Shiawase

pink-rose-flower-red-ribbon-flowers

Roppongi bukan tempat bagi bangunan sederhana seperti  Happy Petals—toko bunga satu-satunya di distrik itu. Sudah nyaris satu dekade ruko dua lantai itu tidak dipugar oleh pemiliknya, entah karena ketiadaan dana atau memang sengaja ingin menonjolkan sisi tua yang unik di antara bangunan beton. Namun, bagi Yukimura Kou sendiri, ia tidak begitu peduli dengan perkara itu.

Kling! Klang!

Irasshaimase[1]!

Tepat jam dua belas siang, pria dandy itu melewati pintu kaca Happy Petals yang sudah ia hindari selama delapan tahun. Toko ini terasa lengang lantaran dua pegawai yang biasanya melayani pergi makan siang. Hanya ada seorang wanita berambut panjang sepunggung yang duduk manis di balik meja kasir. Ia tersenyum begitu ramah, tapi matanya kosong seperti tak tahu ke mana senyum itu ditujukan.

“Anda mencari bunga apa?” wanita itu bertanya tanpa bergerak dari tempatnya. Kou hanya tersenyum, lupa kalau wanita itu tak dapat melihatnya.

“Namaku Koizumi Haruka, pemilik toko ini.” Wanita bernama Haruka itu buru-buru menimpali; merasa sedikit tidak sopan karena bertanya tanpa menyebutkan nama. “Apakah Anda sedang mencari bunga untuk pasangan Anda?”

Sol pantofel milik Kou yang berketuk di lantai kayu menjawab pertanyaan itu. Sesungguhnya ia sendiri bingung ingin membeli bunga apa untuk wanita itu.

“Menurutmu, Haruka-san…” Kou menoleh pada wanita itu. “Bunga apa yang paling membuatmu bahagia?”

Baca lebih lanjut

Bagong

Aku tidak pernah suka dengan ikat pinggang Bapak, makanya kunamai ikat pinggang itu Bagong. Bagong itu benda kebanggan Bapak karena memiliki kepala besi yang besar dan berat sekali, jadi bisa dipakai untuk berkelahi. Bapak bilang, ia mendapatkan Bagong dari Mbah yang dulunya seorang veteran perang dan Bagong menjadi satu-satunya harta warisan yang diberikan pada Bapak. Makanya Bapak sangat menyayangi Bagong sampai-sampai telingaku panas karena nyaris tiap hari Bapak membicarakan Bagong melulu.

“Heh, Bud, lu tahu gak? Ikat pinggang ini dipakai Mbah waktu perang! Lu jangan macam-macam sama ikat pinggang ini! Bertuah! Sudah sering bunuh orang!” kata Bapak dengan penuh bangga sementara aku diam saja mengangguk-angguk.

Waktu itu kira-kira umurku  enam atau tujuh tahun, entah aku tidak yakin. Pokoknya, kala itu aku bahkan tak punya gambaran lain tentang perang selain perkelahian yang sering Bapak lakukan di warung remang-remang. Mungkin orang-orang Belanda yang Bapak ceritakan itu adalah pemabuk sama seperti Bapak dan teman-temannya, lalu Mbah menggunakan Bagong untuk memukuli pantat  penjajah itu. Makanya, aku tak pernah melihat Bapak mengenakan Bagong di tubuhnya, karena Bagong memang bukan untuk digunakan sebagai pelengkap pakaian, melainkan untuk berperang dan memukuli pantat orang.

Sepanjang yang kuingat tentang Bagong. Selain biasa dipakai Bapak untuk berkelahi,  Bagong juga selalu siap siaga di tangan Bapak tiap kali aku ketahuan mencuri lihat buku cerita yang kudapat dari hasil memulung. Kata Bapak, untuk apa melihat buku toh aku tidak bisa membaca, jadi lebih baik buku itu dikilo saja dan dijadikan duit. Tapi meskipun begitu, aku tetap saja membandel, mengendap-endap di belakang gerobak Bapak, mengambil satu atau dua buku, dan menyelipkannya di balik baju sampai nanti kusimpan di bawah kasur.  Barulah, saat Bapak sudah tidur dan malam telah tinggi; di bantu dengan sinar lampu minyak dan bulan yang menyempil samar-samar di balik tumpukan sampah yang menggunung di sekitar gubuk reotku, aku mulai melihat buku itu—mencoba menerka maksud dari huruf-huruf yang  tertera dan menikmati setiap gambar yang ada.

Kadang kala, tanpa sengaja aku pun tertidur di atas buku-buku yang tengah kubaca dan pada pagi harinya becutan Bagong membangunkanku. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa menangis sembari memohon ampun pada Bapak, sampai akhirnya Bapak puas mencetak bilur-bilur di tubuhku dan membiarkanku mandi air dingin sambil menahan perih dan sakit. Sudah begitu, aku pun masih saja di paksa Bapak ikut memulung tanpa peduli luka-lukaku terbuka lagi sepanjang jalan.

Tapi, meskipun ancaman dibecut Bagong terus menghantuiku, aku tetap tak menyerah melakukan hal yang sama hingga berulang-ulang karena buku-buku itu memang pantas untuk dibeli dengan bilur-bilur di tubuhku.

Aku tak pernah mengetahui dunia lain selain berada di tempat pembuangan sampah dan jalanan. Aku pun tak tahu rasanya memiliki ibu karena sepanjang yang aku ingat di duniaku hanya ada Bapak seorang. Dan dengan melihat-lihat gambar di buku itu, aku belajar, kadang semua hal yang terlihat pada gambar tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Aku ingat salah satu buku yang diam-diam kucuri dari gerobak, aku tidak tahu judulnya karena aku tak bisa membaca tapi di dalamnya ada banyak gambar tentang sosok seorang wanita yang menggendong bayi dan menuntun bayi itu hingga besar. Terlihat seperti sosok yang sangat lembut dan baik hati, dan aku mengira-ngira apa ini adalah sosok seorang ibu. Apa semua wanita yang menggendong bayi adalah seorang ibu?

Maka, hari itu ketika aku dan Bapak sedang memulung di bawah jembatan. Aku melihat ada seorang pengemis wanita tengah lesehan di pinggir jalan sembari menadah tangan. Ia menggendong seorang bayi yang tengah terlelap. Maka, diam-diam aku pun meninggalkan area pulunganku dan berlari mendatangi wanita itu. lalu dengan ngos-ngosan, aku bertanya, “Bik, rasanya jadi ibu seperti apa sih?”

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Mengumbar Luka

IMG_20029113964256[1]

Hidupku ini lucu, atau mungkin, aku sendirilah yang membuatnya lucu. Entah dari mana datangnya coretan ini, tapi aku tahu pasti coretan ini ditulis karena ada dorongan dalam hatiku untuk melakukannya.

Seperti biasa, setiap kali aku bercorat-coret, yang aku lakukan adalah bercermin dan memandang diriku kembali sebagai sosok seorang manusia. Kali ini, aku ingin mengangkat sisi buruk diriku yang belakangan baru aku sadari dan mencoba untuk menemukan jawaban dari permasalahan itu.

Hidup seseorang tak pernah mulus. Pasti ada saat di mana ia jatuh dan terluka—entah itu luka yang tampak di tubuh atau luka yang menyerang perasaan. Semua luka itu melekat dan membekas, dan perlahan-lahan membentuk diri kita sebagai sosok manusia yang sekarang hidup.

Diri kita yang sekarang, tidak pernah bisa lepas dari luka-luka yang telah kita alami di masa lalu. Aku percaya itu. Misalnya saja, saat kita terjatuh dari sepeda dan lutut kita terluka hingga meninggalkan bekas. Tiap kali kita melihat bekas luka di lutut itu, kita pasti akan selalu teringat akan kejadian jatuh dari sepeda waktu itu dan kadang menyesali diri kenapa dulu tidak berhati-hati. Namun, dari sana pun kita belajar, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Sama halnya luka yang tidak tampak. Sebagai manusia, Tuhan menciptakan kita lebih dari makhluk lainnya dengan memberi kita dua bakat, akal budi dan hati nurani. Akal budi memberi kita kemampuan untuk berpikir rasional, sementara hati nurani mengajari manusia untuk mengerti apa artinya cinta kasih. Dari sanalah kita dibentuk menjadi sosok manusia yang unik satu sama lain karena akal budi dan hati nurani setiap individu manusia berbeda-beda.

Sekarang pertanyaannya, kenapa dua hal itu bisa berbeda-beda pada tiap manusia padahal ketika kita dilahirkan di dunia ini kita bagai kertas putih yang sama?

Jawabannya adalah luka.

Baca lebih lanjut

Saturn Cycle

Saturnus membutuhkan waktu dua puluh sembilan tahun untuk kembali ke titik di angkasa di mana planet itu berada pada saat kita dulu dilahirkan. Sampai hal itu terjadi, semua tampak mungkin, impian-impian kita jadi kenyataan, dan dinding-dinding apa pun yang mengelilingi kita masih dapat dirubuhkan. Ketika Saturnus menyelesaikan siklus ini, romantisme apa pun akan berakhir. Pilihan-pilihan bersifat pasti dan nyaris tidak mungkin berubah arah.[1]Dan tepat pada hari ini, aku telah menyelesaikan siklus Saturnus-ku yang pertama.

“Jadi, kapan kau mau menikah?”

“Ma…”

“A Chen, apa kamu tidak malu tiap kali temu keluarga, Nai Nai[2] menyindirmu dengan panggilan Sheng Nu[3]?”

Aku memutar kedua bola mataku yang kini terlihat lebih jelas dan bulat setelah melakukan eyelid surgery dua tahun lalu. Ma Ma bilang mataku  terlalu sipit dan zaman sekarang wanita yang punya mata seperti itu tidak populer, jadi ia memaksaku menguras tabungan untuk melakukan operasi plastik tak berguna itu.

“Ma, aku tidak peduli apa yang Nai Nai atau keluarga kita katakan tentangku. Aku bisa mengurus hidupku sendiri,” jawabku sembari melipat kedua tangan di depan dada. Kulirik jam dinding di apartemenku was-was karena kehadiran Ma Ma bukanlah yang aku harapkan—pukul tujuh malam dan ia  datang ke sini hanya untuk mengingatkan tentang umurku yang bertambah juga pernikahan. Cih, sungguh menyenangkan.

“Apa kauingin aku mengatur kencan buta untukmu?”

“Ma!” aku berseru nyaring dengan wajah risih; muak ditawari hal yang sama jutaan kali. Dulu, pernah sekali aku menurut, tapi Ma Ma malah memberiku duda tua menjijikan yang belakangan ini baru kuketahui adala kolega bisnis Ba Ba.

“Kalau begitu, kaucarilah sendiri!” sahut Ma Ma sama frustasinya. “Kau tak ingin dijodohkan, tapi sampai sekarang pun tak satu orang pria yang kaukenalkan. Sebenarnya apa maumu?”

Aku terdiam. Membuang muka ke tembok sembari mengenang banyak luka. Tidakkah kau ingat, Ma, aku pernah memperkenalkan seseorang padamu? Dan kaubilang pilihanku itu tak pantas. Keluarga Hong punya standar yang tinggi, mana mungkin menerima seorang musisi serabutan ke dalam keluarga. Kau memaki pria yang kucintai itu dengan kata-kata kasar, kau buat hatinya mendera begitu juga aku. Hingga akhirnya kami berpisah dan ia mengutukku karena perlakuan Ma Ma telah membuatnya merasa sangat terhina.

Sejak itu, Ma. Mencintai pria lain adalah ketakutan terbesarku.

Baca lebih lanjut

Railway Trip

Dear,

 Ivan Romanov Rulin

Kutuliskan surat tentang perjalanan panjang ini di dalam kereta yang akan menghantarkanku menuju pulang-mu juga pulang-ku.

Membutuhkan waktu empat hari lamanya untuk tiba di Moscow. Musim semi sebenarnya begitu indah di Hyde Park, seperti biasa, Amrita selalu menyeretku ke sana dengan alasan yang sama—India tak punya musim semi pun bunga seindah di London—dan kamu tahu aku tak bisa menolak karena sifat pemaksanya itu. Tapi, tiga minggu sebelum musim semi berakhir, aku sudah mengingatkan pada gadis berkulit legam itu untuk membiarkanku sendiri di dalam kereta ini. Ia barang tentu sudah tahu kalau kita merencanakan railway trip ini sejak musim panas tahun lalu, dan ia tak bisa begitu saja meloncat masuk ke lingkaran kita. Tenang saja, Ivan, aku benar-benar meyakinkannya kalau aku tidak pergi untuk selamanya.

Seperti yang direncanakan, kita hanya mengambil cuti kuliah selama satu bulan untuk pulang.

Menuju Moscow, seperti yang kamu minta, aku mengambil rute melalui Paris. Menginap semalam di kota cahaya itu tentu bukan perkara pelik. Meski hanya melihat dari jendela kamar motel murah, Paris memang pantas digelari kota paling indah di dunia.

Setibanya di Moscow dan mendengar sendiri bagaimana kaummu berbicara, aku baru menyadari kalau selama ini kamu hanya mengajariku mengucapkan ‘privet’ dan ‘pahka’ [1]. Sangat tidak membantu. Aku nyaris tertinggal kereta karena tak menyadari kalau the Rossiya adalah nama kereta yang akan membawaku menuju Vladivostok! Oh, Ivan…

Dua hari pertama di dalam kereta aku habiskan dengan merekam apa saja yang aku lihat dengan mata dan otakku—pemandangan, suasana gerbong penumpang, gerbong makan, dan lain-lain. Aku tak bisa menuliskannya di surat ini karena terlalu banyak detil yang ingin kubagi denganmu. Teman satu bilikku pun—seorang wanita Rusia bernama Anastasia—sampai-sampai mengingatkanku untuk berhenti menulis dan memandang keluar jendela untuk menikmati hari-hari dalam railway trip ini.

Oh, apa semua orang Rusia seperti ini? Maksudku, lebih senang memandang keluar jendela dan menyimpan segalanya dalam ingatan? Kata-katanya padaku, tentang melihat keluar jendela, mengingatkanku pada pertemuan pertama kita di kelas Bahasa Inggris saat semester perdana dulu. Kamu bilang:

‘Lihatlah keluar, Miss, jangan hanya menggores pada kertasmu. Menulislah dalam ingatanmu karena itu abadi.’

Sontak saja, kilas balik tentang kenangan itu membuatku tak kuasa tersenyum. Kala itu kamu lanjut menyindir tentang mata sipitku yang kamu percayai adalah alasan utama aku malas melihat keluar jendela, dan hal itu membuat kesan pertamaku tentangmu sangatlah buruk. Aku tahu kamu mungkin tak bermaksud begitu, tapi menjadi satu-satunya ras Mongoloid di kelas manusia bermata biru itu barang tentu sudah menjadi beban. Dan kau datang tanpa diundang seperti bom yang menghancurkan hariku dalam hitungan detik.

Baca lebih lanjut