[Fanfiction/Chaptered] Part 2: Trilogy – Wait For Me

chanwoo_iKON

Title                       :               Wait For Me

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (YG Entertainment’s Trainee/IKON /Mix&Match)

–          Liz (Original Character)

Lenght                  :               Chaptered – 2/3

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Note:

Fanfiction ini di buat berdasarkan survival program kerja sama antara YG Entertainment dan Mnet, yaitu Mix and Match

000

Apa yang terjalin di antara Jung Chanwoo dan Liz tidak pernah bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada kalanya, kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing hingga diam pun menjadi satu-satunya cara untuk ditunjukkan. Chanwoo tak pernah terkejut ketika menemukan dirinya merasa begitu nyaman berada di samping Liz, begitu pula gadis punkie itu, yang tidak menyangka laki-laki ‘tenang’ seperti Chanwoo bisa menerima prilaku urakannya dengan santai. Bersama mereka menemukan kenyamanan, bersama mereka menemukan potongan puzzle yang sepertinya telah lama hilang. Namun, jika dengan bersama mereka hanya menjadi lengkap tanpa mengerti arti dari kelengkapan itu, hidup pun punya cara tersendiri untuk membuat mereka mengerti.

“Tunggu aku.”

Chanwoo meremas jemari Liz erat dan gadis itu pun tersenyum, menangkap mata Chanwoo dengan kilat-kilat kebahagiaan yang tersembunyi di balik air mata. Liz tidak terisak, tapi ia menangis. Ia turut bahagia, tapi air mata tak mau berhenti mengalir. Kata-kata tak pernah berhasil mengungkapkan perasaannya, jadi ia hanya diam dan menangis. Berharap Chanwoo mengerti hatinya tengah bergumul dengan hebat.

Liz pikir ia gadis yang kuat karena sejak awal ia telah mempersiapkan diri jika momen ini tiba. Tapi tetap saja, kenyataan selalu lebih pahit dari bayangannya. Ia benci harus mengucapkan selamat tinggal, karena selamat tinggal selalu menghantarkan orang-orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.

“Tunggu aku, aku pasti kembali,” ulang Chanwoo, kata-katanya terdengar tegas dan meyakinkan, meski ia sendiri tahu jauh di dalam hatinya ada begitu banyak kekhawatiran, kesedihan dan ketidakpastian yang menggerogoti masa depannya.

Sementara itu, air mata masih meleleh di wajah Liz, celak hitamnya luntur merusak make up malam itu. Tapi untaian senyum masih menghiasi dan Chanwoo tahu gadis itu baik-baik saja. Chanwoo pun balas tersenyum, ia sadar kalau ia tidak perlu berkata apa pun lagi. Seperti biasa, kata-kata tak pernah bekerja untuk mereka, jadi laki-laki itu memilih untuk menarik Liz dalam pelukannya dan menenggelamkan tubuh mungil itu di dadanya. Ia yakin kaos putihnya akan kotor oleh make-up Liz yang luntur. Tapi tak mengapa, ia bisa mencuci bajunya hingga bersih, tapi momen ini tak akan pernah bisa ia hapus untuk selamanya.

Sampai kutemukan jalanku, sampai kugapai mimpiku, tunggu aku Liz, tunggu aku hingga saat takdir memperbolehkan kita bertemu kembali dan akan kukatakan semua yang ingin kaudengar dariku. Chanwoo berbisik di dalam hati, mengeratkan pelukkannya sembari mengecup ubun-ubun gadis itu lembut. Pelan-pelan tetes- tetes air mengalir di sudut matanya, tapi Chanwoo tidak terisak, ia tersenyum. Chanwoo bahagia, tapi ia hanya ingin menangis karena ia tahu kalau ia tak akan bertemu lagi dengan gadis dalam pelukannya ini untuk waktu yang lama.

Sangat lama.

000

YG Entertainment memanggilnya. Chanwoo tidak menyangka kalau perusahaan musik terbesar di Korea itu memanggilnya dan menerimanya sebagai trainee di sana. Ia tahu kalau mengirimkan video dan proposalnya kepada perusahaan sementereng YG Entertainment merupakan tindakan pilon dan gegabah, tapi ayahnya—yang akhirnya menerima keputusannya meninggalkan dunia akting dan mengejar mimpinya yang baru—berkata kalau ia benar-benar serius menjadi seorang penyanyi, cobalah mengejar perusahan yang benar-benar menghargai musik dan akan menjadikannya musisi sejati. Maka Chanwoo menurut, meski ragu dengan jawaban yang akan ia terima, tapi ternyata laki-laki itu berhasil dan kini telah menjadi trainee di perusahaan itu selama dua bulan.

Ia masuk bersama seorang trainee lain, namanya Jung Jin Hyung. Mereka tinggal di dorm yang sama, pria itu sangat ramah meski pada mulanya mereka begitu kaku. Selama dua bulan bersama yang mereka lakukan hanya pulang-pergi dorm dan gedung pelatihan. Tak ada kepastian kapan mereka akan debut dan menjadi salah satu penyanyi yang berdiri di atas panggung. Tapi Chanwoo bahkan sudah cukup bersyukur dengan hanya menjadi trainee di perusahaan ini, ia tahu umurnya terlalu hijau untuk debut, dan ia pun masih perlu banyak latihan untuk mengembangkan suaranya yang rata-rata. Hingga suatu hari Yang Hyun Suk, presiden YG Entertainment, memanggil mereka dan mengatakan hal yang sangat tidak terduga.

‘Kalian berdua akan bergabung dengan team B dari WIN program tahun lalu dan menjalani survival program yang baru bersama mereka dalam Mix and Match. Aku pikir, sebagai trainee baru kalian cukup siap untuk menghadapi ini, selain itu acara ini juga bisa menjadi jalan pintas kalian untuk debut lebih awal sebagai iKON.’

Chanwoo terperanjat. Apa ini takdir? Apa ini salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan padanya kalau jalan yang ia ambil telah benar? Tapi… Chanwoo teringat wajah-wajah orang yang menanti kesuksesannya, senyum bangga dan pelukan ayahnya yang selalu ingin ia temukan, serta Liz yang menjadi satu-satunya lentera arahnya ketika semua terasa kabur. Dalam seketika, keraguan yang semula dirasakan Chanwoo menghilang, bergantian dengan keteguhan hati kalau inilah satu-satunya kesempatan yang diberikan Tuhan dan ia tak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Tidak akan.

000

‘Suaranya biasa saja, ia lebih pantas berakting ketimbang menjadi penyanyi.’

‘Hahaha, yang benar saja? Jung Chanwoo bernyanyi? iKON benar-benar akan menjadi grup Alvin and The Cimpunk yang baru.’

‘Banyak penyanyi yang bisa berakting, tapi aku tidak pernah tahu kalau ada aktor yang bisa bernyanyi.’

‘iKON tidak perlu vocal yang lemah seperti Jung Chanwoo, ia hanya akan menjadi penghambat bagi masa depan grup ini.’

‘Jung Chanwoo tak pantas bernyanyi.’

Chanwoo membaca tanggapan Netizen di dunia maya dengan perasaan gamang. Ia tahu sejak awal, kalau Netizen Korea begitu keras dalam mengkritik para pelaku di dunia Show Biz. Ia pun siap dengan semua pemberitaan serta ucapan-ucapan kasar yang tertuju padanya, tapi tetap saja rasanya benar-benar menyakitkan ketika mengetahui dirinya dihakimi tanpa bisa menjelaskan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Yak, Chanwoo…” Chanwoo mengangkat wajah dari laptop-nya dan menoleh ke arah Kim Hanbin—leader dari iKON—yang ternyata telah duduk di kasurnya. Segera ia pun bangkit dari tidur tengkurapnya dan turut duduk di atas kasur.

“Ya, Hyung, ada apa?”

Hanbi menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sudah nyaris enam bulan mereka berada di dorm yang sama; berbagi suka dan duka yang telah terekam seluruhnya oleh kamera yang mengamati setiap gerak-gerik mereka. Pada kenyataannya, Hanbi menyukai Chanwoo, ia anggota paling muda di grup ini tapi tidak punya masalah dalam berbaur karena ia begitu ‘patuh’ dan menyenangkan. Tapi tetap saja, ada satu hal yang mengganggunya selama ini, dan Hanbi bukanlah tipe orang yang membiarkan hal-hal seperti ini mengganggunya sementara mereka tinggal bersama.

“Aku tahu, mungkin ini kedengarannya lancang.” Hanbi memulai perkataan, dan Chanwoo mendengarkan tanpa prasangka. “Aku ingin bertanya padamu dan kuharap kau menjawabnya dengan jujur.

“Kenapa kau memutuskan untuk menjadi penyanyi dan berhenti berakting?”

Chanwoo terperanjat, ia pikir semua orang di dorm ini telah melupakan masalah itu dan fokus dengan apa yang sedang mereka jalani sekarang ini. Mungkin ini karena Hanbin adalah member tetap dari iKON, sehingga ia punya lebih banyak waktu untuk memikirkan member yang lain ketimbang dirinya sendiri. Tapi tetap saja, Chanwoo benar-benar tidak menyangka akan ditanyai seperti ini.

Hyung…” Chanwoo menggosok tengkuknya yang sedikit berkeringat, ia mulai bimbang, menjawab dengan jujur atau tidak karena alasan itu benar-benar pribadi baginya. Tapi, mengingat Hanbin sudah begitu banyak membantunya sepanjang survival program ini berlangsung, akan sangat tidak pantas jika ia berbohong.

“Sesungguhnya, aku tidak ingin mengatakannya karena ini cukup memalukan, tapi karena Hyung bertanya, aku akan menjawabnya dengan jujur.” Chanwoo menarik napas panjang dan membuangnya dengan cepat sebelum melanjutkan perkataannya.

“Jadi begini…” Chanwoo pun menjelaskan dengan singkat bagaimana ia bisa terjun ke dunia akting, bagaimana ia begitu ingin membuat ayahnya bangga serta ketidakberdayaannya menghadapi kamera-kamera yang memintanya menjadi orang lain. Ia juga menjelaskan pertemuannya dengan Liz, tapi Chanwoo tak mengatakan apa pun tentang gadis itu selain orang yang mengajarinya bermimpi untuk menjadi penanyi. Lalu ia pun bercerita video dan proposalnya yang tak disangka-sangka diterima oleh YG Entertainment kemudian berakhir di sini.

Setelah mendengar itu, Hanbin hanya mengangguk-angguk mengerti dan tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak Chanwoo. “Kuharap alasan itu cukup kuat untuk membuatmu bertahan,” kata Hanbin dan Chanwoo pun balas tersenyum.

“Alasan itu bahkan sudah lebih dari cukup, Hyung,” sahut Chanwoo, berbincangan singkat ini tiba-tiba saja membakar dadanya dan rasa gamang pun kembali sirna. Ucapan-ucapan kasar dari Netizen yang sebelum ini begitu mengganggu kini terasa seperti angin lalu saja.

“Terima kasih, Hyung,” kata Chanwoo lagi, dan Hanbin pun mengerutkan dahinya bingung.

“Untuk apa berterima kasih?” tanyanya tapi Chanwoo hanya terkekeh sembari menutup layar laptop-nya.

“Ayo, Hyung, temani aku ke mini market, kutraktir kau Chocho Cone Ice Cream.”

000

Salah satu fase penilaian dalam Mix and Match adalah voting dan untuk mendapatkannya iKON mengadakan tiga fan meeting di tiga negara yaitu Jepang, China dan Korea. Chanwoo sangat bersemangat dengan acara fan meeting ini, sudah lama ia tidak berada di atas panggung dan benar-benar bernyanyi untuk para penonton seperti di Mullae-dong.

“Hei, jangan terlalu gugup.” Chanwoo merasakan punggungnya disikut dan menoleh ke arah Bobby yang terkekeh padanya. Mereka sekarang sedang bersiap-siap menghadiri fan meeting terakhir di Korea. Dua fan meeting sebelumnya—di Jepang dan China—berlangsung dengan sangat baik dan luar biasa. Meski ia selalu merasa sedikit gugup, tapi tetap saja, ketika ia telah berdiri di atas panggung, semua hal terasa lebih baik karena tiap kali ia menoleh ke samping ia selalu membayangkan Liz berdiri di sana dan memberinya semangat.

“Kau mencari seseorang?” tanya Bobby lagi, tatkala Chanwoo hanya tersenyum kemudian kembali meniliki kerumuman fans yang sudah mulai memenuhi lokasi fan meeting.

Mendengar pertanyaan itu Chanwoo langsung tersipu, ia mencoba menyembunyikan gelagat anehnya tapi ternyata prilakunya terlalu kentara. “Tidak, Hyung, bukan siapa-siapa,” elak Chanwoo.

Mata Bobby menyipit dan senyum menelisik menghiasi wajahnya. “Pacarmu ya?” bisik Bobby, dan seketika itu juga wajah Chanwoo memerah.

“Bu-bukan, dia bukan pacarku.” Chanwoo mulai gugup, tapi dengan terus mengelak ia justru terlihat semakin mencurigakan.

“Kenapa kau tersipu seperti itu, hah? Tidak masalah kalau kau punya pacar. Hahaha.” Bobby semakin gencar menggoda dan Chanwoo pun mulai risih, ia tahu Bobby tidak akan berhenti sebelum ia benar-benar mengaku.

“Yak, Hyung, hentikan! Wajahmu membuatku malu!” Chanwoo mundur, bersiap untuk kabur, sementara Bobby tak berhenti terkekeh dan menyeringai.

“Ah, Chanwoo-ya… sini, tunjukkan padaku foto pacarmu.”

“Tidak akan!” seru Chanwoo tanpa sadar lalu berbalik sembari berkata, “A-aku ingin ke toilet! Hyung, aku pergi!” dan kepergian Chanwoo itu pun diiringi tawa puas dari Bobby yang berhasil membuat laki-laki itu kalang kabut.

Fan meeting untuk fans Korea diadakan di area outdoor sehingga Chanwoo harus berputar cukup jauh untuk menemukan toilet umum. Maka, setelah meminta izin pada produser acara agar kamera tidak mengikutinya ke toilet, Chanwoo pun bergegas menuju toilet dengan penyamaran lengkap. Sepanjang perjalanan menuju toilet, Chanwoo terus menggerutu di dalam hati tentang Bobby yang menggodanya tadi. Memang benar ia sedang mencari-cari seseorang, dan orang itu adalah Liz, tapi tetap saja sebutan ‘pacar’ itu benar-benar membuatnya merasa aneh, karena bagaimana pun juga Liz memang bukan pacarnya.

Hyung!” Belum sempat Chanwoo merengsek masuk ke dalam pintu toilet, seorang bocah laki-laki berpakaian sedikit kumal menarik jaketnya dan menghentikan langkahnya. Chanwoo pun menoleh ke arah bocah itu dengan dahi yang berkerut dalam.

“Ada apa?” tanya Chanwoo.

“Seorang perempuan aneh menyuruhku memberikan ini padamu,” kata bocah itu ketus sembari menyodorkan sebuah kotak kecil pada Chanwoo. Seketika itu juga Chanwoo langsung terperanjat, ia mengambil kotak itu dan menoleh ke sana kemari mencar-cari perempuan aneh yang dimaksud oleh bocah itu.

“Hei! Mana perempuan aneh yang kaubilang tadi? Di mana dia?” Chanwoo mencengkram bahu bocah itu kuat-kuat dan membuat bocah tak berdaya itu sedikit kesakitan.

“Aw-aah… aku tidak tahu! Setelah memberiku kue ia pergi entah kemana!” jawab bocah itu buru-buru sebelum Chanwoo mematahkan bahunya dan ia pun langsung berlari pergi.

Chanwoo mendesah berat, sekali lagi mengitari sekitarnya dengan lebih teliti, berharap menemukan sedikit bayangkan kehadiran gadis itu tapi tetap saja hasilnya nihil. Akhirnya, ia pun memutuskan masuk ke dalam bilik toilet dan membuka isi kotak yang tadi ia dapatkan.

Sebuah gelang anyaman tali berwarna hitam dengan bandul kepala harimau. Ada pesan singat tanpa nama yang mengiringi gelang itu, tapi Chanwoo tahu betul siapa yang memberikan gelang ini padanya.

Ini jimat keberuntungan dariku, aku akan selalu mendukungmu. Semangat!

Chanwoo tersenyum, lebar sekali sampai-sampai ia nyaris merasakan kalau bibirnya bisa saja robek, lalu buru-buru mengenakan gelang itu di pergelangan tangannya dan langsung merasakan dadanya menghangat dan semangatnya kembali terbakar.

Tunggu aku, Liz, tunggu aku, janji Chanwoo di dalam hati sembari bersumpah kalau ia akan berjuang keras menjadi member iKON dan debut bersama anggota yang lain.

000

15

Aku berhasil, aku berhasil, aku berhasil!

Chanwoo tak henti-hentinya menyerukan frasa itu di dalam hatinya sembari berlari menyusuri jalan Mullae-dong. Ia tidak menghiraukan orang-orang yang memandangnya bingung atau pun mereka yang menggerutu karena ia menabrak kerumunan seenak jidatnya. Satu-satunya yang ada di benak Chanwoo hanyalah bertemu dengan Liz dan menyampaikan semua hal yang ingin ia sampaikan. Kini ia tak akan ragu lagi untuk mengatakannya, kini ia tak akan ragu lagi untuk maju dan menjelaskan seluruh perasaan yang selama ini ia pendam untuk gadis itu. Semua kata-kata kini terang benderang di benaknya dan sekarang ia tahu bagaimana menyampaikannya.

Sudah pukul satu dini hari, satu jam telah berlalu sejak pengumuman member keenam yang akan debut sebagai iKON. Chanwoo bahkan nyaris pingsan tatkala mendapati fotonyalah yang terpajang sebagai member keenam itu. Ayahnya langsung memeluknya erat dan ia pun tak kuasa menahan tangis karena terlalu bahagia dengan hasil itu. Tapi ayahnya bukanlah satu-satunya orang yang ingin ia bagi tentang berita luar biasa ini. Tanpa banyak bercerita, Chanwoo meminta izin pada ayahnya untuk pamit menemui seseorang dan ayahnya pun mengizinkan anak laki-lakinya itu pergi karena ia terlalu bahagia untuk melarang.

Maka, di sinilah Chanwoo sekarang, berdiri terengah-engah di depan pintu flat murahan di sudut jalan Mullae-dong. Chanwoo mencoba mengatur napasnya yang satu-dua sebelum menggedor pintu, ia benar-benar tak sabar untuk menyampaikan berita gembira ini pada Liz, tapi ia juga tidak ingin terlihat berantakan di depan gadis itu.

Duk! Duk! Duk!

“Liz!”

Chanwoo mulai menggedor pintu sembari memanggil nama gadis itu. Tak ada jawaban. Dari jendela ventilasi Chanwoo melihat lampu mati. Apa ia sedang tidur?

Duk! Duk! Duk!

“Liz, buka pintunya! Ini aku, Chanwoo!”

Suara Chanwoo meninggi, ia ingin membangunkan Liz. Ia ingin gadis itu bangun dan menyambutnya. Tapi kenapa perasaannya tidak enak seperti ini.

Duk! Duk! Duk!

“Yak, Liz! Bangun! Cepat buka pintunya! Liz, buk—“

Cekreeek.

Pintu terbuka, tapi bukan pintu yang sedang Chanwoo gedor, melainkan pintu flat yang tepat berada di sampingnya. Seorang wanita dengan wajah mengantuk penuh tindik keluar dengan hanya mengenakan celana dalam dan tank top, ia memandang Chanwoo dengan risih lalu berkata, “Hei, bocah! Sampai mati pun Liz tidak akan keluar dari sana.”

Chanwoo mengerutkan keningnya, kebingungan. “Maksudmu?”

“Liz sudah pergi. Kembali ke negaranya. Kau tak akan menemukan gadis itu di mana pun.”

Mata Chanwoo membulat, seketika itu juga dadanya terasa sesak dan tenggorokannya tersedak udara. Ia bahkan lupa bernapas dan hanya bisa menatap wanita itu dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Terkejut, sedih, tak percaya, semuanya bercampur menjadi satu dan Chanwoo pun kehilangan kata-kata.

“Ia cuman berpesan padaku.” Wanita itu menguap dan menggaruk perutnya; tidak mengacuhkan Chanwoo yang benar-benar terlihat buruk sekarang ini. “Kalau ada seseorang bernama Chanwoo datang mencarinya, katakan pada laki-laki itu kalau tidak usah mencarinya lagi karena kalian tidak akan bertemu lagi sampai takdir mengizinkan kalian untuk bertemu.”

Pintu tertutup. Wanita itu menghilang dari pandangan Chanwoo, tapi laki-laki itu bahkan tidak dapat melihat apa pun lagi, karena pandangannya kini terasa begitu gelap dan ia tak tahu di mana harus berpijak.

Bruk!

Chanwoo ambruk ke lantai. Tubuhnya gemetaran. Seluruh indranya tumpul dan satu-satunya hal yang ia rasakan adalah sakit di dadanya ketika menyadari kalau ia tak akan pernah bisa bertemu dengan Liz lagi.

Gadis yang ia cintai.

Con.

Wait because I’ll go to you right now
Wherever you are, I’ll go
Wait for me, hey, time is ticking faster
Wait because I’ll go to you right now
I’ll run against time and go to you, Wait for me yeah
So that my heart can reach her

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s