[Surat Cinta #3] Dari Kobokan untuk Sendok Makan

image

Seumur-umur aku berada di rumah makan ini, aku tidak pernah bersisian di satu meja denganmu barang sekali pun. Setiap yang datang dan pergi selalu saja memilih, antara kau atau aku untuk digunakan, hingga kemungkinan untuk kita mendekatkan hati nyaris setipis udara.

Mereka bilang kasta kita berbeda, makanya kita tak pernah digunakan bersamaan. Mereka yang menggunakanmu adalah kaum pembersih yang tahu etika sementara mereka yang menggunakanku adalah kaum bar-bar yang tak tahu sopan santun. Aku tidak tahu dari mana asalnya teori konyol itu, mungkin ini ada hubungannya dengan negeri kita yang dulu sempat dijajah bangsa Kaukasoid dan Mongoloid, hingga ada kontras antara bangsawan dan  rakyat jelata.

Keadaan ini pun terus berlanjut, hari-hariku meradang diselimuti cinta yang mendambamu. Dan sampai detik aku menoreh surat ini pun, aku masih membenci konsep memuakkan itu karena  mendoktrin semua orang di muka bumi ini kalau kita tak pantas bersama pun seolah-olah mengatakan, kalau cintaku ini tak mungkin kesampaian.

Tapi ternyata, hari itu akhirnya tiba juga, saat seluruh teori tentang kasta kita yang berbeda terpatahkan dan semesta bekerjasama untuk menempatkan kita di satu meja yang sama.

“Biasa makan pakai tangan atau sendok?”

“Aku gak bisa makan pake tangan. Hehe.”

“Okelah. Uda! Minta kobokan sama sendoknya satu!”

Teriakan itu terdengar seperti kidung terindah ditelingaku, baru kali ini kudengar mereka meminta kita bersama. Dan saat kita diletakan bersisian di atas nampan kemudian diberikan pada sejoli yang memesan kita, aku tahu pasti kalau momen ini akan terus berlanjut di kemudian hari.

Dalam waktu sekejap meja itu lantas menjadi singgasana kita, jemari lentik yang memegangmu menunjukkan dengan sempurna keanggunan yang selama ini selalu kupuja-puji, sementara tangan kasar yang mengobok-obokku terasa kokoh juga tak peduli pada malu meski berseberangan dengan sosok yang katanya berkasta lebih tinggi darinya—membuatku turut percaya diri kalau tak ada yang salah dengan kerbersamaan kita di meja ini.

Aku tahu, kesamaan selalu menjadi momok dalam setiap hubungan. Hubungan tanpa kesamaan itu seperti menjalin cinta dengan makhluk dunia lain, pembicaraan selalu tidak ada yang nyambung maka hening pun menjadi pilihan saat kata-kata tak lagi bisa menyatu. Tapi entah kenapa, rasa ini begitu berbeda jika bersamamu.

Hening yang kita tukar di meja ini terasa tepat.

Aku tak perlu mendengar suaramu untuk tahu kalau kau pun membalas cinta ini, sama sepertiku tak yang perlu menjeritkan cinta secara gamblang karena kau pun tahu kalau aku selalu memujamu sejak dulu. Cinta ini sesederhana keheningan dan dalam keheningan kutulis surat ini. Hanya agar kautahu betapa aku bersyukur bisa bersamamu di sini, hanya agar kautahu bahwa aku mengutuk dunia yang memisahkan kita dalam kasta, hanya agar kautahu betapa aku mencintaimu.

Dan ketika cinta telah bicara dalam keheningan, semesta pun bersorak ramai merayakan misteri hati ini.

Salam,
Dari kobokan yang tak akan pernah sungkan mencintaimu

Iklan

8 thoughts on “[Surat Cinta #3] Dari Kobokan untuk Sendok Makan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s