#30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #11] Dari Angin Malam untuk Abu Rokok

images (2)

Kasihku,

Jangan pernah berpikir, kalau kehadiranmu hanyalah sebagai sepah semesta yang hanya ada untuk terbuang di pelipir jalan lalu hilang ditelan malam. Jangan pernah berpikir, kalau kumparan putih-hitam tubuhmu hanyalah lambang dari lara dunia yang tak semestinya ada. Sekali lagi, Kasihku, tolong jangan pernah berpikir kalau kamu tidak berharga karena pada kenyataannya masih ada yang akan memujamu penuh seluruh, yaitu…

Aku.

Aku yang selalu menikmati aroma tembakau bercampur remah biji kopi pada tubuhmu, aku yang setiap malam setia menemanimu kala jemari itu mencocol tubuhmu pada pagar beranda flat murahan itu, aku yang akan setia mengingatkanmu untuk terus percaya bahwa apa pun yang ada di dunia ini itu berharga, termasuk dirimu.

Kasihku,

Malam ini kumelihat putung-putung Marlboro-mu begitu banyak disulut dan kau pun berceceran ke mana-mana lebih dari biasanya. Hatiku prihatin pada pria yang menyesap asap candumu kuat-kuat, sedikit bertanya-tanya apa yang membuatnya terlihat begitu depresi malam ini, karena matanya terlihat memerah meski air tak jua leleh, bibirnya gemetar seolah-olah membisikan permohonan terakhir pada maut, dan napasnya patus-putus bahkan kadang terbatuk ringkih akibat menelan terlalu banyak asap dan udara bersamaan.

Apakah ia sedang patah hati?

‘Demi Tuhan, Angin! Apa yang ia alami bahkan lebih menyedihkan dari sekadar patah hati! Ia mencintai seorang gadis, tapi ia tak berani memilikinya. Dan hari ini, ia melihat gadis itu bersama pria lain!’

Itu yang kau katakan tadi saat aku menanyakan hal itu. Alih-alih merasa prihati, kau justru terlihat jengkel dengan kenyataan itu, tapi kalimatmu selanjutnya malah membuat hatiku mencelus ketimbang mendengar kisah menyedihkan pria itu.

‘Ia benar-benar tidak berguna, sama sepertiku. Maka dari itu ia selalu menjadikan batang-batang rokok sebagai pelarian dari rasa sakitnya. Sunguh tidak berguna.’

Oh! Harus berapa banyak lagi kukatakan padamu kalau kamu itu berarti. Kamu itu berarti bagiku! Dengarkanlah desauanku, deburan tubuhku yang menerpamu di udara dan mengajakmu menari bersama di tengah-tengah malam berbintang sampai bulan pun iri melihat kita dan tak kuasa bersinar begitu terang agar ia tak dapat melihat kisah romasa ini.

Aku sudah tak bisa menghitung lagi berapa banyak puja-puji yang kugulung bersama dinginnya malam dan kusematkan padamu agar setidaknya kamu merasa lebih baik. Sudah pula kuajak kamu terbang mengitari tempat-tempat yang dulu hanya dapat kau khayalkan agar kau tahu ada dunia indah di luar sana yang dapat kamu nikmati daripada meruntuk diri. Sekarang apa lagi? Menulis surat untukmu di atas daun-daun yang gugur?

Yah, inilah yang kulakukan, Kakasihku. Menulis surat untukmu.

Ketahuilah, aku akan melalukan apapun demi dirimu—dari yang masuk akal hingga abnormal seperti ini. Hanya demi kamu yang tiap malam mengubar aroma tembakau serta kopi di udara dan merasukiku dengan perasaan lembut yang menggoda. Kamu bahkan tak perlu berusaha lebih untuk mengambil hatiku, karena kamu hanya perlu ada dan aku akan senang tiasa berada di sisimu.

Percayalah ini, Kasih, percayalah dengan kata-kata yang kutoreh ini. Kuingin menghapus laramu, resah hatimu, rasa bimbang dan mengubah caramu memandang dunia ini agar kau tahu, ada satu hal yang pasti juga tak akan pernah berubah sampai kapan pun.

Aku mencintaimu.

Sesederhana itu.

Salam Sayang,

Angin lembutmu

Iklan

1 thought on “[Surat Cinta #11] Dari Angin Malam untuk Abu Rokok”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s