FanFict YG Entertainment, FanFiction, Romance

[Fanfiction/Oneshot] The One and Only

cunddle1

Title                       :               The One and Only

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Jung Chanwoo (IKON / YG Entertainment)

–          Lee Seung Young (Original Character)

Lenght                  :               oneshot

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               NC-17

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast kecuali OC bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

===

“Berapa umurmu saat kau menikah dulu?”

Lee Seung Young menyeringai, lalu menggeliat malas sembari merengsek masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh tanpa busananya. Pria yang berbaring di sampingnya itu pun turut masuk ke dalam selimut, melekatkan tubuh mereka bersama dan memeluk wanita itu dari belakang. Sejenak Seung Young merasakan tengkuknya geli karena pria itu kembali menciumi sisa-sisa keringat permainan mereka, sebelum akhirnya pertanyaan itu pun diajukan lagi karena Seung Young tak jua menjawabnya.

“Apa kau menikah karena ‘kecelakaan’?”

Seung Young pun terkekeh, geli karena pria itu tak mau menyerah untuk mengorek masa lalunya.

“Untuk apa mencari tahu, Chanwoo-ya?” Seung Young balas bertanya. Ia menarik jemari pria bernama lengkap Jung Chanwoo itu dan menciumnya mesra. Aroma tembakau menguar dari sana, dan Seung Young menyukainya meski ia bukan perokok.

“Bukankah itu normal?” Chanwoo mengusap cambangnya yg belum sempat ia cukur di punggung Seung Young, kembali menghirup parfume mawar yang selalu membuatnya kepalang sakau untuk menerjang wanita itu ke atas kasur. “Aku kekasihmu, aku ingin tahu tentangmu.”

Mendengar Chanwoo yang terkesan memberengut, Seung Young pun tergelak dan menepuk-nepuk pipi pria itu yang kini menempel di sisi kepalanya.

“Don’t be so rush, Young Man…” sahut Seung Young dan Chanwoo pun mengerang kesal.

“Don’t treat me like a kid.” Chanwoo menggigit telinga Seung Young gemas dan Seung Young pun semakin nyaring tertawa. “Aku sudah 24 tahun,” imbuh Chanwoo.

“Dan aku 40,” timpal Seung Young buru-buru. “Apa yang bisa menahanku untuk tidak memandangmu sebagai anak-anak?”

Dan Chanwoo pun bungkam; tak pernah berhasil memenangkan permainan adu mulut ini barang sekali. Sementara itu, Seung Young pun membiarkan hening merajai di antara mereka sembari terus mengecup jemari yang beberapa saat yang lalu menjelajahi tubuhnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan sensasi itu, bibir yang berpagut, dada yang berdebar, desahan  yang meracau di udara, serta puncak birahi yang nikmatnya tiada tara. Seumur hidup masa mudanya ia hanya bercinta dengan satu pria dan bersama dengan pria itu ia membangun keluarga serta memiliki seorang anak. Cinta benar-benar membutakannya, tapi tetap saja, tak pernah sekali pun ia menyesali keputusannya kawin lari kala itu.

“18 tahun.”

“Huh?”

“Umurku baru 18 tahun saat kami menikah.”

Chanwoo mengerjap, mengangkat wajahnya sedikit untuk memandang wanita itu dan berharap menemukan cengiran jenaka di sana. Tapi tidak, Chanwoo tak salah dengar dan Seung Young serius dengan ucapannya.

“Tapi aku tidak menikah dengannya karena ‘kecelakaan’.” Seung Young kembali menerangkan dan Chanwoo pun mendengarkan sembari mengeratkan pelukannya. “Hyun Ra lahir tepat di hari ulang tahunku yang ke-20, ia kado terindah dari Tuhan di umurku yang baru menginjak dua puluhan.”

“Tapi… kenapa?” Chanwoo tak kuasa bertanya, pikirannya masih merasa kalau apa yang dikatakan Seung Young itu hal paling absrud yang pernah didengarnya. Tapi, mengingat umur Hyun Ra yang hanya terpaut tiga tahun lebih muda darinya, rasanya semua menjadi masuk akal.

Mendengar pertanyaan yang barang tentu selalu terlontar dari orang-orang yang ia kisahkan tentang sejarah hidupnya, Seung Young pun tersenyum. Lalu, perlahan ia berbalik hingga matanya berpadu dengan mata Chanwoo yang masih menyisakan sorot tak percaya. Sejenak Seung Young memandang wajah di hadapannya ini lekat-lekat, sebelum akhirnya kembali menjawab pertanyaan yang Chanwoo lontarkan.

“Aku masih muda. Cinta menyapaku terlalu dini dan aku tak bisa berbuat apa pun selain menerimanya.” Seung Young merapatkan tubuhnya pada Chanwoo, menempelkan dahi mereka satu sama lain dan keintiman kembali terjalin di antara mereka. “Saat pertama kali aku mengenalnya, aku langsung tahu, he’s the one. The one and only. I don’t want nobody else but him.

“Aku tak tahu apa yang merasukiku.” Seung Young terkekeh, mengingat momen itu selalu saja membuat tawanya lepas. “Tapi singkat cerita aku berhasil membuatnya berjanji untuk menikahiku saat aku lulus sekolah.”

“Aku bisa membayangkan kalau kau benar-benar gadis pemaksa waktu itu,” serngah Chanwoo dan Seung Young pun kembali tertawa.

“Hahaha, begitulah, aku benar-benar keras kepala. Saat itu yang ada di kepalaku hanyalah bagaimana caranya memiliki pria yang kucintai itu seutuhnya. Tapi tentu saja…” Seung Young menyela ucapannya sendiri dengan memberikan kecupan singkat pada Chanwoo, kadang kala ia tak kuasa menahan hasrat hatinya untuk melumat bibir itu. “Ayahku menentang. Ia baru mahasiswa tingkat akhir dan tidak memiliki pekerjaan, dengan apa ia bisa menghidupiku?

“Ayah pun memaksa kami putus, tapi tentu saja aku menolak dan malah kawin lari dengannya. Pernikahan kami berlangsung sangat sederhana. Hanya ibuku yang bersedia datang dan memberi restu. Tapi begitu saja sudah cukup, karena akhirnya aku bisa terus bersama dengan pria yang kucintai itu, selamanya…”

Raut wajah Seung Young seketika itu juga berubah muram dan Chanwoo pun langsung menyadari kalau menguak sejarah percintaan wanita itu tentu saja tak akan luput dari menyinggung bagian paling menyakitkannya. Tanpa banyak berkata lagi, Chanwoo pun menarik Seung Young ke dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung wanita itu sembari menciumi ubun-ubunnya. Berusaha membuat wanita yang ia cintai itu merasa lebih baik.

“Lima tahun pernikahan kami adalah lima tahun terbaik dalam hidupku.” Suara Seung Young terdengar bergetar, Chanwoo yakin wanita itu menangis di belakang kepalanya. Tapi ia tetap diam dan mendengarkan. “Aku tak pernah menyesal telah bertemu dan menikah dengannya, meski aku harus membesarkan Hyun Ra sendirian dan banting tulang untuk memberi makan mulut kami berdua karena ayahku tak mau tahu lagi tentangku. Aku bahagia ia pernah menjadi bagian terbaik dalam hidupku karena dia…”

“He’s the one and only.

Chanwoo lah yang menuntaskan ucapan Seung Young ketika wanita itu akhirnya tenggelam dalam air mata. Pria itu pun mengeratkan pelukannya, mencoba meredakan tangis yang terlanjur pecah. Sedikit banyak Chanwoo menyesali kelancangannya bertanya dan menguak luka masa lalu wanita itu. Tapi tetap saja, ia ingin mengenal kekasihnya itu lebih dari sekadar ibu dari bawahannya dan janda yang ditinggal mati oleh suaminya.

Chanwoo mengulurkan tangannya untuk meraih laci nakas di samping kasurnya, lantas mengeluarkan kotak persegi kecil dari sana. Sebenarnya, ia selalu mencari- cari waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini. Tapi waktu yang tepat itu tak kunjung datang dan akhirnya ia pun memutuskan menciptakan waktu yang tepat itu sendiri. Dan Chanwoo rasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk ini.

“Seung Young-ssi.” Chanwoo memanggil Seung Young sembari melonggarkan pelukannya, kini ia bisa melihat air mata yang mengalir deras di wajah itu dan sekali lagi ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ini kali terakhir ia melihat air menetes dari mata itu.

“Menikahlah denganku.”

Dalam hitungan sepersekian detik air mata Seung Young berhenti mengalir. Keterkejutannya akan kalimat yang dilontarkan Chanwoo barusan berhasil mengendalikan emosinya. Kini ia hanya bisa mengerjap dan tak tahu harus berkata apa.

“Menikahlah denganku, Seung Young-ssi,” ulang Chanwoo karena sepertinya Seung Young masih tak mempercayai pendengarannya. “Aku ingin kau menjadi istriku dan menghabiskan sisa waktu ‘selamanya’ yang tak dapat kau habiskan bersama suamimu denganku.”

Chanwoo mengeluarkan cincin platina dari kotak kecil yang tadi ia ambil dan tanpa mendengar jawaban dari Seung Young, ia pun menyelipkannya di jari manis wanita itu.

“Aku akan melakukan apa saja agar kau menikah denganku. Apa saja, bahkan hal yang paling buruk sekalipun. Because you are…” Chanwoo membelai wajah Seung Young lembut, tersenyum dan mengecup bibir wanita itu sekilas sebelum menuntaskan lamarannya dengan satu kalimat pamungkas.

“My one and only.”

Air mata Seung Young tak kuasa mengalir kembali. Ia sekarang terlalu bahagia untuk tidak menangis, juga terlalu bahagia untuk menjawab ‘ya’ karena kata-kata tak lagi mampu memggambarkan perasaannya sekarang ini.

“Chanwoo-ya…” Seung Young memanggil Chanwoo di sela isak tangisnya, ia benar-benar ingin mengungkapkan betapa bahagia dirinya sekarang ini. Tapi akhirnya tak ada satu patah kata lagi yang terlontar dari mulutnya, hingga Seung Young pun memutuskan untuk menarik wajah Chanwoo mendekat dan melumat bibir pria itu dalam-dalam. Lebih memilih untuk menunjukkan perasaannya ketimbang mengungkapkannya dengan kata-kata.

You are my one and only too, Chanwoo-ya, bisik Seung Young dalam hati ditengah-tengah lumatannya serta air mata yang masih deras mengalir. Dan di sisa malam itu, tak ada satu pun di antara Chanwoo mau pun Seung Young, yang membiarkan udara memisahkan tubuh mereka yang kini satu.

Fin.

Iklan

2 thoughts on “[Fanfiction/Oneshot] The One and Only”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s