[#ILoveMom] Cerita Tentang Mama

IMG_20150214_092747[1]

Jangan kira aku akan menggambarkan Mamaku dengan sesuatu yang indah-indah dan penuh metafora cantik. Haha, tidak, Mama-ku tidak sama dengan Mama mereka yang selalu digambarkan seperti malaikat yang jelita—penuh murah hati, selalu tersenyum dan mengayomi.

Mamaku hanya manusia biasa.

Mamaku adalah wanita yang banyak pikiran, karena itu Mama suka sekali makan. Makanan membantunya menghilangkan stres, makanan membuatnya merasa sedikit bahagia. Makanya, jangan heran jika berat badan Mamaku bisa membuat jarum timbangan menarik diri ke kanan secara maksimal. Akibatnya, sering kali Mama mengeluhkan pakaiannya yang sesak dan tak jarang harus mengeluarkan gocek lebih dalam untuk membuat baju baru. Kadang, kalau Mama sudah masa bodoh dengan pakaiannya, ia tetap akan mengenakan pakaian yang kekecilan itu hingga lemak-lemaknya bertonjolan kemana-mana. Membuatku agak malu jika harus bersanding dengannya. Sigh…

Selain wanita yang banyak pikiran, mama suka menggerutu. Ia selalu menggerutu tentang banyak hal,  terutama tentang anak-anaknya; tentang aku yang kerjanya hanya di depan layar laptop, tentang adikku yang suka sekali minta uang, tentang aku yang malas belajar, tentang adikku yang kecanduan DotA, tentang aku tak pernah mendengarkannya, tentang adikku yang jarang menelponnya, yah semuanya… semua tentang anak-anaknya yang tak pernah mempedulikannya.

Gerutuannya kadang memicuku untuk balas menggerutu, lalu aksi saling gerutu itu berubah dengan teriakan dan bantingan pintu kamar. Kalau sudah begitu aku pasti akan memasang muka paling masam dan memberi punggungku pada Mama selama berhari-hari—tak mau berada di ruangan yang sama dengannya bahkan ketika kami berada di rumah berdua saja.

Well, anak perempuan mana yang tak pernah bertengkar dengan Mamanya?

Aku percaya semua anak perempuan pernah merasakannya. Atau mungkin hanya aku dan Mama saja yang aneh sendiri? Entahlah, aku tidak pernah tahu kebenaran di balik kisah-kisah di dalam novel itu. Tapi yang jelas, aku jarang sekali berakrab ria dengan Mama. Asal tahu saja, bintang mama Cancer dan aku Capricorn, golongan darah mama O sementara aku A, aku lahir di Minggu Legi sementara Mama lahir di Kamis Pahing. Di bagian mana aku cocok dengan Mama?

Setiap kami bicara tentang suatu hal, yang keluar hanya kalimat-kalimat bermakna ganda yang kemudian memicu pertengkaran. Mama tak pernah bisa memahamiku, begitu juga aku. Menelaah isi pikiran Mama sama saja seperti mencoba mengerjakan Jigsaw Puzzle level tertinggi—sangat mustahil bagiku, apa lagi aku tidak pernah suka permainan memakan waktu seperti itu.

Dan satu hal lagi, Mama selalu bilang padaku kalau ia tak pernah mencoba mengatur masa depanku. Yeah, she never, tapi ia juga tak pernah mendukung pilihanku. Seperti halnya setengah tahun yang lalu ketika aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah selepas SMA selama satu tahun untuk mendalami bakat menulisku. Ia memang marah besar dengan keputusan penuh risiko itu—uh, yeah, berisiko pada wajahnya yang malu pada tetangga karena anaknya tidak kuliah—tapi, pada akhirnya ia pun membiarkanku melakukan apa yang kumau meski tak satu patah kata pun ia melontarkan kata dukungan padaku. Rasanya bahkan lebih menyakitkan daripada ditentang dengan keras; rasanya seperti sampah yang disimpan tapi tak berguna, dibuang pun sayang. Dan sekali lagi, perkara ini membuat hatiku kembali terluka karena Mama.

Memang, ada sesuatu yang janggal antara hubunganku dengan Mama. Kenapa kami tak pernah bisa saling melengkapi satu sama lain? Kenapa kami tak bisa memiliki hubungan normal seperti orangtua dan anak yang sering kulihat di serial TV lawas Keluarga Cemara?

Kenapa?

Aku terus bertanya-tanya, hatiku gusar dibuat oleh seluruh pertanyaan itu. Sampai pada akhirnya, sebuah kompetisi menulis bertajuk #ILoveMom menyadarkanku, kalau sesuatu yang aneh pada hubunganku dan Mama itu adalah…

Kami tidak pernah mencoba untuk saling memahami.

Pada mulanya aku tidak ingin mengikuti kompetisi ini. Kompetisi bertema melankolis seperti ini selalu kuhindari karena aku tidak tahu apa yang harus kutulis tentang Mama. Tapi entah kenapa, dorongan hatiku begitu kuat untuk ikut serta dan menulis  cerita tentang Mama yang satu ini. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah menghindari seluruh pergumulan tentang hubunganku dan Mama, mungkin juga karena aku sendiri hanya ingin mecoba, yang jelas, aku mengikutinya dengan serius.

Sebelum mulai menulis, aku merenung selama berjam-jam. Kukurung diri di kamar sembari memandang foto kecilku yang tengah digendong oleh Mama di dinding. Tapi merenung begitu tak membuahkan hasil sama sekali, yang kuingat malah hanya sejarah jelekku tentang Mama. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mulai menulis saja dan membiarkan tulisanku bermanifestasi sesuai kehendak-Nya.

Aku memilih untuk menulis cerpen—bukan surat yang bagiku terkesan menggelikan, bukan juga flash fiction yang tak mungkin mengakomodir cerita tentang Mamaku yang sedikit rumit. Kubuka cerpenku dengan kalimat kasar dan disusul dengan paragraf-paragraf tentang ketidaksempurnaan Mama serta hubungan kami yang rumit. Ketika aku menuliskan bagian-bagian itu, satu per satu luka itu terkuak kembali, air mataku nyaris leleh tapi terus kutahan sampai seluruh unek-unek yang kupendam selama ini keluar. Dan ketika aku selesai menuliskan bagian itu, secara ajaib luka-luka yang memborok itu seperti menemukan obatnya untuk sembuh.

Kata-kata berikutnya meluncur dengan tenang dan damai, seolah-olah bukan diriku yang menulis itu tapi sisi lain dari jawaku yang selama ini selalu berusaha untuk mengerti tentang kondisi Mamalah yang mengambil alih.

Aku pun sadar, Mama memang wanita yang banyak pikiran, tapi Mama begitu karena ia adalah orangtua tunggal bagi dua orang anak. Ia harus bekerja, banting tulang sorang diri dengan tubuh gempalnya sementara di lain sisi ia bertanggung jawab untuk perkembangan mental anak-anaknya.

Mama memang pekerja serabutan, ia tak punya pekerjaan tetap selain berdagang perkakas pertanian. Barang tentu pekerjaan itu tidaklah cukup untuk membiayai sekolah anak-anaknya setinggi-tingginya. Maka ia menerima tawaran menjadi dosen honorer di sebuah perguruan tinggi kelas dua dan menggunakan ijazah S1-nya yang sempat tidak terpakai karena terlalu sibuk berdagang. Tapi ia masih tak puas dengan hanya menambah satu pekerjaan saja, maka Mama pun mencoba mencari  peruntungan dan relasi  di dunia politik. Dengan kesupelan serta keuletannnya, ia berhasil menjadi orang kepercayaan di dunia kotor itu meski cukup menguras drama dan menjadi target-target fitnah. Ya, seluruh pekerjaan itu Mama lakukan secara bersamaan, dan barang tentu semua itulah penyebab Mama menjadi stres lalu memilih makanan untuk melampiaskan kemumetannya.

Lalu, aku pun mulai mengerti, kenapa mama suka sekali menggerutu dan mengeluh tentangku dan adikku. Ia begitu hanya karena ia kesepian. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar anak-anaknya yang selalu sibuk dengan dunia sendiri mau memberinya perhatian. Ia tak lagi memiliki suami, tak lagi memiliki seseorang untuknya berbagi keluh kesah. Hanya anak-anaknya lah yang ia harapkan untuk mau mendengarnya. Tapi ironisnya, kami berdua terlalu tak acuh, merasa tak punya kewajiban untuk mengerti Mama dan Mamalah yang harus mengerti kami. Maka ia pun mulai menggerutu, mencoba mencari perhatian, berharap dengan menggerutu kami sadar kalau ia perlu kawan berbicara.

Padahal, aku tidak buta, acapkali di tengah malam kulihat Mama menangis sembari  memeluk foto Papa. Mencoba berbicara dengan belahan jiwanya yang dua tahun lalu menyerah dengan penyakit ginjal, meski tak ada balasan yang nyata. Tiap kali aku melihat pemandangan itu, aku hanya mendengus dan menganggap Mama terlalu berlebihan dan cengeng. Tapi ketika aku memikirkannya lagi, aku mulai merasa bersalah dan menyadari kalau itu adalah titik kala Mama telah benar-benar merasa seorang diri di dunia ini.

Tidak hanya sampai di situ, menulis cerpen untuk lomba itu pun membuatku tersadar akan satu hal penting lainnya. Mama memang tak pernah mengatur hidupku pun tak pernah mendukung pilihanku, tapi bukan karena ia tidak perduli, melainkan karena ia tak tahu. Ia tidak tahu kenapa aku suka menulis, ia tidak tahu kenapa aku memutuskan untuk menggelutinya, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk mendukung mimpiku. Ia tidak tahu, karena aku tak pernah memberitahunya. Sesederhana itu.

Memangnya kapan aku pernah bercerita tentang harapan-harapan serta cita-citaku kepada Mama? Memangnya kapan aku pernah memberikan alasan-alasanku padanya? Memangnya kapan aku membiarkan Mama untuk mendukungku?

Tidak pernah.

Aku selalu berharap Mamalah yang datang padaku untuk menanyakan hal itu, tapi bagaimana ia bisa bertanya bila tiap kali ia mencoba mendekatiku yang sedang menulis aku selalu mengusirnya keluar kamar?

Astaga. Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa bersalah. Tumpah ruah air mataku ketika mengetik bagian akhir itu. Aku tidak tahu apa yang kutulis, tapi apa pun itu, aku percaya tulisan itu membuat perasaanku naik turun seperti roller coster. Sampai akhirnya, kututup cerpen itu dengan sebuah paragraf yang kupikir menjadi inti dari seluruh tulisanku…

‘Mamaku memang tidak seperti Mama mereka. Mamaku bisa melakukan kesalahan pun merasa menderita. Ia tidak pernah menyembunyikan gerutunya, ia tak pernah menjadi kawan berdamai bagiku. Tapi ia tetaplah Mamaku dan akan tetap menjadi Mamaku. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah mencoba untuk membuka hati juga pikiranku, lalu berusaha untuk mengerti Mama serta segala alasan yang ia sembunyikan dari tindakan-tindakannya, karena Mamaku bukanlah Malaikat yang jelita…

Mamaku hanyalah manusia biasa yang bertindak pun  bersifat seperti manusia kebanyakan, dan aku akan tetap mencintainya apa pun yang terjadi. Ia adalah Mamaku.’

Fin.

 


Cerpen ini diikutsertakan dalam ‘Event Hari Cinta Untuk Ibu’ yang diselenggarakan oleh @Bukune dan @BukuBerkaki #ILoveMom

Iklan

One thought on “[#ILoveMom] Cerita Tentang Mama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s