[Surat Cinta #30] Dariku untuk Kisah yang Belum Tuntas

Untuk seluruh surat yang telah kutulis selama 29 hari ke belakang hingga hari ini,

Terima kasih untuk segala hal yang telah kalian berikan padaku. Kalian semua telah mengajariku bagaimana caranya berkomitmen dalam menulis juga mencinta. Kalian semua telah memberi arti pada setiap hari yang kulalui sampai hari ini karena tak ada hari yang kulewati tanpa memikirkan kalian, Surat-Suratku.

Tiap kali aku bangun, hal pertama yang aku ingat adalah aku harus menulis surat hari ini. Kadang kala ide datang di kepalaku begitu cepat seperti angin, tapi beberapa ide itu juga justru terbang entah ke mana sampai akhirnya ia kembali tepat satu jam sebelum deadline. Karena itulah, kadang aku harus memaki diri karena tidak bisa menggenggam ide itu kuat-kuat dan langsung menuliskannya.

Mari, salahkan para penemu internet.

Surat-Suratku yang isinya mungkin tak seindah pelangi atau bulir hujan yang luluh di kaca bening, kalian adalah sejarah dalam hidupku. Cinta yang tak berujung. Banyak hal yang terjadi selama tiga puluh hari ini, dan kalian selalu ada di sana sebagai saksi perjalanan terbesar dalam hidupku.

Hari ini, event #30HariMenulisSuratCinta telah berakhir. Tapi aku tahu, kisah kita belumlah tuntas. Masih banyak kisah yang ingin kubagi, debaran cinta yang kuingin ungkapkan, serta mimpi tentang ‘suatu hari nanti’ yang belum tercapai. Sungguh, aku tidak akan berhenti memikirkan kalian dalam kepalaku, terlalu banyak rasa bahagia yang kalian berikan padaku selama tiga puluh hari ini. Hingga berhenti untuk merangkai kisah kalian tak pernah terlintas di benakku.

Maka dari itu, aku akan bersabar.

Sebelas bulan ke depan akan berlalu seperti angin sore hari yang pergi untuk kembali, dan kita akan bertemu lagi pada bulan cinta tahun 2016. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal karena kita tidak berpisah. Aku hanya ingin mengungkapkan cinta yang tak akan luntur meski waktu berjalan begitu lama.

Akan ada banyak kisah yang berjalan di hidupku selama kita tak bersua dan semua itu akan kusimpan dalam hati untuk kuungkapkan kepadamu agar seluruh khalayak ramai tahu pada tahun yang akan datang, dan yang akan datangnya lagi, dan terus menerus sampai tak ada lagi yang tersisa dari hidupku.

Karena hidupku adalah sebuah kisah panjang yang tak akan pernah tuntas kutulis dalam surat-surat ini, pun dalam setiap kisah di semua karyaku. Hidupku adalah sebuah buku, yang kutulis dengan tinta darah. Buku ini baru akan selesai, bila nanti darahku tak lagi mengalir keluar dari jemariku dan menorehkannya pada mimpi-mimpi di langit malam.

Iya, Surat-Suratku, tak ada akhir pada kisah kita karena semua belumlah tuntas.

Salam,

Benedikta Sekar

[Surat Cinta #29] Dari Saya untuk Kalian Berdua

Maaf.

Maaf karena saya mengirimkan satu surat untuk dua orang sekaligus. Rasanya seperti mencintai dua orang di waktu yang bersamaan, hahaha, tapi bagaimana lagi, saya memang sangat menyukai surat yang kalian berdua berikan. Seumur-umur saya tidak pernah mendapatkan surat dari siapa pun, kedua surat kalian adalah surat pribadi pertama yang saya terima selama 19 tahun hidup saya di dunia ini (seingat saya sih, kalau surat-surat pengumuman dari sekolah enggak dihitung XD). Rasanya benar-benar tersentuh saat membaca setiap kata yang ditujukan kepada saya, ada rasa  tak percaya juga karena saya tidak menyangka surat-surat yang saya tulis bisa mengerakan hati orang lain.

Kalian benar-benar membuatku bahagia, dan kuharap kehabahagiaan akan terus datang menghampiri kalian setiap hari.

ooo

Dear, Marina

Surat saya yang berjudul ‘Dari Pintu Kulkas untuk Kertas Warna-Warni’ adalah salah satu surat yang cukup emosional dari seluruh surat yang saya tulis. Beberapa adegan di dalam surat ini pernah saya rasakan dan saya memang selalu menyelipkan kejujuran di setiap surat yang saya tulis. Terlalu banyak hal yang terjadi di hidup saya, saking banyaknya saya harus membaginya dengan seseorang atau sesuatu agar saya tidak menyimpannya sendiri dan menjadi gila karena stress berkepanjangan. Hahaha.

Saya akhirnya memilih untuk menulis. Mulanya saya menulis hanya untuk kesenangan dan pujian semata, lambat laun tujuan itu berubah menjadi ‘saya menulis untuk diri saya sendiri’. Saya menulis kegalauan, kesedihan, keresahan, serta kebingungan saya, dan setiap kali menuliskan hal itu saya mencoba untuk menemukan jawabannya. Kadang, saya menemukannya, tapi kebanyakan saya justru tidak mendapatkan apa pun kecuali sebuah tulisan baru. Hahaha, tapi itu pun saya syukuri karena setidaknya saya bisa membaca seluruh rasa hati saya di blog.

Dan… ketahuilah, Marina, menyadari dirimu yang juga mengalami hal yang sama seperti pintu kulkas yang saya tulis dalam surat itu membuat hati saya mencelus. Seperti bertemu dengan sobat lama yang saling mencari satu sama lain, saya membaca surat singkatmu dengan penuh perasaan. Dan saat di akhir surat itu tiba, saat kamu memberikan lanjutan pada kata-kataku, detik itu pula aku sadar.

Sepertinya kita bisa saling menyebuhkan luka masing-masing. Dengan cinta, aku percaya hal itu mungkin dilakukan, karena…

‘cinta bahkan tetap bisa tumbuh pada hati yang sudah banyak terluka dan luka tak akan mampu membatasi rasa cinta’

😀

ooo

Dear, Mayang

Terima kasih. Sangat terima kasih, sungguh sangat terima kasih telah memberi saya surat dengan cinta yang sangat menggebu-gebu. Saya sampai tenggelam pada setiap katanya dalam lautan kesenangan karena surat penuh cinta seperti itu tak pernah saya terima. Saya benar-benar tidak menyangka kalau surat saya mampu menghantarkanmu untuk menyukai tulisan saya yang lainnya. Maafkan saya bila banyak dari tulisan saya itu hanyalah kata-kata sederhana dari gadis pradewasa ababil yang masih galau dengan hidupnya. Tapi ketahuilah, seluruh tulisan itu tulus saya tulis untuk para penikmat kata, seperti dirimu.

Pada surat indahmu itu pula kutemukan banyak sekali pertanyaan, dan dengan senang hati,saya akan menjawab setiap pertanyaan yang saya temukan di sana. Pertama, bagaimana saya  bisa menulis seperti ini? Banyak hal yang terjadi pada tulisan saya, tapi tentu saya menulis seperti ini tidak datang secara instan. Tapi satu hal yang ingin saya tekankan, never stop writing, meskipun banyak orang yang mencela tulisanmu, teruslah berkembang dan ambil risiko dalam setiap tulisan yang kamu kerjakan.

Kemudian, sejak kapan saya menulis? Saya menulis sejak mengenal apa itu buku diari, tapi benar-benar mencintai dunia ini ketika saya duduk di kelas dua SMA. Selanjutnya, dari mana saya mendapatkan inspirasi? Saya mendapatkan banyak inspirasi dari banyak hal. Film, buku, lagu, orang-orang di sekitar saya, dan lain sebagainya, tapi yang paling utama adalah hidup saya sendiri. Kenapa? Karena saya menulis untuk diri saya sendiri, saya menulis untuk menjawab pertanyaan yang muncul di hidup saya, dan meskipun tidak mendapatan jawaban dari kegiatan menulis ini, saya mendapatkan satu cerita baru untuk dibagikan. Hahaha.

Lalu, dua pertanyaan beruntun tentang apa saya suka membaca buku dan kalau suka genre buku apa yang saya sukai? Jawabannya, saya sangat menyukai buku, buku adalah dunia saya sejak saya masih bayi. Hahaha. Saya tidak menyukai satu genre khusus pun tidak juga menyukai semua buku. Setiap kali ke toko buku saya tidak pernah memiliki tujuan tertentu untuk membeli buku apa, karena saya tidak pernah memilih buku yang ingin saya baca, bukulah yang memilih saya 😀 (red. Ini kutipan keren dari satu-satunya penulis kesukaanku, Paulo Coelho)

Dan pertanyaan terakhir yang saya temukan di suratmu adalah apa aku akan mengabarimu jika aku menerbitkan buku? Hahaha, TENTU SAJA! dunia harus tahu ada kata-kata yang ingin sekali dibagi di sini. Semoga saja passion memiliki buku sendiri itu tidak sejauh angan belaka. Terima kasih karena menitipkan rasa percayamu pada saya kalau saya bisa melampaui perkataan orang yang selalu meremehkan mimpi saya ini.

Saya pasti akan terus menulis, tak akan pernah berhenti meski seluruh manusia di dunia ini memunggungi saya, karena saya tahu semesta menolong saya untuk terus menulis. Semoga suatu hari nanti kita bisa berjumpa dan saling bertukar kata secara verbal. Karena hanya membaca suratmu untuk saya, saya sudah menemukan salah satu kebahagian terbaik yang pernah saya punya.

😀

ooo

Di akhir surat untuk kalian berdua ini, sekali lagi aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat dalam pada kalian. Semoga bisa membalas kebahagiaan yang telah kalian berikan pada saya kemarin saat menerima surat kalian.

Salam,

Benedikta Sekar

[Surat Cinta #28] Dariku untuk Penulis Surat Terbaik Tentang Ayah

Dear Kak Adiezrindra,

Sejak hari pertama pembukaan event menulis #30HariMenulisSuratCinta, saya tahu, saya akan menulis surat ke-28  ini untuk Kakak.

Terima kasih untuk surat indah Kakak tentang Ayah di hari pertama. Saya terlalu kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bagaimana setiap kata yang kakak torehkan di dalam surat itu menggambarkan cinta yang begitu dalam pada sosok Ayah.

Rasanya hangat, Kak, membaca surat Kakak rasanya seperti kembali dipeluk oleh Papa dan beliau berbisik pada saya kalau beliau tak akan pergi ke mana pun—akan tetap ada di samping saya, meskipun kedua tangannya tak lagi benar-benar memeluk tubuh saya.

Hah…

Kak, baru paragraf ketiga saya menulis surat ini dan air mata saya sudah meleleh. Hahaha, saya sampai bingung ingin mengetik apa lagi di surat ini karena di kepala saya gempuran memori indah itu kembali menelan saya bulat-bulat. Sebenarnya, di surat ini saya tidak hanya ingin mengungkapkan rasa cinta saya pada surat Kakak. Tapi juga ingin mengungkapkan rasa iri saya yang begitu besar pada Kakak.

Iya, saya iri.

Saya ingin sekali suatu hari nanti bisa menulis surat tentang Papa sama seperti Kakak menulis tentang Ayah Kakak, karena kakak menulis surat dengan senyuman kebahagiaan serta rasa syukur tanpa harus berhenti setiap tiga kata untuk mengelap air mata…

Kak, saya tidak pernah berhasil pun tak penah berani lagi menulis surat tentang Papa.

Kenangan tentang Papa masih jadi sembilu di hati saya.

Bukan karena kenangan itu begitu buruk, justru kebalikannya. Kenangan itu terlalu indah, Kak, teramat sangat indah. Hanya saja Papa saya sudah tidak bersama saya lagi untuk mengenangnya berdua sambil tertawa. Beliau meninggalkan saya untuk mengenangnya sendirian sambil menangis.

 Itulah yang membuat saya iri. Teramat sangat iri sampai-sampai saya tak ingin membaca dua kali surat Kakak untuk Ayah Kakak. Hahaha. Menulis surat ini saja saya sudah dengan air mata menganak sungai, Kak, apa lagi membaca lagi surat Kakak tentang Ayah. Lebih baik jangan bila saya tidak mau bangun dengan mata merah. Kota Jogja tidak perlu gadis cengeng seperti saya XD

Akhir kata, Kak. Sekali lagi, saya ingin berterima kasih dengan surat Kakak, pun mengungkapkan rasa cinta yang diselipi sedikit rasa iri pada setiap kata yang Kakak suguhkan. Teruslah menulis, Kak, teruslah menjadi putri kecil yang bisa ayah kakak banggakan. Buatlah ayah Kakak bangga sepuas-puasnya sampai hati beliau penuh dengan rasa bahagia karena memiliki putri yang berbakti seperti Kakak.

Karena kasih seorang Ayah, kadang kala hanya bisa kita rasakan sungguh luar biasa ketika beliau sudah tiada.

Salam,

Dariku yang masih menangis

Hati yang Tersakiti Rindu

Apa sih yang enggak buat Reno?

Bela-belain begadang biar bisa ngucapin selamat pagi buat dia. Bela-belain pulsa jebol buat dengar suara dia. Bela-belain skype-an sampai subuh demi lihat wajahnya. Bela-belain jatuh cinta sama manusia jenius, kutu buku, komputer freak dan yang sekarang kuliah di New York kayak dia!

Dan lagi, aku ini cewek! Demi apa coba?!

Kutatap handphone-ku yang tak ada tanda-tanda dari pacarku itu. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi di dinding kamar kosku. Seharusnya Reno sudah bangun dan aku sudah siap mendengarkan suaranya. Tapi kenapa? Kenapa nomornya gak aktif?!!

“Renoooo jeleeeeekkkk!!”

Aku menjerit. Masa bodoh dengan teman kos kanan-kiriku. Rasanya hati ini telah meradang karena rindu. Tak kusangka mencinta Reno bisa sesakit ini. Tapi meskipun sakit karena Rindu. Reno memang pria yang pantas untuk menyakiti hatiku.

Seberapa banyak dan seberapa kalipun.

Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Air mata leleh. Kutilik fotoku dan Reno di atas meja, serta merta senyumku rekah. Aku ingat, ia berjanji akan pulang jika rindu tak kuasa lagi menggerogoti hatinya. Dan aku terus memegang janji itu meski aku tahu itu tak mungkin ditempati hingga empat tahun lagi.

Tok. Tok. Tok.

HUH?

Aku bangkit. Mengerutkan kening. Siapa yang bertandang malam-malam? Aku melangkah menuju pintu, membuka sedikit pintu sebelum akhirnya kudengar suara yang sedari tadi kuharapkan terdengar di cuping telingaku…

“Eri, Aku kangen…”

Pintu terbuka lebar. Mataku melotot. Sembari kedua tangan menutup mulut menahan jerit juga tangis. Hingga akhirnya aku jatuh dalam pelukan pria itu dan menyadari kalau semua ini bukan mimpi.

“Hatiku, lebih Jet Lag akibat belasan jam di pesawat ketimbang badanku, Er… aku bener-bener kangen kamu.”

Dengan semua yang terjadi ini… kurelakan hatiku penuh bilur karena rindu, karena hatiku memang pantas disakiti oleh Reno.

_________

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pVsAoDeknx di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Devon

Hanya ada dua hal yang Devon lakukan saat malam minggu. Satu, mengisi pulsa. Dua, menunggu panggilan masuk. Seperti sekarang…

Drrr… Drrr… Drrr…

iPhone 5 warna hitam itu bergetar di atas meja dan Devon pun langsung melonjak dari kasurnya.

“Halo?”

“Dev, Sayang, kamu lagi sibuk gak?”

Senyumnya merekah tatkala suara manis itu menyusupi gendang telinganya.

“Gak kok,” jawabnya mantap. “Aku telepon balik ya. Matiin aja, Say.”

Sampai rela Devon membiarkan gadis itu kehabisan pulsa meneleponnya, barang tentu laki-laki itu gak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Tut… tut… tut…

Nada tunggu. Paggilan diangkat.

“Halo, May?”

“Beb!”

“Apaan?”

“Aku mau cerita lagi tentang malam ini.” Suara di seberang terdengar genit dan menggemaskan. Devon suka sekali suara itu, membuatnya selalu mengerang senang di dalam hati.

“Malam ini aku lagi senaaaang banget, Beb! Kamu tahu gak kenapa?”

Devon tersenyum, ada getir di sudut bibirnya.

“Emang kenapa, Cantik? Situ kayak gak pernah hepi aja pas malam minggu. Emang kali ini ada apa?”

Suara tarikan napas dalam di ujung telepon. Terdengar tak sabar ingin menjeritkan kisah luar biasanya malam ini.

“Devina, Sayaaaang! Malam ini Romeo nembak akuuuu! Kyaaa! Kita jadian!”

Teriakan gembira itu sama sekali tak selaras dengan hati di balik babydoll pink yang pecah dan hancur. Devon menatap nanar meja rias di samping tempat tidurnya yang penuh dengan kosmetika perempuan yang ia beli bersama Maya; hanya untuk menunjukkan pada sahabat masa kecilnya itu kalau mereka bisa melakukan segalanya bersama tanpa memandang jenis kelamin.

Tapi hanya untuk satu hal, yang selama ini ingin ia ungkapkan pada Maya dan memohon pada gadis itu untuk merubahnya.

Namanya bukan Devina, melainkan Devon.

Ia lelaki dan sudah mencintai Maya lama sekali…

“Selamat ya, Beb, semoga langgeng nih!”

Beginilah… ritual malam minggu Devon.

_________

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pVsAoDeknx di Facebook dan Twitter @nulisbuku

[Surat Cinta #27] Dari Pintu Kulkas untuk Kertas Warna-Warni

Aku tahu ada yang aneh dengan keluarga ini, tapi jika keanehan itu dapat membuatku bertemu denganmu setiap hari. Kurasa itu bukan hal penting.

Dulu, aku hanyalah kulkas polos tanpa warna yang melengkapi dapur rumah itu selayaknya barang buka tutup. Di meja makan itu berkumpul sepasang suami-istri serta kedua putri mereka setiap pagi dan malam untuk menyantap makanan yang nyaris tak pernah dimasak sendiri di dapur ini.

Meja itu terasa dingin, tapi sang Ayah dan putri tertuanya selalu punya bahan untuk diobrolkan berdua. Sering kali mereka mencoba mengajak dua anggota keluarga lainnya untuk bergabung ke dalam pembicaraan, tapi  wanita karir itu tampak terlalu lelah untuk berbicara sementara putri bungsunya tak suka banyak tertawa. Semakin lama, keluarga itu semakin terlihat aneh, seperti ada jurang yang memisahkan perasaan mereka hingga acapkali perkelahian terjadi antara suami-istri dan saudara yang saling tak peduli satu sama lain.

Tiap hari aku melihat kejadian itu terus berulang seperti film bisu. Aku mulai muak mendengar pertengkaran suami-istri yang isinya selalu sama; tentang suami yang tak bisa menghidupi keluarga mereka dari karya lukisnya serta tentang istri yang mengambil alih tampuk pengucur dana bagi keluarga. Belum lagi hubungan kedua putri mereka yang semakin dingin dan keruh seiring dengan pertengkaran orangtua mereka yang kian memanas. Mereka bahkan tak bicara satu sama lain meski berada di ruangan yang sama; seolah-olah mereka bukanlah saudara dan hanya orang asing yang kebetulan saja tinggal bersama.

Keadaan itu berlangsung menahun, aku masih saja menjadi benda polos tanpa gairah. Hingga bencana itu datang, dan orang yang seharusnya menjadi tulang punggung dari keluarga itu meninggalkan meja makan dingin itu untuk selamanya.

Mereka bilang kecelakaan. Klise  sekali, tapi aku tahu, penyebab kecelakaan tunggal itu barang tentu bukanlah kantuk, melainkan pertengkaran yang menyerukan kata ‘cerai’ di malam itulah penyebabnya. Tak kuasa menghadapi istri yang begitu mantap dengan kata itu, suami yang harga dirinya terluka selama menahun pun memilih untuk pergi dari rumah dan kembali tanpa nyawa.

Semenjak kepergian satu-satunya orang yang bisa diajak bicara di meja makan. Putri tertua dari keluarga itu pun semakin merasa terasing bila berada di rumah. Meja makan itu kini terasa dingin juga hening. Hingga akhirnya ia pun benar-benar berhenti bicara dengan keluarganya dan memilih untuk menuliskan saya suaranya di lembar-lembar berwarnamu.

Iya, di detik itulah aku mengenalmu.

Setiap pagi dan petang ia berbicara dengan ibunya yang bekerja sangat sibuk melalui kata-kata yang tertulis di tubuhmu dan ia tempelkan di pintuku. Mulai dari meminta uang jajan, menitipkan barang, meminta izin, dan lain sebagainya. Semakin hari semakin banyak kertas warna-warni yang menempel di tubuhku, dan bersamaan dengan itulah aku merasa tidak sendirian.

Aku tidak sendirian menonton drama keluarga murahan ini.

Kamu ada bersamaku menjadi saksi kehidupan mereka dan dengan murah hati kusediakan  tubuhku yang lapang untuk kamu isi dengan warnamu. Aku tahu cinta ini tumbuh di saat ada banyak hati yang terluka di rumah ini, tapi cinta memang tak pernah memberi isyarat sebelum jatuh.

Cinta bahkan tetap bisa tumbuh pada hati yang sudah banyak terluka.

Salam,

Kulkas yang dunianya berwarna olehmu

[Surat Cinta #26] Dari Koper Rock n Roll untuk Kamar yang Ditinggalkan

Kamu tidak tahu sudah berapa banyak surat yang kutulis di langit malam saat kita terpisah.

Banyak. Banyak sekali seperti taburan bintang yang menyinari dindingmu kala malam luruh.

Aku tidak pernah tahu mencintai dari jauh seperti ini ternyata rasanya sakit sekali. Seperti mendambakan udara untuk balas memeluk tubuhmu atau seperti berharap mencium matahari tanpa terbakar oleh panasnya yang membara. Tapi tak mengapa, meski rasanya sesakit ini, mencintaimu dari jauh barang tentu mengingatkanku betapa aku mencintamu, hehe.

Jadi, Sayang, apa kamu merindukanku?

Aku tahu, kamu pasti merindukanku sama seperti aku merindukanmu di sini. Kadang kala aku mengutuk gadis gila itu karena berani-beraninya ia memisahkan kita sejauh dan selama ini. Memangnya ia tidak tahu betapa jauhnya Yogyakarta dari kamarnya di Banjarmasin? Dan demi seratus sticker Queen, The Beatles, Kiss Band, The Rolling Stones, Guns n Roses, Metalica, Bon Jovi,  N Sync, dan entah band rock mana lagi yang ada di sekujur tubuhku, berpisah denganmu bahkan lebih mengerikan dari harus tenggelam di dalam sticker-sticker aneh itu.

Well, bukannya aku tidak sadar diri dan peran sih, untuk apa aku tercipta bila tidak ingin berkelana? Menjajahi ranah baru pun melihat keanehan yang ada di tempat lain. Aku sendiri selalu menikmati perjalananku bersama gadis itu ke kota-kota yang ia kunjungi, tak ada yang lebih menyenangkan menggulirkan roda di Bandara dan mendengar bahasa-bahasa aneh dan suasana baru di sekitarku. Tapi tetap saja, Sayang, sejauh mana aku pergi, meski itu ke ujung dunia sekali pun.

Aku selalu merindukanmu.

Seandainya aku bisa memasukan tubuhmu di dalamku dan menculikmu pergi, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu. Ada sesuatu pada dirimu yang selalu saja membuatku tak bisa berhenti memikirkanmu. Sesuatu yang kucintai meski ribuan kilometer kita terpisah dan sesuatu itu pula yang membuatmu berbeda dari kamar hotel atau kamar kos lain di tempat lain.

Kamu adalah satu-satunya tempat untuk pulang.

Sayang, ini adalah surat terakhir yang akan kutulis di langit malam. Petang tadi gadis gila itu mengisiku dengan baju-baju serba anehnya kecuali blouse biru polos yang ia gantung di depan cermin karena ia akan mengenakannya nanti saat kembali ke tempat ini. Ia berbisik lirih padaku kalau kami akan pulang esok hari pagi-pagi buta, jam penerbangan pertama. Ada nada berat di hatinya saat menyampaikan itu, tapi aku masa bodoh dengan masalah keluarganya yang rumit, karena detik itu yang aku pikirkan hanyalah dirimu dan menebus rindu selama berbulan-bulan padamu.

Iya, Sayang, aku pulang. Aku akan pulang esok hari, jadi tunggu dan sambut aku dengan cinta serta rindu yang menggebu-gebu, karena kamu, seperti kata John Mayer…

‘You got a face to call home, Babe…’

Salam,

Koper Rock n Roll kerenmu

[Surat Cinta #25] Dari Baseball Cap untuk Cloche Hat

Melalui surat ini, dan segala keanehan yang kita tukar senja itu. Aku ingin menceritakan ulang kisah awal perjumpaan kita…

Digantung bersisian di belakang pintu flat murahan ini rasanya aneh bagi kita. Aku dengan segala kebulukan dan kamu dengan segala keanehan.

Mari salahkan mereka yang bersama. Atau salahkan pemilikmu yang memaksa masuk seperti angin puting beliung. Suasana canggung pun tercipta di antara kita, rasanya ingin jatuh saja ke lantai dan diam di sana sampai mereka selesai berbicara.

Sama canggungnya dengan kita.

Yah, gadis macam apa yang memaksa masuk ke dalam flat laki-laki?

‘Gadis yang sedang jatuh cinta.’

Itu katamu, tersenyum getir seolah-olah dapat merasakan apa yang dirasakan oleh pemilikmu. Sementara aku terdiam, menatapmu seperti benda astral yang datang tanpa diundang dan berbicara padaku.

‘Gadis yang sedang jatuh cinta bisa melakukan apa pun.’

Kamu melanjutkan perkataanmu dan aku masih diam. Ternyata tidak hanya bentukmu yang aneh, caramu berbisik pun juga aneh. Sama anehnya dengan pemilikmu.

Ada apa dengan seluruh keanehan ini?

‘Kamu juga aneh.’

Kamu berbicara lagi. Tak jua peduli dengan diamku dan terus mengisi hening.

‘Sama seperti pemilikmu.’

Aku terperangah. Diam-diam kulirik pria berpakaian berantakan dengan Marlboro yang tidak di nyalakan terselip di jarinya itu. Ia diam saja sementara gadis di depannya berbicara tentang ujiannya yang berjalan lancar dan ia yakin kalau ia pasti masuk ke perguruan tinggi idamannya. Lalu gadis itu mengingatkan tentang taruhan mereka dan ia yakin seribu persen kalau pria itu akan berkencan dengannya.

Pria itu diam saja dan gadis aneh itu meracau seperti kerasukan iblis penggossip. Tapi ada sesuatu pada mata pria itu yang terlihat seperti kaca tembus pandang dan menampakan isi hatinya begitu jelas.

Ada cinta di sana. Meluap-luap seperti air bah.

Aku kembali melirikmu yang terkekeh geli, dengan segala keanehanmu dan kehadiranmu yang tiba-tiba. Dan akhirnya kusadari apa yang kamu katakan memang benar, aku pun sama anehnya dengan pemilikku.

Ada cinta di sini. Meluap-luap seperti air bah.

Salam,
Dari baseball cap yang kamu curi hatinya

[Surat Cinta #24] Dari Spasi untuk Titik

Aku hanyalah ruang kosong di antara kata sementara kamu adalah akhir dari segalanya. Sejenak kita tampak sama di dalam semesta kata-kata, tapi pada kenyataannya kita tak pernah bisa bersama. Karena ketika kamu muncul, aku selalu diabaikan olehmu. Bagimu, aku hanyalah ruang kosong hampa udara yang tak pernah bisa menggapaimu.

Dalam kisah balada cinta tentang gadis nyentrik berpakaian aneh, pria beraroma tubuh serupa kopi-tembakau, serta lelaki dengan nada tersampir di bahunya ini. Plot cerita belum menemui akhir, tapi sang empunya kata-kata belum jua menemukan cara untuk membuat potongan puzzle yang ia buat rapi membentuk kisah sempurna yang indah.

Jadi, ia pun hanya meracau dengan menulis surat tentang kita. Untuk mengisi ruang kosong di antara katanya dengan kegalauan tentang spasi dalam tulisan.

Benarkah aku hanyalah ruang kosong yang tak berguna?

Benarkah aku tak ubahnya udara ketika kamu mengakhiri segalanya?

Bisakah aku berarti bagimu?

Aku mulai depresi. Menjadi sesuatu yang tak terlihat bukan perkara mengingat huruf i saat berada di sekolah dasar. Ini lebih sulit.

Bagaimana bisa aku menyatakan cinta padamu kala kamu sendiri tak menyadari keberadaanku?

Tapi akhirnya, hari ini pun tiba juga. Surat yang diungkapkan oleh perangkai kata ini pun membuka rahasia dari sebuah spasi di antara kata. Dan akhirnya aku pun punya kepercayaan diri untuk menyatakan cinta pada titik yang mengakhiri segalanya; pada titik yang selama ini tak pernah memperhatikan keberadaanku setelah dirinya muncul. Bahwa dengan ruang kosong di antara kata, dengan adanya aku di antara dirimu dan kata pertama di kalimat berikutnya…

Spasi tak kasatmata ini memberi arti untuk setiap kata yang ia pisahkan, karena rangkaian kata tak akan berdiri sendiri tanpa adanya ruang kosong di antara mereka.

Kuingatkan sekali lagi. Sebuah kisah balada, tak akan ada tanpa spasi. Jadi tolong, bisakah kamu sedikit saja peduli padaku?

Salam,
Dari ruang kosong yang selalu kamu abaikan

Tentang Mimpi dan Lomba #FF2in1 @nulisbuku bersama @tiket

Jadi, kita mulai dari mana isi posting ini?

Okay, karena takut posting yang harusnya hanya menceritakan event #FF2in1 berhadiah #TiketBaliGratis ini berakhir menjadi curcol gak jelas semata, aku bakal mulai dari sejak kapan aku mengenal @nulisbuku dan kegiatan mingguan mereka #FF2in1.

Aku menengenal @nulisbuku sebenarnya sudah sangat lama, tapi aku hanyalah follower diam yang tak pernah mengikuti setiap event mingguan yang diadakan oleh @nulisbuku. Alasannya kenapa selama ini aku menjadi followers diam itu sangat sederhana, karena malas, bingung dan gak pede. Secara nih ya, aku ini cuman anak bawang di dunia penulisan, gak ada yang mengenalku pun aku selalu membatasi diri dengan para penulis lainnya karena merasa kemampuanku masih gak setara dengan para penulis senior di dunia literasi dan per-blog-an.  Jadi aku jarang banget berinteraksi dekat dengan banyak penulis atau akun tulis-menulis di dunia maya, termasuk @nulisbuku.

Untuk pengikut blog-ku yang sudah lama. Pasti tahu betul, beberapa bulan bekangan ini sepanjang paruh kedua tahun 2014, banyak sekali aku mem-posting tulisan ‘galau’ tentang masa depan. maklumi saja, umurku baru 19 tahun, baru lulus SMA tahun lalu pun belum juga kuliah karena terbentur pilihan dengan Mama dan keluarga besar. Sepanjang paruh kedua 2014 hidupku benar-benar  mengalami banyak sekali bergejolakan dan pandanganku pada dunia literasi mulai kabur. Ada  momen di hidupku yang kadang membuatku berpikir Non, Ben, menulis gak bakalan menghidupimu. Menulis bukan jalanmu’ dan aku pun berakhir dengan bertanya-tanya dengan diriku sendiri:

Apa yang bisa aku lakukan selain menulis?

Baca lebih lanjut