Diposkan pada #30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #13] Dari Gadis Pemimpi Untuk Wanita Pengantar Kata-Kata

Ini surat pribadi pertama yang saya tulis untuk event #30HariMenulisSuratCinta, dan saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa karena hal ini membuat saya merasa sedikit canggung. Jadi, maafkanlah jika saya menyampaikan hal ini dengan sedikit bertele-tele dan berlebihan, karena dada ini cukup berdebar ketika menulisnya.

Pertama-tama, Kak Ika, terima kasih atas seluruh kata yang telah Kakak bagi pada saya. Komentar-komentar kakak yang penuh semangat adalah salah satu alasan yang membuat saya begitu bersemangat untuk menulis surat tahun ini. Saya tidak pernah menemui Pengantar Kata-Kata yang secara suka rela membaca seluruh surat, mengomentari kisah-kisah yang tertuang di dalamnya satu per satu, dan menyebarluaskannya di akun Twitter dengan membubuhkan bisikan kecil di sana.

Saya tidak tahu apa yang memberi Kakak kekuatan untuk melakukannya, kadang malam yang tua pun tak menghalangi Kakak untuk melakukan hal itu selama sepuluh hari terakhir ini. Apakah Kakak begitu mencintai pekerjaan mengantar kata-kata? Saya rasa jawabannya iya, karena hati ini merasakan kata ‘tulus’ itu tertoreh di setiap kata-kata Kakak yang saya baca.

Oh ya, Kak, ingatkah Kakak tentang insiden salah-sebut-nama tempo hari? Demi Tuhan, Kak, saya benar-benar tidak bermaksud melukai hati Kakak. Tapi saya benar-benar tidak tahu. Saya baru mengenal Kakak tak genap seminggu dan saya ragu apakah kakak dipanggil sama seperti username Twitter Kakak atau tidak. Sampai saya melihat nama ‘Iit’—yang belakangan ini baru saya ketahui adalah nama Pengantar Kata-Kata yang lain—berseleweran di timeline Twitter Kakak dan akhirnya saya menduga kalau itu nama Kakak. Hahaha, so freaking hilarious… mengingatnya lagi membuat saya malu dan merasa bersalah. Sempat terlintas di benak saya untuk berhenti mengikuti event ini, tapi ketika keesokan harinya Kakak kembali mengomentari surat saya dengan semangat yang tak luntur, saya tahu, kalau saya harus menuntaskan kisah-kisah ini demi Kakak.

Ya, demi Kakak.

Saya tidak tahu apa Kakak menikmati surat-surat berantai yang saya tulis, pun tidak tahu apa Kakak benar-benar menyukainya atau tidak. Tapi keyakinan kalau Kakak akan terus membaca surat-surat saya dan mengikutinya entah karena kewajiban atau suka rela, hal itu saja sudah cukup membuat saya bersemangat menuntaskan surat-surat ini.

Tapi dua hari yang lalu kakak menghilang, saya begitu sedih pun bingung, apa yang terjadi pada Kakak? Kakak tak pernah seterlambat ini membaca surat saya dan kemarin barulah saya ketahui bahwa memang terjadi sesuatu  pada kakak.
Kakak bilang ada musibah yang terjadi tanpa menjelaskan apa gerangan musibah itu, tapi apa pun musibah itu saya tahu hal itu memerlukan perhatian yang sangat fokus dari Kakak. Dan dengan cutinya Kakak mengantar surat-surat saya, saya pun mulai merasa kesepian. Surat-surat yang ingin saya tulis terasa hampa, karena tidak tahu apakah Kakak masih mau membacanya ketika musibah itu berakhir  atau tidak. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk menyelesaikan ini semua, saya akan melakukannya sampa akhir dan masih dengan alasan yang sama…

Demi Kakak.

Maka, bersamaan dengan surat ini, saya pun menghaturkan doa untuk keselamatan Kakak. Semoga musibah itu berlalu dan pelangi mengiringi langkah Kakak esok hari. Semoga senyum dan semangat Kakak dalam mengumbar kata tak akan pernah luntur. Semoga surat ini membuat Kakak merasa lebih baik untuk menghadapi kehidupan.

Dan ingatlah Kak, pandanglah ke sekitar Kakak, benda-benda mati yang selama ini hanya bisa diam seribu bahasa. Mereka pun sesungguhnya mencinta, ada kisah-kisah yang menanti untuk diungkapkan dari diri mereka; ada pula kata-kata yang ingin mereka sampaikan pada dunia. Tapi mereka mati, mereka hanya bisa menanti seseorang untuk mengungkapkannya dan menyampaikan suara mereka, dan di sinilah saya ada, untuk mebuat Kakak mengerti dan menyadari. Meskipun Kakak menangis sendirian di kamar dan tak ada seorang pun yang menemani Kakak, masih akan banyak cinta dari benda-benda di sekeliling Kakak yang pastinya membantu kakak merasa lebih baik.

They stand by you and so do I.

Salam, 
Gadis Pemimpi

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

2 tanggapan untuk “[Surat Cinta #13] Dari Gadis Pemimpi Untuk Wanita Pengantar Kata-Kata

    1. Sama-sama Kak, saya yang justru merasa kehilangan. Waktu tahu kabar itu dan pas besoknya event I Stand You, saya akhirnya punya seseorang yang bisa saya tulisi surat. Waktu gak ada komentar Kakak yang mampir di blog saya, saya ngecekin blog dan TL Kakak sampai berkali-kali 😄 Kayak gak yakin kalau Kakak melupakan saya. Hahaha.

      Terima kasih ya Kak, saya bakal lebih rajin lagi menulis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s