Shiawase

pink-rose-flower-red-ribbon-flowers

Roppongi bukan tempat bagi bangunan sederhana seperti  Happy Petals—toko bunga satu-satunya di distrik itu. Sudah nyaris satu dekade ruko dua lantai itu tidak dipugar oleh pemiliknya, entah karena ketiadaan dana atau memang sengaja ingin menonjolkan sisi tua yang unik di antara bangunan beton. Namun, bagi Yukimura Kou sendiri, ia tidak begitu peduli dengan perkara itu.

Kling! Klang!

Irasshaimase[1]!

Tepat jam dua belas siang, pria dandy itu melewati pintu kaca Happy Petals yang sudah ia hindari selama delapan tahun. Toko ini terasa lengang lantaran dua pegawai yang biasanya melayani pergi makan siang. Hanya ada seorang wanita berambut panjang sepunggung yang duduk manis di balik meja kasir. Ia tersenyum begitu ramah, tapi matanya kosong seperti tak tahu ke mana senyum itu ditujukan.

“Anda mencari bunga apa?” wanita itu bertanya tanpa bergerak dari tempatnya. Kou hanya tersenyum, lupa kalau wanita itu tak dapat melihatnya.

“Namaku Koizumi Haruka, pemilik toko ini.” Wanita bernama Haruka itu buru-buru menimpali; merasa sedikit tidak sopan karena bertanya tanpa menyebutkan nama. “Apakah Anda sedang mencari bunga untuk pasangan Anda?”

Sol pantofel milik Kou yang berketuk di lantai kayu menjawab pertanyaan itu. Sesungguhnya ia sendiri bingung ingin membeli bunga apa untuk wanita itu.

“Menurutmu, Haruka-san…” Kou menoleh pada wanita itu. “Bunga apa yang paling membuatmu bahagia?”

Haruka terdiam, ekspresinya berubah kaget untuk beberapa detik. Namun, wanita itu terkejut bukan karena pertanyaan yang ia terima. Melainkan karena suara bariton itu membangkitkan kenangan manis di ingatannya.

“Haruka-san?”

“Eh?” Haruka tersentak, tanpa sadar ia diam terlalu lama. “Etto[2]bunga yang membuatku bahagia?” wanita itu terdiam lagi, tiba-tiba pikirannya kosong, tapi kemudian ia teringat satu bunga yang seringkali membuatnya gembira karena selalu dicari-cari orang.

 “Mawar. Aku suka mawar.” Senyum Haruka melebar, dadanya berdebar karena bahagia. “Bunga itu selalu membuatku merasa begitu dicintai.”

Mendengar itu Kou  melangkah menuju deretan bunga mawar yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sejenak ia terpekur saat melihat pilihan warna bunga yang begitu banyak, tapi akhirnya Kou memilih mawar merah muda karena  sangat mirip dengan rona wajah wanita itu.

 “Kalau begitu, aku beli bunga mawar,” kata Kou sesaat setelah berada di depan kasir sembari meletakkan buket mawar itu di atas meja.

Haruka lantas membuka laci dan meraba-raba gulungan pita-pita untuk mempercantik buket bunga itu. “Bunga mawar warna apa yang Anda beli?” tanya Haruka sebelum mengambil satu pita.

“Merah muda.”

Setelah mengetahui hal itu, Haruka mulai bekerja.  Gerakan wanita itu cukup cekatan, barang tentu karena ia sudah tinggal di tempat ini seumur hidupnya jadi ia sudah terbiasa.

 “Tuan?” suara manis Haruka memecah keheningan sementara tangannya terus bergerak. “Apa Tuan mau mendengar kisahku sembari  menunggu?”

Kou terpaku menyadari wajah wanita itu berubah begitu lembut.

“Dulu, orangtuaku meninggal dengan hanya mewarisi utang dan tempat ini.” Haruka mulai bercerita tanpa diminta. “Nyaris tiap hari komplotan yakuza datang kemari dan memaksaku meninggalkan tempat ini. Aku sangat ketakutan. Waktu itu aku hanya gadis belasan tahun yang tak tahu apa-apa, tapi aku juga tak ingin menyerahkan tempat ini karena di sini rumahku.”

Haruka menarik napas sejenak. “Hingga pada suatu hari, komplotan yakuza itu datang dengan peringatan terakhirnya. Mereka mengancam dan memukuliku, aku bahkan nyaris diperkosa karena bersikukuh, tapi hari itu juga seseorang menyelamatkanku.”

Haruka tersipu dan Kou masih terkesiap. “Ia datang tiba-tiba, melindungiku dari orang-orang jahat itu dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Kejadian itu berlangsung cepat. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah itu, tak ada lagi komplotan yakuza yang datang dan beberapa hari kemudian kutemukan banyak sekali uang di kotak surat. Uang yang aku butuhkan untuk membangun toko bunga ini kembali.”

Buket Mawar itu telah selesai diberi pita, Haruka tersenyum  pada Kou seolah-olah ia bisa merasakan di mana pria itu berdiri dan menyodorkan pesanannya.

 “Tapi, Tuan, aku tidak pernah melupakan suara pria itu,” kata Haruka dengan penekanan di setiap katanya.

“Tidak akan pernah.”

Kou mengambil buket bunga itu dan menggenggamnya erat, segera ia meletakkan uang yang lebih dari cukup untuk membayar bunga itu di atas meja tanpa banyak bicara. Tapi saat ia sudah ingin berbalik pergi, suara Haruka menahannya.

“Tuan, bolehkah aku tahu namamu?”

Kou diam sejenak. “Yukimura Kou.”

Wajah Haruka berseri, ronanya semakin tampak merah muda—sama  persis seperti bunga dalam genggaman Kou.

“Maukah Yukimura-san berjanji datang kembali?”

Haruka mengacungkan kelingking ke udara, menanti Kou menyambutnya. Namun, Kou sudah tak punya kelingking lagi, ia telah menyerahkan kedua kelingkingnya sebagai harga atas kesetiaan pada Klan Kodame yang memegang wilayah ini. Tapi ini bukan masalah besar, ia sudah lama hidup di jalanan dan membunuh banyak orang, menjadi satu di antara manusia bidah itu tentu sudah merupakan suatu kewajaran. Ia justru bersyukur kepalanya dihargai mahal oleh petinggi klan.

“Haruka-san.” Kou menyodorkan kembali buket bunga di tangannya pada Haruka, dan wanita itu refleks menyambutnya dalam pelukan. “Bunga ini untukmu.”

Kou tersenyum lebar;  bahagia karena ternyata dirinya masih hidup dalam ingatan wanita itu.

“Hiduplah dalam kebahagiaan.”

Fin.

A/N:

(796 kata tanpa termasuk footnote dan judul)

Cerpen ini terinspirasi dari puisi yang berjudul Engkau, Tempat Semua Bahagia Berada. Puisi ini dikarang oleh seorang teman blogger yaitu Dyaz Afryan yang di tulis dalam buku kumpulan puisinya yang bertajuk Nyawa. Kalian bisa beli bukunya di nulisbuku.com.

Aku sangat menyukai puisi ini, rasanya begitu menghangatkan jiwa ketika menemukan seseorang yang menjadi sumber hebahagiaan kita juga bahagia dalam hidupnya. Cerpen ini sungguh kudedikasikan pada puisi karya Kak Dyaz yang seharian kemarin menemaniku berteriak-teriak tidak jelas di dalam kamar karena hanyut dalam setiap katanya. Terima kasih, Kak, untuk puisinya. Teruslah berkarya!

Oh ya, judul cerpen ini Shiawase, artinya kebahagiaan dalam bahasa Indonesia. Semoga bahagia yang kucurahkan pada cerpen ini sampai padamu, Penikmat Kata, karena memberi bahagia barang tentu membuat kita menjadi lebih bahagia.

[1] Selamat datang! (bahasa Jepang)

[2] ‘Ehmmm…’ atau gumaman dalam bahasa Jepang

19 pemikiran pada “Shiawase

  1. Ping-balik: [Puisi] Engkau, Tempat Semua Bahagia Berada | dyazafryan

    1. Halo, Kak Ryan. Salam kenal ya. Panggil aja yang seenak Kakak, Bene boleh, Dikta juga boleh.

      Iya, saya baca tautan yang Kak Dyaz kasih. Saya senang sekali Kakak mau baca dan meninggalkan jejak. Hehehe. Semoga betah ya berkunjung di blog saya *deep bow*

      Salam kenal!

  2. Eh ada Mas Ryan juga yang berkunjung😀
    halo Dicta, sudah lama nggak mampir ke sini. Aku suka sama ceritanya, hangat meskipun ada kepedihan yang tersirat di sana. Atau mungkin ini perasaanku saja🙂

    1. Halo, Kak Ami, aduhhh… senangnya Kak Ami berkenan mampir *peluk*

      Iya, saya mau bikin cerita bahagia yang hangat di sini, dan iya, saya memang menyelipkan sedikit perasaan getir di sana. hahaha. Semoga bisa dinikmati ya kak😀 Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s