#30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #18] Dari Setangkai Bunga Mawar untuk Krikil di Ujung Jalan

tumblr_m9f3k8JTP31rvcpvy

Kasih, mereka selalu memperingatkanku kalau aku akan mati jika aku menciummu, tapi jika mencium bibirmu ternyata rasanya seindah ini. Aku tidak peduli.

Ada masa dalam hidupku ketika aku diletakan sejajar dengan bunga-bunga indah lainnya—Anyelir, tulip, matahari, dan sebagainya. Mereka bilang, mereka begitu iri denganku, karena aku selalu menjadi bunga paling menarik bagi para pujangga yang sedang kasmaran. Warna merah darahku melambangkan hati mereka yang sedianya di serahkan pada pujaan mereka, dengan memberikanku, mereka percaya kalau cinta mereka akan tampak tulus dan indah.

Tapi entah mengapa, aku tak pernah merasa seperti itu. Tiap kali aku pergi dan diberikan pada gadis-gadis pujaan mereka, aku akan diterima dengan suka cita lalu diletakan di vas-vas indah yang selaras denganku, namun setelah itu, mereka akan meninggalkanku sampai nanti aku layu dan jatuh di tempat sampah. Rasanya menyakitkan ketika keindahanku hanya dipandang sesaat.

Aku ingin melihat dunia dengan cara yang berbeda dari yang biasanya aku lakukan. Aku ingin melakukan sesuatu yang lain dari hanya sekadar bunga yang terpajang yang indahnya hanya sekejap. Aku ingin indahnya diriku bisa dipuja dengan tulus.

Sampai suatu ketika, kumendengar desas-desus tentang kerikil di ujung kalan yang terkutuk. Kawanan bunga lainnya bilang banyak bunga telah mati di sana karena menciummu dan mereka jadi ketakutan jika suatu hari nanti mereka harus mengalami hal yang sama. Kian hari kian santerlah kabar itu di kalangan kami, ada beberapa bunga yang menjadi takut untuk dipilih oleh para pujangga—kalau-kalau mereka berakhir diujung jalan itu dan menciummu—hingga akhirnya meredupkan kelopaknya dan layu lebih cepat.

Namun, lain denganku. Mendengar kabar seram tentangmu itu justru membuatku tersadar kalau inilah pertanda dari Tuhan atas doa-doaku. Maka, kukibarkanlah tubuhku semakin indah agar menonjol lebih hebat tiap kali ada pujangga yang mencari bunga, kupilah-pilah wajah pujangga yang paling terlihat berbinar karena biasanya yang berbinar ialah yang paling merana nantinya. Dan akhirnya, seorang pujangga cinta yang manggul gitar di bahunya memilihku.

Ketika ia membawaku pergi, sepanjang jalan aku berdoa di dalam hati kalau pujangga ini akan berakhir sengsara atau membatalkan niatnya untuk menyerahkanku. Jadi, ia akan melemparkanku di ujung jalan itu agar aku bisa mencumbu mesra dirimu yang mereka bilang beracun itu. Ya, doaku ini kejam sekali, tapi kurasa hanya Tuhan yang tahu bagaimana caranya menjawab setiap doa yang dihaturkan padanya.

Senja mulai turun ke peraduannya, jingga temara datang mengecup ujung barat mayapada. Seorang gadis berpakaian aneh menunggu pria itu di sebuah bangku taman yang berhadapan langsung dengan sebuah kolam. Mereka bertemu, saling mengucap sapa, dan akhirnya pantulan indah pesona mega di atas permukaan kolam itu seolah menjadi saksi bisu kata-kata cinta yang kaku tapi tulus terlontar di sana.

Gadis itu terkejut, mata kenarinya mengerjap berkali-kali dan menatapku yang terulur padanya penuh kebingungan. Senyum pujangga itu tak luntur, ia terlalu kasmaran untuk melihat bagaimana mata yang mengerjap itu menyimpan kepedihan padanya. Perlahan gadis itu menggenggam tangannya yang menggenggamku erat, lalu mendorongku serta tangannnya mendekat ke dada yang berdebar menanti jawaban itu.

‘Maaf.’

Dan cukup dengan satu kata itu, aku tahu doaku dikabulkan.

Kasih, ketika senja luruh dan malam mulai mengambil alih semesta. Pujangga itu lunglai menyeret langkah menuju ujung jalan—tempatmu berada. Bisa kudengar desauan napasnya yang naik turun, begitu lambat dan kontras dengan napasku yang memburu karena tak sabar untuk menemuimu. Dan ketika tangan yang menggenggamku menjatuhkan tubuh ini ke tanah, selama sepersekian detik mengambang di udara dan akhirnya terhempas di atas tubuhmu. Saat itulah aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara.

Akhirnya kutemukan kamu, kerikil beracun yang mereka bilang bilang bisa membunuhku jika menciumnya. Maka, tanpa tendeng aling-aling, tanpa peduli pada air mata yang menetes dan isak tangis patah hati yang menggema di heningnya malam. Kuciumi kamu dengan segenap jiwa ragaku selayaknya inilah ciuman pertama dan terakhir dalam hidupku.

Bisa kurasakan kamu terkejut, bibirmu terasa kaku dan keras. Mungkin aku bunga pertama yang dengan suka rela memagut bibir denganmu, tapi barang tentu aku bukan bunga pertama yang kamu cumbui. Jadi tak perlu menunggu lebih lama kurasakan tubuhmu balas merangkuhku dalam hening, dan tanpa kata-kata yang tertukar di antara kita, leburlah tubuh dan jiwa ini menjadi satu.

Kasih, biarlah surat ini tertulis di bibirku dan kusampaian dalam desah juga leguh. Agar kamu tahu sudah begitu lama kunanti detik ini hadir dalam hidupku karena hanya kamulah satu-satunya yang menginginkanku penuh seluruh hingga tetes terakhir. Meskipun aku harus menukar kenikmatan ini dengan nyawaku.

Aku rela.

Salam,

Dari bunga mawar yang haus akan cinta

Iklan

2 thoughts on “[Surat Cinta #18] Dari Setangkai Bunga Mawar untuk Krikil di Ujung Jalan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s