Bagong

Aku tidak pernah suka dengan ikat pinggang Bapak, makanya kunamai ikat pinggang itu Bagong. Bagong itu benda kebanggan Bapak karena memiliki kepala besi yang besar dan berat sekali, jadi bisa dipakai untuk berkelahi. Bapak bilang, ia mendapatkan Bagong dari Mbah yang dulunya seorang veteran perang dan Bagong menjadi satu-satunya harta warisan yang diberikan pada Bapak. Makanya Bapak sangat menyayangi Bagong sampai-sampai telingaku panas karena nyaris tiap hari Bapak membicarakan Bagong melulu.

“Heh, Bud, lu tahu gak? Ikat pinggang ini dipakai Mbah waktu perang! Lu jangan macam-macam sama ikat pinggang ini! Bertuah! Sudah sering bunuh orang!” kata Bapak dengan penuh bangga sementara aku diam saja mengangguk-angguk.

Waktu itu kira-kira umurku  enam atau tujuh tahun, entah aku tidak yakin. Pokoknya, kala itu aku bahkan tak punya gambaran lain tentang perang selain perkelahian yang sering Bapak lakukan di warung remang-remang. Mungkin orang-orang Belanda yang Bapak ceritakan itu adalah pemabuk sama seperti Bapak dan teman-temannya, lalu Mbah menggunakan Bagong untuk memukuli pantat  penjajah itu. Makanya, aku tak pernah melihat Bapak mengenakan Bagong di tubuhnya, karena Bagong memang bukan untuk digunakan sebagai pelengkap pakaian, melainkan untuk berperang dan memukuli pantat orang.

Sepanjang yang kuingat tentang Bagong. Selain biasa dipakai Bapak untuk berkelahi,  Bagong juga selalu siap siaga di tangan Bapak tiap kali aku ketahuan mencuri lihat buku cerita yang kudapat dari hasil memulung. Kata Bapak, untuk apa melihat buku toh aku tidak bisa membaca, jadi lebih baik buku itu dikilo saja dan dijadikan duit. Tapi meskipun begitu, aku tetap saja membandel, mengendap-endap di belakang gerobak Bapak, mengambil satu atau dua buku, dan menyelipkannya di balik baju sampai nanti kusimpan di bawah kasur.  Barulah, saat Bapak sudah tidur dan malam telah tinggi; di bantu dengan sinar lampu minyak dan bulan yang menyempil samar-samar di balik tumpukan sampah yang menggunung di sekitar gubuk reotku, aku mulai melihat buku itu—mencoba menerka maksud dari huruf-huruf yang  tertera dan menikmati setiap gambar yang ada.

Kadang kala, tanpa sengaja aku pun tertidur di atas buku-buku yang tengah kubaca dan pada pagi harinya becutan Bagong membangunkanku. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa menangis sembari memohon ampun pada Bapak, sampai akhirnya Bapak puas mencetak bilur-bilur di tubuhku dan membiarkanku mandi air dingin sambil menahan perih dan sakit. Sudah begitu, aku pun masih saja di paksa Bapak ikut memulung tanpa peduli luka-lukaku terbuka lagi sepanjang jalan.

Tapi, meskipun ancaman dibecut Bagong terus menghantuiku, aku tetap tak menyerah melakukan hal yang sama hingga berulang-ulang karena buku-buku itu memang pantas untuk dibeli dengan bilur-bilur di tubuhku.

Aku tak pernah mengetahui dunia lain selain berada di tempat pembuangan sampah dan jalanan. Aku pun tak tahu rasanya memiliki ibu karena sepanjang yang aku ingat di duniaku hanya ada Bapak seorang. Dan dengan melihat-lihat gambar di buku itu, aku belajar, kadang semua hal yang terlihat pada gambar tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Aku ingat salah satu buku yang diam-diam kucuri dari gerobak, aku tidak tahu judulnya karena aku tak bisa membaca tapi di dalamnya ada banyak gambar tentang sosok seorang wanita yang menggendong bayi dan menuntun bayi itu hingga besar. Terlihat seperti sosok yang sangat lembut dan baik hati, dan aku mengira-ngira apa ini adalah sosok seorang ibu. Apa semua wanita yang menggendong bayi adalah seorang ibu?

Maka, hari itu ketika aku dan Bapak sedang memulung di bawah jembatan. Aku melihat ada seorang pengemis wanita tengah lesehan di pinggir jalan sembari menadah tangan. Ia menggendong seorang bayi yang tengah terlelap. Maka, diam-diam aku pun meninggalkan area pulunganku dan berlari mendatangi wanita itu. lalu dengan ngos-ngosan, aku bertanya, “Bik, rasanya jadi ibu seperti apa sih?”

Wanita pengemis itu melotot padaku penuh kekagetan, lalu menjawabku ketus. “Lah, mana gue tahu! Gue kagak pernah punya anak!”

Aku terperanjat, lalu menunjuk bayi yang tengah ia gendong. “Itu… bukan anak  Bibik?”

Mendengar pertanyaanku yang berikutnya, ia langsung tertawa terbahak-bahak sampai air liurnya terbang mengenai wajahku. Aku mengerang jijik sesaat sebelum akhirnya mendengar jawaban darinya.

“Bukan! Ini mah bukan anak gue! Anak majikan gue ini, ditinggal Bapak ama Ibunya kerja sampai malam. Daripada seharian nganggur kagak dapat duit, ya gue pakai aja buat ngemis! Hahahaha.”

Wanita itu kembali terbahak, air liurnya kembali ke sana kemari, tapi aku terpaku. Diam. Lalu gambaran tentang sosok ibu pun langsung kandas bersamaan dengan salakan Bapak yang terdengar dari kejauhan. Hari itu, sesampainya di rumah, aku mendapati Bagong memecutku lagi sebagai hadiah dari Bapak karena mangkir bekerja.

Akibat kejadian itu, aku belajar kalau jangan mudah percaya dengan gambar, karena gambar bisa saja menipu dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Aku harus belajar membaca.

Siapa tahu di buku itu bukan menggambarkan sosok ibu. Siapa tahu itu sosok pembantu. Hanya saja karena aku tidak bisa membaca, jadi aku tidak tahu apa maksud dari gambar-gambar itu. Maka, aku pun bertekad untuk bisa membaca agar mengerti tulisan di dalam buku dan orang pertama yang kuminta untuk mengajariku adalah Bapak.

Malam itu, aku makan dengan lauk yang lumayan enak. Bapak memperbolehkanku makan beberapa potong tempe dari nasi bungkus yang kami dapatkan dari petugas sosial siang tadi, biasanya ia hanya membiarkanku melahap nasi putih dan kuah sayur. Aku pikir suasana hatinya sedang baik, karena sedang baik mungkin ia mau mengajariku membaca. Lalu akhirnya, kuberanikan diri untuk menanyakan hal itu.

“Pak, Bapak bisa gak mengajari Budi membaca?”

Mendengar pertanyaan itu seketika itu juga Bapak berhenti makan, lalu melempar piring nasiku ke lantai tanah gubuk kami hingga isinya tumpah berhamburan. Ia terlihat marah, sangat marah, dan detik berikutnya hal yang kutahu tanpa banyak bicara Bapak mengambil Bagong lalu memecutku. Di sela tangisku aku mendengar Bapak memakiku anak durhaka dan tak tahu diuntung, tapi aku terlalu nyaring menangis sampai tak peduli lagi dengan makian-makian Bapak itu. Hingga  beberapa hari kemudian baru aku ketahui kalau Bapak ternyata tak bisa membaca dan mendengar pertanyaanku malam itu ia merasa benar-benar terhina.

“Jangan sekali-sekali lu berpikiran buat belajar baca! Lu itu gak butuh membaca! Lu cuman butuh badan lu buat cari duit! Ingat itu sampai lu gede!”

Aku diam saja saat Bapak memarahiku tanpa tendeng aling-aling di suatu petang. Bagong terselip di tangannya sebagai peringatan untukku kalau Bapak tidak main-main dengan ancamannya. Tapi aku tetap saja diam, tak mengangguk mau pun menggeleng. Bapak menganggap diamku sebagai jawaban iya, tapi di dalam hati aku bertekad kalau aku tidak akan menyerah.

Bagong tak pernah membuatku takut.

ooo

Beberapa waktu berlalu, aku tidak ingat berapa umurku waktu itu. Mimpiku untuk bisa membaca tak pernah luntur. Aku masih sering mencuri buku dari gerobak, pun Bagong masih bersahabat dengan kulit-kulitku yang selalu dibuatnya bilur. Tapi waktu itu aku sudah cukup besar untuk tidak menangis saat dipecut Bapak, aku hanya meringis dengan terus membayangkan diri membaca nyaring-nyaring sebuah buku bergambar yang kuselipkan di bawah kasur malam itu.

Hingga pada suatu sore, para tetangga di sekitarku membicarakan sebuah sekolah dasar yang baru saja buka di ujung persimpangan jalan pemukiman kumuh kami. Mereka berbondong-bondong bergunjing kalau mereka akan menyekolahkan anak-anak mereka di sana untuk merubah nasib. Dalam hati aku berharap Bapak  mendengar gunjingan itu, tapi waktu itu telinga Bapak disumpal suara radio yang baru saja ia beli di toko barang bekas. Makanya ia masa bodoh dengan masalah itu, pupus sudah harapanku untuk bersekolah. Tapi sejujurnya, meskipun Bapak mendengar gunjingan itu, aku tahu aku tak mungkin bisa berharap banyak dari Bapak.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk melakukan apa saja untuk dapat mencuri dengar pelajaran yang sedang diadakan di sekolah itu. Tiap kali Bapak mengajakku memulung, aku selalu berdalih kalau aku ingin memulung sendiri dan berjanji pada bapak kalau aku akan pulang dengan membawa banyak barang pulungan. Untungnya Bapak tak banyak berprasangka, hingga akhirnya ia mengizinkan dan aku pun langsung lari tunggang langgang menuju sekolah  dasar yang baru di buka itu lalu mengendap-endap ke jendela mereka.

Karena aku tak punya buku maupun alat tulis, akhirnya,  aku pun hanya menyimak apa saja yang ibu guru katakan di depan kelas dan mencoba mengingat-ingat bentuk-bentuk huruf dan namanya. Saat pelajaran berakhir, aku pun lari kembali seperti kerasukan setan menuju tempat penampuangan sampah dan memulung sebanyak-banyaknya tanpa mengenal lelah agar Bapak tak curiga kalau aku tidak benar-benar memulung seharian.

Kulakukan hal itu selama lima hari lamanya tanpa ketahuan, tapi tepat di hari keenam seorang anak perempuan berkerudung putih yang lebih tinggi dariku memergokiku tengah mengendap-endap untuk mengintip pelajaran.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Aku terperanjat, menatap anak peremuan itu ketakutan. Aku sudah ingin berlari untuk kabur bersama karung sampahku, tapi tiba-tiba saja jemari lentik itu menahan tanganku.

“Kamu ngintip ya?”

Jantungku berdebar karena takut dilaporkan, sembari berusaha keras melepaskan cengkraman anak perempan itu. Tapi cengkramannya terlalu kuat, dan ia hanya tersenyum sambil memandangku lembut.

“Kamu mau belajar membaca?”

Aku berhenti berontak, berhenti berusaha melepaskan diri. Aku mengangguk sangat keras sampai rasanya leherku akan patah.

“Namaku Annisa. Kamu?”

“Budi,” jawabku penuh semangat.

“Besok datang lagi kemari dan tunggu aku. Aku akan mengajarimu membaca,” kata anak perempuan bernama Annisa itu ceria dan mataku pun langsung berbinar cerah.

“Sungguh?”

Annisa mengangguk mantap. “Sungguh. Jadi jangan mengintip dari jendela lagi ya!”

Semenjak saat itu, Annisa menjadi teman pertamaku juga orang pertama yang mengajariku membaca. Setiap hari aku datang ke sekolah itu, dan Annisa akan mengajariku selama jam istirahat dengan cepat juga mengajariku bagaimana caranya menulis huruf-huruf latin itu. Kegiatan itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya aku pun berhasil membaca satu kalimat nyaring-nyaring tanpa salah.

I-ni Bu-di dan i-ni  Ba-pak Bu-di.

Annisa bertepuk tangan saat aku selesai membaca dan aku pun bersorak gembira karena selangkah impianku telah tercapai. Namun, Annisa hanya bisa mengajariku membaca satu kalimat saja, karena suatu hari, ketika aku menunggu kedatangan Annisa di bagian belakang sekolah. Annisa tidak datang, yang datang justru seorang guru berkumis dan berbadan besar dengan wajah sangar dan ia memarahiku.

“Jadi kamu ya yang sering berkeliaran di sekolah ini, hah? Suka ngintip gratis ya di sini? Kalau kamu mau belajar di sini, bayar! Kamu bisa bayar tidak!?”

Aku menunduk begitu dalam, sudut mataku menangkap bayangan Annisa di balik tembok dan ia menangis karena tak bisa menolongku. Aku tersenyum tipis karena tahu Annisa sebenarnya datang dan tidak melupakanku, mungkin hari itu aku hanya ketiban sial saja.

“Ayo, sini! Kita datangi orangtuamu!” Bapak Guru itu menyeretku keluar dari sekolah dan memaksaku mempertemukannya dengan Bapak.

Guru itu memarahiku di depan Bapak juga menghina Bapak yang tidak menyekolahkan anaknya. Para tetangga melihat, aku tahu Bapak sangat malu dan aku sadar betul kalau Bagong telah menungguku di gubuk setelah pembicaraan ini selesai. Dan akhirnya malam itu, Bapak menyuruhku tidur di luar dengan hanya beralaskan dipan dingin tanpa baju, sementara punggungku penuh darah dan memar.

Tapi anehnya, malam itu aku tidak menangis.

Aku tersenyum di bawah sinar rembulan dan dinginnya malam yang menggigit kulit berdarahku. Karena saat itu, aku telah berhasil membaca satu kalimat.

I-ni Bu-di dan i-ni  Ba-pak Bu-di.

Aku ulang terus kalimat itu di kepalaku dan bagaimana caranya menulisnya. Sekali lagi hatiku penuh oleh rasa bahagia, dan dibecut dengan Bagong sampai berdarah seperti itu tidak akan pernah membuatku takut untuk terus belajar membaca.

ooo

Semenjak kejadian itu, Bapak tak pernah lagi membiarkanku memulung sendirian. Aku pun tak pernah lagi datang ke sekolah dasar itu dan bertemu dengan Annisa untuk waktu yang lama. Tapi aku kembali ke rutinitasku sebelumnya, yaitu mencuri buku di gerobak Bapak dan membacanya malam-malam. Kini aku bisa membaca beberapa patah kata, aku pun bisa mengenali dengan mudah huruf A sampai Z. Dasar yang diberikan Annisa padaku benar-benar berguna. Aku tak akan pernah berhenti mencoba untuk membaca, karena meski tubuhku borok oleh becutan Bagong, aku akan terus membaca karena becutan Bagong sudah menjadi becutan bagi mimpiku juga.

Sampai akhirnya, kebakaran itu terjadi dan aku kehilangan gubuk yang sudah menjadi tempat tinggal seumur hidupku juga kehilangan Bapak yang dulu. Iya, kebakaran besar itu tak hanya meluluh lantakan perumahan kumuh kami, tapi juga  membuat Bapak cacat dan tak bisa berjalan lagi karena tertimpa reruntuhan. Satu-satunya harta benda yang masih bisa kami selamatkan hanyalah Bagong dan gerobak sampah kami, karena yang lainnya telah rata oleh tanah.

Orang-orang bilang kalau kebakaran itu adalah sabotase karena di pemukiman kumuh itu rencananya ingin dibangun sebuah apartemen mewah dan warga tak ingin menyerahkan lahan. Tapi aku tidak begitu ambil pusing karena satu-satunya hal yang kutahu saat itu adalah aku dan bapak tidak memiliki tempat tinggal hingga terlunta di jalanan. Kaki bapak yang diobati seadanya di puskesmas benar-benar tak bisa disembuhkan lagi, hingga akhirnya akulah satu-satunya harapan untuk menyambung makan mulut kami berdua. Aku masih tak tahu berapa umurku waktu aku menjalani kehidupan itu karena Bapak tak pernah ingat kapan tanggal lahirku, tapi yang jelas waktu itu aku sudah cukup tinggi untuk mengerjakan pekerjaan apa pun.

Awalnya, aku dan Bapak hanya bisa tidur di jalan dengan Bapak di dalam gerobak dan aku di trotoar. Lalu akhirnya uang kami pun cukup untuk menyewa sebuah tempat untuk tinggal di bawah jembatan. Tiap hari aku pergi memulung, berkeliling kota mencari sampah daur ulang. Malamnya aku akan pergi ke sebuah restoran padang dan bekerja sebagai pencuci piring di sana. Hal yang ada di kepalaku saat itu hanyalah mencari uang, uang dan uang saja untuk makan dan membeli obat penghilang rasa sakit untuk Bapak. Tak ada lagi mimpi tentang belajar membaca, waktu itu buku-buku yang kutemukan di dalam bak sampah lebih terlihat seperti barang yang bisa dijual ketimbang dibaca. Dan lambat laun, seiring berjalannya waktu, aku mulai berpikir semakin mirip dengan Bapak.

Bapak yang dulu.

Karena Bapak setelah kebakaran itu terjadi adalah Bapak yang pemurung. Di dalam ruang sempit itu Bapak hanya tidur dan melamun sambil memeluk Bagong dan mengusap-usapnya sayang. Ia mungkin memikirkan banyak hal bersama Bagong, bagimana Bagong dulu adalah lambang keperkasaannya. Dulu, ia adalah salah satu orang yang cukup ditakuti di pemukiman kami, hanya dengan Bagong ia bisa mengalahkan banyak preman. Tapi saat ia kehilangan kakinya, ia hanyalah pria tua pesakitan yang tidak bisa melakukan apa pun sendirian.

Itu pasti melukai hati juga harga dirinya.

ooo

Tahun demi tahun berlalu, aku tidak lagi memulung. Tubuhku yang kian kuat sebagai laki-laki pun bisa memikul beban lebih berat sebagai kuli bangunan atau buruh panggul. Uang yang kuhasilkan pun lebih banyak, dan aku pun mampu memindahkan Bapak dari ruang sempit di bawah jembatan ke sebuah kamar kos murahan di pinggiran kota. Minimal tempat itu jauh lebih layak dari sebelumnya dan aku senang bisa membuat Bapak sedikit lebih bahagia.

Setiap kali aku bekerja berat, membanting tulang sebagai kuli dan buruh. Kata-kata Bapak sewaktu aku masih kecil terlintas kembali.

‘Jangan sekali-sekali lu berpikiran buat belajar baca! Lu itu gak butuh membaca! Lu cuman butuh badan lu buat cari duit! Ingat itu sampai lu gede!’

Dengan hati sedih, aku pun harus mengakui hal itu. Aku hanya perlu badan untuk menjadi kuli dan buruh, dengan begitu aku bisa membiayai mulut kami dan obat Bapak. Aku tak pernah lagi membaca, kulupakan mimpiku membaca nyaring-nyaring sebuah buku sampai tuntas, karena aku sudah lupa bagaimana caranya membaca. Tapi meskipun begitu, aku masih ingat satu kalimat, kalimat yang pertama kali mampu kubaca dan hanya akan menjadi satu-satunya kalimat yang bisa kubaca.

I-ni Bu-di dan i-ni  Ba-pak Bu-di.

Rasanya ingin menangis setiap kali mengingat bagaimana rasanya bisa membaca, tapi aku tahu, membaca tak akan menghasilkan uang sepeser pun. Hingga pada suatu hari, saat sedang istirahat siang dari bekerja sebagai kuli bangunan, entah kenapa aku ingin berjalan ke pemukiman di bawah jembatan yang dulu sempat kutinggali dan sejurus kemudian aku pun menyadari ada yang berbeda.

Tak ada anak-anak yang bermain atau mengemis di sepanjang trotoar.

Aku keheranan, lalu bertanya pada salah seorang tukang ojek yang sering mangkal di sana ke mana anak-anak itu pergi. Dan jawaban tukang ojek itu benar-benar mengejutkanku.

“Oh… anak-anak pada ikut Sekolah Anak Jalanan, Mas! Tuh di tenda yang ada di sana!”

Tukang ojek itu menunjuk sebuah tenda biru yang memiliki baleho besar yang bertulisan sesuatu seperti… err… P? Lalu… E? aduh, itu huruf L atau I? Errrh… ah sudahlah, aku lihat ada gambar pelangi di baleho itu, mungkin itu tulisannya pelangi. Sekolah Pelangi.

Aku melangkah mendekati tenda itu, sayup-sayup kudengar suara merdu Ibu Guru yang menuntun anak-anak menjeritkan nama dari huruf-huruf yang ada di papan tulis dan seketika itu juga aku tersenyum. Teringat lagi masa ketika aku belajar membaca dulu, rasanya begitu bersemangat, hebat dan luar biasa. Hanya dengan membaca, entah kenapa aku merasa bisa menyerap seluruh ilmu di dunia ini. Entah kenapa, dengan membaca, aku merasa jiwa mudaku kala aku masih kanak-kanak begitu membara.

Ternyata, api di hatiku belum padam. Ternyata, jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih ingin bermimpi untuk bisa membaca lagi.

Aku melamun sambil berjalan, hingga tanpa sadar aku sudah berada di dalam tenda itu dan berdiri membatu di deretan paling belakang sambil menatap papan tulis yang penuh dengan huruf  berwarna warni. Hatiku menghangat, air mata rasanya ingi meleleh. Hingga tiba-tiba saja seruan nama-nama huruf itu berhenti bergema dan digantikan dengan suara seorang wanita yang menjeritkan namaku.

Mash’Allah, Budi?!”

Sekonyong-konyong seluruh mata di dalam tenda itu menatapku, dan aku balas menatap ke arah wanita yang meneriakkan namaku tadi. Wanita itu ternyata Ibu Guru yang tengah mengajar, ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekatiku dengan tatapan tak percaya. Aku mengerutkan keningku keheranan, tapi semakin dekat wanita berkerudung biru itu padaku, semakin luntur kerutan di dahiku dan digantikan dangan mata yang melotot.

“Annisa?”

Senyum wanita itu merekah seperti bunga di pagi hari, ia terlihat sangat bahagia saat mata kenarinya bertemu dengan mataku. “Iya, Bud! Ini aku! Annisa! Astaga! Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi!” Annisa meloncat-loncat kecil seperti menahan diri untuk tidak memelukku karena komitmen hijab-nya melarang begitu, tapi dengan begitu saja aku sudah bisa merasakan  kebahagiaannya memeluk tubuhku erat. Membuatku turut bahagia.

Dan hari itu, menjadi hari di mana seluruh duniaku kembali penuh dengan mimpi.

ooo

‘Bud, kenapa kamu tidak ambil paket C?’

Terngiang lagi dibenakku pertanyaan Annisa petang tadi saat kami duduk bersisian di depan tenda Sekolah Pelangi sembari menatap nanar jalanan, mengenang masa lalu. Sudah kukisahkan seluruh ceritaku padanya sejak kami terpisah dulu, tentang bagaimana perumahan kumuhku terbakar, Bapak yang lumpuh, dan aku yang akhirnya bekerja banting tulang untuk melanjutkan hidup. Annisa pun ikut berkisah, ia ceritakan tentang dirinya yang tak bisa berhenti memikirkanku—bocah laki-laki kecil yang diajarinya membaca tempo dulu—hingga akhirnya bersama kawan-kawan kampusnya ia membangun sekolah ini dengan harapan menolong anak-anak sepertiku dulu.

Aku benar-benar terkesan dengan semangat Annisa dan kisahnya, ia begitu menyanjungku dengan berkata mataku yang kala itu terlihat senang saat membaca benar-benar menginspirasinya. Hal itu semakin memberatkanku tatkala akhirnya kukatakan padanya kalau aku telah menyerah untuk belajar membaca sejak dulu kala. Annisa bertanya kenapa, tapi aku hanya menjawab seadanya kalau aku tak bisa makan jika hanya belajar membaca. Lalu Annisa pun menawariku sesuatu yang sangat luar biasa.

‘Bagaimana jika aku kembali mengajarimu membaca dan menulis? Lalu tahun ini kamu ikut ujian Paket C. Aku akan membantumu mengurus segalanya. Jangan menyerah, Budi! Jangan menyerah dengan mimpimu! Kemana perginya semangat jiwa mudamu kala itu?’

Aku terenyuh mendengar perkataannya, tapi aku tak bisa menjawab ‘iya’. Aku meminta waktu untuk berpikir, ini tawaran yang begitu menggiurkan, tapi aku terancam memotong jam kerjaku dan ada banyak hal yang harus aku pikirkan sekarang. Terutama Bapak.

Sambil melamunkan pertemuanku dengan Annisa, kulihat Bapak duduk bersandar di tembok sambil mengelus Bagong dan meniupkan debu-debu yang menempel di sana. Aku tersenyum tipis padanya, dan ia menatapku datar. Entah kenapa, aku merindukan Bapak yang dulu, Bapak yang berisik dan penuh semangat. Meskipun ia pemarah, aku tahu, Bapak sebenarnya sayang padaku.

“Budi…” tiba-tiba Bapak memanggilku dan aku langsung mendekat pada Bapak dan bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakan Bapak. Bapak sangat jarang berbicara padaku akhir-akhir ini.

“Ada apa, Pak?”

Bapak diam sesaat, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia mengatakan sesuatu yang sama sekali belum pernah kudengar terlontar dari mulutnya.

“Maafkan Bapak.”

Aku terperanjat, mengerjap, tapi dengan sigap aku mengendalikan emosi dan menggelengkan kepala. “Gak ada yang perlu dimaafin, Pak. Budi gak papa.”

Bapak menatapku lekat-lekat, lalu perlahan menyodorkan Bagong padaku. Aku masih tidak paham apa maksud Bapak, sampai akhirnya kulihat mata tua itu melelehkan air dan memaksaku untuk menerima Bagong.

“Maafkan Bapak, Bud…” katanya di sela isak tangis, aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa diam. “Bapak salah. Ambilah ikat pinggang ini, ambilah. Bapak tak akan menghalangimu lagi bermimpi. Kejar mimpimu, Bud. Bacalah seluruh buku di dunia ini.”

“Bapak…”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku Bapak memelukku, air matanya luruh di bahuku dan aku pun balas memeluk Bapak begitu erat lalu turut ikut menangis. Kugenggam Bagong erat-erat di belakang punggung Bapak, seolah-olah sedang menggenggam mimpi di tanganku. Dan teringat lagi di benakku serta masa ketika Bapak memecutku menggunakan Bagong dan aku tak pernah menyerah bermimpi meski tubuhku penuh dengan bilur. Kini, kutemukan kembali semangat jiwa mudaku kala itu; kala semua mimpi rasanya masih mungkin kudapat. Bagong sekarang ada di tanganku, tak ada lagi yang bisa menghalangiku karena aku telah menaklukan pengalang terbesarku. Besok hari, kupastikan pada diriku sendiri kalau aku akan menjawab ‘iya’ pada tawaran Annisa.

Dan aku percaya kalau aku  tidak akan menyesalinya.

 

ooo

 

“Pak, kenapa Bapak kasih nama ikat pinggang itu Bagong?”

Ilham, anak laki-lakiku yang kini berusaha tujuh tahun, tiba-tiba saja meloncat ke pangkuanku dan menunjuk Bagong yang kupajang di ruang tamu rumahku dalam sebuah kotak kaca. Sepertinya ia baru selesai mandi dan Ibunya masih sibuk memasak makan malam, jadi ia mencari-cari masalah dengan menggangguku yang  sedang sibuk menyelesaikan naskah film pesanan seorang sutradara ternama.

“Emangnya kenapa, eh?” kuletakan laptop di atas meja, lalu berdiri sembari menggendong Ilham, kemudian melangkah mendekati Bagong yang diam terpajang. Kini Ilham bisa melihat Bagong dengan lebih jelas.

“Penasaran aja, Pak, namanya lucu. Hahaha.”

“Bapak dulu kasih nama Bagong karena Bapak gak suka sama ikat pinggang ini,” jawabku akhirnya.

“Kenapa Bapak gak suka?” Ilham masih saja bertanya, tapi pertanyaannya itu justru menghantarkan ingatanku pada masa-masa lampau seperti kilatan di sebuah film lawas.

Tahun itu, aku mengikuti ujian Paket C dan lulus. Tapi tidak hanya sampai di situ, Annisa benar-benar membantuku hingga aku bisa meraih seluruh mimpiku. Ia tidak hanya mengajariku menulis dan membaca, ia juga memberiku banyak sekali buku untuk kubaca setiap hari. Dari buku anak-anak sampai akhirnya ia memberiku buku-buku berat. Lalu ia pun mengajariku untuk menuliskan keseharianku pada sebuah buku, lambat laun, tulisan itu semakin menumpuk dan berubah menjadi kisah-kisah fiktif. Beberapa tulisan ternyata dikirim Annisa ke surat kabar, banyak dari tulisan itu ternyata dimuat dan aku pun mendapatkan nama serta royali dari sana. Hingga singkat cerita, kegiatan menulis sudah seperti bernapas bagiku dan tahu-tahu aku sudah memiliki royalti yang cukup untukku mengkredit sebuah rumah dan kendaraan. Lalu, meminang wanita yang mewujudkan seluruh mimpi-mimpiku itu untuk membalas segala hal yang telah ia berikan padaku dengan membahagiakannya.

“Yeeeh! Bapak malah melamun!” suara cempreng Ilham mengembalikanku ke momen ini, dan aku pun hanya tersenyum padanya.

“Bagong ini dulu punya mendiang Mbah,” kisahku dengan ingatan tentang dua tahun lalu saat Bapak menyerah dengan umurnya. Tapi aku bersyukur, sebelum Tuhan memanggil Bapak, aku sudah sempat memboyongnya mencium Kaabah. “Dulu, waktu Bapak bandel, Mbah suka marahin Bapak pake ini. Makanya Bapak gak suka.”

“Kalau gak suka kenapa Bagong gak dibuang aja sih, Pak?”

Aku melebarkan senyumku. “Meski gak suka, Bagong itu sudah berjasa dalam hidup Bapak.”

Dahi Ilham berkerut, bingung. “Memangnya berjasa apa?”

Kuusap kepala anakku dan menatap matanya lekat-lekat, lalu berkata, “Nak, Bogong mengajari Bapak untuk terus bermimpi meski hidup menekan mimpi Bapak. Bagong membecut Bapak untuk terus bersemangat meski rasanya sakit sekali. Bagong mengajari Bapak, sejak Bapak masih muda dulu, kalau jiwa muda dalam dirimu…” aku menunjuk dada Ilham dan melebarkan senyumku, sementara Ilham balas menatapku penuh sorot kesima.

“Harus terus menyala sampai kapan pun juga.”

Tamat.

A/N:

Cerpen ini memenangkan Lomba Cerpen HUT SMAVEN Atmosphere dengan teman ‘Semangat Jiwa Muda’. Semoga saja cerpen ini memang pantas menang karena aku menulisnya seperti dikejar setan. Hahaha.

7 pemikiran pada “Bagong

  1. Baru kali ini loh aku baca cerita kamu sampai habis tanpa sadar, padahal ini lumayan panjang ya.

    Ceritanya sih sinetron banget ya, tapi cara penyampaian kamu di cerita itu ini kerasa banget feelnya. Semuanya terasa nyata, karakter tokoh tokohnya tuh kuat banget, terutama ya si budi itu.

    Entah kenapa aku suka adegan setiap si budi di pukul dengan bagong, saya suka melihat tokoh budi ini teraniaya hahaha *Berasa psikopat*

    Kalau di lihat dari sisi orang pada umumya, tokoh si bapak ini kesannya kejam. Padahal kalau di lihat dari sisi – maaf ya -pemulung, anggapan si bapak juga ada benernya, karena bagi mereka yang penting hanyalah mencari uang untuk menyambung hidup.

    btw, yang jadi istrinya budi siapa? anisa kah?

    dua jempol deh, diksinya itu simpel banget dan mudah di mengerti dan hayati oleh orang dengan otak pentium 2 kaya aku hahaha

    1. Maaf, Bang, baru balas komentarnya nih. Padahal saya sudah baca dari kemarin-kemarin.

      Terima kasih komentarnya. Saya justru kaget dapat Komentar positif dari Kakak. Pasalnya cerpen ini lumayan membosankan bagi sebagian orang.

      Terima kasih banyak. Dirimu selalu disambut banyak di sini, Kak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s