[Surat Cinta #9] Dari Jarum Pendek untuk Angka Tujuh

image

Dalam satu hari aku bergeser 86.400 kali dan pada detik ke 25.700 kita bertemu untuk pertama kalinya. Kedai kopi ini baru saja dibuka kunci pintunya, kursi-kursi pun belum juga diturunkan. Mestinya tak ada yang spesial pada waktu ini, mestinya kulalui kamu seperti halnya angka-angka lainnya dengan gerakan bosan dan berat. Tapi sejak perusuh itu datang, selalu tepat waktu, ketika jarum pendekku menjorok kepadamu. Aku pun jadi tak bisa mengabaikanmu.

Sungguh, aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu spesial?

Ia menerobos masuk seperti pencuri. Melangkah terburu-buru menuju pemilik yang tengah menjarang biji kopi dan tanpa tendeng aling-aling memesan segelas Americano take away. Sungguh, apa gadis itu buta? Tidakkah ia melihat tulisan ‘TUTUP’ di depan pintu?

Aku menggerutu. Kamu tertawa.

Dan itu menjadi interaksi pertama kita. Setiap hari. Membuatku kembali tak bisa mengabaikanmu.

Setelah pertemuan pertama, jarumku berkeliling lagi. Kadang aku iri pada saudaraku yang dapat berjumpa denganmu setiap jam meski hanya sekejap. Tapi entah mengapa aku selalu menikmati penantian sepanjang hari sampai nanti bertemu denganmu untuk kedua kalinya.

Detik ke 68.400, kita berjumpa lagi, bertukar pendapat tentang hari ini dan kembali bergunjing tentang gadis perusuh yang datang lagi setelah petang usai. Ia duduk di kursinya yang biasanya, memesan kopi yang sama seperti tadi pagi dan duduk membuka buku pelajarannya. Belajar di sana sampai aku berada tiga angka lebih tinggi darimu, dan seseorang memberitahunya kalau kedai akan tutup.

Meski aku kesal, barang tentu aku harus berterima kasih dengan gadis perusuh itu, karena tanpa kebiasaan anehnya aku mungkin tak menyadari betapa spesialnya dirimu.

Ya, kamu spesial.

Dari seluruh waktu yang terbagi dalam 24 jam, angkamu menunjukkan keseimbangan. Tidak terlalu pagi untuk memulai hari pun tidak terlalu malam untuk bersantai di petang hari. Angkamu menandai dimulainya keramaian, interaksi yang tertukar, dan cengkrama ringan tentang kehidupan. Hanya saat aku bergeser padamu, seluruh kegiatan itu dapat dilakukan. Aku tidak bisa melakukan apa yang kulakukan bersamamu dengan angka-angka lain yang mengelilingiku, karena kamu memang berbeda.

Yah, mungkin inilah cara semesta bekerja. Ketika aku mendamba kebahagiaan di tempat lain, ternyata kebahagiaan itu justru berada sangat dekat denganku. Kutemui setiap hari, berbicara denganku setiap hari, dan membuatku merasa nyaman tiap hari.

Maka, bersamaan dengan surat yang kutulis di jarak antara angka-angka yang memisahkan kita ini. Kukatakan padamu, angka tujuhku yang manis, terima kasih untuk selalu ada untukku, memberiku waktu untuk bercengkrama santai dan mengenalkanku pada dunia yang lebih baik.

Kamu telah mengajariku bagaimana caranya untuk mencintai.

Salam,
Jarum pendek penggerutumu

Iklan

2 thoughts on “[Surat Cinta #9] Dari Jarum Pendek untuk Angka Tujuh

    1. Halo Kak Ika, Maaf sekali saya jarang bisa langsung balas komentar-komentar kakak, sampai menumpuk begini. Hehe. Tapi saya selalu baca komentar kakak kok, gak pernah luput satu pun! *peluk*

      Semoga surat-surat saya bisa menggugah ya Kak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s