#30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #5] Dari Lilin Ulang Tahun untuk Gramofon Tua

image

Halo, Sayang, apa kabar?

Tak terasa tahun ini aku sudah berangka 30 dan kamu masih saja terlihat sama di sudut ruangan itu—indah dan cantik meski berdebu. Sudah 30 tahun kita jalin hubungan tahunan ini. Dari kamu masih memutar piringan-piringan hitam milik Koes Plus setiap hari sampai kini hanya dibersihkan sesekali; dari bocah lelaki yang meniupku dengan liur di tahun pertamanya sampai kini beberapa tahun belakangan melupakan kehadiranku. Tapi tak mengapa, itu bukan masalah besar bagiku pun bagimu, karena tahun-tahun yang lalu masih saja terasa indah saat kita kenang sekarang.

Ingatkah kau, pada suatu tahun entah tahun keberapa, untuk pertama kalinya aku dibawa dalam genggaman seorang gadis remaja dengan rambut berkepang dua. Kue bolu berwarna cokelat yang kuhiasi itu terlihat sederhana tapi bocah lelaki yang sehari-hari menjarang biji kopi di dapur bapaknya itu tampak sangat gembira menerimanya. Matanya berbinar, semburat wajahnya menyilaukan. Mereka tiup aku bersamaan dan tawa pecah di udara. Setelah mereka memakan kue bolu itu, hari pun ditutup dengan detingan klasik yang diputar darimu.

Mereka berdansa asal-asalan di tengah ruang kedai yang sudah tutup, tersenyum dan tertawa bersamaan seolah-olah hanya ada mereka di dunia ini. Aku yang separuh meleleh pun diletakan sekenanya saja di atas piring, tapi suaramu yang indah selalu berhasil membuat jiwaku ikut menari bersamamu—tak kalah indah dengan mereka, tak kalah intim dengan mereka.

Ditahun berikutnya, aku masih dibawa oleh seorang gadis kepadanya—di atas kue enak berbagai rasa. Tapi gadis itu bukan gadis yang tahun lalu datang di tanggal yang sama, melainkan gadis yang berbeda dengan mata kuaci dan senyum manis. Anehnya, lelaki itu masih dapat menerima dan meniupku bersama dengan gadis itu dengan bahagia, tak berbeda dengan gadis di tahun lalu seolah-olah ia gadis yang sama. Untuk sesaat aku kebingungan, sedikit merasa prihatin dengannya yang sepertinya tak pernah awet menjalin hubungan, tidak seperti kita yang selalu setia meski tahun terus berganti dan segalanya berlahan-lahan berubah.

Ah, sekali lagi, Sayang, terima kasih untuk tahun-tahun luar biasa ini. Meski tahun demi tahun para gadis yang membawaku padanya kian menyurut, meski kadang dua tahun berlalu tanpa perjumpaan karena ia melupakan hari ulangtahunnya sendiri, meski waktu berlalu dan dunia berubah tanpa kita sadari, tapi sampai detik ini masih bisa kurasakan cintamu menggebu-gebu untukku tatkala kudengar lantunan perkusi Jazz keluar dari corong raksasamu.

Tahun ini aku benar-benar harus berterima kasih pada gadis baru—gadis berkacamata dengan raut polos itu—karena membawaku kepadanya untuk bertemu denganmu lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ada seorang gadis yang memberikanku padanya, biasanya lelaki itu akan sumringah senang jika mendapatkanku, tapi  kali ini raut wajahnya berbeda. Ada rasa tidak nyaman dan bersalah pada wajahnya, ada apa gerangan? Baru pertama kali kulihat ia seperti itu. Menerima dengan canggung kue yang ia dapatkan dan meniupku sendirian tanpa ditemani oleh gadis yang memberinya karena gadis itu langsung pergi saat diam-diam meletakanku di depan pintu kedai yang sudah tutup.

Sebenarnya, tahun-tahun belakangan ini aku tahu ia telah lelah menanti cinta dan segala senyum sumringahnya itu juga palsu karena ia berpikir siapa saja boleh memiliki momen ini. Jadi, apa yang membedakan gadis ini dengan gadis-gadis sebelumnya sampai-sampai tersenyum pun ia enggan?

Hingga kusadari, ada sebuah surat kecil yang terselip di sampingku dan aku terperangah saat menyadari kata-kata seperti apa yang tertera.

‘Perbedaan umur bukan alasan yang tepat untuk membunuh cintaku padamu. Selamat ulang tahun yang ke-30, semoga cinta yang menggebu ini sampai padamu.

P.S Aku tahu hari ulang tahunmu dari salah satu rekan kerjamu’

Ah, anak muda zaman sekarang, umurnya sudah 30 tahun tapi mentalnya masih saja remaja. Sayang, mari kita tinggalkan lelaki yang tengah merenungi pesan singkat itu sendirian di sudut kedai. Sekarang aku ingin menikmati pertemuan kita setelah sekian lama tak bersua dan meremajakan kembali cinta kita. Lantas, melalui surat yang terselipkan pada tarian nada dan sisa asap sumbuku di udara ini, untuk yang ketigapuluh kalinya dalam tiga puluh tahun ini, aku ingin mengingatkanmu kalau…

Aku mencintaimu di tahun ini juga di tahun-tahun yang akan datang. Selama aku masih menyala di tiap tahunnya dan kau masih akan ada di sana menantiku, cinta ini akan terus hidup.

Selamanya.

Salam,
Dari lilin yang tak pernah berhenti mencintaimu sepanjang tahun

Iklan

8 thoughts on “[Surat Cinta #5] Dari Lilin Ulang Tahun untuk Gramofon Tua”

      1. Maaf kak Ika. Saya kita nama panggilan kakak ‘Iit’ karena bio twitter kakak “Lebih bagus dari Hit” ternyata saya salah baca panggilan dan berasumsi sendiri. #kejang2

        Maaf banget. Semoga gak jera main di mari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s