[Surat Cinta #4] Dari Kacamata untuk Jendela

image

Tuk. Tuk. Tuk.

Itu bunyi yang keluar saat kita saling bersentuhan satu sama lain, meski tak membentuk rima nada atau maksud tertentu, aku menyukai suara statisnya yang menunjukkan keintiman kita. Tak terasa sudah lebih dari satu bulan pemilik mata kenari yang kubantu melihat dunia ini begitu gemar duduk di dekatmu dan menyandarkan kepalanya pada dinginnya kaca—membuat sudut tubuhku tanpa sengaja selalu tersantuk padamu.

Mulanya kehadiranmu di hidupku begitu mengganggu. Aku tidak terbiasa berada di posisi seperti ini karena aku selalu bisa melakukan segalanya sendiri tanpa ada yang menemani. Tapi kamu tak peduli dengan pendirianku, mengajakku bicara untuk pertama kalinya dengan menggunjing si pemilik mata ini.

‘Hei, apa yang terjadi padanya? Apa dia dicampakan?’

‘Tidak, lebih buruk dari itu. Cintanya ditolak.’

Sahutan ‘Oh’ panjang membalas ucapanku dan sedetik setelahnya rentetan pertanyaan lain meluncur deras dari mulutmu. Sekali lagi kuingatkan, kalau aku tidak terbiasa diintrogasi seperti itu, tapi kau selalu merecokiku hingga akhirnya aku menyerah dan mengumbar seluruh gunjingan yang aku tahu tentang kelaraan hati pemilikku.

Maka, semakin gundah pemilik mata berminus dua koma lima itu, semakin sering ia menyandarkan kepalanya pada jendela. Jika sudah begitu, aku barang tentu tak bisa menghindari untuk terus direcoki olehmu. Kisah-kisah kita yang bermula dari menggunjing, kemudian berlahan tapi pasti kini berubah menjadi tentangmu dan tentangku.

Tentangmu yang sangat menyukai hujan yang jatuh di kaca, tentangku yang membenci jika si pemilik mata mulai jarang bersih-bersih, tentangmu yang menyukai kisah-kisah mereka yang bergundah melankolis, tentangku yang lelah melihat dunianya yang tak pernah luput dari drama murahan. Pokoknya, tentangmu dan tentangku yang terus sahut menyahut dan entah kenapa terasa semakin intim pada tiap ketukan yang kita tukar di senja hari.

Aku tak bisa mendefinisikan hubungan yang bisa dibilang aneh ini. Kita bahkan tak bisa dibayangkan hidup bersama, tapi perasaan ini pun tubuh seiring berjalannya waktu. Rasa risihku sebelumnya kini telah bermetamorfosa menjadi getar-getar nyaman dan rasa mendamba untuk pulang kembali ke kamar kos sederhana itu untuk menemuimu. Aku bahkan berharap hujan terus datang, agar ia kembali gundah dan mengetukkan sudut bingkaiku di kacamu tanpa sengaja.

Ah, terkutuklah aku karena merasa bahagia saat ada hati yang lain merana, tapi dikutuk pun aku rela bila kita bisa terus seperti ini.

Harus kuakui, rasa bahagia ini memang ganjil, aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Sepanjang hari aku mengira-ngira kata apa yang tepat untuk menggambarkan rasa bahagia yang menyesakan ini. Tapi semakin kucoba semakin bingung aku dibuatnya, hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkan perasaan ini terus berlanjut dan berkembang ke arah yang aku sendiri pun tak mengerti.

Dan sekarang, saat rasa bahagia itu semakin membuatku tidak mengerti dan terus meledak-ledak laksana petir di luar sana, maka bersamaan dengan surat yang kutulis dikacamu yang berembun karena hujan, aku pun ingin membagi kebingungan ini.

Mungkin saja kau merasakan kebingungan yang sama dan kita pun bisa menyelesaikan masalah ini berdua agar di senja-senja berikutnya kita hanya membicarakan tentang kebahagiaan yang tak pernah surut ini. Tapi jikalau pun tidak, aku hanya ingin kau membantuku untuk menjawab pertanyaan ini agar aku tak berakhir sama seperti dia yang kini tengah merenungi hujan:

Apakah cinta yang telah diberikan dengan ikhlas harus mengharapkan balasan?

Salam,
Dari ketukan ringan di kacamu

Tuk. Tuk. Tuk.

Iklan

2 thoughts on “[Surat Cinta #4] Dari Kacamata untuk Jendela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s