#30HariMenulisSuratCinta, Event Menulis

[Surat Cinta #20] Dari Soda untuk Air Mineral

Tolong jangan tersinggung dengan suratku ini. Tapi sejak awal mengenalmu aku sudah tidak menyukai gelagat sok sucimu.

Iya, sok suci.

Mereka bilang kamu lebih sehat, labih baik, dan lebih berguna ketimbang aku. Tapi bagiku, kamu justru tak lebih dari sekadar minuman membosankan rasa hambar dan itu buruk sekali.

Maka dari itu, aku tak mengerti kenapa kita harus diletakan sejajar di etalase minuman ini?

Setiap hari telingaku panas mendengar para ibu memuji-muji dirimu serta mencaciku yang tak sehat bagi anak-anak mereka. Tapi aku pun tak bisa memungkiri kalau aku juga senang karena ternyata anak-anak mereka lebih suka meminumku ketimbang kamu. Rasanya seperti menampar mereka tepat diwajah saat anak-anak mereka merengek untuk menyediakan berkaleng-kaleng soda di rumah.

Tapi tetap saja, bersisian denganmu membuatku sangat tidak nyaman. Aku tidak suka. Ini menjengkelkan. Benar-benar bencana.

Aku frustasi melihat senyummu yang tak pernah luntur, meski kukasari dan kucaci dirimu. Aku benci ketika kamu terkekeh pada ada anak kecil yang lebih senang meminumku ketimbang dirimu. Aku gerah dengan gelagat belagak sucimu itu karena apa pun yang aku lakukan, aku tak pernah berhasil membuatmu balas mencibir.

Hingga pada suatu hari. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan gitar di punggungnya berdiri di depan kita berdua dan menatap kita bergantian. Tampak sekali ia kebingungan antara memilihku atau kamu, sebentar ia mengambilmu tapi sesaat kemudian ia mengembalikanmu dan melirikku ragu. Ia melihat-lihat minuman lain, seperti jus, atau sari kacang hijau, tapi akhirnya ia kembali lagi dan di akhir prilaku aneh itu ia pun mengambil kita berdua bersamaan lalu membayar di kasir.

Ia menggenggamku di tangan kiri sementara kamu di tangan kanan. Lalu setengah berlari menyeberang jalan menuju gedung bimbingan belajar yang ada di depan supermarket. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melewati pintu gedung itu; seolah-olah tengah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi sesuatu yang besar, lalu melangkah masuk dengan lebih mantap menuju seorang gadis yang tengah sibuk berkutat dengan buku-buku pelajaranya.

Gadis itu mulanya tidak menyadari seseorang di depannya sampai akhirnya laki-laki itu meletakan kita di atas meja secara bersamaan.

‘Aku gak tahu kamu sukanya yang mana, jadi aku beli dua-duanya.’

Gadis itu mendongak, terkejut, tapi kemudian tersenyum.

‘Kita masih berteman kan meski kamu menolak cintaku?’tanya laki-laki itu lagi sementara senyum gadis itu tak jua luntur sembari membuka tutupmu begitu juga kunci kalengku.

‘Aku suka dua-duanya kok, makasih ya.’

Dan kala itu, untuk pertama kalinya ada orang yang meminum kita bergantian seolah-olah isi perutnya tidak terganggu dengan itu.

Kamu tertawa, sementara aku masih tak habis pikir. Hingga beberapa saat kemudian baru kusadari, ini bukan tentang siapa yang lebih dipilih oleh siapa. Tapi tentang menikmati setiap momen dengan senyuman.

Yah, meski begitu, aku masih tidak menyukaimu yang membosankan, tapi tidak aku memang harus berterima kasih padamu karena kamu telah mengajariku hal baru.

Salam,
Dari soda (belum) gembira

Iklan

4 thoughts on “[Surat Cinta #20] Dari Soda untuk Air Mineral”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s