[Surat Cinta #19] Dari Blouse Biru untuk Cermin

Aku malu.

Aku malu karena hanya aku satu-satunya baju yang tampak normal di antara pakaiannya.

Di lemari kecil itu, bergantung banyak sekali pakaian aneh dengan corak yang tidak biasa–ada jumpsuit merah muda dengan bordir beruang besar di perutnya, ada terusan kuning selutut berbahan jatuh yang biasanya bersanding dengan legging bunga warna-warni, ada jins belel yang panjangnya tanggung, ada sweater abu-merah yang sangat kebesaran, ada celana pendek gobor bercorak kotak-kotak, lalu ada juga rok bercorak bunga matahari yang punya bekas tumpahan kopi di atasnya.

Di antara seluruh pakaian itu, hanya aku yang biasa saja, normal, dan tidak menarik perhatian. Blouse biru laut tanpa lengan; polos dan tanpa embel-embel lainnya. Yah, pada kenyataannya aku memang tak sama dengan pakaian-pakain lainnya, karena aku bukanlah baju yang dipilih olehnya sendiri, melainkan pemberian dari seorang sahabat yang ‘prihatin’ dengan gaya berbusana nyentrik gadis itu.

Maka dari itu, tak sekalipun ia sudi mengenakanku yang biasa ini. Rok bercorak bunga matahari yang punya bekas tumpahan kopi itu saja masih dipakainya sering-sering, sementara aku dilesakkannya begitu dalam di bawah lemari sampai tak terlihat.

Tapi tiba-tiba saja, tanpa peringatan yang jelas, suatu hari tangan ramping gadis itu mengacak-acak isi lemari untuk mencariku. Kudengar ia bergumam ‘blouse biru membosankan-blouse biru membosankan’ berulang kali sampai akhirnya ia menemukanku, menarikku, dan membawaku keluar dari lemari.

Ia bersorak saat menemukanku. Lalu sesegera mungkin mencuciku, menjemurku di jendela sambil mengeringkanku dengan hairdryer, lalu menyetrikaku baik-baik. Dan saat aku telah bergantung rapi, ia lalu memadupadankan aku dengan tubuhnya di depanmu.

Langsung saja aku berdebar hebat, gugup sekali. Sampai hati aku tak pernah terbayang akan berdiri di depanmu sejak aku berpindah tangan pada gadis itu. Barang tentu aku terlihat sangat biasa dibandingkan dengan pakaian yang selama ini terpatut di depanmu; barang tentu aku tidak akan membuatmu terkesima dengan pantulan diriku. Tapi sapaan pertamamu padaku langsung meluluh lantakan seluruh prangsaka buruk tentang diriku sendiri…

‘Hai, Biru, bolehkah aku mengenalmu? Kamu tampak indah dibandingkan pakaian lain yang kulihat sebelum ini.’

Aku terdiam, bersemu.

Indah?

Aku yang biasa ini tampak indah?

Aku tak percaya. Sulit untuk percaya. Tapi ketika gadis itu selesai mematutku di depanmu, dan menggantungku begitu hati-hari di tembok yang berada tepat di depanmu sembari berkata: ‘Aku pasti akan berkencan dengan mengenakanmu, Blouse biru membosankan! Doakan aku agar berhasil dalam ujian nanti!’

Barulah aku percaya kalau aku mungkin memang tampak membosankan dibandingkan dengan pakaian-pakaian lain di lemari itu, tapi justru karena itu aku jadi berbeda di matamu.

Terima kasih, Cerminku yang menawan, melihat diriku sendiri di depanmu membuatku sadar kalau aku tidaklah semenyedihkan itu.

Salam,
Blouse biru membosankan yang ingin dipakai untuk berkencan

Iklan

2 thoughts on “[Surat Cinta #19] Dari Blouse Biru untuk Cermin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s