[Surat Cinta #14] Dari Selimut untuk Peti Kayu

Aku hanyalah benda yang dilupakan. Berdebu di dalammu.

Menyedihkan.

Aku sudah tak ingat kapan terakhir kali aku melihat cahaya dan keluar dari dalammu. Rasanya sudah berabad-abad yang lalu. Hingga keadaan yang semula menyakitkan perlahan-lahan terhapus menjadi rasa menyerah.

Pasrah.

Aku kini berteman debu di dalammu. Kamu  bilang maaf padaku, karena tak bisa memberiku tempat yang layak. Kuingin marah padamu saat itu, tapi tatkala kulihat wajahmu murung penuh ketulusan. Kudapati hati ini mencelus dan kuterima dirimu apa adanya.

Dulu, di luar sana, aku selalu dipakai oleh seorang pria yang aroma tubuhnya seperti campuran antara tembakau dan biji kopi. Ia dulu tidur di kedai ini saat belum sanggup memiliki sebuah flat murahan tak jauh dari sini. Dan saat ia mampu membelinya, aku kira aku pun akan diboyong bersamanya, tapi ternyata aku ditinggalkan. Tersimpan di dalammu.

‘Mungkin ia tidak meninggalkanmu, ia hanya menyimpanmu untuk saat-sat genting.’

Kamu menghiburku kala itu, mencoba membuat rasa percaya diriku kembali bangkit. Tapi aku hanya mendengus tak percaya, karena aku tahu itu hanya omong kosong belaka. Sampai hari ini tiba, dan kusadari kalau kata-katamu bukanlah dusta.

Tutupmu terbuka, cahaya menyilaukan merengsek masuk ke dalammu. Kulihat wajah familiar itu terjorok ke dalam dan tangannya meraihku yg masih terlipat rapi meski berdebu. Bisa kurasakan kamu tersenyum di belakangku dan aku hanya bisa terpaku.

Ia mengebaskan tubuhku ke udara, mencoba menyingkirkan debu yang ada. Sudah lama sekali rasanya aku menghirup aroma khas tubuh pria itu. Aku cukup merindukannya karena rasanya begitu unik. Kemudian, aku di bawa menuju ruangan kedai yang rasanya tidak banyak berubah dan sesaat setelahnya ia pun meletakanku di bahu seoranh gadis yanh tengah terlelap tidur dengan separuh badan bertumpu pada meja.

Kulihat ia tersenyum, begitu tipis tapi tulus. Lalu menusap rambut gadis itu lembut sebelum akhirnya ia duduk di bangku yang tepat berada di depan gadis itu dan memandanginya seolah-olah ingin mencium pipi merona ini dengan matanya.

Di momen ini aku langsung teringat padamu. Padamu yang tak pernah menyerah untuk mengatakan kalau aku tidak dibuang tapi simpan, meski aku tak pernah mau percaua. Dan akhirnya kini aku tahu, kalau aku memang di simpan dan digunakan untuk momen indah ini.

Terima kasih untuk semangatmu. Aku tak sabar untuk kembali padamu dan memandangmu dengan cara yang berbeda.

Salam,
Kain usang berdebu yang suka mengeluh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s