Diposkan pada Event Menulis

I Believe in You

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Tanpa perlu diangkat pun aku tahu, kalau itu nomormu, Ran. You are such an annoying girl, bukankah sudah kubilang tinggalkan aku sendiri?

Bukannya aku tidak menginginkanmu, bukan juga karena aku marah padamu. Kamu sahabat terbaik yang pernah aku punya dan itu saja sudah lebih dari cukup. Tak usahlah kamu tahu segala tetek bengek hidupku yang menyedihkan ini dan membuatmu kepikiran setengah mati, tak usah pula kamu  mendengar tangisanku yang isinya hanya urusan tak penting ini dan membuatmu merasa bertanggung jawab untuk membantuku merasa lebih baik. Tak usah kamu tahu, Ran, biar kutelan saja sendiri daripada membuatmu pening.

Bagiku, asal tahu hidupmu baik-baik saja sudah membuatku merasa senang luar biasa. Kamu tak perlu berbuat lebih; just be happy, be shine, be my best friend. Memilikimu yang selalu bercerita padaku tentang hidupmu, memilikimu yang selalu mengandalkanku saat sedih, memilikimu yang selalu  ceria di depanku saat ada hal baik terjadi  adalah keberutungan tersendiri buatku.

Aku benar-benar beruntung bertemu denganmu di hidupku karena aku tidak pernah mendapatkan perasaan-perasaan itu—merasa dibutuhkan, diandalkan, dan menjadi orang yang pantas dibagi rasa bahagia—dari orang lain selain dirimu.

Dan… oh, Bebsy, jangan pernah menyalahkan masa laluku; jangan menyalahkan orang-orang yang mem-bully-ku sampai bermental seperti ini dan jangan menyalakan aku juga karena tak pernah menceritakan kejadian itu padamu. Pulau Jawa dan Kalimantan jaraknya bukan sejengkal tangan, Laut Jawa memisahkan kita, dan membuatmu kerepotan dari jarak sejauh itu barang tentu bukan keputusan yang tepat. Aku ingin jadi gadis kuat untukmu, aku ingin jadi sahabat yang kaupercaya untuk seluruh masalahmu, dan menurutku, mengisahkan kalau aku berada di posisi sangat buruk hanya akan membuatmu meragukan seluruh rahasiamu padaku.

Non, aku tak menginginkan itu. Biar kuhadapi itu sendiri, biar kuhadapi mereka dengan tanganku sendiri. Dan nanti, jika aku bisa melaluinya sendiri, aku akan mengisahkan hal itu padamu dari A sampai Z tanpa kurang sesuatu apa pun. Tapi ketahuilah, Ran, berbuat begini bukan maksudku untuk congkak, bukan juga karena ingin membuatmu terkesima. Aku hanya ingin kamu tidak mengkhawatirkanku,  karena membuatmu khawatir adalah satu-satunya hal yang paling tidak aku inginkan dalam hidupku.

Kembali denganmu yang menelponku sepuluh jam lalu dan kondisiku sekarang yang tak ubahnya mayat hidup. Sebenarnya aku merasa sedikit bersalah karena berbuat sejauh ini padamu, menolak kehadiranmu disaat seharusnya kita bertemu dan melepas rindu. Tapi mau bagaimana lagi? Dengan kondisi seperti ini, aku tidak punya kepercayaan diri untuk bertemu denganmu.

Kamu tahu, Ran? Aku tak pernah mempercayakan rahasia-rahasiaku pada orang lain selain diriku sendiri. Selama enam tahun kita hidup di dunia yang berbeda, orang-orang di sekitarku yang sudah masuk ke dalam daftar sahabat pun tak pernah kukisahkan barang secuil pun. Ketika mereka melihatku dan mendengar kisahku, mereka hanya melihat tutup yang terbuka tapi tak pernah bisa melihat isinya yang dalam. Tak pernah kubiarkan tangan-tangan mereka meraih isiku atau barang mencecapnya sedikit, karena aku tahu, rahasia-rahasia hatiku begitu membosankan—penuh drama murahan anak pra dewasa yang terlambat akil balik. Barang tentu kisah seperti itu sangatlah tidak menarik. Barang tentu kisah-kisah itu hanya akan menjadi beban bagi pendengarnya atau malah bahan cibiran di dalam hati mereka.

Untuk itu, aku tak bisa mempercayakan rahasia-rahasia  itu pada orang lain, termasuk sahabatku sendiri dan terutama kamu, Ran—My Bestie, My Bebsy, My Beloved Best Friend.

Jadi, mengurung diri dan mencoba menghadapi semua masalahku sendiri adalah pilihanku sekarang ini. Beri aku waktu untuk menemukan sendiri jalan keluar dari masalahku, beri aku waktu untuk menyelesaikannya sendiri, dan sekali lagi, ketika semuanya selesai barulah akan kuceritakan seluruhnya padamu.

Kulirik jam dinding di kamarku dan mendapati waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih dua puluh menit. Aku terpekur sejenak, sudah nyaris satu hari penuh aku mengurung diri di kamar dan tak juga keluar. Orang-orang rusuh merayakan natal di luar sana sementara aku merana di dalam sini, tak berniat sedikit pun menikmati perayaan besar tahunan ini. Mama sudah memarahiku puluhan kali karena tak keluar dari kamar dan membantu membereskan perkakas dapur, pun menyapa kawan-kawannya yang ingin melihatku.

Tapi apa sih yang menariknya dariku? Gadis tamatan SMA yang tidak kuliah serta pengangguran ini bahkan kisah hidupnya tak lebih menarik dari sekresek kacang—well, setidaknya kacang bisa dimakan, sementara aku tidak.

Jadi kuputuskan kembali meringkuk di dalam selimut dan menyalakan handphone-ku yang sedari tadi kumatikan sejak kamu meneleponku sepuluh jam yang lalu.

Drrttt… drrrtt… drrtt…

Uh ho, gelombang sms, Line, dan BBM masuk tanpa henti, aku tahu tanpa perlu melihat semuanya darimu. Isinya pun sudah pasti ditebak, menanyakan kenapa aku tidak ingin bertemu dengamu dan kenapa aku selalu menghindarimu. Kita hanya bisa bertemu saat liburan seperti ini, tapi di saat seperti ini pun aku menjadi manusia keras kepala, kamu pasti tidak habis pikir kenapa sahabatmu ini bisa menjadi orang yang seperti ini.

Hahaha, aku hanya bisa tertawa getir di dalam hati, seharusnya tidak begini, Ran… tapi ini lebih baik dari pada kamu semakin repot bila bertemu dengaku dalam kondisi seperti ini.

‘Rum, kamu anggap aku apa sih? Apa aku ini cuman teman masa kecilmu? Apa aku ini cuman sekadar teman buatmu? Sudah jutaan kali aku bilang ke kamu kalau aku sahabatan sama kamu gak pernah mengharapkan apa pun. Aku tulus sama kamu. Jadi, please, jangan begini terus. Kamu bisa cerita semuanya ke aku.’

Kubaca pesan terakhir darimu sambil tersenyum patah. Aku bahagia kamu peduli padaku, tapi aku masih merasa tidak pantas mendapatkan kepedulian sebesar itu dari orang sepertimu. Kamu terlalu baik, dan aku tak tahu bagaimana caranya membalasmu jika kamu terlalu baik seperti ini.

Aku matikan kembali handphone-ku, berencana untuk kembali tidur selama dua puluh empat jam ke depan kalau perlu sampai tahun baru tiba. Aku masih belum bisa memecahkan masalahku dan apa yang harus aku lakukan dengan perkara hidup juga hatiku, mungkin saja tidur bisa membuatku bermimpi tentang sebuah pencerahan…

“Tante! Arum-nya ada di rumah kah!?”

Apa!?

Aku terlonjak dan kembali bangkit dari tidurku. Kudengar suaramu menggelegar dari ruang tamu—oh yeah, kamu selalu menganggap rumahku seperti rumahmu sendiri—dan langkah kakimu yang menghentak di lantai kayu mendekati Mama yang sedang beberes rumah selepas perayaan.

“Eh, Rani, masuk aja tuh ke kamarnya. Arum gak mau keluar dari kemarin. Bujukin suruh bantu-bantu Tante beresin rumah.” Suara mama membalas pertanyaanmu dan tanpa ba-bi-bu lagi kudengar pintuku terbuka tanpa diketuk.

Sial, aku terlalu terpaku sampai lupa mengunci pintu.

“Aruuuum!! Aku masuk yaaaa!”

Mata bulatmu menatapku yang masih terduduk diam di atas kasur, mendapati kehadiranmu seperti jelangkung yang tak pernah kuundang pun tak mungkin kuantar pulang karena ini sudah malam.

Jeez… What the hell are you doing here and seeing me in misery?

“Aruuuummm! Aku kangeeeen!”

Tak mengindahkan ekspresiku yang amburadul, kamu langsung meloncat ke atas kasur dan memelukku begitu erat. Aku nyaris lupa kamu begitu kekanak-kanakan seperti ini, tapi yah, ini sisi dari dirimu yang paling aku sukai karena menjagamu yang begini seperti punya anak sendiri, hahaha.

Akhirnya, karena sadar tak bisa mengelak lebih lama lagi, aku pun balas memelukmu erat dan tersenyum. “Aku juga kangen, Bebsy…” kataku setengah mengerang.

“Kamu tuh ya!” setelah kangen-kangenan, sekejap kemudian kamu mulai memulai sesi introgasi. “Kenapa gak angkat teleponku? Kenapa gak balas sms, Line, sama BBM-ku? Kenapa kamu mengurung diri kayak mayat hidup gini, hah? Kenapa gak cerita-cerita sama aku?”

Kamu merenggangkan pelukanmu, menatapku lekat-lekat sembari mencoba mencari kejujuran di mata sahabatmu ini. Sementara aku balas menatapmu dengan sorot mata pasrah, mahfum kalau ini jalan buntu bagiku.

Sejauh mana pun aku berlari, kamu selalu menemukan jalan untuk mengejar dan menangkapku.

“Ceritanya panjang, Ran…” aku tersenyum getir dan matamu menyalak marah.

“Cerita aja! Ceritain aja semuanya! Kamu kira aku bakal senang kamu sembunyiin semua sendiri , heh? Belagak kuat, belagak hebat, belagak bisa sendiri? Dengan kamu diam begini aku merasa dikhianati, tahu?!”

Kamu mendengus marah, melipat kedua tanganmu di depan dada. Belum tuntas rasa jengkelmu padaku, tapi aku tahu suaramu tak lagi meninggi.

“Percaya sama aku, Rum…” tanganmu akhirnya terulur, menggenggam tanganku. “Percaya sama aku kalau aku gak bakal ninggalin kamu sendirian kayak begini. Aku sahabatmu ‘kan?”

Hatiku mencelus, itu pertanyaan yang selama ini selalu kucoba jawab namun tak pernah bisa kutemukan jawabannya. Pertanyaan yang terus menghantuiku tiap kali aku jatuh, terpuruk, dan merasa sangat sendirian karena tak seorang pun yang mau mengajakku bicara.

Apa kamu sahabatku, Ran?

Air mataku meluap, tumpah ruah ke pipiku. Kutatap matamu dengan wajah penuh air mata. Kutemukan lagi wajah sahabat kecil yang berkawan denganku tanpa malu juga pamrih—meski diri ini begitu buruk rupa—pada dirimu yang kini balas menatapku. Dan detik berikutnya, satu-satunya hal yang kutahu hanyalah kulemparkan tubuhku sekali lagi untuk memelukmu sambil terus berkata gagu dalam air mata menjawab pertanyaan itu.

“I-iya… iya, Ran… kamu… sahabatku.”

Fin.

 

“Kudedikasikan cerpen ini untuk sahabat terbaik sepanjang masaku, Yesberani Aditriana S. Semoga cinta selalu membahagiakanmu, semoga cinta selalu melindungimu, dan semoga cinta selalu memberi penghiburan ketika aku tak ada di sampingmu. Aku sayang kamu, Ran, selalu dan selamanya. Sampai kapan pun.”

P.S:

See you in two days! *smoooochh* :*

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

2 tanggapan untuk “I Believe in You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s