Tentang Mimpi dan Lomba #FF2in1 @nulisbuku bersama @tiket

Jadi, kita mulai dari mana isi posting ini?

Okay, karena takut posting yang harusnya hanya menceritakan event #FF2in1 berhadiah #TiketBaliGratis ini berakhir menjadi curcol gak jelas semata, aku bakal mulai dari sejak kapan aku mengenal @nulisbuku dan kegiatan mingguan mereka #FF2in1.

Aku menengenal @nulisbuku sebenarnya sudah sangat lama, tapi aku hanyalah follower diam yang tak pernah mengikuti setiap event mingguan yang diadakan oleh @nulisbuku. Alasannya kenapa selama ini aku menjadi followers diam itu sangat sederhana, karena malas, bingung dan gak pede. Secara nih ya, aku ini cuman anak bawang di dunia penulisan, gak ada yang mengenalku pun aku selalu membatasi diri dengan para penulis lainnya karena merasa kemampuanku masih gak setara dengan para penulis senior di dunia literasi dan per-blog-an.  Jadi aku jarang banget berinteraksi dekat dengan banyak penulis atau akun tulis-menulis di dunia maya, termasuk @nulisbuku.

Untuk pengikut blog-ku yang sudah lama. Pasti tahu betul, beberapa bulan bekangan ini sepanjang paruh kedua tahun 2014, banyak sekali aku mem-posting tulisan ‘galau’ tentang masa depan. maklumi saja, umurku baru 19 tahun, baru lulus SMA tahun lalu pun belum juga kuliah karena terbentur pilihan dengan Mama dan keluarga besar. Sepanjang paruh kedua 2014 hidupku benar-benar  mengalami banyak sekali bergejolakan dan pandanganku pada dunia literasi mulai kabur. Ada  momen di hidupku yang kadang membuatku berpikir Non, Ben, menulis gak bakalan menghidupimu. Menulis bukan jalanmu’ dan aku pun berakhir dengan bertanya-tanya dengan diriku sendiri:

Apa yang bisa aku lakukan selain menulis?

Mengenal dunia penulisan tidak pernah mudah buatku, tapi satu-satunya bakat yang kupunya dan kutahu pasti adalah anugrah Tuhan sebagai sarana untuk berkarya hanyalah menulis. Bagiku, hanya dengan menulis aku bisa menginspirasi pun berbagi kisah juga pemikiran yang selama ini kusimpan sendiri. Ada sesuatu yang ajaib dari kegiatan menulis ini, magis dan astral, yang tahu pasti hanyalah mereka yang mengerti betul tentang hidup dalam tulisan dan aku tahu banyak perangkai kata-kata selain diriku yang merasakan hal yang sama di luar sana.

So, singkat kata, I made up my mind.

Aku akhirnya berkata dengan jujur pada Mama, aku tidak akan meninggalkan dunia ini pun ingin menggelutinya dengan serius. Apa pun jurusan kuliah yang akhirnya nanti kuambil, dunia penulisan dan literasi, merangkai kata juga inspirasi, sudah tak bisa dipisahkan dari hidupku dan aku tidak akan pernah mau menomorduakannya. Well, akhirnya, meski sedikit berat dengan kemantapanku itu dan kadang kala masih membujukiku untuk ‘Nak, menulis itu bisa nyambi aja, janganlah dipandang terlalu serius’ mama pun mendukung apa pun pilihanku.

Dengan restu Mama yang sangat sulit aku dapatkan, akhirnya, sekitar sebulan terakhir aku pun menjadi Penjarah Give Away dan mengikuti berbagai lomba yang diadakan oleh dunia Literasi. Aku ingin membuktikan pada Mama kalau aku tidak main-main, aku serius seribu persen dengan kata-kataku dan restu yang Mama kasih tidak akan pernah aku sia-siakan. Aku ingin membuat Mama bangga dengan tulisanku, karena selama ini, meski Mama pecinta buku dan dunia literasi, Mama tak pernah sekali pun mau membaca tulisanku (iya, seriusan, gak pernah baca tulisanku barang sekali pun, hahaha. Mamaku keras banget ya XD). Dan memenangkan sebuah lomba prestisius hanyalah satu-satunya jalan agar Mama mau percaya dan melirik apa yang aku lakukan.

Kalau boleh jujur, sepanjang sejarah event #FF2in1 yang diadakan @nulisbuku aku hanya pernah mengikuti lomba mingguan ini satu kali (di luar #FF2in1 berhadiah #TiketBaliGratis) dan itu pun kulakukan minggu lalu tanggal 11 Februari 2015. Dan ternyata, hahaha, tidak disangka-sangka aku pun menang dan mendapat hadiah vocer 50.000 di @nulisbuku.

Screenshot_2015-02-12-22-48-36[1]

Hal ini membuatku percaya diri. Apalagi aku benar-benar merasa dihargai dengan ucapan-ucapan semangat dari admin @nulisbuku yang selalu memintaku untuk terus menulis dan rajin sekali membalas mentionku yang sebenarnya gak penting-penting amat (terima kasih Admin, semoga suatu hari nanti aku bisa mengenalmu dan tidak memulu memanggil Admin hihihi). Rasanya  benar-benar disambut hangat oleh dunia yang selama ini aku hindari karena merasa belum pantas.

Sampai akhirnya, @nulisbuku pun mengadakan lomba #FF2in1 berhadiah #TiketBaliGratis yang bekerja sama dengan @tiket pekan ini. Alamak, mata ini langsung bersinar seperti leser, bukan hanya karena hadianya ajegile seperti ini, tapi juga lomba ini seperti sebuah kesempatan yang Tuhan kasih ke aku untuk membuktikan pada Mama kalau aku serius. Tiket ke Bali adalah tiket  emas bagi hidupku!

Maka, dengan semangat empat lima, mata ini tak pernah luput memantau TL @nulisbuku pun tak ketinggalan mengikuti simulasi yang diadakan @nulisbuku sehari sebelum lomba dilaksanakan. Betapa senangnya aku ketika simulasi berlangsung, ternyata aturannya sama persis dengan #FF2in1 yang minggu lalu kumenangkan. Maka semakin semangat dan mantap aku mengikutinya, padahal saat itu sudah H-2 sebelum kepindahanku ke Yogyakarta sebagai persiapan kuliah tahun ini. Kondisiku sangat rempong dan rusuh, kamar berantakan, baju-baju belum rapi di-packing dan sebagainya. Tapi aku masa bodoh, aku harus ikut lomba ini apa pun yang terjadi.

Esok harinya, tanggal 18 Februari 2015, H-1 sebelum keberangkatan ke Yogyakarta, lomba pun di adakan jam 21.00 WIB. Sebelum ikut lomba, aku sudah mengatakan pada Mama lomba macam apa yang akan kuikuti ini dan meminta izin serta doa pada beliau agar aku bisa mengatasinya. Kala itu Mama hanya senyum-senyum saja, ia senang dengan niatku, tapi aku tahu hatinya meragu kalau aku bisa memenangkan lomba ini. Mama bilang ‘amin, semoga aja kita bisa ke Bali’, dan memberiku waktu satu jam untuk mengikuti lomba #FF2in1 berhadiah #TiketBaliGratis yang diadakan @nulisbuku dan @tiket ini di sela-sela ke-rempong-anku . Jadi, hanya dengan bermodalkan smartphone di tangan dan jaringan signal di pulau Kalimantan yang seperti lampu disko mati-hidup, aku pun siap bertempur.

Lomba ini melemparkan dua tema yang berupa lagu, kalau boleh jujur, aku justru berharap lagu yang menjadi tema adalah lagu yang sama sekali belum kudengar pun kutahu liriknya. Hahahaha, kenapa begitu? Karena  entah mengapa, imajinasiku keluar lebih luar biasa ketika aku tidak tahu apa pun tentang tema itu (by the way, waktu menang lomba berhadiah vocer minggu lalu pun, flash fiction yang menang berdasarkan tema lagu yang sama sekali tidak kuketahui😄 hahaha gak pernah dengar lagu Agnezmo yang itu).

Tapi sayang, hahaha,  Lagu pertama adalah milik si unyu Sam Smith yang berjudul I’m  Not The Only One. Lagu ini benar-benar terkenal, dan aku juga sangat suka menyenandungkannya belakangan ini. Otomatis aku agak kesulitan mengungkapkan ide karena rasanya ide-ide itu sudah kubuang  cuma-cuma saat menyanyikan lagunya tiap hari. Hahaha. Well, akhirnya, meski dengan sedikit perjuangan keras, terciptalah Sunshine dalam tempo waktu dua puluh lima menit. Sejujurnya, aku puas dengan flash fiction ini, dan menikmati saat akhirnya ada ide yang mengalir keluar dari jemariku.

Lalu, lanjut ke tema kedua. Untuk kali ini aku benar-benar berharap kalau aku belum pernah mendengar lagu yang menjadi temanya. Hahaha, dan puji Tuhan, doaku kembali didengarkan. Lagu tema kedua adalah lagu dari Tulus yang berjudul 1000 Tahun Lamanya. Aku sama sekali tidak pernah mendengar lagu ini, banyak banget dibikin meme dan jadi buah bibir, tapi serius aku tidak pernah mendengar lagu ini. Jadi, seperti biasa, kalau aku tidak tahu lagunya aku pasti hanya mencari lirik lagunya dan membaca lirik skimming lagu tersebut. Saat membaca lirik lagu itu, aku langsung mendapat inti lagunya yaitu tentang penantian yang tak berujung karena seseorang yang dicintai mencintai orang lain.

Lalu, jadilah flash fiction berjudul Seribu yang kutulis seluruhnya dengan ide pop-up dan muncul begitu saja tanpa banyak mikir. Hahaha. Sejujurnya aku masih agak ragu dengan flash fiction yang ini, apa tulisan ini cukup bisa bersaing dengan alur dan twist sederhana yang aku buat? Aku pribadi justru lebih menjagokan Sunshine untuk bersaing karena sepertinya tulisan itu lebih rapi dan elegan. Tapi sejujurnya, entah itu Sunshine atau Seribu, aku benar-benar puas dengan hasil tulisan yang aku buat. Dan langsung ngetuit begini dengan menyelipkan doa juga harapan pada kedua flash fiction itu.

IMG_20150222_120725[1]

Sebenarnya aku tidak berharap banyak pada lomba ini, mengingat di Timeline berseleweran penulis-penulis yang lebih senior dan jago dariku yang turut ambil bagian di lomba yang mendebarkan ini. Hal itu pun membuatku nyaliku kembali ciut dan mawas diri agar tidak terlalu pongah di laman Twitter. Lagipula, aku sudah mulai rusuh dengan kegiatan merapikan kamar kos serta mengisi perkakasnya yang belum lengkap, untuk beberapa saat pikiranku teralihkan dari hasil lomba ini dan berdoa saja yang terbaik karena meracau di Twitter tentang hasil lomba dan lain-lain malah membuatku masih tidak tenang saja. Hahaha.

Hingga akhirnya, tanggal 21 Februari pun tiba dan hari itu kuhabiskan dengan belanja seharian dengan Mama dan dua orang sahabatku.😄 hahaha, serius, aku gak begitu memikirkan lagi hasil dari lomba ini. Aku sudah puas dengan flash fiction yang kuberikan, jadi apa pun hasilnya aku bakal menerimanya dengan hati bahagia.

Sesaat setelah tiba di kamar kos, waktu itu hari sudah gelap. Aku tak langsung mengecek Twitter karena smartphone-ku mati kehabisan daya. Otomatis aku membereskan barang-barang dan bikin makan malam dulu buatku dan Mama. Dan akhirnya, saat daya di smartphone-ku sudah cukup untuk menghidupkan kembali layar yang mati. Aku langsung melompat ke Timeline @nulisbuku dan menemukan ini.

Screenshot_2015-02-21-21-00-56[1]

ASTAGA. ASTAGA. ASTAGA.

Aku menjerit, Mamaku kebingungan. Aku meloncat, Mamaku terpaku. Aku gemetaran, Mamaku terheran-heran. Sampai akhirnya kutunjukkan dan kusampaikan pada Mama kalau aku memenangkan tiket liburan ke Bali barulah ia tersenyum dan turut senang dengan keberhasilanku. DAN! Untuk pertama kalinya, Mama berinisiatif sendiri untuk membaca tulisanku dengan berkata seperti ini:

‘Sini, mana tulisannya, Mama mau baca.’

Ini merupakan penghargaan terbesar yang Mama berikan pada tulisanku. Rasanya lebih membahagiakan daripada liburan ke Bali. Rasanya lebih luar biasa daripada seluruh dunia mengakui tulisanku, karena aku hanya perlu Mama untuk mengakuiku. Senyumku tak bisa berhenti merekah, kupeluk Mama erat-erat sambil meracau ‘akhirnya bisa bawa Mama jalan! Akhirnya bisa bawa Mama jalan pakai usaha sendiri!’ seperti orang gila.

Tapi aku benar-benar gila, gila sekali dengan @nulisbuku dan @tiket yang mengadakan lomba #FF2in1 yang berhadiah #TiketBaliGratis ini. Apresiasi serta penghargaan mereka pada tulisan serta kata-kata sederhanaku begitu tinggi, bermimpi pun aku tidak berani untuk mengalami hal yang seperti ini. Tapi Tuhan mengajariku kembali bermimpi melalui tangan-tangan luar biasa mereka. Mereka meniupkan kembali debu bintang harapan ke hatiku kalau mimpi ini tidaklah sejauh yang kusangka selama ini, dan aku pun kembali siap siaga mengejarnya.

Terima kasih @nulisbuku. Terima kasih @tiket. Semoga melalui karya-karya kalian di dunia ini, masik akan ada banyak mimpi-mimpi  di luar sana yang kalian selamatkan seperti kalian menyelamatkan mimpiku kali ini.

Salam,

Benedikta Sekar

10 pemikiran pada “Tentang Mimpi dan Lomba #FF2in1 @nulisbuku bersama @tiket

  1. Dictaa selamat yaa. Selamat dapet pengakuan dari mamamu, selamat jalan-jalan ke Bali. Ikut seneng bacanya. Kapan pergi ke Balinya? Aku mau oleh-oleh tulisan yang terinspirasi dari perjalananmu ke Bali kkkkk (aku ini siapa minta-minta oleh-oleh hahaha)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s