[Surat Cinta #6] Dari Lonceng Pintu untuk Stiletto Merah Tujuh Senti

image

‘Apa yang telah pergi akan digantikan oleh mereka yang akan datang.’

Aku percaya akan kalimat itu saat derap gegas tungkai kaki yang mengenakanmu menghentak lantai kayu, berbalik, dan mengguncang pintu kedai kopi ini hingga aku berdetang sangat jelek.

KLING. KLANG. KLING.

‘Selamat tinggal, Sayang!’ seruku dalam detangku karena kutahu itu akan jadi saat terakhir aku dapat melihat kemolekanmu.

Aku masih ingat saat pertama kali kita bersua, rasanya aku nyaris tak bisa berdetang ketika kaki-kaki yang disemati olehmu itu melangkah masuk dan langsung menuju counter. Dan dengan begitu saja kau sudah mencuri hatiku tatkala pemilikmu berdiri sangat lama di sana sembari mengobrol dengan kekasih barunya yang seorang barista sekaligus pemilik kedai ini. Saat itu ia mengobrol sangat asyik, kaki-kakinya berjinjit, melompat sedikit, saling menyilang atau diam saja. Gerakan-gerakan itu membuatku tak dapat berhenti memperhatikanmu juga lekuk tumitmu yang ramping. Untunglah waktu itu hanya pemilikmu yang menjadi tamu kedai, jadi aku bisa puas melumatmu dengan mataku tanpa diganggu harus berdetang heboh karena ada orang lain yang masuk atau keluar dari tempat ini.

Aku juga masih ingat, mencintaimu untuk pertama kalinya memang sesederhana elegansi yang kau pancarkan kala itu; kau ada di jangkauan mataku dan aku pun jatuh cinta padamu. Mencintaimu untuk pertama kalinya pun mengajariku, bahwa kecantikan adalah awal dari hati yang mencinta dan memburu untuk mengenal, karena saat pertama kali kita bertemu, aku langsung tahu bahwa aku menginginkanmu.

Sungguh, pertemuan pertama kita benar-benar sesuatu yang kusyukuri dan akan selalu kusyukuri meskipun kini tak akan pernah lagi kudengar klotak magismu di lantai. Perjumpaan kita kala itu, jalinan cinta tanpa kata itu, serta langkah yang membawamu pergi itu, merupakan siklus paling indah yang akan terus kukenang sampai kapan pun. Karena apa? Karena kau berbeda, kau berbeda di mataku dari sepatu kebanyakan yang berderap di tempat ini, dan karena itulah aku jatuh cinta padamu.

Tapi, seperti kataku sebelumnya di awal surat ini: ‘Apa yang pergi akan digantikan oleh mereka yang datang’. Dan ketika kau pergi—melalui pintu dan tak kembali lagi untuk kucumbui dengan mataku—aku pun menunggu penggantimu dengan sabar. Karena meski kuserukan selamat tinggal kala itu, tapi hati ini tak pernah meninggalkan sosokmu. Cinta yang terlanjur ada sejak pertemuan pertama kita masih berbunga, belum meranggas dan mati, meski duri-duri bunga itu melukai hatiku tapi mendambamu seolah-olah menjadi santapan abadiku. Hari demi hari berlalu dengan harapan pemilikmu akan berubah pikiran dan ia kembali lagi ke kedai ini agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Tapi harapan hanyalah sekadar harapan, cinta ini pun layu dan menyisakan duka yang mendalam sampai suatu ketika sosok yang kutunggu itu datang juga.

Penggantimu.

Harus kuakui, ia tidak secantik dirimu pun sehebat engkau. Mencintainya pun tidak sesederhana aku mencintaimu yang dalam sekali lirikan mata. Aku mencintainya karena terbiasa dengan kehadirannya di hidupku. Ia datang ke kedai ini dengan cara yang aneh, pemiliknya mamadu padankan decit sol datarnya dengan rok bercorak bunga matahari yang menyilaukan. Hari pertamanya di kedai ini pun buruk sekali karena terkena cipratan kopi yang ditumpahan oleh si pemilik kedai. Tapi meski begitu, perlahan tapi pasti ia menggantikanmu di hatiku, dengan cara yang sama seperti kau menangkap hatiku. Dengan begitu elegan, begitu lembut; tidak terburu-buru pun membuatku bosan menunggu.

Pernah ia tak muncul selama sebulan penuh, entah karena apa, hatiku benar-benar merasa kehilangan dan ketakutan lebih dari saat aku kehilanganmu. Tapi, ketika ia datang lagi dengan segala kenyentrikannnya, aku pun merasakan duniaku utuh kembali. Hahaha, aneh memang, kau pasti mencibirku jika tahu seperti apa penggantimu di hatiku. Entah karena ia tidak secantik dirimu atau tidak seanggun kamu, tapi aku tidak begitu mempermasalahkannya karena aku mencintainya dengan cara yang berbeda denganmu.

Rasanya seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi.

Dan di penutup surat yang entah sampai padamu atau tidak karena aku tak tahu di mana kau kini berada. Aku hanya ingi mengucapkan terima kasih padamu, atas pertemuan pertama kita yang tak akan pernah kulupakan.

Kau sosok terbaik yang pernah singgah di hidupku.

Salam,
Dari detang lonceng masa lalumu

2 pemikiran pada “[Surat Cinta #6] Dari Lonceng Pintu untuk Stiletto Merah Tujuh Senti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s