Railway Trip

Dear,

 Ivan Romanov Rulin

Kutuliskan surat tentang perjalanan panjang ini di dalam kereta yang akan menghantarkanku menuju pulang-mu juga pulang-ku.

Membutuhkan waktu empat hari lamanya untuk tiba di Moscow. Musim semi sebenarnya begitu indah di Hyde Park, seperti biasa, Amrita selalu menyeretku ke sana dengan alasan yang sama—India tak punya musim semi pun bunga seindah di London—dan kamu tahu aku tak bisa menolak karena sifat pemaksanya itu. Tapi, tiga minggu sebelum musim semi berakhir, aku sudah mengingatkan pada gadis berkulit legam itu untuk membiarkanku sendiri di dalam kereta ini. Ia barang tentu sudah tahu kalau kita merencanakan railway trip ini sejak musim panas tahun lalu, dan ia tak bisa begitu saja meloncat masuk ke lingkaran kita. Tenang saja, Ivan, aku benar-benar meyakinkannya kalau aku tidak pergi untuk selamanya.

Seperti yang direncanakan, kita hanya mengambil cuti kuliah selama satu bulan untuk pulang.

Menuju Moscow, seperti yang kamu minta, aku mengambil rute melalui Paris. Menginap semalam di kota cahaya itu tentu bukan perkara pelik. Meski hanya melihat dari jendela kamar motel murah, Paris memang pantas digelari kota paling indah di dunia.

Setibanya di Moscow dan mendengar sendiri bagaimana kaummu berbicara, aku baru menyadari kalau selama ini kamu hanya mengajariku mengucapkan ‘privet’ dan ‘pahka’ [1]. Sangat tidak membantu. Aku nyaris tertinggal kereta karena tak menyadari kalau the Rossiya adalah nama kereta yang akan membawaku menuju Vladivostok! Oh, Ivan…

Dua hari pertama di dalam kereta aku habiskan dengan merekam apa saja yang aku lihat dengan mata dan otakku—pemandangan, suasana gerbong penumpang, gerbong makan, dan lain-lain. Aku tak bisa menuliskannya di surat ini karena terlalu banyak detil yang ingin kubagi denganmu. Teman satu bilikku pun—seorang wanita Rusia bernama Anastasia—sampai-sampai mengingatkanku untuk berhenti menulis dan memandang keluar jendela untuk menikmati hari-hari dalam railway trip ini.

Oh, apa semua orang Rusia seperti ini? Maksudku, lebih senang memandang keluar jendela dan menyimpan segalanya dalam ingatan? Kata-katanya padaku, tentang melihat keluar jendela, mengingatkanku pada pertemuan pertama kita di kelas Bahasa Inggris saat semester perdana dulu. Kamu bilang:

‘Lihatlah keluar, Miss, jangan hanya menggores pada kertasmu. Menulislah dalam ingatanmu karena itu abadi.’

Sontak saja, kilas balik tentang kenangan itu membuatku tak kuasa tersenyum. Kala itu kamu lanjut menyindir tentang mata sipitku yang kamu percayai adalah alasan utama aku malas melihat keluar jendela, dan hal itu membuat kesan pertamaku tentangmu sangatlah buruk. Aku tahu kamu mungkin tak bermaksud begitu, tapi menjadi satu-satunya ras Mongoloid di kelas manusia bermata biru itu barang tentu sudah menjadi beban. Dan kau datang tanpa diundang seperti bom yang menghancurkan hariku dalam hitungan detik.

Di hari ketiga, aku turun di Krasnoyarsk untuk berganti kereta dan berpisah dengan Anastasia. Di sini ternyata lebih dingin daripada dua kota sebelumnya yang kusinggahi—Yekaterinburg dan Novosibirsk. Aku bahkan tak sempat berfoto untuk kukirimkan pada Amrita karena aku malas keluar setelah berada di dalam kereta. Menyebalkan sekali, dinginnya Rusia memang tidak main-main, sekarang aku justru berharap berada di London dan menikmati Hyde Park bersama Amrita. Tapi tak mengapa, setelah ini sepanjang perjalanan aku akan disuguhi dengan pemandangan Danau Baikal yang memukau. Akan kukirimkan fotonya beberapa dan kurekam dalam-dalam di ingatanku.

Sepanjang perjalanan di hari keempat, aku memilih untuk duduk seharian di gerbong makan dan mendengarkan kisah sepasangan pengantin baru dari Indonesia. Kami duduk di meja yang sama karena gerbong makan cukup sesak siang itu. Mereka bilang railway trip ini adalah bulan madu impian mereka, dan kisah mereka mengingatkanku pada pertemuan-pertemuan kita selanjutnya setelah insiden di kelas Bahasa Inggris itu.

Kelas kerajinan tembikar adalah salah satu kelas paling sepi peminat di kampus kita dan aku tak tahu kenapa kamu mengambil kelas itu bersama denganku. Kamu bahkan tak bisa membuat bahan dasar tanah liat dengan benar, kadang malah terlalu encer dan lumer di sela jemarimu. Saat kelas berakhir aku langsung ingin menghindarimu, tapi kamu sudah keburu memergokiku dan  meminta maaf. Ternyata, kamu mengambil kelas kerajinan tembikar hanya untuk itu.

Hatiku sangat tersentuh dengan usahamu, hingga akhirnya nama Ivan Romanov Rulin dan Tao Mei Yin bertukar di bibir kita hari itu. Padahal, sudah kubilang panggil saja aku dengan nama Inggrisku, Milla, tapi kamu menolak karena nama Mei Yin mengingatkanmu pada bulan bunga bersemi di Rusia—May.

Sejak hari itu, duniaku berubah. Tak kusangka kita punya banyak kesamaan di balik ras yang berbeda—kamu begitu Kaukasoid dengan tubuh tinggi dan mata kelabu, sementara aku bahkan tak lebih tinggi dari bahumu dengan iris dan rambut sehitam arang. Salah satu kesamaan terbesar kita adalah pergi ke London dengan mambawa luka dari tempat yang kita sebut rumah.

Kamu punya perkara rumit dengan ayah dan saudaramu, sementara aku sendiri tak punya keluarga untuk diajak bertengkar. Kamu menyebut rumahmu panas seperti neraka, sementara aku menyebut rumahku dingin seperti es. Tiap hari kita bertukar kisah di cafeteria atau berakhir pekan bersama di flatmu sambil menonton DVD hingga pagi. Pelan-pelan luka kita mengering; sembuh seiring dengan hubungan kita yang saling mengisi satu sama lain. Sampai suatu hari di bawah terik matahari musim panas, ide ‘kembali pulang’ itu tercetus.

‘Ayo, pulang! Mari kita hadapi luka kita bersama!’

Dan aku mengangguk sanggup tanpa berpikir dua kali.

Di hari kelima, pasangan pengantin baru itu turun di Yarofei Pavlovitch untuk menginap beberapa malam di kota bersejarah perang itu. Seharusnya, kita juga berpisah di sini. Kamu akan melanjutkan perjalananmu ke kota Pelabuhan terbesar di Rusia itu dan aku akan melewati jalur lain menuju Mongolia sebelum nanti berakhir di Beijing.

Kita sudah berjanji untuk menghadapi luka ini bersama ‘kan, Ivan?

Tapi kenapa kamu membuat musim dingin di London waktu itu terasa lebih dingin daripada rumahku pun lebih dingin dari pada negara ini? Kenapa kamu biarkan kecelakaan itu merenggut nyawamu dan kini kamu pun membuatku menjalani rute ini sendirian?

Kenapa?

Kulalui hari keenam sendirian di dalam bilik kereta dengan melamun, gempuran kenangan tentangmu  berhamburan di sepanjang rel yang melintasi Amur Region serta lumer di mataku. Aku baru sanggup menutup surat ini tatkala awak kereta memberitakan kalau tiga puluh menit lagi kereta akan sampai di Vladivostok.

Oh, Ivan, terima kasih untuk seluruh kenangan yang kamu bagi denganku. Mataku kini telah bisa menatap keluar jendela tanpa perlu melihat kenangan-kenangan itu terputar kembali seperti potongan film lawaskarena lukaku telah sembuh bersama kepergian mereka. Dan kuharap, kamu juga menemukan kedamaian dalam tidur panjangmu.

Sampai jumpa di Teluk Tanduk Emas.

Salam,

Tao Mei Yin

ooo

Seorang gadis bermata kuaci berdiri di ujung dermaga dengan sepucuk surat di satu tangannya dan pematik di tangan yang lain. Air mata luluh ke pipinya saat api membakar surat itu dan abu pun terbang bersama angin; membawa setiap kenangan di sepanjang rel menuju Vladivostok pergi dan berpulang ke pangkuan-Nya…

Fin.

  A/N: (1103 kata, tidak termasuk judul dan footnote) Ditulis untuk mengikuti Tantangan Menulis #KeretaAksara dari @KampusFiksi [1] Hai dan Dadah dalam Bahasa Rusia

Trans Siberian Map. Klik Gambar untuk mengetahui lebih jelas ilustrasi perjalanannya.
Trans Siberian Map. Klik Gambar untuk mengetahui lebih jelas ilustrasi perjalanannya.

4 pemikiran pada “Railway Trip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s