Diposkan pada #30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #1] Dari Pena untuk Kertas Tisu

okeschool-763844719702740

Aku diciptakan untuk merangkai kata-kata sementara kau diciptakan untuk menjadi kotor dan terbuang. Hidup kita tak mungkin bersinggungan. Bagai angin yang selalu berlalu saat menerpa pepohonan, takdir pun selalu meloloskanmu dari ujung runcing bertintaku meskipun kita berada di dalam tas orang yang sama—berdesak-desakan di antara buku-buku tebal anak prakuliah, juga novel usang dari rak buku setengah harga.

Sudah berkali-kali kulihat kamu dirogoh buru-buru untuk menghapus kotoran pada wajahnya, pun ketika suatu waktu seseorang menumpahkan segelas kopi pada rok yang baru pertama kali ia kenakan. Kau digunakan lalu di buang, digunakan dan dibuang. Begitu terus tanpa henti karena seperti itulah siklus hidupmu setiap harinya.

Pada mulanya aku tidak begitu memedulikanmu, kau hanya bagian tak penting dari tinta hitam juga kata-kata yang diciptakan melalui kehadiranku di dunia ini. Sampai suatu ketika, untuk pertama kalinya dalam hidup kita yang berdekatan namun terasa jauh ini, ia menggunakanku untuk menuliskan sesuatu di atas putih tubuhmu.

Aku gemetaran.

Sama seperti tangannya yang gemetaran memegangku.

Baru pertama kali aku merasakannya, ternyata menulis di atasmu sangatlah sulit. Ia sampai meringis berkali-kali saat tanpa sengaja merobekmu dengan ujung runcingku dan aku pun melakukan hal yang sama saat kutahu apa yang coba ia tuliskan di atasmu—sebuah surat cinta singkat yang entah pada siapa ditujukan.

Terima kasih untuk kopi yang kautumpahkan pada rokku tempo hari, nodanya tidak bisa hilang meskipun kucuci berkali-kali. Sama seperti rasa cinta yang kau torehkan di hatiku detik itu, debarannya tak bisa berhenti meski kucoba redam berkali-kali.

Hanya dua kalimat  yang tertulis di sana dan kau pun ditinggalkan begitu saja di atas meja, tidak di buang ke pinggir jalan seperti biasanya atau di biarkan bersatu dengan sampah busuk lainnya. Dadaku berdebar saat terakhir kali kulihat kau mematung di sana, menanti seseorang menemukanmu dan membaca kata-kata murahan itu. Tapi debaran itu ternyata tidak hanya berasal dariku, tapi juga dari tangannya yang menggenggam tubuhku erat-erat sembari berdoa kalau seseorang yang ia maksudlah yang akan menemukan pesan itu.

Dan mulai sejak saat itu, aku pun memandangmu dengan cara yang berbeda. Tiap kali tubuh kita bersentuhan di dalam tas yang penuh sesak, debaran itu kembali muncul seperti pertama kali ia menuliskan tintaku padamu. Aku selalu menanti saat-saat seperti itu kembali datang, cepat atau lambat, aku tidak peduli. Karena rindu untuk menorehkan kata-kata padamu begitu menggebu-gebu, meski surat ini hanya kutuliskan dalam angan dan mungkin saja kau tak mengetahuinya. Tapi ada satu hal yang kuingin kautahu pasti.

Ada cinta yang nyata.

Di sini.

Salam,

 Dari tinta yang tak akan pernah mengering untukmu

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

10 tanggapan untuk “[Surat Cinta #1] Dari Pena untuk Kertas Tisu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s