[Triple Kolaborasi] Kisah yang Berbeda

images (1)

Sudah lama tidak melakukan kolaborasi, akhirnya aku putuskan untuk melakukan hal gila dengan melakukan tiga kolaborasi sekaligus dengan tiga orang yang berbeda. Ketiga orang ini bisa dibilang adalah adik kelas karena umurnya di bawahku juga tergabung dalam grup chat line Forum Penulis Borneo yang baru-baru ini aku ikuti dan aku pikir akan sangat menyenangkan jika membuka sejarah dengan menulis duet dengan mereka.

Dalam ketiga cerpen yang akan kusampaikan dalam satu posting ini, masing-masing dari cerpen ini memiliki genre yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Berani sumpah? Iya, aku berani sumpah. Karena ketiga adik kelasku ini ternyata punya gaya dan genre kepenulisan yang sangat berbeda pula. Hahahaha. Mau gak mau aku harus mengikuti gaya kepenulisan mereka dan mencoba untuk melebur.

Oh ya, ketika cerpen ini pun sebenarnya punya benang merah. Aku yang membuatnya begitu tanpa disadari oleh ketiga partner duetku ini. Hahaha. Makanya kuputuskan untuk menjadikan semuanya dalam satu posting-an.

Nah, gak usah berlama-lama lagi, mari simak saja cerpen pertama dari kami!


Imaji

Oleh

Benedikta Sekar dan Hikaru Kin

Devina langsung terpesona saat hentakan perkusi jazz serta aroma biji kopi yang dijarang menyambutnya ketika ia memasuki kedai itu untuk pertama kalinya. Satu, dua, tiga… tiga detik berlalu dalam hening dan ia membatu di depan pintu sebelum pria di sampingnya menyikut bahunya dan tertawa sembari berkata, “Tempat ini keren kan, Dev?”

Detik berikutnya, Devina mengangguk singkat, senyumnya tak urung merekah. Tapi, sebelum mereka berdua dibentak oleh pengunjung lain yang juga ingin masuk ke dalam kedai karena mereka menghalangi jalan masuk, Devina buru-buru menarik pria itu menuju meja yang berada tepat di tengah-tengah kedai.

“Kita duduk di sini aja ya, Pan?” Usul Devina dengan mata berbinar.

“Kenapa di sini? Bukannya di sana lebih enak?” Sahut pria itu sembari menunjuk salah satu meja yang berada tepat di samping jendela kaca besar.

Tapi Devina hanya tersenyum, lantas  duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya sembari mengeluarkan laptop dari dalam ransel.

“Aku setuju diajakin kemari kan emang tujuannya buat nulis, kalau aku duduk di sana yang aku lihat cuman mobil lalu lalang sementara aku gak nulis tentang mobil, aku nulis tentang manusia,” terang Devina sambil tersenyum.

Pria itu mengangguk maklum dan berjalan menuju kursi lain yang berhadapan dengan kursi Devina, menarik punggung kursi tersebut, lalu duduk di sana. Ia mengambil buku menu yang berada di atas meja, membacanya secara acak seraya membolak-balik halaman demi halaman untuk mencari menu yang ia inginkan.

“Kamu pengen pesan apa, Dev?” tanya pria itu sambil terus membaca menu.  Tapi Devina masih sibuk berkutat dengan laptop-nya; mengabaikan pertanyaan dari pria di hadapannya.

“Dev?” panggil pria itu sekali lagi, kali ini ia mengalihkan pandangannya pada Devina karena gadis itu sama sekali tak menggubrisnya.

“Oh, samain aja,” balas Devina singkat, latas kembali menatap ke arah laptop-nya, membiarkan jemarinya beradu dengan keyboard-nya tanpa diganggu lebih jauh lagi.

“Oi, Dev. Kamu pikir aku ini obat nyamuk, eh? Setidaknya berhenti menatap benda mati itu kalau kamu sedang bicara.”

“Ck. Aku lagi nulis, Pan. Jadi berhenti mengoceh.”

Mendengar balasan dingin Devina akhirnya pria itu menghela napas. Ia melihat sekeliling, mencari pelayan untuk menyampaikan pesanannya. Setelah menemukanya, ia mengangkat lengan kanannya, seolah memberikan kode agar pelayan itu mendekat. Benar saja, pelayan itu segera menghampirinya. Setelah pria itu selesai memesan, pelayan itu berbalik arah dan pergi.

Pria itu kembali menatap lekat Devina. Memperhatikan tiap gerak-geriknya.

“Bukannya kamu bisa nulis di rumah saja, Dev? Di rumah kan lebih tenang?”

“Aa… aku diburu deadline, dan kebetulan baru dapat ide untuk melanjutkan ceritanya.” Devina menatap sekelilingnya, lalu tersenyum simpul, “Lagipula, suasana di sini gak sumpek-sumpek amat sekalian jadi tempat riset latar buat ceritaku juga.”

“Oh,” pria itu mengetuk telunjuknya berulangkali pada meja, mengikuti alunan musik Jazz yang mengalun lembut.

Tic, toc, tic, toc… waktu berlalu tanpa ada lagi yang membuka pembicaraan, karena merasa bosan menunggu pesanannya datang, pria itu pun mengamati keadaan kedai itu. Kedai yang tidak begitu luas, namun terlihat luas karena tata letak interior yang ditata apik sehingga menambah kesan luas dan mewah. Tampak kursi-kursi kayu sederhana yang disusun dua pasang dengan sebuah meja. Namun, ada juga sebuah meja kayu panjang di sudut kiri kedai dengan banyak kursi mengelilingginya dan diduduki oleh sekelompok bapak-bapak yang tampak nikmat menyeduh kopi yang mereka pesan sembari berbincang hangat diselingi gelak tawa.

Di sisi kanan kedai tampak sebuah station tempat meracik kopi dan kasir yang tak berada jauh dari station tersebut. Tampak beberapa kursi bundar berjejer rapi di sana. Benar-benar surga bagi para pecinta kopi. Bagaimana tidak? Di kedai ini terdapat banyak jenis biji kopi dan berbagai cara seduhan kopi, seperti French Press, V60 , Chemex, Syphon dan Kalita Wave . Walaupun ia tidak paham betul mengenai hal itu, yang pasti ia tahu bahwa masing-masing cara menyeduh ini menghasilkan air kopi yang berbeda. Ya, minuman berkafein ini telah menimbulkan candu bagi penikmatnya.

Tak lama, pesanan mereka datang. Dua  cangkir Cappuccino panas dan dua porsi scrambled eggs dengan toast dihidangkan di hadapan mereka. Memang tampak seperti menu sarapan, tetapi paling tidak bisa membantu menghangatkan dan mengisi perut mereka di sore yang gerimis ini. Setelah selesai mengantarkan pesanan mereka, lantas pelayan itu pergi disertai senyuman.

Pria itu kemudian memandang secangkir Cappuccino di hadapannya. Secangkir cappuccino dengan latte art yang ia tidak mengerti maksudnya. Yang pasti tampak begitu artistik. Belum lagi ditambah dengan brown sugar yang menambah aroma Cappuccino yang disajikan dalam cangkir keramik berwarna putih polos itu. Ia mengaduk Cappuccino itu, kemudian menghirupnya. Bahkan, dihirupan yang pertama pun sensasi yang menyegarkan sudah bisa ia rasakan. Setelah puas menghirup aromanya, kemudian pria itu mengangkat cangkir beserta piring kecilnya dan memutar pelan cangkir itu agar ia bisa menghirup aromanya kembali dan menghilangkan sedikit panas dari  Cappuccino itu, lalu ia menyesap perlahan. Benar-benar nikmat. Belum lagi ditambah dengan aroma dari scrambled eggs dengan toast yang tampak gurih dan lezat beserta aroma telur yang tajam dan mengepul. Benar-benar nikmat. Ya, walaupun ini menu sarapan klasik. Tetapi begitu pas disajikan di sore hari seperti ini.

“Dev, berhenti dulu nulisnya, pesanannya udah dating nih,” ucap pria itu di sela-sela sesapannya.

“Kamu tahu kenapa aku suka menulis di tengah-tengah kedai, Pan?” Devina mengabaikan ucapan pria itu dan terus menarikan jemarinya di atas keyboard. Aroma kopi di hadapannya tidak sedikit pun menggugah seleranya, karena imajinasi kini mengendalikan seluruh gerakan tubuh lampai itu.

“Udah dibilang berapa kali jangan panggil aku, Pan-Pan-Pan gitu. Namaku Pandu, bukan Panci.” Pria bernama Pandu itu mendengus, dan Devina hanya terkekeh geli.

“Manusia selalu saja gitu.”

“Huh?”

“Manusia selalu punya asumsi berbeda-beda dari setiap kondisi di sekitarnya,” terang Devina sembari mengangkat wajah dan menautkan padangan pada Pandu. Mata kenari itu tersenyum, begitu ramah, tapi Pandu selalu berhasil menemukan misteri di sana yang menenggelamkan seluruh asanya hingga ia tak sedikit pun mampu berpikir sehat.

“Maksud kamu?” Pertanyaan pilon terlontar, sudah sepuluh tahun Pandu mengenal sahabat kecilnya itu dan tak sedikit pun ia mampu menerka maksud perkataan gadis itu. Kadang kala ia merasa kalau mereka berdua hidup di dimensi yang berbeda.

“Kamu lihat wanita yang duduk di sana?” Devina menunjuk dengan dagunya seorang wanita yang termenung di sudut kedai, sendirian. Ia menatap hampa segelas Americano di depannya seolah-olah tengah bercermin di atas carian pekat itu. “Menurutmu, apa yang terjadi pada wanita itu?”

Pandu mengernyit, ia bingung, tapi akhirnya ia pun menjawab sekenanya karena tidak mengerti maksud dari pembicaraan ini. “Mungkin ia sedang patah hati.”

“Atau mungkin ia sedang berencana membunuh seseorang hari ini?” Sahut Devina buru-buru.

“Apa?” Pandu melotot, bisa-bisanya Devina berpikiran seperti itu.

“Bisa saja kan? Ia menyimpan pisau di dalam tas Prada-nya itu dan kalau saja kita menelepon polisi sekarang ada satu nyawa manusia yang kita selamatkan.”

“Sejak kapan kamu beralih aliran dari penulis teenlit jadi penggemar cerita bunuh-bunuhan gini?”

Tawa Devina pecah. “Loh, itu asumsiku kan? Aku berhak berimajinasi.”

Pandu mendecak dan menggelengkan kepala haran. “Itu terlalu liar, Nona!”

“Kenapa harus takut berimajinasi liar?” Tantang Devina. “Di dunia ini cuman ada dua yang gratis, yaitu kentut dan…” Devina mengetuk pelipisnya dengan telunjuk sebelum melanjutkan.

“Imajinasi.”

Pandu meletakkan kembali  cangkir kopinya. Ia tersenyum simpul mendengar penuturan yang disampaikan gadis dihadapannya ini.

 “Dev,” Pandu mengambil sebuah roti dari piringnya, kemudian merobeknya sedikit dan melahapnya,”Kenapa kamu bisa nulis cerita romansa tanpa pernah punya seseorang yang spesial?”

“Maksudmu?”

“Maksudku pacar.”

Devina  lantas tertawa,”Hahaha… aku gak perlu pacar!”

“Yang bener aja? Semua novel yang kamu tulis kan roman picisan semua. Gimana bisa kamu nulis itu tanpa punya pacar.”

“Sudah kubilang, kan? Di dunia ini ada yang namanya…” Devina kembali mengetuk pelipisnya dengan telunjuk kanannya. “Imajinasi. Dengan imajinasi aku bisa menjadi apapun yang aku inginkan. Selain itu, bukan berarti aku gak bisa menulis kisah romantis hanya karena gak punya pacar. Aku bisa riset, memperhatikan sekitar dan menggalihkan ide yang ingin kau jadikan cerita. Percayalah, bahkan kamu juga bisa nulis cerita romansa hanya dengan berimajinasi; bermain dengan aksara sangat menyenangkan!” balasnya semangat.

“Hm? Begitukah,” Pandu kembali merobek roti yang ia pegang dan menyisakan remah yang berjatuhan pada meja.”Kalau begitu… Sebagai penulis roman picisan, bagaimana menurutmu tentang kisah dua orang sahabat kecil yang saling jatuh cinta?” Pandu menyesap Cappuccino-nya sebelum melanjutkan. “Apa terdengar seperti kisah picisan biasa?”

Seketika itu juga ekspresi Devina berubah menjadi kaku. Ditatapnya sahabat masa kecilnya itu lekat-lekat sebelum akhirnya mendesah berat.

“Hentikan itu, Pandu, kamu tahu jawabanku masih gak berubah.”

Pandu tersenyum masam, melahap potongan rotinya secepat kilat sebelum ia kehabisan selera. Ya, sebenarnya ia tak perlu menanyakan seranai terakhir itu, karena sejak dulu sampai sekarang ia tahu tak pernah ada yang berubah di antara mereka. Tidak ada.

“Aku hanya bertanya.” Pandu mengangkat bahu, menunjukkan kalau ia tak punya maksud tersembunyi meski ia tahu kalau Devina bisa membaca hatinya lebih cepat dari pada ia berkedip.

“Bisakah kita tetap begini? Menjadi Devina si Penulis Novel dan Pandu si Akuntan yang biasanya saja?” Devina balas bertanya dengan sorot mata memelas; mungkin telah lelah beradu pembenaran ribuan kali dalam posisi ini. “Kita sudah sahabatan lama banget. Cukup lama untuk mengerti perasaan satu sama lain. Dan kuharap kamu mengerti perasaanku sekarang.”

“Jadi gimana dengan perasaanku?” Pandu mulai merasakan rahangnya mengeras. Ia tak ingin memaksakan dirinya, tapi penolakan Devina benar-benar membuatnya tak habis pikir. Karena seperti apa yang dikatakan gadis itu sebelumnya, mereka sangat mengerti satu sama lain, dan Pandu pun sangat mengerti alasan sesungguhnya dari setiap penolakan itu.

“Kamu takut?”

Bahu Devina menegang, dengan segera ia mematut wajah di depan laptop-nya yang masih terbuka lebar dan menghindari tatapan Pandu. Baris-baris aksara berjejer rapi di sana, ia ingat betul imaji mengendalikan tubuhnya saat melontarkan kata-kata itu di sana. Kadang kala, ia bingung sendiri, kenapa imajinasi selalu berhasil membantunya menulis hal-hal yang bahkan dirinya sendiri tak pernah alami, membangkitkan gairah yang tak pernah ia rasakan, dan membuatnya menciptakan kisah-kisah romantis yang tak pernah terjadi di hidupnya. Makanya, ia selalu mengagungkan imajinasi yang ia miliki. Meskipun pertanyaan ‘kenapa’ itu masih saja mengganggu sudut hatinya hingga detik ini. Kenapa?

“Karena imajinasi tak mengubah apa pun.”

Devina tersentak. Secepat kilat kembali menatap Pandu dan mengerjap. Apa tadi? Apa Pandu baru saja menjawab pertanyaan yang ia lontarkan di dalam hatinya?

Pandu masih menatap Devina dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kemudian menerangkan perkataannya. “Kenapa imajinasi itu gratis, karena imajinasi tak mengubah apa pun.

“Imajinasi hanya bergerak bebas di kepala, kemudian meloncat keluar melalui tulisanmu. Itulah kenapa kamu begitu menyukai kegiatan ini, karena berimajinasi tak mengubah apa pun. Imajinasi tak mengubah hidupmu.”

Devina terkesiap. Napasnya satu-dua. Kenapa? Devina berbisik di dalam hatinya. Kenapa Pandu bisa tahu hal yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu? Kenapa?

“Karena aku cinta sama kamu.”

Lagi-lagi. Perkataan Pandu seolah-olah menjawab pertanyaan yang terlontar di hatinya. Apa isi hatinya begitu kentara terlukis di wajah?

“Sudah lebih dari sepuluh tahun kita saling mengenal. Dari zaman kamu masih suka main layang-layang, sampai sekarang jadi manusia buku yang lebih senang ngadem di kamar. Kamu mungkin bisa tahu perasaanku dalam sekali kedipan mata, tapi aku juga bisa tahu, alasan konyol apa yang buat kamu terus menerus menolak cinta aku padahal kamu juga ngerasain hal yang sama.

“Kamu takut kita berubah”

Benar. Semua yang dikatakan Pandu benar. Devina memang takut, takut kalau tak akan ada lagi Pandu dan Devina yang sekarang. Takut kalau suatu hari nanti ia akan kehilangan Pandu yang selalu ada untuk Devina. Takut jika ia mengakui perasaan konyol bernama cinta itu maka nanti hatinya akan hancur. Takut jika ia melangkahi batas bernama ‘persahabatan’ itu maka ia tak bisa kembali lagi. Banyak sekali hal yang Devina takutkan dan imajinasi membantunya lari dari masalah itu dengan sempurna tanpa merubah apa pun. Devina memang benar-benar pengecut.

“Dev.” Pandu meraih tangan Devina dan menggenggamnya, membuat gadis itu kembali tersadar bahwa detik ini ia berhadapan dengan kenyataan, bukan rasa takut dan imajinasi liarnya.

“Let’s face it.” Pandu tersenyum, begitu tulus dan menenangkan, hingga detik itu juga Devina melupakan seluruh alasannya untuk tidak turut tersenyum dan menyerah.

“No metter what happen. I’ll always be your Pandu and you’ll always be my Devina. But from now on, I’ll make your imagination no longer just imagination. I’ll make it happen.”

Devina kini tak dapat lagi menahan lelehan air matanya. Ia pun balas tersenyum kepada Pandu dan menemukan hatinya penuh oleh perasaan bahagia yang selama ini selalu ia hindari karena takut jika hal itu hanya sementara. Tapi sekarang, Devina rasa ia tak perlu lagi mengkhawatirkan hal itu, karena Pandu berhasil menghancurkan benteng ‘persahabatan’ yang mengurungnya dan membawanya kabur menyongsong  sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih kuat dan nyata dari sekadar imajinasinya. Sesuatu yang bernama…

Cinta.

“Pan…” Devina memanggil Pandu di sela tangisnya.

“Emmh? Apaan?”

“Ingat ya, aku bakal bunuh kamu kalau sampai kamu seenaknya ninggalin aku.”

“Hahahahaha.” Tawa Pandu pecah seketika, ketika mendengat hal yang tak akan pernah mungkin terjadi.

“Iya, iya. Kejar, cari dan bunuh aja aku kalau sampai ninggalin kamu, Sayang.”

“Ukh…”

Dan Devina pun tak berkata apa pun lagi dengan wajah bersemu merah dan dada yang berdebar kencang. Sepertinya, mulai sekarang ia harus bisa membiasakan hal-hal baru terjadi dan mengubah hidupnya. Seperti sekarang.

Fin.

Hikaru Rin (Wattpad: viohei), menyenangkan sekali berduet dengan gadis ini karena ia pandai mendeskripsikan latar. Aku harus banyak belajar dari dia, hahaha, karena penggambaran latarku semacam sampah yang ngambang. Hahaha. Aduh, terlalu lebay ya, tapi ya begitulah, jika kalian penasaran dengan karya-karyanya yang lain, silakan kunjungi wattpad-nya!


Elsa

Oleh

Benedikta Sekar dan Dif Per Kris

Elsa ingat laki-laki itu suka Americano buatannya.

‘Kau pandai membuat kopi, Sayang. Aku ingin meminum kopimu setiap hari.’ Bisiknya di suatu pagi setelah malam yang mereka lalui bersama di bilik kamar tidurnya. Lalu disusul kecupan hangat di tengkuk dan tawa bahagia yang berpadu. Biasanya, sebelum Elsa memasang kambali heels tujuh sentinya dan pergi dari flat itu, mereka akan saling berpagutan di depan pintu. Cukup lama. Sebagai salah satu ritual selamat tinggal dan tanda bahwa akan ada malam-malam hebat berikutnya.

Tapi sekarang, Elsa duduk sendirian di salah satu sudut kedai kopi. Memandang hampa pada segelas Americano yang tersaji di depannya tanpa ada niat untuk menyesap cairan hitam pekat itu.

Ia mungkin tak bisa menemukan bayangan dirinya pada permukan hitam pekat kopi itu. Tapi, ia bisa dengan jelas melihat potongan adegan mengerikan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Darah berceceran. Mengalir deras dari selangkangannya. Rasa perih serta nyeri di rahimnya. Air matanya bercucuran. Jeritannya yang menggema. Serta wajah bejat pria yang memprakarsai seluruh kejadian ini.

‘KEMBALIKAN ANAKKU!!’

Elsa memejamkan matanya yang mulai basah oleh air. Tak sanggup memutar ulang adegan itu di benaknya. Hari ini, ia akan menebus dendamnya. Hari ini, mimpi buruknya akan berakhir ini. Hari ini, dengan tangannya sendiri, akan ada darah yang tersimbah.

Srak!

Elsa berdiri sembari meletakan lebaran seratus ribu untuk membayar kopinya, kemudian menyambar tas Prada serta duffle coat-nya yang tersampir di dekatnya. Aroma kopi serta hentakan musik Jazz yang mengambang di ruangan itu, menghantarkan kepergiannya. Langkahnya begitu anggun dengan tubuh berbalut gaun cocktail merah menyala serta rambut yang tergerai rapi. Dengan penampilan seperti itu, tak akan ada orang yang menyangka kalau wanita itu pergi untuk membunuh.

000

Rembulan seakan bersembunyi di balik awan-awan hingga tak ada sedikit pun sinarnya yang mampu mencium bumi; aura gelap yang dipancarkan oleh Elsa membuatnya tak berdaya. Elsa menelusuri beberapa gang gelap hingga akhirnya ia tiba di sebuah rumah susun di pinggiran sungai. Sebuah senyum pun terlukis di wajah ayunya. Tunggu.. itu bukan senyuman manis yang sering ia tunjukkan kepada orang-orang terkasihnya, tapi itu senyuman yang mengerikan. Seperti srigala buas yang telah berhasil menemukan mangsanya.

Perlahan Elsa membuka pintu rusun tersebut, ia naik ke lantai tiga. Rusun tersebut sudah lama ditinggalkan, akan tetapi rusun tersebut sering ramai jika malam tiba. Dari kamar nomor tiga dari tangga, terdengar sayup-sayup suara tawa beberapa perempuan. Elsa mendengus kesal, aura gelapnya semakin kuat seiring langkah kakinya menuju kamar tersebut. Elsa menatap pintu kayu yang nampak kusam tersebut dengan benci. Diambilnya sebuah belati kecil dari saku duffle coat-nya dan perlahan membuka pintu kamar tersebut.

Creeeek.

Suara pintu berdecit nyaring mengiringi gerakannya dan hal pertama yang menyambutnya adalah bau alkohol serta asap rokok yang menyengat. Di sebuah ranjang yang berada pojok kamar tersebut, tampak seorang pria sedang dikelilingi oleh dua wanita tanpa sehelai kain pun yang melilit di tubuhnya.

“Oh… Elsa… apa kabar? Lama… hic… sudah kita tidak berjumpa… Mau apa kau ke sini?” ucap  pria tersebut yang tampaknya sedang mabuk.

“Aku hanya rindu padamu,” balas Elsa, menyembunyikan niat sebenarnya sembari menyimpan belati yang sedang ia genggam di balik tubuhnya.

“Ahhh… tapi… hic… aku sedang sibuk, kau tunggulah sampai besok… Lalu kita akn bermain lagi… nanti…” ucap pria tersebut seraya memainkan tangan-tangan kotornya ketubuh dua wanita di sampingnya. Tawa geli serta mengejek pun keluar dari mulut kedua wanita tersebut, dan sontak saja hal itu membuat Elsa tak tahan membendung gejolak amarahnya. Bisa-bisanya pria itu bersenang-senang dengan para pelacur sementara ia harus membendung penderitaan selama berbulan-bulan serta trauma yang tak berkesudahan.

Secepat kilat Elsa menarik tangan wanita yang sedang bersandar di bahu sebelah kiri pria dan…

Jleepp.

Sebuah belati berhasil mendarat di dada wanita itu dan memutus fungsi organ kehidupannya.

“KYAAAAA!!”

“ELSA!!”

Seketika itu juga Pria itu membentak nyaring dan menemukan kembali kesadarannya yang sebelum ini dikuasai alkohol, tapi meskipun begitu suaranya serak karena gemetar, sementara wanita yang masih hidup di sampingnya menjerit-jerit kesetanan dengan wajah berlumur air mati. Bau anyir darah menyeruak dari mayat yang baru saja tergolek di lantai dan secepat kilat Elsa mencabut belatinya yang masih tertancap di dada mayat itu dan mengacungkannya kembali ke arah kedua nyawa yang masih tersisa.

“Prabu, Sayang.” Elsa memanggil nama pria itu dengan begitu manis, sama seperti malam-malam yang sering mereka habiskan bersama. “Kamu tahu kan aku gak suka menunggu.”

Elsa melangkah menuju wanita bugil di samping Prabu dan menjambak rambutnya keras-keras. Wanita itu mengerang begitu nyaring, memohon pertolongan pada pria yang baru saja bergumul dengannya, tapi Prabu masih terlalu syok dengan kejadian mengerikan yang terjadi begitu cepat di depan matanya hingga menggerakan tubuh seujung jari pun tak bisa. Mata Elsa telah mengunci mata pria itu, dan ia menemukan kengerian yang bahkan tak bisa dibendung oleh tenaga laki-laki yang ia miliki.

“Apa wanita ini pandai membuat kopi?”

“Erraaaaahh….” Elsa menyayat wajah wanita itu begitu dalam, mencongkel dagingnya keluar dan memuncratkan lebih banyak darah ke kasur.

“Apa kopinya lebih enak dari buatanku?”

Jleeb.

“Errrhhhhgga… ARGH!!” Belati itu kini tertanam di mata wanita itu. Tak ada lagi erangan nyari penuh pesakitan, yang ada hanyalah rintihan dan napas yang tinggal satu dua.

“El-Elsa… hentikan… hentikan…” Pria itu memundurkan tubuhnya, memojokan diri ke tembok karen takut menginjak darah yang berceceran di sekitarnya. Sementara Elsa tertawa, begitu nyaring sembari menekan belatinya semakin dalam ke mata wanita di cengkramnnya. Mengaduk-aduk bola mata pelacur itu seolah-olah itu hanyalah benda tak berarti yang boleh hancur kapan saja.

“Heh? Hentikan katamu?” Elsa menyeringai, mendengar pria yang dulu ia kira begitu tangguh dan sangat ia puja merasa terpojok oleh seorang wanita berbelati membuat semua yang terjadi terasa begitu menggelikan. Begitu menggelikan baginya sampai dititik di mana ia merasa telah menyia-nyiakan hidup dan bayinya hanya untuk pria bajingan seperti Prabu.

“Apa kau lupa kalau aku juga mengatakan hal yang sama saat kau mencoba menggugurkan kandunganku, Hah?!” Elsa menarik belati dari mata wanita yang kini telah tak bernyawa itu dan kini mengacungkan belati berlumur darah serta potongan bola mata yang hancur itu ke arah mangsa terakhirnya.

“Kenapa kau membunuh anakku? Kenapa kau membunuh anak kita?” Air mata leleh di wajah Elsa, tapi dendam masih membara di dadanya. “JAWAB AKU!!”

“Elsa… dengar dulu… aku… aku…” Prabu terlalu takut bahkan lidahnya menjadi kelu. Elsa semakin mendekat dan itu membuat Prabu semakin takut.

“Ah… kau kenapa sayang?” ucap Elsa di sela tangisnya.

“Elsa aku belum siap, kau tahu…. aku… aku masih punya istri waktu…” Prabu mencoba melawan rasa takutnya. Prabu melihat botol bir di sebelah kanannya yang tak jauh dari tempatnya berada dan perlahan ia mencoba meraih botol tersebut. Akan tetapi…

Jleepp.

Belum sempat botol itu dapat diraih, sebuah belati kecil telah sukses melubangi tangan kanannya, “Aaarrrgghh!” erangan Prabu yang penuh dengan rasa sakit berhasil membuat Elsa tertawa.

“Hehehehe, tak kusangka bajingan sepertimu bisa kesakitan juga ya?” Elsa menyeringai, lantas mengoyak-ngoyak tangan Prabu dengan menancapkan belati yang musuk tangannya lebih dalam. Kini Prabu sama sekali tak bisa bergerak, Ia hanya bisa merintih-rintih di tempatnya; kehabisan darah dan tenaga.

“TAPI ITU BELUM SEBERAPA” Elsa berteriak kemudian melempari Prabu dengan botol-botol miras dan gelas kaca yang ada di sana. “SEMUA INI BELUM SEBERAPA PRABU!!” Elsa semakin histeris. Kembali lagi di ingatannya ketika bajingan di hadapannya ini membiusnya kemudian mengkuret janin dalam kadungannya hingga mati tercabik-cabik seperti serpihan daging tak berarti. Rasanya benar-benar sakit. Ia nyaris mati kala itu. Tapi rasa sakit itu bahkan secuil pun tidak lebih sakit dari lubang menganga di hatinya.

Ia kehilangan anaknya.

Ketika sudah tak ada lagi yang bisa Elsa lempar kepada Prabu, wanita itu berhenti dan memandang Prabu lekat-lekat. Napas pria itu putus-putus dan perlahan-lahan ia pun merasakan tubuhnya mulai mati rasa. Darah segar mengalir dari setiap inci luka pria itu. Kemudian, tanpa banyak bicara, tiba-tiba saja Elsa memeluk Prabu dengan mesra, sama seperti dulu ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih yang sedang bercinta.

“Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?” ucap Elsa menjilati luka yang menganga didada Prabu yang ia tadi ia toreh.

“Aaarrgghh….” Prabu mengerang lirih—putus asa.

“Tapi kenapa?” Elsa kemudian mencabut belati yang tadi masih tertancap di tangan Prabu dan meninggalkan lubang besar serta darah yang mengucur deras di sana. Lidahnya terasa menggelikan karena menjilat luka pria terkutuk itu, tapi ia juga ingin menikmati momen-momen penderitan pria itu  perlahan-lahan.

“KENAPA KAU TEGA PADAKU?” Elsa kembali berteriak sembari mengoyak wajah Prabu dengan belati di tangannya. Pria itu merintih-rintih, napasnya kini nyaris putus, ia bisa merasakan daging pipinya tersayat-sayat dan membuatnya ngilu. Tapi ia tak bisa berbuat apa pun. Tidak bisa.

“Kau tahu aku begitu mencintaimu.” Gigi Elsa bergemeretak, berusaha menggigit udara beraroma darah di sekitarnya. Sejenak ia mengusap lembut wajah Prabu yang berlumur darah sembari melumat bibir pria itu penuh hasrat seperti ritual selamat tinggal mereka dulu. Ia benar-benar merasa jijik kembali mencium pria itu, tapi ia ingin memberitahu pria itu betapa ia sangat mencintainya.

“Kau yang pertama kali merayuku, kau yang pertama kali memintaku menjadi simpananmu, kau yang bilang kalau kau akan menceraikan istrimu dan menikahiku! Semua ini karena kau!”

Jleeeb.

Elsa menusukkan belatinya ke pipi Prabu hingga tembus ke dalam mulutnya. Pria itu pun mulai kehilangan kesadaran diri karena kehabisan banyak darah. Tapi tak disangka, Prabu masih bisa bicara, meski tertatih menahan perih di mulutnya..

“Ya… se…semua… karena… aku… tapi… uhuk!” Darah muncrat dari mulut Prabu, begitu banyak seperti air mengalir. “Ta… tapi… yang menginginkan bayi itu… hanya kau… kau… mengancamku dengan bayi itu… dan memaksaku untuk melakukan… semua itu…  Kau… sendiri… yang membunuh bayimu… karena… ba-bayi itu…

“Bu… bukan anakku…”

Elsa tersentak, mata kenarinya membulat hingga nyaris keluar. Seketika itu  juga tubuhnya gemetaran. Ba-bagaimana Prabu… bisa tahu?

“Tidak… tidak… tidak..” Elsa mulai histeris, seraya memegangi kepalanya, sementara Prabu hanya terdiam melihat Elsa yang berteriak seperti melihat setan. Dalam hati pria itu pun senang, karena berhasil membuat wanita itu semakin frustasi dengan kenyataan yang ia ketahui, karena jauh di dalam lubuk hatinya Prabu sendiri tak mungkin tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Ia membunuh janin itu, karena ia tahu kalau janin itu bukan anaknya.

“El..sa.. heh…heh…” kini seringai berpindah di wajah Prabu, ia memanggil wanita tersebut untuk mengejeknya. Kini Prabu tidak peduli jika ia mati sekarang, karena kematiannya membuat wanita itu semakin menderita.

“Bajingan kau Prabu…” Melihat Prabu yang senang karena telah mengetahui tipu muslihatnya, Elsa semakin merasa frustasi, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Elsa malah tertawa.

“Aha..hahahahaha…. ya.. ya… Prabu! Aku memang menipumu… hahahaha… janin itu memang bukan milikmu!” Elsa histeris dengan tawa yang masih menggelegar tapi kemudian Elsa mencium bibir Prabu sembari mencabut kembali belati yang sebelum ini telah membinasakan nyawa dua pelacur dari wajah Prabu, Kali ini ia akan mengakhiri semuanya, mengakhiri penderitaannya.

“Sayang sekali ya?” Ucap Elsa pelan, seakan-akan ia telah melupakan apa yang telah ia perbuat. “Seandainya saja dia mirip sepertimu, Prabu, seandainya saja pria yang menghamiliku itu kau.” Napas Prabu mulai tak beraturan, mungkin ajal akn segera menjemputnya, tapi ia siap menjemput ajal karena ia tahu tak akan mati sendirian.

“Oh, Prabu… aku sangat mencintaimu… seandainya saja kau mau menceraikan istrimu dan menikahiku. Mungkin kau tak akan berakhir seperti ini. Tapi…”

Elsa menunduk, untuk sekian kaliannya kembali mengecup bibir Prabu lembut. Ia memang begitu membenci pria ini, begitu membencinya karena tak bisa berhenti mencintai pria ini.

“Tunggu aku, Prabu. Setelah ini tunggulah aku di sana.” Itu bisikan terakhir yang dapat di dengar Prabu sebelum Elsa menghujamkan betali kesayangan tepat di jantungnya. Darah segar kembali keluar dari mulut Prabu dan kali ini dibarengi dengan darah yang mengalir dari jantungnya. Prabu tersenyum ke arah Elsa sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya. Air mata Elsa kembali keluar, ia menangis keras di atas tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa.

Setelah puas menangis, ia keluar dari rusun tersebut dengan langkah lemah. Ia merasa puas karena telah berhasil membalaskan dendamnya, akan tetapi semua ini belum selesai.  Elsa berjalan melewati jalan yang ia biasa lalui, tersenyum dan terkekeh senang tatkala mengingat bagaimana tangannya membunuh ketiga orang di bilik beroroma busuk itu. Tubuhnya bersimbah darah dengan  bau anyir yang memuakan menempel kuat di tubuhnya. Tapi semua darah ini bukan darahnya, ini semua darah manusia-manusia terkutuk itu, dan sekarang,  Elsa ingin darahnya sendiri turut tercampur aduk.

Dari kejauhan Elsa melihat truk besar melesat cepat, sejenak wanita itu tersenyum sebelum melangkah anggun menyebrangi jalan raya dan berhenti tepat ditengah-tengah jalan.

“Tunggu aku, Sayang…”

TIIIIIITTTT!! BRAAAAK!

Tubuh Elsa terpental jauh, menghantam aspal yang dingin dengan keras. Kepala wanita itu hancur, genangan darah pun tercipta. Dalam hitungan detik Elsa merasakan sakit yang luar biasa, sebelum  pandangannya mulai buram, dan ajal pun menjemputnya.

Kini keinginan Elsa telah terkabul. Ia dan Prabu akan terus bersama.

Selamanya.

Fin.

Dif Per Kris (Wettpad: Dif Per Kris). Hei, ho! Ternyata gadis ini membangkitkan jiwa psikopat yang selama ini terkubur di hatiku dan akhirnya kami pun membunuh bersama! Hahahaha. Menyenangkan sekali menulis adegan-adegan mengerikan ini bersamanya, ingin menemukan tulisan-tulisan serupa milik gadis ini? Kunjungi saja wettpad-nya!


Old Time

Oleh

Benedikta Sekar dan Amiko Rizuka

“Kopi pahit satu. Lu?”

“Errr… Vanilla Milk Shake aja.”

“Alah! Banci lu! Kopi pahitnya dua, Mas!”

Zen pun menyerahkan kembali menu kepada pramusaji, begitu juga laki-laki di hadapannya yang tak bisa membantah saat Zen seenak jidatnya memilihkan pesanannya.

“Alvin… Alvin… Gak berubah-berubah dari zaman SMA. Udah kepala dua gini masih minum susu, malu sama selangkangan!”

Mendengar perkataan Zen itu, Alvin hanya memutar bola matanya tak acuh sembari melipat kedua tangan di depan dada. “Gak semua orang suka kopi, Cuk!” balasnya sengit.

“Tapi laki harus bisa minum kopi, Nyet!” Zen kembali melawan sambil menjitak kepala Alvin. Tak terima kepalanya dijitak Alvin balas menendang kaki Zen.

Brak!

“Asu! Kenapa lu main kaki?!”

“Lu yang kenapa pake jitak gue segala?!”

“Ya, gue pengen aja!”

“Ya, sama dong, gue pengen aja!”

“Lu…?” Zen melotot sembari mengepalkan tangan dan mencoba menjitak Alvin lagi. Tapi belum sempat Zen berhasil menjitak, tangannya sudah keburu ditahan oleh Alvin dan aksi saling dorong terjadi. Beberapa barang di atas meja berjatuhan di lantai, orang-orang di sekitar mereka turut menoleh, hingga seorang pramusaji berdeham di samping mereka dan memberikan peringatan.

“Hahahahaha.”

Tawa pun pecah di antara mereka sembari meminta maaf atas ketidaknyamanan yang mereka ciptakan. Untuk beberapa saat suasana menggelikan itu masih menyelimuti mereka. Hingga akhirnya tawa mereda dan kedua laki-laki itu saling melempar tatapan serius.

“Apa kabar lu, Bro?” Zen yang terlebih dulu membuka suara, dan Alvin menyambut sapaan itu dengan senyuman.

“Baik. Lu sendiri?”

“Biasa aja.”

Hening. Alvin tak tahu harus bicara apa. Sementara ia tahu betul Zen menanti tanggapannya. Sejujurnya, Alvin tak pernah menyangka kalau ia akan mengalami reuni tak terduga dengan partner in crime semasa SMA-nya ini. Sudah lebih dari lima tahun mereka putus kontak, atau lebih tepatnya dirinya yang menghilang begitu saja, ia kira laki-laki ini telah melupakannya. Tapi tak diyana, suara lantang yang memanggilnya saat ia tengh mengantri di loket kereta beberapa jam yang lalu adalah suara laki-laki ini dan dalam hitungan detik Zen berhasil memaksanya untuk menunda keberangkatannya menjadi esok hari. Ya ampun, sudah bertahun-tahun berlalu dan ia masih menjadi pecundang di depan laki-laki ini. Memalukan.

“Vin.” Suara Zen memecah lamunan Alvin, dan laki-laki itu pun buru mengerjap untuk mengembalikan kesadarannya.

“Ya?”

“Lu kenapa tiba-tiba ngilang?”

“Ada sesuatu… cukup privasi, lah,” Alvin menjawab dengan raut wajah yang sedikit sendu.

Zen menggumam sesaat, dengan matanya yang tak berhenti menatap lawan bicaranya. “Kita udah temenan dari zaman kapan, dan lu masih sok rahasia-rahasiaan?” Zen akhirnya buka suara. Ada sedikit nada ketidaksukaan dalam bicaranya.

Alvin menghela napas pasrah. Ia memilih tetap diam beberapa saat sembari terus menatap manik mata kelam yang tegas milik Zen. Zen pun melakukan hal serupa sedari tadi kepadanya.

Tak ada tanda-tanda Alvin akan menjawab, hingga akhirnya dua cangkir kopi pahit sudah tersaji di hadapan mereka masing-masing.

“Masih gak mau ngomong apa-apa, lu?”

Zen rupanya tak tahan dengan suasana hening dan berusaha membuat Alvin membuka suara. Ia menyeruput kopi hitamnya dengan perlahan dengan mata yang masuh menatap lurus sosok di hadapannya.

“Gue bingung mau mulai dari mana… atau mungkin gue belum siap. Kita ganti topik, deh!” Alvian akhirnya angkat suara, walau pada akhirnya tak menjawab sedikitpun pertanyaan Zen.

Zen hanya bisa menghela napas kasar. Sebenarnya sudah berapa lama, sih, mereka kenal? Apa rentang waktu lima tahun itu dapat merubah segalanya?

“Kalau gitu gue yang ngomong…” lirih Zen. Alvin kembali memusatkan perhatiannya kepada pemuda di hadapannya dengan jemari yang masih berada di sisi gelas berisi kopi tanpa sedikit pun ada niat mengangkatnya. “Gue disuruh nikah sama orangtua gue, mereka udah nemuin calon yang bahkan gue gak tau!” Zen melanjutkan kalimatnya.

“Apa?” Alvin melotot, tak dapat menyembunyikan kekagetannya barang sedikit pun. “Bukannya waktu itu lu pacaran sama Putri?”

“Putri itu cerita lama,” jawab Zen lirih dan seketika itu juga hatinya semakin terasa berat. Ia pun menelengkan kepala ke samping dan menemukan sejoli sedang bersenda gurau tak jauh dari mereka; si perempuan terlihat sederhana dengan laptop terbuka lebar di depannya dan pacarnya memperhatikan setiap gerik perempuan itu dengan seksama, sepertinya perempuan itu sedang menceritakan sesuatu pada pacarnya itu. Sejenak Zen tersenyum, ia ingat masa-masa saat awal Putri dan dirinya berpacaran. Semua terasa sempurna, ia kira Putri pun merasakan hal yang sama, tapi ternyata…

“Dia selingkuh.”

“Hah? Kok bisa? Bukannya lu bedua lengket banget kayak perangko sampai-sampai masuk jurusan kuliah  yang saling dukung?” Alvin mencecar. Semakin tak mengerti dengan kabar mengejutkan yang dibawa oleh sobat lamanya itu. “Lu masuk teksip dan dia arsitek. Biar nanti lu berdua bisa bangun rumah masa depan bersama. Gitu kan?”

Zen sontak tertawa mendengar mimpi masa mudanya itu. “Lu masih ingat aja kelakar gue waktu itu, Vin.”

“Gimana gue bisa lupa kalau lu ngomingin hal itu sampai tiga kali sehari. Macem minum obat aja!” Alvin menggebrak meja jengkel, tapi Zen malah semakin nyaring tertawa. “Aduh, parah lu, Zen, parah! Kenapa sih lu mesti putus segala sama putri? Bikin usaha gue selama ini sia-sia aja!”

“Hah, apa? Apa lu bilang tadi? Usaha apa?” Zen sontak berhenti tertawa saat mendengar kalimat ganjil terlontar dari mulut Alvin.

Alvin terkesiap, matanya bergerak-gerak tidak fokus mencari-cari jawaban yang sekiranya masuk akal.

“Ya… usaha… usaha…” mata Zen menyipit, menatap penuh selidik, dan Alvin pun akhirnya hanya tertawa hambar untuk menutupi kegugupannya. “Usaha… hahahha… usaha gue dengerin curcolan lu lah! Aduh! Masa lu lupa? Hahaha! Tiap kali lu sama Putri berantem kan gue mulu yang jadi penengah! Capek tahu gak bujukin Putri! Dasar somplak lu! Kalau tahu kalian bakal putis beneran gue biarin aja lu putus sejak SMA!” Alvin menampar bahu Zen dan tertawa hambar, tapi Zen sepertinya masih merasa ada yang ganjal dan menatap Alvin lurus-lurus hingga Alvin pun kembali mengalihkan pembicaraan.

“Ja-jadi… gimana soal perjodohan itu?”

“Ya, gitu deh… gue gak sudi dijodohin. Emangnya gue apaan pake dijodoh-jodohin segala, gue bisa cari pasangan hidup sendiri kok.” Zen memberengut, masih merasa jengkel dengan ide perjodohan itu.

Alvin menghela napas. Ia menatap ke arah kopi pahitnya yang mulai mendingin, entah tatapannya terlihat aneh.

“Vin,” panggil Zen.

Alvin yang sibuk berkelebat dengan pikirannya pun mendongak kembali menatap Zen. Zen sempat terkejut melihat tatapan Alvin yang terlihat aneh dan tak pernah ia lihat sepanjang berteman dengan Alvin. Apa ada sesuatu yang laki-laki itu sembunyikan?

Alvin tak membalas panggilannya, namun tingkahnya yang langsung menatap Zen membuat Zen tahu bahwa ia harus kembali melanjutkan kalimatnya. “Lu mau bantuin gue?” ujar Zen dengan suara yang mulai menyerak. “Gue gak mau diatur sama dua orang tua bangka itu! Gue gak mau nikah dengan orang yang bahkan gak gue cintai! Tolong gue…”

Alvin terhenyak mendapati Zen yang tiba-tiba berubah sendu. Apa yang harus dilakukannya? Menolong Zen apa itu perbuatan benar? Membiarkannya… Zen adalah sahabatnya… tapi…

“G-gue coba..” jawab Alvin lirih.

“Yes!” Sorak Zen girang, wajah sendu yang semula menghiasi wajah laki-laki itu langsung sirna tatkala Alvin mengiyakan permohonannya. Sedikit-banyak Alvin merasa tertipu tatkala melihat perubahan reaksi itu, tapi ia tak bisa menjilat ludahnya sendiri dengan menarik kata-katanya. Sekalin lagi, ia masih jadi pecundang di depan Zen. “Gue tahu ini pertanda baik saat gue lihat lu di stasiun tadi siang. Lu bakal jadi penyelamat hidup gue! Thanks, Bro!”

“Ha… haha… iya…” Alvin tertawa hambar sembari menggaruk tengkuknya yang terasa basah. Perasaannya tidak enak. “Jadi… lu mau gue ngapain?”

“Gue mau lu jadi pacar gue.”

“HAAAAAAAAAHH??!”

Alvin terbelalak, menjerit begitu nyaring sampai nyaris seluruh pengunjung serta pegawai kedai menoleh padanya.

“Apaan sih lu, Vin ! Gak usah lebay gitu deh!” Zen melayangkan tinjunya ke dada Alvin sesaat setelah ia berdiri dan mengucapkan maaf pada seisi kedai dengan perlakuan Alvin barusan.

“Tapi… lu barusan…” Alvin menelan ludah, agak ragu melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja lidahnya terasa sepat, tapi akhirnya Alvin pun melanjutkan dengan suara setengah mencicit. “Lu homo?”

“Kalau itu satu-satunya cara biar orangtua gue ngebatalin perjodohan ini. Gue bakal jadi homo,” jawab Zen enteng dan Alvin pun entah mengapa menjadi berang mendengar itu.

“Lu gila ya?” Alvin kembali meninggikan suaranya. “Kalau gini caranya gue kagak mau nolongin lu! Ini konyol, Nyet! Lu gila!” Alvin menggeleng kuat, amarahnya sampai ke ubun-ubun. Entah kenapa ia merasa dipermainkan.

“Loh! Gak bisa gitu dong! Lu udah bilang mau bantuin gue!” Protes Zen.

“Gue mau! Tapi bukan gini juga caranya!”

“Cih.” Zen mendecak sembari membuang wajah ke arah lain. “Padahal lu kan suka sama gue. Gue kira lu bakal seneng dan nge-iya-in tawaran gue.”

DEG.

Alvin terperanjat. Matanya bahkan tak berkedip menatap Zen. Dadanya berdebar sangat cepat, lebih-lebih karena takut dan kaget dari pada malu. Perkataan Zen barusan menggema berulang-ulang di otak Alvin, dan semakin ia yakin kalau ia tak salah mendengar, semakin ia ingin kedai ini runtuh dan meremukan tubuhnya. Sampai mati ia tak menyangka kalau momen ini akan tiba di saat ia percaya kalau perasaannya telah mati. Ini mengerikan.

Zen yang menyadari apa yang terjadi pada Alvin itu hanya menyeringai sembari melirik laki-laki itu dari sudut matanya, lantas berkata, “Gue udah kenal lu lama banget, Vin, dan menyari perubahan sikap lu itu perkara kecil.”

Alvin masih terdiam. Matanya sibuk berkeliaran melihat ke arah-arah lain. Tak ada sedikitpun keberanian untuk menatap Zen. Rasanya ia merasa matanya mulai panas. Gak! Dia gak boleh nangis! Dia gak bisa nangis sekarang!

Alvin menarik napas panjang dan menghebuskannya dengan ragu-ragu. Seandainya kopi pahit ini bisa membunuhnya, ia rela mati konyol karena meminum kopi pahit ini.

“Vin?” Zen terus menyerukan namanya, namun tak ada sedikitpun tanda-tanda Alvin akan menyahut. Matanya terus bersileweran dengan gugup dan makin lama matanya semakin terasa panas.

Tes!

Setitik air mata akhirnya berhasil lolos dari matanya. Alvin langsung berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba, membuat Zen tersentak kaget dan mendongak ke arahnya. “L-lu! Jangan karena alasan cuma pingin batalin pertunangan lu… gue yang dikorbanin?” Alvin menatap sendu ke arah Zen. “Lu gak tau apa akibatnya, Zen!” Alvin pun merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja.

“Makasih, tapi lu ternyata gak cukup mengenal gue, Zen!”

Alvin pun langsung melesat pergi tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Zen untuk menjelaskan semuanya.

“ALVIN!!” Zen berteriak, mencoba menahan langkah panjang Alvin yang keburu meninggalkan kedai kopi ini, tapi laki-laki itu tak mengubris dan terus berlari keluar. Secepat kilat Zen pun menggerakan tubuhnya dan berlari menggejar Alvin.

“ALVIN!! Jangan lari lu, Bangsat! Jangan kabur dari gue lagi!” Zen meneriaki Alvin yang berlari beberapa meter di depannya. Laki-laki itu mendengar jelas teriakannya, tapi sama sekali tak menoleh ke belakang. Bangsat… bangsat… bangsat… Zen mulai memaki dalam hati, ia semakin kencang berlari berusaha menyusul Alvin.

“Alvin! Berhenti! Banci lu!” Zen semakin frustasi, ia tidak tahu kata-kata seperti apa lagi yang bisa membuat Alvin berhenti. Ia bahkan tidak peduli ke arah mana laki-laki itu berlari, yang ia lakukan hanyalah mengikuit Alvin dan berusaha membuatnya berhenti.

Zen tidak ingin kehilangan Alvin lagi. Ia sudah pernah mengalami hal itu sekali dan tak pernah berharap akan mengalaminya lagi saat ia sudah berhasil mendapatkannya kembali. Ya, Zen tak ingin kehilangan Alvin, Zen tak ingin kehilangan sahabat terbaiknya ini lagi. Sejak dulu sampai sekarang perasaannya tak pernah berubah, bahkan sejak ia menyadari perasaan lain yang Alvin tujukan pada dirinya, Zen tak pernah merubah perasaannya kepada laki-laki itu.

Zen menyayangi Alvin.

“ALVIN!! Berhenti!” Zen memacu kakinya lebih cepat, jaraknya dan Alvin kian menipis. Sedikit lagi tangannya dapat meraih kaus laki-laki itu. Sedikit lagi… Sedikit lagi… Napasnya mulai putus-putus, tapi Zen tetap tak mau menyerah, sampai akhirnya ia berhasil mencengkram kerah baju Alvin dan menerjang laki-laki itu sampai mereka berdua sama-sama terjerembab di rumput.

“Hah… Hah… Hah…” suara napas yang memburu oksigen keluar dari mulut Zen mau pun Alvin. Masing-masing dari mereka tidak tahu di mana sekarang mereka berada, tapi yang jelas tak ada satu orang pun di sini dan sepertinya mereka akan bebas saling membentak.

“Dasar… hah… hah… banci lu… Vin… hah… gue… hah…” Zen mulai mengumpulkan seluruh sumpah serapahnya, tapi napas yang masih berantakan mengacaukan kata-katanya.

“Lu… yang… hah… bajingan… hah…” Alvin sangat ingin kabur dari tepat ini, tapi kakinya tak bisa digerakan lagi, jadi yang ia lakukan sekarang hanyalah membalas makian Zen dan napas yang juga tersengal.

Beberapa menit berlalu. Tak ada lagi yang membuka suara karena mereka berdua sama-sama kehabisan napas. Hingga akhirnya, Zen yang telah terlebih dulu membereskan masalah paru-parunya dan membuka makian pertama.

“BEGO!” Zen meraih kerah baju Alvin dan memaksa laki-laki itu menatapnya lurus-lurus. “Kenapa lu pake lari segala, hah? Mau kabur dari gue lagi lu? Mau coba ngilang dari hidup gue lagi? Dasar banci lu! Lu pikir gue sampah yang bisa lu buang gitu aja, hah? Mati aja lu!”

Bruk!

Zen menghempaskan tubuh Alvin kembali ke tanah dan ia pun turut terduduk di samping laki-laki itu. Ia benar-benar telah kehilangan akal menghadapi Alvin. Bayangkan jika laki-laki itu lari dan kembali pergi dari hidupnya membuat Zen kepalang takut hingga ia tak bisa berpikir sehat.

“Gue pergi juga demi hidup lu, Nyet.” Alvin akhirnya membuka suara, napasnya kini lebih teratur dan ia pun bisa berbicara normal. “Gue gak bisa maksain perasaan gue sama lu. Itu gak normal. Daripada gue makan hati dan ngerusak hidup lu, mending gue pergi dan ngelupain lu.”

“Kenapa lu gak mikirin perasaan gue sih?” Zen menatap Alvin frustasi, perasaannya sendiri pun berkecambuk; entah merasa marah, kesal, atau sedih. Ia benar-benar merasa ditinggalkan. “Lu gak tahu gimana stresnya gue pas tahu kalau lu pindah rumah setelah kelulusan. Berbulan-bulan gue coba cari semua kontak lu, tapi bahkan nomor orangtua lu pun gak aktif. Lu tuh kenapa sih pake kabur segala? Kenapa gak ngomong soal ini ke gue hah?”

“Lu punya Putri waktu itu.”

“Huh?”

“Lu masih pacaran sama Putri waktu itu, mana bisa gue tiba-tiba aja datang ke lu dan ngaku kalau gue punya feeling sama lu. Gue masih punya otak, Zen, gue gak sedepresi itu.”

Zen terdiam. Benar juga. Waktu itu… ia memang pacaran dengan Putri. Putri itu gadis yang cantik juga manis. Pacar yang sempurna. Tapi Zen tak  pernah bisa berhenti membandingkan Putri dengan Alvin, perasaannya bersama Putri sangat bertolak belakang dengan yang ia rasakan bersama Alvin. Zen mengira ini hanya perasaan persahabatan biasa, rasa sayang yang lumrah, tapi Zen selalu menemukan dirinya merasa nyaman jika bersama Alvin. Zen bisa menjadi dirinya sendiri, memaki sesuka hatinya dan saling bercanda tanpa takut merasa sakit hati jika ada Alvin di sekitarnya, sementara bersama Putri? Zen hanya merasa kalau ia wajib merasa bahagia karena mendapatkan gadis paling popular di sekolah.

Hingga akhirnya, Zen sadar kalau ia benar-benar membutuhkan Alvin ketika laki-laki itu menghilang. Zen mencari Alvin seperti orang kesetanan, dan mengabaikan Putri yang berada di sampingnya. Berbulan-bulan berlalu masih dengan kondisi yang sama, Zen sendiri sesungguhnya tak terkejut ketika mendapati Putri selingkuh darinya dan meminta putus. Sejak itu, Zen tak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun, karena ia masih terpaku pada sosok Alvin, sahabat terbaiknya, yang hilang entah kemana. Sampai hari ini tiba, keajaiban pun terjadi dan takdir kembali menyinggungkan jalan mereka, Zen bersumpah di dalam hati tak akan membiarkan Alvin pergi lagi sampai seluruh masalah mereka terselesaikan.

“Jadi… sejak kapan, Zen?” lamunan Zen buyar tatkala Alvin membuka suara lagi, ia pun menoleh ke samping dan mendapati laki-laki itu menatapnya lekat. Sepertinya, Alvin kini pun menyadari kalau ia tak bisa kabur dari perasaannya sendiri lebih lama lagi. Semua harus selesai sekarang.

“Apanya?”

“Sejak kapan lu tahu soal gue?”

“Oh…” Zen berdengung dan berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Sejak gue mulai pacaran sama Putri. Lu kayaknya mulai ngejauhi gue. Gue kira lu cuman ngerasa gak enak jadi obat nyamuk, tapi makin hari gue sadar kalau perasaan lu lebih dari itu, lu cemburu sama Putri.”

“Kenapa lu gak bilang kalau lu tahu?” tanya Alvin lagi.

“Karena waktu itu gue juga gak yakin sama perasaan gue sendiri.” Zen menggaruk tengkuknya, merasa konyol dengan dirinya sendiri kala itu. “Gue gak tahu harus nanggapin perasaan lu kayak gimana, karena kalau gue salah ngomong, gue tahu lu gak bakal mau jadi sahabat gue lagi. Gue gak mau kehilangan lu.”

Alvin terdiam. Ia tak tahu harus bicara apa. Ada harapan di hatinya, tapi Alvin tahu ia harus memadamkan api itu sebelum ia terbakar hidup-hidup.

“Please, lupain aja semua ini.” Alvin memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri. Kakinya masih terasa penat dan ia tak mungkin berlari lagi, tapi terus berada di sini dan membiarkan perasaannya mengambil alih itu juga bukan pilihan yang tepat. “Anggap aja hari ini gak pernah ada.”

Alvin berbalik, menyeret kakinya menjauh dan meninggalan Zen. Tapi, belum ada sepuluh langkah tubuhnya bergerak, tiba-tiba saja tangan Zen menahan bahunya, menariknya ke belakang hingga punggungnya menabrak dada laki-laki itu dan kini tubuhnya benar-benar tak bisa bergerak tatkala sebuah pelukan diterima olehnya.

“Zen! Apa-apaan sih lu? Lepasin gue! Lu gila ya?!” Alvin meronta, berteriak, dan memaki, tapi bukannya menyerah, Zen malah mengeratkan pelukannya hingga Alvin benar-benar tak bisa bergerak.

“Sudah gue bilang jangan tinggalin gue lagi,” bisik Zen di telinga Alvin, membuat laki-laki itu seketika membatu dengan dada berdebar kencang.

“Ze-Zen…?”

“Kenapa lu balik kemari?”

“He?”

“Kenapa lu balik lagi ke kota ini saat lu tahu ada kemungkinan ketemu gue?” Alvin semakin tak bisa berkata apa-apa lagi, dan keheningan yang ia tunjukkan memberikan kesempatan bagi Zen untuk semakin memojokkannya. “Pertemuan kita di stasiun itu bukan kebetulan, lu kira gue gak sadar itu hah? Sejak dulu lu tahu kalau gue selalu ngatar nyokap gue ke stasiun di tanggal satu dan lu sengaja pergi di tanggal yang sama pakai kereta api sementara lu bisa aja pergi naik pesawat kapan aja. Gue tahu lu bertaruh, gue tahu lu berharap ketemu gue secara gak sengaja di sana. Tapi sekarang setelah ketemu saa gue, kenapa lu mau lari lagi?”

Alvin tercekat, sekali lagi merasa tolol dengan dorongan hati sesaatnya. Ia benar-benar ingin menyesali keputusannya kembali ke kota yang ingin sekali di lupakannya, tapi tatkala atasannya memintanya untuk melakukan perjalanan dinas ke kota ini, Alvin tak urung meninggikan harapan untuk bernostalgia dengan perasaan di masa mudanya.

Yah, ia berharap bertemu dengan Zen.

“Vin…” Zen kembali memanggil Alvin, melepaskan pelukannya dan memaksa laki-laki itu berbalik menatapnya. Kini mereka berdiri saling berhadapan, bertukar pandangan dan mencoba untuk membaca pikiran lawan mereka masing-masing. Dan Alvin berani sumpah kalau ia tak pernah mengharapkan pandangan seperti itu diberikan Zen padanya, karena sekarang ia melihat pandangan mata yang dulu tak pernah berani ia mimpikan bahkan di alam tidurnya.

“Please, bantuin gue ngelawan perjodohan ini. Meski gue harus diusir dari rumah, sampai mati gue gak bakal ngelepasin lu lagi.” Zen menarik napas dalam-dalam, menatap Alvin lekat seakan-akan momen ini adalah saat-saat terakhir hidupnya, seolah-olah jawaban Alvin akan menentukan hidup dan matinya, hingga tak bisa mengatakan apa pun lagi selain mengangguk.

Pasrah pada rasa bahagia yang meledak di dadanya.

“Lu mau?” Mata Zen membulat, ia tak mempercayai penglihatannya, tapi saat Alvin sekali lagi mengangguk dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zen. Laki-laki itu sontak bersorak, menarik Alvin dalam dekapannya, dan selamanya tak akan melepaskan Alvin.

Selamanya. Hingga mau memisahkan mereka.

Fin.

Amiko Rizuka (Wattpad: AmikoRizuka). Hahahaha, sebenernya agak segan komentar soal kolaborasi ini karena kolaborasi ini bener-bener tercipta dari khayalan liar kami berdua. Semoga kalian bisa menikmatinya meski genre dari kisah terakhir ini memang agak ekstrem. Cinta tercipta di mana saja, dan di hati siapa saja. *smile* Mari, kunjungi wettpad gadis ini juga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s