[Coretan Dicta] Mengumbar Luka

IMG_20029113964256[1]

Hidupku ini lucu, atau mungkin, aku sendirilah yang membuatnya lucu. Entah dari mana datangnya coretan ini, tapi aku tahu pasti coretan ini ditulis karena ada dorongan dalam hatiku untuk melakukannya.

Seperti biasa, setiap kali aku bercorat-coret, yang aku lakukan adalah bercermin dan memandang diriku kembali sebagai sosok seorang manusia. Kali ini, aku ingin mengangkat sisi buruk diriku yang belakangan baru aku sadari dan mencoba untuk menemukan jawaban dari permasalahan itu.

Hidup seseorang tak pernah mulus. Pasti ada saat di mana ia jatuh dan terluka—entah itu luka yang tampak di tubuh atau luka yang menyerang perasaan. Semua luka itu melekat dan membekas, dan perlahan-lahan membentuk diri kita sebagai sosok manusia yang sekarang hidup.

Diri kita yang sekarang, tidak pernah bisa lepas dari luka-luka yang telah kita alami di masa lalu. Aku percaya itu. Misalnya saja, saat kita terjatuh dari sepeda dan lutut kita terluka hingga meninggalkan bekas. Tiap kali kita melihat bekas luka di lutut itu, kita pasti akan selalu teringat akan kejadian jatuh dari sepeda waktu itu dan kadang menyesali diri kenapa dulu tidak berhati-hati. Namun, dari sana pun kita belajar, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Sama halnya luka yang tidak tampak. Sebagai manusia, Tuhan menciptakan kita lebih dari makhluk lainnya dengan memberi kita dua bakat, akal budi dan hati nurani. Akal budi memberi kita kemampuan untuk berpikir rasional, sementara hati nurani mengajari manusia untuk mengerti apa artinya cinta kasih. Dari sanalah kita dibentuk menjadi sosok manusia yang unik satu sama lain karena akal budi dan hati nurani setiap individu manusia berbeda-beda.

Sekarang pertanyaannya, kenapa dua hal itu bisa berbeda-beda pada tiap manusia padahal ketika kita dilahirkan di dunia ini kita bagai kertas putih yang sama?

Jawabannya adalah luka.

Ilmu sosiologi mengukapkan adanya proses sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan, juga faktor bawaan lahir yang disebut faktor biologis sebagai alasan terbentuknya karakter seseorang. Hal-hal toritis itu barang tentu sudah cukup menjelaskan tentang luka yang aku maksud di sini. Tapi secara spesifik, aku ingin merujuk pada luka-luka yang diberikan orang lain hingga sangat berdampak dalam cara kita memandang hidup kita sendiri juga memengaruhi karakter serta watak.

Sekali lagi, aku percaya, setiap luka pasti meninggalkan bekas—entah itu luka yang dalam atau hanya sekadar goresan—dan bekas-bekas luka itulah yang menjadikan diri kalian yang sekarang. Luka-luka itu pasti sembuh, entah itu luka yang telihat atau tidak, karena setiap luka pasti ada obatnya termasuk untuk luka yang tidak terlihat.

Luka adalah rasa sakit yang disebabkan oleh sesuatu atau diberikan oleh orang lain pada diri kita secara fisik atau psikis.

Begitulah aku mendefinisikan luka. Nah, sekarang kalian sudah mengerti dengan luka yang aku maksud di sini. Tapi coretan ini bakalan berfokus pada luka yang tidak terlihat, karena aku sendiri telah merasakannya nyaris seumur hidup. Jika sekarang kalian membaca coretan ini, mari bayangkan diriku tengah duduk di depan kalian dan menggenggam sebuah amore besar tiga dimensi yang melambangkan hatiku.

Warna hatiku sekarang kusam karena belakangan aku jarang membersihkannya dengan doa-doa dan meditasi. Kalian juga bisa lihat banyak bilur juga luka di sana, jadi mungkin bentuknya agak penyok ke kanan atau ke kiri. Luka-luka itu kebanyakan diberikan oleh orang lain—entah itu keluarga atau bahkan orang yang baru aku kenal sebentar—tapi tak sedikit pula aku sendirilah yang merelakan luka itu datang dengan berbagai prasangka serta perasaan sensitif.

Di bagian belakang hatiku ada luka lama yang membusuk, baunya sedikit amis karena aku tak bisa melupakannya sampai sekarang. Luka itu  aku dapatkan saat masih duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, akibat ejekkan teman-temanku soal berat badan; hinaan seorang Om-ku yang menyebutku ABG (Anak Botol Galon); peringatan Om-ku satunya lagi yang mengatakan kalau aku adalah besi bengkok dan tak bisa lagi lurus; pertengkaran-pertengkaran tak berarti dengan Mama; dengki dengan adikku yang rasanya mendapatkan banyak sekali perhatian; dan masih banyak lagi luka-luka lain yang tercipta dari masa itu.

Aku sudah mencoba untuk mengobati luka itu dengan menunjukkan kalau mungkin aku tidak secantik mereka tapi aku masih punya otak untuk kupamerkan. Maka, akibat dari luka-luka itu, aku menjadi gadis yang begitu jumawa. Aku belajar mati-matian; berharap mereka akan menghargai otakku. Jika punya kesempatan, aku akan menunjukkan kemampuan intelejensiku—bertanya tentang apa saja pada guru, rajin mengerjakan PR, memburu peringkat atas kelas, dan lain-lain. Aku tak bisa memikirkan hal lain selain belajar, hingga akhirnya, waktu memperlihatkan kalau sifat jumawa itu menghantarkanku pada luka yang kedua.

Luka yang kedua ada di sisi kiri. Hati-hati! Jangan di sentuh! Meski terlihat sudah lama sekali, luka itu belum kering benar. Kalian bisa lihat nanah-nanah yang masih lengket dan baunya tak kalah mengerikannya dengan luka yang sebelumnya. Luka itu aku dapat saat masa-masa SMA-ku dimulai. Hanya tiga tahun, Kawan, tapi sepanjang waktu itu banyak sekali yang terjadi. Rasanya seperti sedang mengarungi laut menggunakan sampan yang terbalik diterjang badai. SMA bukanlah masa yang aku rindukan.

Hatiku dilukai dengan pandangan jijik dan ejekkan tentang berat badan yang semakin menjadi; beberapa orang mengomentari sifat jumawaku dengan pedas; tatapan sinis kuterima setiap hari; tak ada yang mau bekerja dalam satu kelompok denganku karena aku siswi yang merepotkan; mereka menyebutku ‘talkactive’ secara terang-terangan, padahal dibelakang mereka menyebutku banyak omong karena selalu menanyakan hal yang tidak penting pada guru; aku tak pernah mendapatkan serangan fisik, tapi perasaan tertekan karena seluruh kondisi itu begitu menekanku lebih sakit dari pada dipukuli, ditambah lagi…

Ayahku berpulang ke pangkuan-Nya saat aku kelas dua SMA.

Hanya segelintir teman sekelasku yang datang melayat, beberapa yang lain tak sudi datang entah karena apa dan lebih memilih menggunakan kesempatan membolos jam pelajaran itu dengan pergi bermain game. Saat itu aku tersenyum menyambut teman-temanku yang melayat, tapi luka kembali tergores tatkala kudengar kenyataan di baliknya kalau mereka menggunakan kesempatan melayat itu untuk membolos dan pulang sekolah lebih cepat saja.

Sepeninggal Papa, luka di hatiku masih berlanjut dengan jarak yang tercipta dengan Mama dan keluargaku sendiri. Aku tak bisa mempercayai orang rumah, mengurung diri, dan mencoba untuk menahan luka itu sendiri. Akibat dari luka itu nilaiku di sekolah anjlok, karena otakku ternyata dihargai tak lebih dari tong kosong nyaring bunyinya. Aku merasa tak lebih berharga dari seorang gadis gendut jelek yang banyak omong.

Lalu akhirnya, aku mencoba untuk mengobati luka itu dengan mengubah sifatku. Aku jadi pendiam di kelas, tidak lagi berambisi menjadi yang nomor satu tapi lebih memilih menjadi siswa biasa dan tak terlihat. Aku punya beberapa teman dekat, cukuplah mereka mengerti dan aku nyaman bersama mereka. Aku pun mulai berpikir untuk diet dan merasa kalau menjadi cantik merupakan hak setiap perempuan di muka bumi ini.

Alhasil, aku berhasil menurunkan berat badan dan perubahan sifatku disadari oleh teman-temanku yang lain. Orang-orang yang dulu bersikap buruk padaku mulai tidak menganggapku lagi dan memilih mangsa yang lain. Beberapa orang mulai mau menyapaku, padahal dulu boro-boro menyapa, melihat ke arahku pun mereka tak sudi. Aku senang dengan diriku yang baru, aku yang tidak jumawa di kelas, berotak biasa-biasa saja dan lebih kurusan. Tapi tetap saja, luka itu masih ada—meninggalkan bekas juga bernanah—dan tetap membuatku menitikkan air mata tiap kali mengenangnya.

Lalu, silakan lirik sedikit ke sisi kanan. Di sana juga ada luka. Luka di bagian ini adalah luka-luka khusus. Luka-luka yang masih terus kucoba sembuhkan sampai sekarang, karena selama ini aku terus mengabaikan luka-luka itu. Bau anyir menguar dari sana, memberikan kombinasi terburuk dari seluruh luka-luka yang ada.

Satu luka khusus itu tercipta saat aku masih SMP, kelas tiga. Luka ini tercipta karena rasa bersalah pada seorang kawan lama yang hidupnya menyimpang. Ia banyak berkisah padaku tentang hidupnya, ia percayakan seluruh kisah itu padaku, dan aku menjaganya dengan baik. Tapi karena satu masalah sepele, aku menjadi begitu membencinya. Aku menjauh darinya, padahal aku tidak pernah memusuhi orang lain sebelum ini, dan ia adalah orang pertama dan terakhir yang aku musuhi. Semakin ke sini, perasaan bersalah itu berkembang, tapi kami telah lulus dan aku tak sempat meminta maaf karena sikap burukku. Beberapa waktu yang lalu, sebuah mimpi yang kuingat jelas sampai sekarang, muncul. Di dalam mimpi itu aku bertemu lagi dengannya dan mengemis meminta maaf. Ia memaafkanku di mimpi itu tapi wajahnya menatapku jijik. Saat aku bangun aku menangis sedikit, tahu benar kalau karma akan datang padaku.

Luka khusus lainnya kudapat dari orang yang bahkan tak tahu seperti apa wajahnya. Aku mengenalnya di dunia maya—seorang penulis senior—yang mengatakan kalau tulisanku banyak yang harus diperbaiki. Aku mengenalnya sebentar, hanya beberapa bulan, tapi aku mengenalnya bersamaan dengan masa-masa berat pengobatan Papa yang sedang sekarat waktu itu.

Meskipun begitu, aku adalah tipe penulis yang menjadikan kegiatan menulis sebagai obat stres untuk mencegah kegilaan vatal di kemudian hari—yeah, seperti saat aku menulis coretan ini. Jadi, aku tetap eksis di Twitter juga di blog meski pun saat itu aku harus berjaga di rumah sakit. Secara pribadi, aku sangat berterima kasih dengan penulis senior ini karena aku mendapatkan banyak sekali ilmu darinya. Ia sempat mengajariku banyak hal dan menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam tulisanku. Tapi lama-kelamaan sifatnya yang semena-mena mulai menoreh luka, menyindirku tanpa mention; membuatku terpaksa menutup akun Twitter karena frustasi; hingga yang paling tak bisa kutahan lagi adalah menuduhku menjiplak karyanya—karya duetnya yang ia tulis satu tahun yang lalu.

Astaga, aku bahkan baru mengenalnya beberapa bulan, mana kutahu tentang tulisan yang ia buat setahun yang lalu! Aku murka sekali, ditambah lagi karya yang ia tuduh hasil jiplakan adalah cerpen yang terinspirasi dari kondisi Papa yang sedang opname dan menjalani serangan pertamanya dan pengetahuan religius agama Katolik. Hanya karena nama tokohnya yang serupa, dan temanya yang tentang hidup setelah kematian, maka sekonyong-konyong ia tuduh menjiplak? Aku bahkan tidak tahu tulisan karya duetnya yang dia tuduh kujiplak karena ia tidak memberiku link-nya. Saat itu, aku benar-benar kalap, aku menangis sesungkukkan tak jauh dari tempat tidur Papa di rumah sakit. Luka yang ia torehkan begitu dalam dan sampai sekarang aku masih tak tahu bagaimana cara mengobatinya.

Untuk membuat perasaanku lebih baik, aku hanya bisa menghilang dari peredarannya; berhenti berinteraksi dengannya juga orang-orang yang turut mengenal penulis senior itu. Aku tak mau lagi berurusan dengannya bakan sejengkal kata pun. Aku membuat akun media sosial yang baru, dari email, facebook, twitter dan lain-lain. Hanya blog-ku ini saja yang tidak kuganti karena aku merasa semua tulisanku di sini adalah murni karyaku sendiri. Kalian juga masih bisa membaca karya yang dituduh menjiplak itu di sini (link), aku tidak takut memamerkannya karena aku yakin itu murni karyaku.

Dan aku terus menulis.

Iya, aku terus menulis dan berkarya meskipun ia menuduhku menjiplak; untuk membuktikan kalau aku tidak  pernah secuilpun menjiplak karya orang lain. Aku ikut komunitas menulis lain yang menyambutku begitu hangat—Poetica. Mereka menuntunku dengan ramah dan cinta yang mendalam selayaknya kakak senior baik hati. Mereka kadang galak pada tulisanku, tapi mereka begitu karena aku tahu mereka sayang padaku. Di sana aku menemukan keluarga, di sana aku mendapatkan ilmu yang lebih dalam dari sekadar menulis. Di sana aku menemukan orang-orang dengan tujuan yang sama, dan aku tak pernah merasa ditekan atau pun terpaksa merendahkan diri serendah-rendahnya saat mengobrol karena mereka mengajakku untuk belajar bersama.

Selain Poetica, aku juga berkenalan dengan seorang Kakak yang sangat baik hati. Ia sering menjadi editor tulisanku, memberiku komentar pedas tapi dengan alasan yang tepat. Tulisannya juga sungguh fantastis, unik dan menarik, tapi meski begitu ia tetap rendah hati dan tidak jumawa. Ia selalu menganggap tulisannya biasa saja, hanya pelampiasan imajinasi. Tapi aku mengakui tulisannya lebih dan lebih dari itu. Kakak itu juga mau mendengarkan cerita-ceritaku, membantuku bangkit saat terpuruk dituduh menjiplak, juga bersikap seperti Kakak yang selama ini tak pernah aku miliki. Aku bersyukur berkenalan dengannya, padahal aku hanya berinteraksi dengannya lewat chat room. Tapi aku tahu ia selalu ada di sana dan mau mendengarkan segala keluh kesahku. Ia salah satu orang terbaik yang pernah aku miliki dan kukenal.

Maka, bersama orang-orang hebat itu, aku menemukan mimpiku.

Melihat dan membaca karya mereka, membuat dadaku terbakar dengan semangat membara kalau ini jalanku.  Aku benar-benar yakin ada ruang untukku berkarya di jalan ini, karena untuk yakin tentang hal ini aku harus menerima luka khususku yang ketiga.

Luka ini baru kurasakan selama setahun, dalam perkara memilih jurusan kuliah. Saat itu aku kalap mengejar ITB-Sekolah Bisnis Manajemen, seperti kerasukkan setan keras kepala dan optimisme aku nekat mendaftar ke sana dan akhirnya ditolak. Tidak ada pilihan kedua, otomatis aku resmi menganggur selama satu tahun belakangan ini.

Selama setahun belakangan inii aku mengalami banyak pergejolakan di dalam keluargaku. Semua orang kecewa dengankku, kalian bisa baca sendiri di beberapa coretan sebelum ini karena semuanya mengisahkan kondisi hatiku yang berbeda-beda. Banyak luka yang aku terima, banyak air mata yang jatuh di pipiku. Perseteruan dengan Mama memuncak saat perayaan Natal yang semestinya disambut gembira. Hingga akhirnya aku menyerah…

Aku tidak lagi mengejar ITB. Institut itu benar-benar hanya mimpi untukku.

Itu luka yang sampai detik ini tak bisa kubereskan. Meski kutahu Tuhan menggagalkan impianku ke ITB adalah cara lain untuk menunjukkan mimpiku yang sebenarnya, yaitu mempelajari sastra. Untuk menyembuhkan hatiku, aku akhirnya memilih melancong ke Yogyakarta dan mengejar universitas beken lainnya yaitu UGM dengan jurusan Sastra (masih belum yakin mau pilih sastra apa, tapi pokoknya sastra!). Aku belajar yakin dengan pilihan ini, meski tidak kerasukan setan optimesme seperti saat mengejar ITB, tapi aku cukup keras kepala mempertahankannya hingga akhirnya Mama menyerah untuk mengintrupsi pilihanku.

Aku belajar memahami Mama, dan Mama pun belajar memahamiku. Aku coba untuk membuktikan kalau pilihanku ini akan benar-benar kujalani dengan baik, dan Mama sepertinya mulai ngerti. Hubunganku dengan Mama jauh lebih baik saat malam tahun baru aku curhat habis-habisan dengan Mama—sesuatu yang tak pernah aku lakukan sebelumnya—dan mencoba untuk mempercayai orangtuaku satu-satunya itu. Dan kondisi kami sekarang? Mama kini terasa dekat denganku lebih dari yang selama ini aku rasakan. Mama adalah wanita luar biasa yang sepertinya baru kukenali dengan sungguh beberapa bulan belakangan ini.

She is my hero, tidak diragukan lagi.

Tapi tetap saja, hahaha, ITB tetap terbayang-bayang di benakku. Sampai sekarang. Tapi aku mulai belajar merelakannya karena kutahu itu hanyalah debu bintang yang Tuhan berikan padaku. Ada mimpi lain yang sepertinya terlihat sangat jelas di depan mataku.

Nah, inilah hatiku—amore tiga dimesi yang kalian lihat sebagai perumpamaan hatiku ini adalah perasaan penuh luka yang membentuk karakterku sekarang. Hatiku memang buruk rupa, tapi masalahku sekarang justru bukan karena luka-luka itu. Masalah yang kuhadapi sekarang adalah aku mulai gemar memamerkan hatiku yang busuk ini.

Pernah dengar sindrom minta dikasihani dengan  mencari perhatian?

Ya, Drama Queen. Itu aku. Di berbagai kesempatan, entah di media sosial atau di chat room antara dua orang atau lebih, aku jadi semakin gemar memamerkan hatiku yang penuh luka. Berharap mendapatkan komentar tentang betapa hebatnya aku karena bisa bertahan membawa hati seperti itu seumur hidup.

Rasa jumawa yang dulu sempat sirna berlahan-lahan muncul kembali, dan aku sadar betul itu berbahaya karena akan mengundang reaksi jelek dari orang-orang sekitarku. Tiap kali aku menceritakan salah satu kisah tentang luka-lukaku itu kepada orang lain, aku mendapatkan respon dingin, dan detik itulah aku mulai sadar kalau orang-orang tak ingin mendengar kisah tentang lukaku.

Aku mulai merasa malu dan menyesali tindakkanku itu.

Padahal sejak awal harusnya aku memang merasa malu. Tak perlu mengumbar luka, karena luka itu menyisakan bekas yang jelek dan buruk rupa seperti kunat yang aku dapatkan saat kecelakaan sepeda motor dulu. Kenapa aku justru merasa bangga dengan luka-luka di hatiku itu padahal seperti yang kalian lihat sendiri kalau hatiku begitu busuk?

Rasa sadar akan hal ini menghantarkanku menulis coretan ini. Coretan ini kutulis sebagai peringatan juga jawaban bagi diriku sendiri kalau aku tak perlu lagi mengumbar luka-luka di hatiku. Tidak ada gunanya, selain membuat luka itu terkoyak kembali dan bernanah serta menyebarkan aroma busuk ke orang-orang yang mendengarkannya.

Bisa kurasakan, luka-luka yang kusembunyikan ini akan membuatku menjadi sosok yang tak banyak menceritakan tentang dirinya di dunia nyata maupun di sosial media. Aku juga akan berhenti mempercayai orang lain bahkan orang-orang terdekatku sendiri karena aku tahu mereka tak ingin mendengarnya. Aku akan menelan sendiri luka-luka itu karena tak ada seorang pun di dunia ini yang mau berbagi luka denganku atau bahkan mendengar kisah dibaliknya.

Iya, cukup aku seorang yang merasakannya.

Tapi tentu saja, aku akan tetap menuliskannya di sini, dan mem-posting coretan ini di blog. Coretan ini akan menjadi pengakuan pertama dan yang terakhir tentang nyaris seluruh luka-luka di hatiku. Aku tidak akan menceritakan luka-luka ini pada orang lain selain di blog karena aku tahu, aku hanya bisa jujur pada tulisanku. Menulis benar-benar dokter bagi jiwaku dan membantu untuk tetap waras—aku menulis untuk diriku sendiri. Aku sungguh berterima kasih pada kegiatan ini karena tanpa menulis aku mungkin sudah masuk rumah sakit jiwa karena mencoba menghadapi luka-luka itu sendirian.

Terima kasih untuk kalian yang membaca coretan ini sampai selesai. Kini kalian tahu seperti apa bentuk hatiku yang penuh luka. Aku tidak meminta kalian untuk mengerti karena aku sudah terbiasa disalahpahami. Hahaha. Seperti yang aku bilang di awal tadi, aku menulis coretan ini karena sedang gundah dan mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul di hidupku. Mungin aku tidak menemukan jawabannya, tapi sekarang aku memiliki coretan yang sebentar lagi akan tuntas dan hati yang terasa lebih baik.

Maka, izinkan aku untuk menyimpan kembali amore tiga dimensi yang melambangkan hatiku ini ke dalam rongga dadaku. Kalian bisa tinggalkan aku sendiri dan abaikan saja coretan ini tanpa perlu berkomentar karena aku menulis ini memang tanpa mengharapkan tanggapan selain diriku sendiri.

Aku telah berjanji pada diriku sendiri kalau luka-luka ini tak akan kuumbar lagi ke khalayak umum karena orang-orang tak pernah ingin melihat hati sebusuk itu. Aku menulis ini, hanya untuk kepuasan pribadi dan pelampiasan terakhirku sebelum aku benar-benar menutup hati.

Sampai kelak, suatu hari nanti kutemukan orang lain yang mau berbagi luka denganku, memeluk hati busuk ini dengan lapang dada, dan menerimaku apa adanya serta mampu membuatku mempercayai seluruh luka-luka di hatiku untuk ia sembuhkan. Saat itu juga aku akan menghapus posting-an ini karena aku sudah tak punya lagi luka untuk aku umbar ke mana-mana.

Benedikta Sekar

Yogyakarta

19-3-15, jam 01.50 WIB

(sejujurnya, aku nyaris membatalkan niatanku mem-posting coretan ini, rasanya tak ada bedanya dengan cari-cari perhatian. Tapi akhirnya ku-posting juga karena coretanan ini benar-benar akan menjadi yang terakhir aku berkisah tentang luka-lukaku pada orang lain)

3 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Mengumbar Luka

  1. “Coretan ini kutulis sebagai peringatan juga jawaban bagi diriku sendiri kalau aku tak perlu lagi mengumbar luka-luka di hatiku.”
    <~~ Mari pegang teguh kata2 itu.

    Luka bukan untuk selalu dipandangi atau bahkan dicongkel-congkel. Jadikan luka sebagai bahan introspeksi dan menata diri. Tetap semangat, Gusti ora sare…

    Berkah Dalem..🙂

  2. Ping-balik: SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s