#30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #7] Dari Tas Hitam Usang untuk Buku Merah Jambu

diary

Hanya ada tujuh benda yang selalu kubawa di dalam tubuhku; tiga di antaranya buku catatan tipis, satu laptop, dua t-shirt ganti, dan yang terakhir adalah satu set senar gitar cadangan. Barang-barang yang kubawa itu tak pernah bertambah pun berkurang, karena pada kenyataannya aku memang jarang-jarang dibuka olehnya—ia hanya akan membukaku jika terpaksa harus duduk kebosanan di kelas bimbingan belajar.

Hari-hariku selalu berjalan stagnan, bertempo datar seperti garis detak jantung orang mati. Sesekali aku menikmati alunan gitar akustiknya saat senja datang, tapi lama kelamaan kebosanan itu kembali menyergap dan hatiku pun turut mati bersama rutinitas. Kadang aku berharap kejutan datang pada hidupku, tapi semakin aku tenggelam dalam hari-hari yang membosankan semakin aku berhenti untuk berharap dan menikmati semua apa adanya. Hingga akhirnya kamu datang tanpa diundang dan merusak padahanan hidupku yang kukira tak mungkin lagi berubah.

Kau masuk ke dalam sekatku secara diam-diam, dan sepertinya tidak disengaja, karena kentara sekali ia tak menyadari kalau bawaan punggungnya kini bertambah satu, yaitu kamu—menyelip di antara t-shirt dan buku-buku catatan kucel lainnya—tampak sangat kontras dengan barang-barang lelaki yang ada di dalam sana.

Kamu tampak kaget saat menyadari dirimu tidak berada di tempat seharusnya kamu berada, aroma apak dan pengap di dalamku nyaris membuatmu terperenyak kisut seperti kertas sampah. Tapi kau coba bertahan, bersenandung kecil, atau bergumam tentang dongeng yang seseorang kisahkan padamu sembari menunggu pemilik tas ransel usang ini menyadari keberadaanmu.

Tapi tiga hari berlalu tanpa terasa dan kamu masih di dalam tanpa disadari. Mulanya aku risih dengan kehadiran benda asing yang berisik sepertimu, tapi entah kenapa hanya dalam tiga hari itu aku mulai menyadari kalau kehidupan yang membosankan telah memakanku bulat-bulat hingga aku melupakan caranya untuk bersenang-senang. Senandung kecilmu yang sumbang namun memikat serta dongeng-dongengmu tentang negeri nun jauh si sana selalu menemani malam-malamku. Hingga tepat ketika aku merasakan kalau kamu akan terus berada di dalamku selamanya, ia menemukanmu.

Ia mengeluarkanmu dan saat kau keluar, aku mulai merasakan sebagian diriku hilang. Saat hatiku dirundung duka karena menyadari kalau kau mungkin tidak akan kembali lagi, untuk pertama kalinya kulihat lembar demi lembarmu dibuka dan serbuan kunang-kunang dalam kata meluncur keluar. Ia terbelalak melihat isimu, begitu pun juga aku yang tak menyangka bisa menemukan kumpulan kata yang terangkai syahdu di senja itu.

Kini jelas sudah dari mana asalnya senandung juga dongeng-dongeng itu, seseorang memang mengisahkannya padamu dan menorehkannya di sana. Matanya bergerak meniliki setiap inci kata yang ada dan beberapa detik kemudian kudengar ia bergumam takjub.

‘Akan kutemukan siapa pemilikmu.’

Oh, ia akan mengembalikanmu!

Hatiku mencelus. Pupus sudah harapanku untuk memilikimu di dalamku selamanya. Tapi ketika ia meraih gitar dan mulai memainkan rentetan kunci demi mencari nada yang pas, baru kusadari maksudnya menemukan pemilikmu bukan hanya untuk mengembalikanmu, ia pun akan memberikan nada pada kata-kata yang ia temukan di dalammu.

Aku terkekeh senang, khayalanku terbang pada momen indah ketika kau ada di senja itu dan ia akan memainkan gitarnya untuk menghidupkan baris-baris kata di dalammu. Senandung sumbang dan dongengmu berubah mendayu dan aku sangat menikmatinya.

Maka, esok hari ketika kau berpindah tangan kembali pada wanita yang mendongengkan kisah-kisah itu padamu. Aku pun bersorak senang tatkala ia mengangguk saat ditawari untuk terus bertemu dan membicarakan kata-kata serta nada-nada yang melebur.

Karena hal itu menandakan kalau cintaku ini akan terus berlanjut serta kebosanan akan hilang dari hidupku dan melalui surat yang kuselipkan pada senja, aku ingin berterima kasih telah masuk ke dalamku tanpa sengaja. Karena ketika kau masuk dan mendongengkan kata-kata itu, aku tahu hidupku tak sama lagi.

Salam,
Dari tas hitam usang yang mencintai dongengmu

Iklan

2 thoughts on “[Surat Cinta #7] Dari Tas Hitam Usang untuk Buku Merah Jambu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s