[Surat Cinta #27] Dari Pintu Kulkas untuk Kertas Warna-Warni

Aku tahu ada yang aneh dengan keluarga ini, tapi jika keanehan itu dapat membuatku bertemu denganmu setiap hari. Kurasa itu bukan hal penting.

Dulu, aku hanyalah kulkas polos tanpa warna yang melengkapi dapur rumah itu selayaknya barang buka tutup. Di meja makan itu berkumpul sepasang suami-istri serta kedua putri mereka setiap pagi dan malam untuk menyantap makanan yang nyaris tak pernah dimasak sendiri di dapur ini.

Meja itu terasa dingin, tapi sang Ayah dan putri tertuanya selalu punya bahan untuk diobrolkan berdua. Sering kali mereka mencoba mengajak dua anggota keluarga lainnya untuk bergabung ke dalam pembicaraan, tapi  wanita karir itu tampak terlalu lelah untuk berbicara sementara putri bungsunya tak suka banyak tertawa. Semakin lama, keluarga itu semakin terlihat aneh, seperti ada jurang yang memisahkan perasaan mereka hingga acapkali perkelahian terjadi antara suami-istri dan saudara yang saling tak peduli satu sama lain.

Tiap hari aku melihat kejadian itu terus berulang seperti film bisu. Aku mulai muak mendengar pertengkaran suami-istri yang isinya selalu sama; tentang suami yang tak bisa menghidupi keluarga mereka dari karya lukisnya serta tentang istri yang mengambil alih tampuk pengucur dana bagi keluarga. Belum lagi hubungan kedua putri mereka yang semakin dingin dan keruh seiring dengan pertengkaran orangtua mereka yang kian memanas. Mereka bahkan tak bicara satu sama lain meski berada di ruangan yang sama; seolah-olah mereka bukanlah saudara dan hanya orang asing yang kebetulan saja tinggal bersama.

Keadaan itu berlangsung menahun, aku masih saja menjadi benda polos tanpa gairah. Hingga bencana itu datang, dan orang yang seharusnya menjadi tulang punggung dari keluarga itu meninggalkan meja makan dingin itu untuk selamanya.

Mereka bilang kecelakaan. Klise  sekali, tapi aku tahu, penyebab kecelakaan tunggal itu barang tentu bukanlah kantuk, melainkan pertengkaran yang menyerukan kata ‘cerai’ di malam itulah penyebabnya. Tak kuasa menghadapi istri yang begitu mantap dengan kata itu, suami yang harga dirinya terluka selama menahun pun memilih untuk pergi dari rumah dan kembali tanpa nyawa.

Semenjak kepergian satu-satunya orang yang bisa diajak bicara di meja makan. Putri tertua dari keluarga itu pun semakin merasa terasing bila berada di rumah. Meja makan itu kini terasa dingin juga hening. Hingga akhirnya ia pun benar-benar berhenti bicara dengan keluarganya dan memilih untuk menuliskan saya suaranya di lembar-lembar berwarnamu.

Iya, di detik itulah aku mengenalmu.

Setiap pagi dan petang ia berbicara dengan ibunya yang bekerja sangat sibuk melalui kata-kata yang tertulis di tubuhmu dan ia tempelkan di pintuku. Mulai dari meminta uang jajan, menitipkan barang, meminta izin, dan lain sebagainya. Semakin hari semakin banyak kertas warna-warni yang menempel di tubuhku, dan bersamaan dengan itulah aku merasa tidak sendirian.

Aku tidak sendirian menonton drama keluarga murahan ini.

Kamu ada bersamaku menjadi saksi kehidupan mereka dan dengan murah hati kusediakan  tubuhku yang lapang untuk kamu isi dengan warnamu. Aku tahu cinta ini tumbuh di saat ada banyak hati yang terluka di rumah ini, tapi cinta memang tak pernah memberi isyarat sebelum jatuh.

Cinta bahkan tetap bisa tumbuh pada hati yang sudah banyak terluka.

Salam,

Kulkas yang dunianya berwarna olehmu

4 pemikiran pada “[Surat Cinta #27] Dari Pintu Kulkas untuk Kertas Warna-Warni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s