pada dunia ini, ia harus bertanggung jawab akan segalanya.

Liz terdiam, memutar matanya ke sana kemari mencari-cari alasan yang sekiranya masuk akal diterima oleh Chanwoo. Hingga akhirnya ia memilih untuk berkata jujur ketimbang mencari-cari alasan yang barang tentu laki-laki itu sadari kebohongannya.

“Karena aku lebih suka berada di sini,” jawab Liz singkat, namun Chanwoo masih tidak terima, ekspresinya masam dan Liz tahu betul kalau laki-laki itu tidak suka penolakan yang ia sampaikan.

“Chanwoo…” Liz merapatkan tubuhnya pada Chanwoo dan menyentuh wajah laki-laki itu dengan satu tangannya. Dielusnya lembut wajah itu, berharap muram yang merundung hilang ditelan malam. Liz suka melihat Chanwoo tersenyum, tapi alih-alih tersenyum, laki-laki itu sekarang justru membuang muka darinya.

“Kau ingin membuat ayahmu bangga ‘kan?” Liz merangkul bahu Chanwoo dengan kedua tangannya, meletakan kepalanya pada dada laki-laki itu sembari mendengarkan debar jantung yang berpadu dengan debar miliknya sendiri. “Mullae-dong bukan tempat yang akan membuat ayahmu bangga. Kau tahu itu ‘kan?”

“Tapi aku ingin bernyanyi bersamamu,” balas Chanwoo  buru-buru dengan hasrat memelas. Ia tahu betul kalau apa yang dikatakan Liz barusan semuanya benar. Liz benar-benar menyukai tempat ini; Mullae-dong adalah Liz dan Liz adalah Mullae-dong. Dua hal itu tak dapat dipisahkan, Liz bersinar di sini, ini panggung miliknya dan ia tak bisa meninggalkan panggung ini. Chanwoo benar-benar mengerti hal ini  sekaligus membenci kenyataan bahwa selain ingin bernyanyi bersama Liz di atas panggung, ia juga ingin membuat ayahnya bangga—tapi naasnya, Mullae-dong bukanlah tempat yang dapat dibanggakan.

“Kita bisa bernyanyi kapan saja,” hibur Liz, mengeratkan rangkulannya. “Kita punya waktu selamanya untuk bernyanyi bersama, bukan? Ingat itu.”

Chanwoo mendesah—begitu berat, begitu lelah—ia tahu sampai kapan pun ia tak dapat mengalahkan keadaan konyol ini. Antara Liz dan mimpinya, sesungguhnya ia tak bisa memilih, tapi kehidupan selalu berhasil membuatnya memilih dan Chanwoo tahu pasti ia akan melakukan apa pun agar bisa membuat ayahnya bangga karena itulah mimpinya.

Waktu berlalu hening dalam sejenak, sampai akhirnya Chanwoo pun balas melingkarkan tangan di pinggang ramping Liz dan membuat tubuh mereka semakin rapat. Lalu, sembari meletakan dagu di ubun-ubun gadis itu, Chanwoo pun berkata lirih, “Setidaknya, izinkan aku terus menjadi backing vocal-mu sampai saatnya tiba.” Liz terkekeh mendengar istilah ‘backing vocal’ itu dan Chanwoo pun menarik bibirnya sedikit sebelum melanjutkan, “Sampai nanti ayahku tahu, sampai kutemukan jalanku, sampai kugenggam mimpiku. Kumohon Liz, izinkan aku bernyanyi bersamamu.”

“Hahahaha.” Liz tertawa, kupu-kupu terbang di perutnya dan membuatnya geli. Ia tak pernah merasa seromantis ini ketika berdua saja dengan Chanwoo, karena selama ini, yang terjadi di antara mereka hanyalah ikatan tanpa nama. “Dengan senang hati,” sahut Liz riang, ia toh tak punya alasan untuk menolak permintaan itu karena bagi dirinya sendiri, ia pun sangat ingin terus bernyanyi bersama lak-laki itu.

Selamanya.

Con.

Even if this is my last time

I will sing without regret

I will sing, sing

Flyin’ tonight

No limit gon’ touch the sky

2 pemikiran pada “[Fanfiction/Chaptered] Part 1: Trilogy – CLIMAX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s