[Surat Cinta #8] Dari Gitar Akustik untuk Lampu Sorot

akusticna-gitara

Ehemm… baiklah, kita mulai dari mana surat ini?

Well, daripada merangkai kata, kamu barang tentu tahu aku lebih senang melantunkan nada untuk memberitahumu betapa aku mencintai caramu menyinari hidupku. Tapi hari ini ada yang berbeda, tidak hanya bagiku, melainkan juga bagi jemari kapal yang memetikku di panggung ini. Sudah ribuah senja yang kami lalui bersama sebagai tim berbidah—menantang dunia yang tak pernah menghargai kami ini—dan baru sekarang kami merasakan dunia terasa jauh lebih baik jika kami mau melihatnya dengan cara yang berbeda.

Uh, aku tahu kamu mulai tidak sabaran jadi baiklah, singkat saja. Seminggu yang lalu kami menemukan harta karun. Meski harta itu tidak akan membuat kami kaya mendadak, aku merasa harta itu jauh lebih berharga dari emas mana pun di dunia ini karena ia berbentuk kata-kata.

Yeah, hanya kata-kata, Darling.

Tapi kata-kata itu cukup kuat untuk mengguncang kepala kami hingga nyaris terpental akibat gempuran emosi. Untung saja menemukan siapa pemilik kata-kata itu tidaklah sulit, karena satu-satunya kemungkinan kata-kata itu terselip masuk ke dalam tas hitam busuk itu adalah di ruang bimbel yang saban minggu ia ikuti karena tuntutan masyarakat.

Pada Perangkai Kata itu ia meminta izin agar kami bisa menggauli nada-nada untuk melengkapi kata-katanya, sedikit mengemis karena kami memang memerlukannya untuk saat ini, dan untunglah di ujung pembicaraan Perangkai Kata berpakain nyentrik berwarna bentrok itu mengangguk. Matanya langsung berbinar karena anggukan itu, begitu pula aku karena sudah tidak sabar untuk menggaungkan kata-kata indah itu untukmu.

Untukmu yang selalu setia menyoroti dan menyemangatiku di setiap pertunjukkan.

Dan sekarang seperti kataku tadi, aku memang tak pandai berkata-kata, jadi dengarkan sajalah nada-nada yang kukirimkan hanya untukmu ini.

This story begin with

You drove me up and down among the stars

Filled my heart with a bunch of various lights

But sometimes you let my hand go

In order to told me how fall tasted in the tip of my tongue

 

I can see you smile when I smile

I can see you smile when I scream

Neither way, you are just happy to see me

Oh, Darling

It’s not easy to love you

Because…

 

If my life were a book

I’ll let you pour a ton of words into me

From head to toe, it’s all yours

My life would shine but sometimes crumbles

But when this book completes

There would be happy ending

 

There is another story, begin with

You wrapped your hands around me in the middle of the night

And softly whispered that you will never let me go

But suddenly you disappear, made me scared to the death

Before I heard your voice told me to be brave of the dark

 

I can see you smile when I smile

I can see you smile when I scream

Neither way, you are just happy to see me

Oh, Darling

It’s not easy to love you

Because…

 

If my life were a book

I’ll let you pour a ton of words into me

From head to toe, it’s all yours

My life would shine but sometimes crumbles

But when this book completes

There would be happy ending

 

Oh Darling, I believe in you

There would be happy ending

For us

Salam,

Dari nada-nada di ujung senja


A/N

The song’s title is A Book, written by me

Maaf kalau ada Grammar yang error 😄

2 pemikiran pada “[Surat Cinta #8] Dari Gitar Akustik untuk Lampu Sorot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s