[Surat Cinta #15] Dari Pintu Pagar untuk Vespa Antik

Percayalah pada cinta pandangan pertama, Cantik.

Percayalah, karena hanya dalam waktu singkat kamu menjadi sesuatu yang kurindukan sepanjang hari. Percayalah pada cinta pandangan pertama, karena begitulah caraku mencintaimu.

Malam ini aku kaku seperti biasa, diam seperti biasa, dan merenung seperti biasa. Aku tidak pernah merasa bosan dengan kehidupanku, aku cukup menikmatinya karena memperhatikan mereka yang datang dan pergi di rumah kos ini sesuatu yang indah—menurutku.

Sekali waktu ada seorang mahasiswa yang datang ke rumah kos ini hanya bermodalkan sandal jepit, lalu pergi mengenakan toga sebelum akhirnya ia kembali lagi ke tempat ini mengendarai sebuah mobil bersama keluarganya saat lebaran untuk bersilahturahmi.

Ada lagi kisah tentang seorang sales bank, ia suka sekali menggerutu tentang pekerjaannya, sesekali menendangi besi-besiku karena kesal dengan apa yang terjadi padanya hari itu. Saat ia masuk dandanannya cukup necis, tapi ketika ia keluar ia hanya membawa satu tas dan baju melekat di badan karena tak sanggup lagi membayar sewa.

Beberapa bulan yang lalu ada dua orang sahabat yang menyewa kamar yang sama. Mereka sangat dekat hingga suatu hari mereka pun bertengkar hanya karena seorang pria playboy-sok-ganteng yang ternyata memacari mereka berdua. Salah satu dari mereka meninggalkan rumah ini sembari mengutuk mantan sahabatnya itu di depanku.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang kulihat di keseharianku, rasanya begitu lucu—ada yang indah ada pula yang menyedihkan. Aku melihat kedatangan dan kepergian mereka seperti menonton kisah yang tak pernah habis. Dan belakangan ini aku sedang meniti kisah dari seorang gadis berpakaian aneh yang emosinya labil sekali.

Ia datang ke rumah kos ini sendirian, membawa dua tas dan satu bantal berbentuk hati yang warna merah mudanya telah kusam karena dicuci ribuan kali. Kali waktu ia pulang dengan senyum begitu lebar, membuka dan menutupku sambil sedikit menari juga bersenandung. Tapi kali berikutnya ia berlalu dengan wajah murung, ia bahkan menangis di depanku sambil berjongkok karena tak sanggup melangkahkan kakinya. Kemurungannya berlangsung sebulan lamanya, hingga suatu ketika ia keluar dari kamarnya sembari membawa sebuah kue dan matanya menyorotkan keteguhan hati.

Sejak saat itu sorot teguh itu tak pernah pudar, ia pergi dan pulang kembari ke rumah kos ini selalu tepat waktu seolah-olah ia menjadi orang yang sama setiap harinya—jam setengah tujuh ia berlalu pergi melewatiku dan ia akan kembali pulang saat malam separuh tinggi pada pukul setengah sepuluh. Begitu terus hingga malam ini kusadari ia terlambat.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, mungkin saja ia menginap di tempat temannya, mungkin saja ada sesuatu menabraknya di jalan. Entahlah, aku tidak tahu. Hingga tepat saat pikiranku sudah berspekulasi puluhan kali tentang skenario terburuk, deru suara asingmu memecah keheningan malam. Dari kejauhan aku mengintip ada kilat-kilat warna biru-merah yang dipantulkan cahaya lampu jalanan. Semakin dekat sosokmu kulihat semakin jelas kudengar deru mengudara. Hingga saat kulihat kamu terparkir tepat di depanku, aku tahu aku telah melihat ciptaan terbaik yang pernah Tuhan buat melalui tangan manusia.

Kau begitu indah.

Aku tak pernah melihat bentuk kendaraan sepertimu sebelumnya sejak aku menjadi bagian dari rumah kos ini—kamu terlihat elegan, tenang, dan unik. Mungkin tak ada yang mau mengendaraimu karena kamu terkesan sangat tua, tapi bagiku keantikanmu membuatku benar-benar terpana. Aku bakan sampai tak menghiraukan kalau gadis aneh yang kupikirkan tadi adalah penumpang di jok belakangmu, dan pemilikmu—seorang pria yang sama anehnya—mengantarkan gadis itu sampai di depanku.

Sebelum gadis itu melewatiku, mereka membicarakan sesuatu seperti taruhan; tentang gadis itu yang akan menempuh ujian masuk perguruan tinggi dan bila ia berhasil maka pria itu harus mau berkencan dengannya. Yah, sesuatu seperti itu, tapi entahlah, aku tidak begitu peduli, aku hanya memperhatikanmu yang terlihat luar biasa di depanku. Aku hanya berharap mereka berbicara lebih lama lagi agar aku bisa memperhatikanmu penuh seluruh. Tapi akhirnya pembicaraan aneh itu pun berakhir dengan kecupan manis di pipi pria itu, dan gadis itu langsung berlari masuk dengan wajah memerah.

Pemilikmu terpaku, menutup wajahnya yang sama merahnya dengan gadis itu untuk menyembunyikan rasa malunya—entah dari siapa karena toh ia hanya sendirian—dengan satu tangannya. Sampai akhirnya ia pun berbalik, menunggangimu lagi dan memutar tubuhmu untuk pergi. Hatiku langsung menjeritkan derita saat pemilikmu menyeret roda-rodamu menjauh dan akhirnya, aku hanya bisa terpaku diam sembari mengenangmu dalam surat yang kuterbangkan di udara bersama asap kenalpotmu yang menderu sayup-sayup ini.

Sekarang aku tak perlu lagi memperhatikan kisah mereka yang lalu lalang di depanku, karena denganmu, aku punya kisah untuk diriku sendiri.

Salam,
Dari paggar hijau yang menantimu datang kembali

Iklan

2 thoughts on “[Surat Cinta #15] Dari Pintu Pagar untuk Vespa Antik

    1. Terima kasih Kak, semoga bisa tetap unik untuk beberapa hari ke depan ya karena sepertinya saya mulai run out ide meski plot besarnya udah rapi di kepala. Hahaha.

      Selamat hari kasih sayang juga kak, semoga cinta terus melindungi hari-hari Kakak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s