[Surat Cinta #2] Dari Secangkir Kopi untuk Rok Bercorak Bunga Matahari

k_jdubois_gsuekoff_latte_03-21-087

Aku tahu ini surat cinta teraneh yang pernah ada, karena berasal dariku dan untuk dirimu. Tapi yang jelas, aku hanya ingin membuka surat ini dengan sebuah permintaan maaf.

‘Maafkan aku karena telah menodaimu’

Bukan maksudku untuk menjadikan perjumpaan pertama kita menjadi hal paling buruk yang pernah terjadi di hidupmu. Tapi tangan yang biasanya memegangku kokoh terasa begitu gemetaran tatkala tubuhmu yang membalut indah pinggul itu melangkah tergoboh-goboh menuju salah satu sudut kedai.

‘Astaga, Brownie, cewek itu cantik banget!’

Iya, dia mengajakku bicara bahkan memberiku nama; pemilik tangan kasar—karena sejak kecil selalu disuruh menjarang—itu menganggap cairan kopi sepertiku ini hidup dan ia pun mengajakku berbicara. Mulanya, aku  mengira kalau dirinya sudah gila, tapi akhirnya kusadari kalau itu salah satu caranya untuk menunjukkan rasa cinta pada pekerjaan ini. Tapi yah, aku tidak begitu peduli soal itu, yang jelas surat ini tentangku, kamu dan pertemuan pertama kita yang dihancurkan oleh kecerobohan pemilik tangan itu.

Bagaimana bisa barista profesional seperti dirinya menumpahkanku padamu hanya karena ia gugup?

Ini menggelikan, aku ingin sekali memakinya karena kejadian itu membuatku terlihat sangat buruk di matamu. Tapi apa dayaku, aku tak punya kekuatan untuk mengubah bagaimana cara kita bertemu, karena takdir punya permainannya sendiri.

Aku ingat betul, corak indah bunga mataharimu menjadi terlihat buruk rupa dengan bercak kecoklatan besar yang aku ciptakan, dan jika mengingat itu lagi, rasa bersalah ini terus memburu sampai aku mendidih tanpa perlu dipanaskan. Aku pun sangsi kalau kita akan berjumpa lagi karena mana mungkin ada orang yang akan mengenakan lagi kain yang telah ternoda. Meski pemilik pinggul itu mengatakan kalau itu bukan masalah besar dan senyum cerahnya yang tulus memantapkan hal itu, tapi tetap saja, apa dia mau mengenakanmu lagi setelah kunodai dirimu?

Memikirkan jawabannya saja sudah membuat hatiku mencelus, cintaku bahkan kandas bahkan sebelum sempat aku mengenalmu lebih jauh. Kemana lagi aku harus mencari yang sepertimu? Kemana lagi cinta ini harus berlabuh kalau bukan pada kamu?

Aku mau kamu. Cuman kamu.

Hari demi hari aku menunggu kunjunganmu, berharap noda yang kuciptakan bisa menghilang dan kau masih pantas dipakai. Mungkin kaukira cinta yang kurasakan hanyalah rasa bersalah yang dimanipulasi, tapi sungguh, aku tak mungkin merasa sebersalah ini jika bukan pada sesuatu yang kuncintai. Dan aku mencintaimu, karena itu aku merasa bersalah. Semua rasa campur aduk ini pun terus menggerogotiku, mewanti-wantiku untuk berdoa lebih kencang agar takdir menyilangkan kita kembali; agar aku masih sempat menyampaikan kata maaf juga cinta yang panas seperti seduhan Americano.

Dan ternyata takdir begitu murah hati pada doa secangkir kopi ini.

Karena hari ini, kulihat kau kembali dikenakan, membalut indah pemilik pinggul yang melangkah anggun di antara meja menuju sudut kedai yang sama saat pertama kali kita bertemu. Meski noda buruk rupa berwarna kecokelatan itu masih ada dan mengotori corak bunga mataharimu, kau masih saja terlihat indah di mataku.

Dadaku berbedar, momen ini terasa begitu astral tapi juga membahagiakan. Ingin rasanya aku buru-buru diseduh lalu di sajikan tepat di hadapanmu, dan ternyata, yang berpikiran seperti itu tidak hanya diriku tapi juga pemilik tangan itu! Dengan cekatan dan dalam gerakan secepat kilat ia menyeduhku ke dalam cangkir, memanaskan susu dan mencampurkannya menjadi Latte, lalu menghiasi permukaanku dengan art berbentuk hati. Dan voila! Dalam waktu sekejap mata aku telah berada di atas nampan dan siap hadir dengan gagah di hadapanmu.

Gemuruh di dadaku semakin  menggila di setiap langkah yang ia ambil untuk membawaku menuju dirimu. Kali ini tangan itu tak lagi gemetaran, tapi aku masih bisa merasakan kegugupan canggung yang ia pancarkan dari hatinya karena ia selalu menyeduhku dengan hati. Cinta ini sudah tak tahan lagi untuk meluap-luap, cinta ini sudah tak dapat lagi ditahan untukmu!

Bisa kubayangkan kauterkejut mendapatiku hadir di hadapanmu bahkan sebelum pemilik pinggul yang kau balut itu memesan. Tapi aku hadir memang tanpa dipesan, begitu pun cinta yang datang tanpa diundang ini. Dan diiringi kata-kata dari pemilik tangan yang meletakanku di atas meja serta sepasang mata kenari yang menatapnya penuh kekagetan karena menghadirkanku di antara mereka. Kusampaikan surat ini dalam secangkir kopi yang mengepul hangat untukmu dan hati yang tercetak di atasnya. Semoga pertemuan pertama kita menjadi anugrah bagimu, semoga maaf ini terpancar tulus padamu, semoga cinta ini tersampaikan dengan indah padamu.

Karena takdir mempertemukan kita dengan cara yang sangat buruk dan ia menebusnya dengan cinta yang menggebu-gebu seperti ini.

“Kopi ini sebagai permintaan maafku tempo hari. Terima kasih masih mau datang kemari. Eummh, aku… sebentar lagi gantian shift. Kamu… errr, mau temani aku makan malam di luar?”

Salam,

Dari secangkir kopi yang terus terisi penuh dengan cinta untukmu

[Surat Cinta #1] Dari Pena untuk Kertas Tisu

okeschool-763844719702740

Aku diciptakan untuk merangkai kata-kata sementara kau diciptakan untuk menjadi kotor dan terbuang. Hidup kita tak mungkin bersinggungan. Bagai angin yang selalu berlalu saat menerpa pepohonan, takdir pun selalu meloloskanmu dari ujung runcing bertintaku meskipun kita berada di dalam tas orang yang sama—berdesak-desakan di antara buku-buku tebal anak prakuliah, juga novel usang dari rak buku setengah harga.

Sudah berkali-kali kulihat kamu dirogoh buru-buru untuk menghapus kotoran pada wajahnya, pun ketika suatu waktu seseorang menumpahkan segelas kopi pada rok yang baru pertama kali ia kenakan. Kau digunakan lalu di buang, digunakan dan dibuang. Begitu terus tanpa henti karena seperti itulah siklus hidupmu setiap harinya.

Pada mulanya aku tidak begitu memedulikanmu, kau hanya bagian tak penting dari tinta hitam juga kata-kata yang diciptakan melalui kehadiranku di dunia ini. Sampai suatu ketika, untuk pertama kalinya dalam hidup kita yang berdekatan namun terasa jauh ini, ia menggunakanku untuk menuliskan sesuatu di atas putih tubuhmu.

Aku gemetaran.

Sama seperti tangannya yang gemetaran memegangku.

Baru pertama kali aku merasakannya, ternyata menulis di atasmu sangatlah sulit. Ia sampai meringis berkali-kali saat tanpa sengaja merobekmu dengan ujung runcingku dan aku pun melakukan hal yang sama saat kutahu apa yang coba ia tuliskan di atasmu—sebuah surat cinta singkat yang entah pada siapa ditujukan.

Terima kasih untuk kopi yang kautumpahkan pada rokku tempo hari, nodanya tidak bisa hilang meskipun kucuci berkali-kali. Sama seperti rasa cinta yang kau torehkan di hatiku detik itu, debarannya tak bisa berhenti meski kucoba redam berkali-kali.

Hanya dua kalimat  yang tertulis di sana dan kau pun ditinggalkan begitu saja di atas meja, tidak di buang ke pinggir jalan seperti biasanya atau di biarkan bersatu dengan sampah busuk lainnya. Dadaku berdebar saat terakhir kali kulihat kau mematung di sana, menanti seseorang menemukanmu dan membaca kata-kata murahan itu. Tapi debaran itu ternyata tidak hanya berasal dariku, tapi juga dari tangannya yang menggenggam tubuhku erat-erat sembari berdoa kalau seseorang yang ia maksudlah yang akan menemukan pesan itu.

Dan mulai sejak saat itu, aku pun memandangmu dengan cara yang berbeda. Tiap kali tubuh kita bersentuhan di dalam tas yang penuh sesak, debaran itu kembali muncul seperti pertama kali ia menuliskan tintaku padamu. Aku selalu menanti saat-saat seperti itu kembali datang, cepat atau lambat, aku tidak peduli. Karena rindu untuk menorehkan kata-kata padamu begitu menggebu-gebu, meski surat ini hanya kutuliskan dalam angan dan mungkin saja kau tak mengetahuinya. Tapi ada satu hal yang kuingin kautahu pasti.

Ada cinta yang nyata.

Di sini.

Salam,

 Dari tinta yang tak akan pernah mengering untukmu

[Triple Kolaborasi] Kisah yang Berbeda

images (1)

Sudah lama tidak melakukan kolaborasi, akhirnya aku putuskan untuk melakukan hal gila dengan melakukan tiga kolaborasi sekaligus dengan tiga orang yang berbeda. Ketiga orang ini bisa dibilang adalah adik kelas karena umurnya di bawahku juga tergabung dalam grup chat line Forum Penulis Borneo yang baru-baru ini aku ikuti dan aku pikir akan sangat menyenangkan jika membuka sejarah dengan menulis duet dengan mereka.

Dalam ketiga cerpen yang akan kusampaikan dalam satu posting ini, masing-masing dari cerpen ini memiliki genre yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Berani sumpah? Iya, aku berani sumpah. Karena ketiga adik kelasku ini ternyata punya gaya dan genre kepenulisan yang sangat berbeda pula. Hahahaha. Mau gak mau aku harus mengikuti gaya kepenulisan mereka dan mencoba untuk melebur.

Oh ya, ketika cerpen ini pun sebenarnya punya benang merah. Aku yang membuatnya begitu tanpa disadari oleh ketiga partner duetku ini. Hahaha. Makanya kuputuskan untuk menjadikan semuanya dalam satu posting-an.

Nah, gak usah berlama-lama lagi, mari simak saja cerpen pertama dari kami!

Baca lebih lanjut