[Surat Cinta #28] Dariku untuk Penulis Surat Terbaik Tentang Ayah

Dear Kak Adiezrindra,

Sejak hari pertama pembukaan event menulis #30HariMenulisSuratCinta, saya tahu, saya akan menulis surat ke-28  ini untuk Kakak.

Terima kasih untuk surat indah Kakak tentang Ayah di hari pertama. Saya terlalu kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bagaimana setiap kata yang kakak torehkan di dalam surat itu menggambarkan cinta yang begitu dalam pada sosok Ayah.

Rasanya hangat, Kak, membaca surat Kakak rasanya seperti kembali dipeluk oleh Papa dan beliau berbisik pada saya kalau beliau tak akan pergi ke mana pun—akan tetap ada di samping saya, meskipun kedua tangannya tak lagi benar-benar memeluk tubuh saya.

Hah…

Kak, baru paragraf ketiga saya menulis surat ini dan air mata saya sudah meleleh. Hahaha, saya sampai bingung ingin mengetik apa lagi di surat ini karena di kepala saya gempuran memori indah itu kembali menelan saya bulat-bulat. Sebenarnya, di surat ini saya tidak hanya ingin mengungkapkan rasa cinta saya pada surat Kakak. Tapi juga ingin mengungkapkan rasa iri saya yang begitu besar pada Kakak.

Iya, saya iri.

Saya ingin sekali suatu hari nanti bisa menulis surat tentang Papa sama seperti Kakak menulis tentang Ayah Kakak, karena kakak menulis surat dengan senyuman kebahagiaan serta rasa syukur tanpa harus berhenti setiap tiga kata untuk mengelap air mata…

Kak, saya tidak pernah berhasil pun tak penah berani lagi menulis surat tentang Papa.

Kenangan tentang Papa masih jadi sembilu di hati saya.

Bukan karena kenangan itu begitu buruk, justru kebalikannya. Kenangan itu terlalu indah, Kak, teramat sangat indah. Hanya saja Papa saya sudah tidak bersama saya lagi untuk mengenangnya berdua sambil tertawa. Beliau meninggalkan saya untuk mengenangnya sendirian sambil menangis.

 Itulah yang membuat saya iri. Teramat sangat iri sampai-sampai saya tak ingin membaca dua kali surat Kakak untuk Ayah Kakak. Hahaha. Menulis surat ini saja saya sudah dengan air mata menganak sungai, Kak, apa lagi membaca lagi surat Kakak tentang Ayah. Lebih baik jangan bila saya tidak mau bangun dengan mata merah. Kota Jogja tidak perlu gadis cengeng seperti saya😄

Akhir kata, Kak. Sekali lagi, saya ingin berterima kasih dengan surat Kakak, pun mengungkapkan rasa cinta yang diselipi sedikit rasa iri pada setiap kata yang Kakak suguhkan. Teruslah menulis, Kak, teruslah menjadi putri kecil yang bisa ayah kakak banggakan. Buatlah ayah Kakak bangga sepuas-puasnya sampai hati beliau penuh dengan rasa bahagia karena memiliki putri yang berbakti seperti Kakak.

Karena kasih seorang Ayah, kadang kala hanya bisa kita rasakan sungguh luar biasa ketika beliau sudah tiada.

Salam,

Dariku yang masih menangis

5 pemikiran pada “[Surat Cinta #28] Dariku untuk Penulis Surat Terbaik Tentang Ayah

  1. Halo dicta.
    maaf, saya komennya lamaaa sekali.
    saya bingung mau komentar apa. Saya tidak menyangka bahwa surat saya membuat kamu mengulur rol film ingatanmu kembali ke belakang. maaf, karena membuat kamu menangis. saya harap, suatu saat kamu bisa menulis surat untuk sang superhero dengan lekukan senyum di bibirmu.
    ketika kamu rindu padanya, ingatlah bahwa ia tetap melihatmu dari tempat yang tidak kamu tahu. dia melihatmu dan dia ingin kamu tersenyum.
    Oh ya, terima kasih doanya pula.

    With love,
    adiezrindra.

    1. Halo, Kak Adis.

      Jangan minta maaf. Saya justru senang dengan surat kakak. Selalu mengingatkan saya tentang Papa meski akhirnya menangis juga. Hahaha. Sama2 semoga doa2 saya terkabul semua. Hihihi.

      Salam,
      Benedikta Sekar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s