High Wire

Hanna Elizabeth

Hidup di Las Vegas membuat Sandra Smith melupakan apa itu ketenangan. Ia sudah terbiasa berada di bawah lampu sorot, bergelantungan di atas hoop  dan memanipulasi besi berbentuk lingkaran itu hingga membantunya menari erotis di udara. Orang bilang ia punya bakat, lantaran menjadi satu dari ratusan artis di Cirque Du Soleil saat umurnya belum lagi menginjak usia tujuh belas tahun dan tampil di pertunjukan utama sebagai artis solo tak lama kemudian. Tapi bakat tak pernah ada di dalam sejarah hidup Sandra, karena semua hal yang ia dapatkan sekarang adalah hasil dari mengorbankan seluruh kesenangan masa kecilnya.

“Apa kaudengar ucapan si Sinting Smith pada Lisa tadi?” Sandra mengangkat wajahnya tatkala ia mendengar sebuah suara dari luar bilik toilet yang tengah ia tempati menyebut-nyebut surname-nya dengan tidak hormat.

“Tentu saja! Ia membentak nyaring sekali hingga nyaris seluruh orang di gymnasium mendengarnya. Oh, haruskah ia berlaku barbar seperti itu? Lisa yang malang.” Suara lain menyahut dengan penuh rasa jijik, tanpa tahu orang yang tengah mereka bicarakan mendengarnya.

“Wanita itu sepertinya sudah gila.” Kini suara ketiga turut memanasi—toilet perempuan memang tempat paling tepat untuk bergosip. “Dengar-dengar, dulu ia tidur dengan manejer untuk mendapatkan penampilan solo di Zumanity.”

“Oh, aku juga dengar soal itu. Pantas saja ia begitu menjiwai karakter The Hoops, dia benar-benar ja—“

BRAK!

Sandra mendobrak pintu toilet kencang hingga ketiga wanita yang bergunjing tentangnya menoleh. Lalu melangkah keluar dengan wajah angkuh sembari mengibaskan mini skirt-nya ke udara. Ketiga wanita tadi menahan napas, langsung merapat ke sisi lain kamar kecil dan membiarkan Sandra menggunakan wastafel. Untuk beberapa detik suasana begitu mencekam, diamnya Sandra membuat ketiga wanita itu kepalang takut untuk pergi atau bahkan sekadar menggerakan ujung jari, hingga akhirnya wanita pirang yang jadi bahan gunjingan tadi menoleh dan menatap mereka lekat-lekat.

“Masih ada  lagi yang ingin kalian katakan tentangku?” Sandra melipat tangannya di atas perut, menonjolkan payudara montok yang terlihat sangat menggoda dibalik kaus super ketat warna abu-abunya. Dagu lancipnya turut berpongah, terangkat agak tinggi untuk menunjukkan betapa rendah derajat ketiga wanita itu.

“Jika kalian punya waktu untuk bergunjing, lebih baik kalian berlatih lebih keras karena dengan kemampuan kalian yang sekarang…” Sandra membuang muka dan menyeringai, “Bahkan untuk tampil sebagai piguran di luar big top saja kalian tak pantas.”

Sandra berlalu dengan tawa mengejek, meninggalkan wanita-wanita yang  menggerutu dan mengumpatnya itu di belakang karena apa yang ia katakan memang benar adanya.

 

ooo

Yesterday’s love is not tomorrow’s  regret. Now I know, now I know I’m just a man on a wire…

Yeah, yeah, aku datang Sandra. Jadi, berhentilah bernyanyi dan cepat ambil kopimu.”

Sandra seketika itu juga berhenti bersuara dan memutar bola matanya jengkel sembari mematikan music player di iPhone-nya. “Aku tidak minta kaudatang.”

“Tapi kau perlu kopi ‘kan?” Pria yang separuh tubuhnya masih berbalut keringat itu menyipitkan mata kelabunya sembari menggoyangkan gelas kopi berisi Americano di tangannya. Sandra menahan napas untuk menghindari aroma kopi kegemarannya itu, tapi apa daya, tubuhnya memerlukan asupan kafein lebih banyak hari ini.

Thanks,” kata Sandra akhirnya lalu membiarkan pria itu mengambil tempat di sampingnya.

“The Script?”

Sandra mengangguk sembari menyeruput kopi panasnya pelan-pelan. “Danny kembali terdengar konyol di lagu ini,” imbuh Sandra lalu terkekeh sinis. “Mungkin kau akan suka mendengarnya, Dima.”

Pria berdarah Rusia dengan nama lahir Dimitri Ivanovic Rulin itu menyambar iPhone Sandra dan memutar kembali lagu yang baru saja wanita itu nyanyikan. “Oh, kau benar. Danny memang terdengar konyol.” Dima meletakan iPhone Sandra kembali di atas meja setelah mendengarkan lagu itu beberapa saat dan membiarkan kekonyolan Danny menjadi latar kebersamaan mereka.

“Jadi, ceritakan padaku. Apa yang terjadi siang tadi?”

Tentu saja, Dima ada di sana, menjadi satu dari puluhan artis sirkus yang tengah berlatih di gymnasium dan mendengar dirinya berteriak pada si Bebal Lisa. Astaga… Seketika itu juga Sandra menekan pelipisnya, kepalanya berdenyut tiap kali mengingat kelakuan gadis itu. Ia bahkan nyaris melempar hoop besi di tangannya karena Lisa tak juga bisa melakukan apa yang ia perintahan dengan sempurna.

“Tidak masalah, mungkin aku memang tak pandai melatih orang lain,” jawab Sandra sekadarnya, merasa enggan mengulang kembali kejadian yang membuat harinya lebih buruk dari pada disumpal kaos kaki busuk.

“Tapi kau bahkan sudah bergelantungan seperti kera sejak baru belajar berjalan. Kau justru lebih pantas menjadi mentor daripada artis di sini!” Dima melotot, merasa jawaban Sandra barusan sama tidak masuk akalnya dengan dewan kota  mengeluarkan larangan berjudi di Las Vegas.

“Maka dari itu, Dima, aku muak melihat orang lain berlatih tidak lebih keras dari pada kuda!” Sandra memekik, kopinya telah tandas dan kini ia mendapatkan kembali emosi yang sempat  surut karena kekurangan cairan hitam itu. “Aku tidak tahu apa maksud Mr. Alvaro memintaku untuk mementori Lisa, padahal ia sudah tahu sejak awal kalau aku membenci wanita gemulai seperti itu. Oh, Dima, ini benar-benar memuakkan, rasanya kepalaku nyaris pecah.”

Sandra meremas gelas kopi yang telah kosong di tangannya dan membuang benda renyuk itu ke lantai, masa bodoh dengan kebersihan cafeteria dan slogan keep this place clean yang terpampang besar-besar di tembok. Didengarnya Dima terkekeh tatkala melihat kelakuannya dan Sandra hanya memutar kedua bola matanya sekali lagi. Ia tahu, Dima mungkin sudah bosan mendengar celotehannya.

Sama-sama lahir dan dibesaran di lingkungan sirkus road show—Kooza, Dima barang tentu telah mengenal Sandra bahkan lebih baik dari pada mengenali telapak tangannya sendiri. Pria itu tahu betul bagaimana kerasnya Sandra berlatih menjadi seperti sekarang ini. Ibu Sandra, Margaret, yang juga seorang circus hoopers, tak pernah memberi Sandra opsi cita-cita selain menjadi aktris sirkus seperti dirinya.

Di saat anak-anak lain seperti Dima menghabiskan lebih banyak waktunya untuk home schooling di kontainer atau bermain untuk menikmati masa kecil. Sandra justru lebih sering berada di tenda latihan, tempat para artis berlatih, hingga akhirnya benar-benar menjadi salah satu dari mereka di umurnya yang masih sangat belia.

Dima dan Sandra sempat berbagi ruang di pertunjukan utama  Kooza untuk beberapa tahun masa remaja mereka, sebelum akhirnya Sandra ditarik oleh tim scouting Cirque Du Soleil ke Las Vegas untuk mengisi pertunjukan yang lebih besar di sana.

Margaret sangat bangga dengan putrinya, berbulan-bulan rombongan Kooza disuguhi dengan berita perkembangan Sandra dan bagaimana ia menjadi bintang di antara artis lawas di sana. Dima senang mendengar kisah Margaret tentang Sandra, tapi akhirnya wanita yang kini telah pensiun itu bungkam setelah orang-orang menjauhinya tiap kali jam makan tiba karena bosan mendengar kisah yang sama berulang-ulang.

Selama empat tahun Dima hanya mendengar Sandra dari kisah Margaret, hingga akhirnya Dima memperbaharui kontraknya bersama Cirque Du Soleil dalam pertunjukan Zarkana sebagai salah satu wire-walker mereka. Yeah, ia menyusul Sandra ke Las Vegas. Walau pada kenyataannya, Sandra yang ia temui di Las Vegas dan Sandra yang dulu bermain bersamanya dalam rombongan Kooza adalah dua sosok wanita yang benar-benar berbeda.

“Oh, Dima, berhentilah melamunkanku!” Sandra menyikut lengan Dima hingga lamunan pria itu buyar seketika, lalu mendengus. “Kau tahu kita tidak bisa kembali seperti saat masih di Kooza, bukan?”

“Bagaimana kautahu kalau aku tengah melamunkanmu?” Dima terkekeh.

“Kau selalu saja menatapku dengan sorot mata seperti itu. Kau mudah ditebak!” Sandra tak bisa berhenti memutar bola matanya ketika bersama Dima. “Las Vegas telah mengubahku, jadi jangan harap kau akan menemukan Sandra yang dulu.”

Dima tersenyum miris. “Tapi aku selalu melihatmu dengan cara yang sama seperti Sandra yang dulu,” sahut Dima dengan penekanan di tiga kata terakhir, matanya berkilat serius dan Sandra akhirnya memilih untuk membuang muka, lalu mengganti topik pembicaraan.

“Aku akan ke Downtown malam ini.”

Gambling?”

Sandra mengangguk sembari menarik kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan otot dan sendinya yang rasanya kaku seharian ini. “Eddie mengajakku pergi,” terang Sandra tanpa menyembunyikan cengiran senangnya.

“Wow, kau berkencan dengan keparat itu?” Dima mengerjap tak percaya, rasanya baru dua hari yang lalu The Rose Boy dalam Zumanity itu putus dengan seorang penyanyi bar.

“Seleramu rendah sekali,” tukas Dima.

Sandra menyeringai. “Aku tidak berkencan dengannya, tapi aku tahu ia sudah lama tergila-gila padaku,” sahut Sandra, lalu langsung mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan di atas meja tatkala melihat pria yang baru saja ia bicarakan sudah berdiri  di depan pintu cafeteria dan tersenyum seperti serigala kelaparan. “Anggap saja hiburan sesaat, Dima. Toh aku menolong ia putus dari pacarnya yang jelek itu.”

“Dasar jalang,” desis Dima penuh penekanan dan Sandra tergelak.

“Dengarkan saja Danny dan lagu konyolnya malam ini. Sungguh, lagu itu sangat cocok untukmu,” kata Sandra di sela tawanya sebelum akhirnya menghilang dalam dekapan pria lain; meninggalkan Dima yang terpekur karena seperti biasa, Sandra memang selalu benar, lagu The Script yang satu itu benar-benar cocok untuknya.

ooo

Freemont Street masih terlihat sama di mata Sandra bahkan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kota ini—vintage dan terasa tua, tapi Sandra lebih senang berjudi di tempat ini ketimbang menghabiskan uangnya di kasino-kasino mahal yang ada di The Strip karena tempat ini selalu punya aura keberuntungannya sendiri. Seperti sekarang…

“Aku tak tahu kau pandai berjudi,” komentar Eddie tatkala Sandra menyisipkan lima ratus Dollar ke dalam saku hot pants-nya.

Sandra terkekeh. “Bahkan orang buta pun bisa pandai berjudi bila tinggal di Las Vegas.”

“Jadi, kau yang traktir malam ini?” Eddie menyelipkan tangannya di pinggang Sandra dan menarik tubuh wanita itu melekat pada tubuhnya. Sandra membiarkan pria itu berbuat semaunya tapi tidak menunjukkan gesture membalas perlakuan itu.

“Ke mana kemaluanmu? Apa kau masih berani menyebut dirimu pria setelah berkata seperti itu?” kata Sandra sinis dan Eddie tertawa.

“Oh, ayolah, kau kaya raya sekarang,” goda Eddie sembari menciumi tengkuk Sandra mesra.

“Baiklah, baiklah… Aku akan mentraktirmu, jadi berhenti mengendusku seperti babi, Eddie,” kata Sandra akhirnya sembari mendorong wajah Eddie menjauh dari tubuhnya dengan risih. Hingga tiba-tiba saja sebuah pikiran nakal terlintas di benaknya.

“Eddie.”

“Ehmmm?”

Sandra menoleh ke arah Eddie dan menautkan iris birunya pada wajah pria Amerika itu, lalu tersenyum penuh arti.

“Kau masih ingat bar tempat mantan pacarmu bekerja?”

Eddie melotot; Sandra menyeringai. Eddie tampaknya tahu betul apa maksud perkataan Sandra barusan, karena wajah wanita itu terang-terangan menunjukkan kalau ia ingin membuat lebih banyak keributan hari ini. Well, entah mana yang benar, orang-orang yang mencari masalah dengan Sandra atau wanita itu sendiri yang mengundang masalah dalam hidupnya. Tapi satu hal yang pasti, Sandra punya banyak sekali orang yang iri juga benci padanya.

ooo

‘Cause I feel like, I’m walkin’ on a tightrope

My heart is in my throat

I’m counting on high hopes to get me over you

And I’ve…

“Oh wow, jadi sekarang kau sudah sama konyolnya dengan Danny?”

Suara sinis Sandra menembus pendengaran Dima dan memotong lagu The Script yang menemaninya latihan pagi masuk ke otaknya. Buru-buru ia melompat turun dari atas webbing—perkakas yang belakangan ini mulai ia gemari ketimbang tightrope—dan setengah berlari mendatangi Sandra yang baru saja akan melucuti jumper dan celana training-nya.

“Kau terlambat satu jam. Hah…” Dima menarik napas panjang untuk mengatur oksigen masuk ke paru-parunya. “Apa terjadi sesuatu semalam?”

Dima tahu betul, Sandra tak pernah terlambat latihan pagi bahkan jika ia baru tiba di apartemennya jam empat subuh.

“Oh, bukan masalah pelik. Hanya sedikit mabuk.” Sandra menunduk, mencoba menyembunyikan sesuatu di wajahnya, tapi mata jeli Dima menangkap warna lain di wajah pucat itu lebih cepat daripada yang ia sangka.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” Dima mencengkram bahu Sandra, memaksa wanita itu berhenti bergerak dan menatapnya. “Kau… berkelahi?”

Sandra tersenyum, meringis sedikit karena tersenyum membuat pipinya berkerut hingga memberi kejutan pada memar di wajahnya. “Tenang saja, Dima, aku membalas wanita itu dua kali lipat lebih menyakitkan dari ini.”

“Wanita? Astaga, kau bertemu dengan penyanyi bar itu?”

Sandra mengangkat bahu. ”Hanya iseng bertandang ke tempatnya bekerja.”

“Kau gila,” geram Dima lalu melepaskan cengkraman tangannya pada bahu Sandra sedikit kasar. “Di mana otakmu? Bersyukurlah karena Zumanity tidak sedang tampil awal bulan ini! Miss White pasti mencekikmu bila kau bergelantung dengan wajah seperti itu.”

Sandra mendengus. “Jangan berlebihan seperti itu, The Hoops masih akan tampil meski wajahnya babak belur.”

Sandra menjauhi Dima untuk memulai sesi latihan paginya yang terlambat satu jam dengan pemanasan.

“Hei, bisakah kau berhenti melukai dirimu sendiri seperti ini?”

Dima menatap Sandra dengan sorot mata yang mengumbar banyak arti, tapi wanita itu tidak sedang melihatnya hingga tak bisa menangkap arti itu juga mendengar suara Dima yang lirih. Sejenak pria itu mendesah, berusaha menahan kedua tangannya untuk tidak menyambar tubuh indah itu dan memeluknya erat. Sandra kini tak senaif dulu, Las Vegas mengubahnya menjadi binal seolah-olah ia adalah binatang buas yang baru saja keluar dari kurungan. Entah apa ini ada kaitannya dengan latihan seperti neraka yang dulu Margaret terapkan pada putrinya ini, tapi jika harus memilih, Dima barang tentu lebih menyukai Sandra yang menangis di sampingnya karena tak punya waktu untuk bermain ketimbang Sandra yang melukai dirinya sendiri karena orang lain—orang yang menurut Dima tak pantas melukai Sandra.

ooo

“Lisa! Jika kau bahkan tak bisa memegang hoop dengan benar, jangan harap aku akan mengajarimu lebih dari ini!”

Sandra bertolak pinggang di depan seorang gadis yang gemetaran memegang hoop besi di tangannya. Namanya Lalisa Cheng, gadis Mongoloid itu baru tiga bulan menjadi trainee di Cirque Du Soleil setelah mendapatkan kontrak dari seleksi ketat tim scouting. Ia datang sangat jauh dari Beijing dan memiliki latar belakang seorang atlet senam ritmik. Seharusnya ia tak akan punya masalah bila disuruh bermain dengan hoop yang notabene adalah perkakas wajib cabang olahraga itu, tapi bermain di depan Sandra yang sudah mengenal besi melingar itu bahkan sejak lahir, tentu saja membuat Lisa keder selayaknya anak kemarin sore.

“Kau tahu, Lisa…” Sandra menurunkan nada suaranya, sadar kalau orang-orang di sekitarnya mulai menoleh ke arah mereka. Mr. Alvaro sudah mengingatkannya agar take it easy bila nanti melatih Lisa, tapi tetap saja, Sandra hanya tahu bagaimana cara ibunya melatih dirinya dulu dan tak pernah ada kata easy di sana.

“Jika kau masih menganggap seorang circus hoopers tak lebih baik daripada menjadi atlet.” Sandra maju selangkah, menautkan matanya pada mata kecil Lisa lekat-lekat dan membuat gadis itu semakin ketakutan, “Lebih baik kau keluar dari sini dan kembali ke negaramu karena sirkus itu menyenangkan bila kau hanya menjadi penonton.”

Sandra melempar handuk bekas keringatnya ke wajah Lisa, lalu berbalik meninggalkan gadis itu yang kini mulai menangis tersungkuk-sungkuk.

“Sandra!”

Dima mengejar Sandra saat wanita itu telah melewati pintu Gymnasium. Namun, Sandra tak menggubris tindakan implusif itu karena ia sudah bisa menduga Dima akan melakukannya sejak mata kelabu itu terus-menerus menatapnya dari kejauhan. Yah, Sandra selalu bisa merasakannya, Dima punya tatapan itu—tatapan yang menyatakan cinta serta pemujaan—tatapan yang kata ibunya adalah omong kosong karena pria yang menghamilinya dulu pun memberinya tatapan yang sama.

“Sandra!”

Tubuh Sandra berhenti bergerak tatkala tangan Dima berhasil meraih bahunya dan membuat mereka bersetatap. Napas Dima yang putus-putus menerpa wajahnya, bercampur aroma keringat dan deodoran.

“Ada apa denganmu? Kau semakin menggila belakangan ini!”

Sandra menepis tangan Dima yang mencengkram bahunya dan memandang tembok untuk menghindari tatapan pria itu.  Dada Sandra bergemuruh, napasnya naik turun tak beraturan. Sekarang ia sedang marah, tapi Lisa bukan penyebab kemarahannya—ia hanya pemicu dari seluruh gelora kemarahan yang selama ini Sandra simpan—karena gadis itu memiliki sesuatu yang tidak ia miliki.

“Sandra!”

“Berisik! Tutup mulutmu, Brengsek!”

Sandra mengangkat wajahnya, menatap Dima yang terpaku dengan  dengan umpatannya barusan. Namun, Sandra sudah kepalang marah, ia bahkan tak tahu kata apa saja yang terlontar dari mulutnya.

“Aku bisa mengurus hidupku sendiri. Kau tak perlu bersusah payah ikut campur seperti ini karena aku tidak membutuhkannya. Jadi jangan pedulikan aku lagi!” Sandra melotot, giginya bergemeretak. Sementara Dima masih saja bungkam tak tahu harus berkata apa. Hening yang mencekam menyelimuti mereka untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Sandra berbalik dan melangkah pergi.

“Apa aku harus membawamu pergi dari Las Vegas agar kau bisa kembali menjadi Sandra yang kukenal dulu?”

Sandra berhenti melangkah. Dima tidak berteriak, tapi suaranya cukup nyaring hingga ia dapat mendengar pertanyaan itu. Sandra menelengkan kepala ke belakang sejenak, dadanya masih diliputi amarah, jadi ia memilih untuk mengabaikan pertanyaan itu dan melanjutkan langkahnya.

Dalam derap langkahnya, Sandra merenungi pertanyaan Dima dan langsung menyadari kalau mereka berdua telah salah mengambil kesimpulan. Las Vegas tak pernah mengubah Sandra, samasekali tidak pernah, karena wanita itu sadar kalau ia sekarang semakin mirip dengan ibunya.

Sangat mirip.

ooo

Sejak hari itu, Sandra berhenti datang latihan pagi. Ia tidak ingin bicara dengan Dima atau bahkan sekadar bertukar tatap. Ia mengganti jadwal latihan rutinnya dan menambahkan latihan ekstra sebagai ganti latihan pagi yang ia hentikan. Sandra juga mengganti nomor panggilannya—hanya memberitahu nomor itu pada beberapa orang penting yang berhubungan dengan pekerjaan dan ibunya. Wanita itu benar-benar ingin berbebas dari Dima dan tatapan menggelikannya itu, karena sampai detik ini, Sandra menyakini kalau perkataan ibunya selalu benar.

 

‘Jangan pernah mempercayai siapa pun. Percayalah pada dirimu sendiri.’

 

‘Semakin tinggi kau terbang, semakin banyak orang yang ingin menembakmu.’

 

‘Semua orang punya mulut yang busuk, begitu juga dengan dirimu. Tapi jangan pernah berbicara busuk di belakang mereka karena itu tindakkan pengecut.

 

‘Bercintalah dengan pria mana saja, tapi jangan pernah bercinta dengan pria yang memberimu tatapan penuh cinta dan memuja karena kau akan berakhir sama sepertiku. Camkan itu di kepalamu.’

Sandra tak pernah melupakan seluruh perkataan ibunya. Termasuk kenyataan bahwa ibunya berharap Sandra menggapai mimpinya yang kandas karena memutuskan untuk mempertahankan janin di luar nikahnya dulu. Maka, dengan alasan membalas budi ibu yang membiarkannya hidup, Sandra pun patuh tanpa banyak bertanya meski harus mengorbankan banyak hal dalam hidupnya.

“Oh, Eddie, hentikan!” Sandra bergidik heboh tatkala Eddie terus menerus menciumi tengkuknya di dalam lift yang akan menghantarkan mereka menuju apartemennya. Hubungan Sandra dengan pria ini memang tak lebih dari sekadar kawan bermalam, tapi sejak wanita itu kehilangan Dima yang biasa menemaninya berjudi, ia pun tak punya pilihan lain selain mengajak pria menyebalkan ini untuk menghabiskan akhir pekan.

“Ayolah, aku tahu kau menyukainya.” Eddie berdesut di telinga Sandra dan wanita itu pun langsung mendorong wajah Eddie menjauh.

“Brengsek! Kau begitu menjijikkan!”

Eddie tertawa singkat, lalu kembali memangkas jarak di antara mereka dan merangkul wanita itu merapat. Sandra pun mendesah berat dan membiarkan tubuhnya bersandar—Eddie memang kepalang tengil tapi ia cukup lihai di atas ranjang.

Ting!

Pintu lift terbuka, Sandra dan Eddie melangkah beriringan menuju pintu bernomor 708. Sebenarnya tak perlu waktu yang lama untuk tiba di pintu itu, tapi Eddie sepertinya tidak ingin menunda-nunda waktu untuk mencumbu bibir Sandra dengan lumatannya dan membuat wanita itu terangsang lebih cepat.

“Sandra.”

Pagutan bibir Sandra dan Eddie seketika itu juga terlepas. Sandra terdiam sesaat sebelum akhirnya menyadari kalau suara yang memanggilnya itu adalah suara yang berminggu-minggu ini ia hindari. Oh, shit, Sandra lupa mengganti alamatnya.

“Bisa kita bicara sebentar?”

Itu yang Dima katakan saat mata mereka akhirnya berserobok. Sorot mata pria itu begitu dingin, tangannya mengepal di samping tubuh, dan Sandra bisa merasakan aura kemarahan yang muncul di belakangnya. Seingat Sandra ini sudah pukul tiga pagi dan ternyata Dima telah menantinya pulang sepanjang malam di depan pintu itu.

“Tak bisakah kau lihat kalau kami sedang sibuk?” Eddie mewakili Sandra untuk menjawab, karena wanita itu masih terpaku dengan kehadiran Dima yang tak disangka-sangka.  Tapi Dima mengabaikan kehadiran Eddie, matanya tetap menatap lurus pada Sandra dan wanita itu tahu betul jika Eddie berbicara lebih banyak lagi ia akan berada di rumah dalam waktu kurang dari dua jam.

“Eddie, pulanglah…”

“Apa?”

Sandra menjauhkan tubuhnya dari Eddie dan mengibaskan tangannya ke udara. Pria itu menatap Sandra kebingungan, lalu bergantian melihat Dima yang stagnan menatap wanita itu tanpa berkedip. Sejenak ia ragu meninggalkan Sandra karena kehadiran Dima jelas bukan pertanda baik, tapi akhirnya Eddie memutuskan pergi karena tak mau terlibat lebih jauh dalam urusan pribadi dua orang itu.

Sepeninggal Eddie, Sandra dan Dima masih diam bertatapan, sampai akhirnya wanita itu memecah kebekuan dengan memilih berjalan melewati Dima untuk membuka kunci pintu apartemennya.

“Jika kauingin bicara, lakukan sekarang,” kata Sandra dingin sembari memutar kunci. “Aku tak punya banyak waktu untuk ber—“

Belum sempat Sandra menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Dima menarik tubuhnya, membalik wanita itu seratus delapan puluh derajat sebelum akhirnya menghempaskan Sandra ke pintu hingga terpojok.

Brak!

“Sandra!” Dima membentak, masa bodoh dengan tetangga yang mulai mengintip dari lubang pintu. Ia punya urusan yang lebih penting ketimbang memedulikan kesopanan.

“Kenapa kau menghindariku?” Gigi Dima bergemeretak di balik bibir, wajahnya begitu dekat pada Sandra hingga wanita itu bisa mendengar suara menyakitkan dari gigi yang saling bergesekan.

Sandra memiringkan kepalanya, menghindari tatapan Dima. “Aku sudah bilang kalau aku tak ingin berurusan denganmu lagi.”

Dima melotot, mencengkram bahu Sandra semakin keras.

“Tapi kenapa?”

“Aku sudah lelah berpura-pura bodoh, Dima,” jawab Sandra cepat, ia balas mencengkram tangan Dima yang ada di bahunya—mencoba untuk melepaskan jemari yang mulai terasa menembus daging. “Kukira dengan mengabaikan perasaanmu kita bisa tetap menjadi teman seperti dulu, tapi belakangan kau semakin tidak tahu diri. Kau mencampuri hidupku seolah-olah bertanggung jawab atas segalanya. Memangnya kau siapa, eh?”  Sandra kembali menatap Dima, ia harap ini yang terakhir, karena wanita itu tak tahu apa yang terjadi bila ia terus menerus melakukannya. Dima pun balas menatap Sandra, mata itu kembali menunjukkan sorotnya yang dalam penuh arti dan Sandra seketika itu juga risih dengan riak-riak di hatinya akibat tatapan itu.

“Berhentilah memberiku tatapan seperti itu,” kata Sandra setelah hening yang cukup panjang di antara mereka, ia masih berani menatap Dima meski hatinya mulai tidak karuan. “Aku tidak akan pernah menggubrisnya meskipun aku pernah mengharapkan hal itu dulu.” Sandra menarik wajah Dima yang masih tampak terpukau dengan perkataannya barusan, sedikit merunduk hingga sejajar dengan wajahnya, sebelum akhirnya melumat bibir tipis itu begitu dalam.

Tanpa ampun.

Ciuman tiba-tiba itu membuat cengkraman tangan Dima di bahu Sandra mengendur, wanita itu lantas mengambil kesempatan untuk menguasai tubuhnya sendiri sembari terus memagut bibir. Pelan-pelan jemari Sandra meraih ganggang pintu serta kuncinya, ia akan kabur ke dalam setelah Dima mabuk kepayang. Namun sayang, pria seperti Dima terlalu lihai untuk ditipu dengan trik murahan ala pelacur, dengan sigap pria itu kembali menguasai tubuh Sandra. Kali ini lebih posesif dari sebelumnya. Dima merengkuh tubuh lampai itu ke dalam pelukan, menjeratnya dengan kedua tangan seperti ular anaconda, sambil balas menggigit-gigit kecil dan menjilati bibir delima itu.

Sedetik, dua detik… beberapa saat berlalu dan ciuman itu kini tak lagi penuh muslihat. Sandra seketika itu juga pasrah kala ia menyadari Dima berhasil membuat tubuhnya gemetaran seperti remaja baru akilbalig. Sandra tak pernah tahu Dima punya ciuman sehebat ini, mungkin karena ini memang ciuman pertama mereka.

“Ah…”

Sandra mendesah mencari-cari oksigen saat Dima memberi jeda pada ciuman mereka, kembali menatap wanita itu dengan segala kedalaman perasaannya.

“Sandra…” Dima memanggil dengan seduktif, jemarinya merengkuh kepala wanita itu lembut dan menyisip di antara rambut pirang yang indah. Sandra memejamkan mata, menahan gejolak perasannya sendiri. Riak di hatinya kini berubah menjadi badai dan Sandra tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikannya.

“Dima… Aku tidak…” Sandra terbata, jejak-jejak lumatan Dima masih membuat bibirnya kelu. Terngiang lagi perkataan ibunya tentang pria yang memiliki tatapan seperti Dima menatapnya. Sandra selalu percaya  tatapan itu bisa menghancurkan hidupnya seperti yang ibunya katakan, tapi meski sekarang ia menutup mata dan mencoba menghindari segala kemungkinan terburuk yang ada, Sandra justru bisa membayangkan tatapan Dima di benaknya dengan sangat jelas.

Dan hal itu benar-benar menyakitkan.

Air mata tiba-tiba saja menetes di sudut mata Sandra. Ia tenggelam akibat badai perasaannya sendiri. Menyesali diri karena tahu kalau kali ini ia telah berbuat bidah dengan melanggar titah paling keras yang ibunya berikan.

“Sandra?” Dima terkesiap saat mendapati air mata leleh di pipi pucat itu. Pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir ini. Tapi rasa terkejutnya tak bertahan lama tatkala Sandra membuka matanya yang berair pelan-pelan dan Dima mendapati kalau wanita itu menunjukkan kepasrahan.

Pasrah pada gairahnya malam ini.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Dima kembali mempertemukan bibir mereka di udara. Menyatu dalam gelora yang selama ini ia tahan karena tahu cintanya bertepuk sebelah tangan dengan berbagai alasan. Kali ini, detik ini, Dima akan melakukan apa pun untuk membuat wanita yang ia cintai ini terbebas dari tali-tali boneka yang ibunya sendiri buat.

Apa pun.

ooo

Dima sudah menghilang saat Sandra terbangun pukul dua belas tengah hari dan hari-hari berikutnya berlangsung seperti tak pernah terjadi apa pun. Hari-hari tanpa Dima.

Sandra sendiri tak berusaha untuk menemui pria itu. Ia pun tidak berharap untuk melakukannya dalam waktu dekat lantaran perasaannya menjadi sangat rumit belakangan ini. Kejadian pukul tiga pagi itu teramat sangat membekas di benaknya. Dima adalah pria pertama yang memasuki tubuhnya tanpa pengaman, pun satu-satunya pria yang mampu membuatnya terbang hingga langit ketujuh saat bercinta. Bukan hanya membuat sekujur tubuhnya merasakan sensasi gila karena orgasme berkali-kali, tapi sepanjang momen itu berlangsung Dima terus menerus memanggil namanya—lembut dan penuh emosi—seolah-olah Sandra adalah satu-satunya wanita di muka bumi ini. Mereka selayaknya Adam dan Hawa, saling memiliki satu sama lain, sempurna ketika bersatu.

Sayang, meski bercinta dengan Dima terasa begitu menakjubkan, Sandra tetap merasa hal itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan besar—dosa terhadap ibunya. Ia begitu ketakutan jika ibunya mengetahui apa yang telah ia lakukan bersama Dima kala itu, karena sejak awal, ibunyalah yang bersikeras meminta Sandra untuk menjauh dari Dima.

Kini, seminggu telah berlalu sejak kejadian bersama Dima dan mulai saat itu Sandra terus menghindari panggilan dari ibunya. Ia mengirim pesan singkat tiap kali tidak mengangkat panggilan, memberi alasan konyol tentang jadwal pertunjukan Zumanity yang kian mendekati masa-masa sibuk. Tapi, meskipun telah berusaha keras menghindar, Sandra tahu kalau ia tak bisa berlama-lama bersembunyi dari indra ibunya yang tajam.

Tadi pagi, tepat saat Sandra menyelesaikan sarapannya, Margaret menelepon putrinya itu sekali lagi. Mau tak mau Sandra mengangkat panggilan itu, lantaran beberapa saat sebelumnya ia mendapat pesan ancaman kalau ibunya akan terbang menggunakan rute pesawat tercepat dari London menuju Las Vegas jika ia tak juga mendengar suara Sandra.

Seperti biasa, percakapan dibuka dengan normal—halo dan apa kabar. Margaret terdengar seperti ibu yang perhatian pada menit-menit pertama dan Sandra menanggapinya dengan normal meski tahu itu tak akan bertahan lama, karena sejurus kemudian, percakapan manis antara ibu dan anak itu sirna; berganti dengan lengkingan serta bentakkan mengerikan yang membuat Sandra gemetaran di kursinya. Wanita itu bahkan tak berani menjauhkan posisi iPhone-nya dari telinga, meski  ia tahu ibunya tak dapat melihat. Peran Margaret di hidup Sandra memang tidak hanya sekadar ibu, melainkan atasan juga pelatih yang mengatur segalanya. Sandra pun nyaris tak pernah berontak, mana berani ia begitu, jika Margaret bahkan dengan lugas berkata kalau ia akan mengambil kembali kehidupan yang telah ia berikan pada Sandra jika putrinya itu menyianyiakannya.

Usai membentak dan mengulang-ulang nasihat yang sudah ia sampaikan nyaris seumur hidup Sandra. Telepon itu pun ditutup dengan pertanyaan yang nyaris membuat Sandra tercekik.

‘Apa kau tidur dengan Dima?’

Sandra menahan napas, ia seharusnya sudah siap dengan pertanyaan ini jauh-jauh hari, tapi ia tak menyangka ibunya bisa menduga hanya dalam sekali panggilan suara.

‘Tidak, Bu.’ Untuk pertama kalinya dalam hidup Sandra ia berani berbohong pada ibunya. Ia mencoba menjawab pertanyaan itu sesingkat dan senormal mungkin, berharap dengan sangat kalau wanita paruh baya itu tidak menemukan keanehan di mana pun.

Margaret tak berbicara untuk waktu yang cukup lama, membuat Sandra nyaris tak dapat melakukan apa pun selain menahan napas. Hingga akhirnya ia membuka suara dengan nada penuh penekanan.

‘Menjauhlah dari Dima, sejauh yang kau bisa. Aku sudah cukup lama mengenalnya, sejak malam-malam yang kuhabiskan menceritakan tentang dirimu padanya. Bocah tengik itu terlalu mencintaimu. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Gadis Bodoh, ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu, meskipun harus menghancurkan hidupmu sebagai ganjarannya. Aku paham betul gelagat itu, karena aku telah merasakannya saat dulu aku mendapati dirimu di tubuhku akibat ketololan yang sama.’

Sandra menelan ludahnya yang terasa pahit, ia masih tidak dapat bernapas dengan normal selama beberapa saat meski sambungan telepon telah terputus. Dadanya berdebar kencang, ia kini dalam bahaya. Ibunya benar-benar akan membunuhnya jika ia tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Dima. Dan ungkapan ‘membunuh’ ini bukan sakadar majas belaka, karena ibunya selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan.

ooo

The Hoops adalah salah satu karakter paling terkenal di pertunjukan Zumanity, tak kalah pamor dengan Two Men dan Misstress of Sensuality yang juga menjadi cover utama situs resmi Zumanity. Tidak hanya membangkitkan ‘schoolgirl fantasies’ yang liar menjadi hidup dalam karakternya, The Hoops menjual koreografi tak biasa, atraksi gila di atas aerial hoop, dan tentu saja seks—berpose vulgar dengan pakaian super mini yang hanya menutupi bagian-bagian intim tubuh perempuan.

Sandra menyukai karakter ini, sejak awal ia memang mengincarnya dan telah melalui seleksi ketat dari tim Cirque Du Soleil untuk mendapatkannya. Entah siapa yang memulai menyebarkan isu kalau ia tidur dengan manejer untuk mendapatkan peran ini, tapi yang jelas, orang itu pastilah pecundang karena hanya berani berbicara di belakangnya.

“Sandra, kau sudah siap?”

Sebenarnya tak perlu waktu lama untuk mengenakan kostum The Hoops yang minim ini—hanya rok lipat asimetris sepanjang dua puluh sentimeter, bra putih kecil yang hanya menutupi sepertiga payudaranya, dan beberapa aksesoris lain seperti stocking serta sarung tangan untuk menambahkan kesan schoolgirl yang diinginkan. Sandra tinggal memasang sepatu hak tingginya dan seperti itu saja ia sudah siap beraksi.

Yeah, aku siap.” Sandra berdiri, memandang tubuh indahnya di depan cermin untuk terakhir kalinya sebelum bersiap di belakang panggung. Sejenak ia mematut diri, lalu terdiam tatkala sebuah pertanyaan melintas di benaknya.

Apa ia benar-benar menginginkan semua ini?

Sandra menjerit pada hatinya kalau jawabannya adalah ‘iya’, tapi sisi lain dari diri wanita itu berbisik lirih tentang bagaimana ia sebenarnya hanya mengikuti apa yang ibunya katakan. Tak pernah benar-benar menginginkan sesuatu.

Kini ia mengerti kenapa ia merasa begitu tidak puas dengan performa Lalisa Cheng dulu. Lisa terlalu banyak tersenyum, terlalu fokus pada kesenangannya sendiri hingga tak begitu memperhatikan teknik agar terlihat sempurna di atas panggung. Lisa menganggap sirkus itu menyenangkan, sementara Sandra hanya tahu bagaimana caranya menjadi sempurna di mata ibunya.

Tempo hari ia berpapasan dengan Lisa di lobi gedung pertunjukan, ia tak lagi mementori gadis itu semenjak mengubah jadwal latihannya, tapi Lisa masih memberinya sorot mata takut saat mereka bersetatap dan kebencian saat Sandra tak melihatnya. Kala itu Sandra hanya membuang muka tak acuh, ia tahu Lisa begitu membencinya sejak dipermalukan di depan banyak mentor waktu itu—kondisi gadis itu jadi sulit setelahnya—tapi Sandra masa bodoh, itu ganjaran karena membuatnya merasa tidak nyaman.

Sandra mendesah berat, terkekeh pada dirinya sendiri yang terpantul sempurna di depan cermin. Ia mungkin tak benar-benar menginginkan semua ini, tapi apa yang ia dapatkan sekarang sudah sempurna; sempurna di mata ibunya. Sandra tak akan mempertaruhkan apa pun untuk membuat kesempurnaan ini hancur atau bahkan melepaskannya hanya karena seorang pria seperti Dima—pria yang menghilang sejak seks gila itu.

Sandra melangkah penuh percaya diri menuju back stage, semua mata menatapnya iri. Dalam beberapa menit lagi, The Hoops akan muncul di atas pentas dan sosok jalang itu akan mengumbar pesona di mata khalayak yang mencari objek masturbasi di pertunjukan sirkus khusus dewasa ini. Tapi tiba-tiba saja langkah Sandra terhenti, seseorang menahan lengannya, jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik—déjà vu—tapi saat ia berbalik, bukan wajah Dima yang menyambutnya, melainkan Eddie yang memberengut.

“Kenapa kau tidak menghubungiku sejak hari itu?”

Maksud Eddie dengan hari itu adalah pukul tiga pagi di depan apartemen Sandra saat Dima mengusir pria itu pergi dan mengambil posisinya. Sejak hari itu, kepala Sandra hanya dipenuhi oleh Dima dan perasaan ketakutan akan ibunya. Ia sama sekali tidak peduli dengan Eddie.

Sandra memutar matanya risih sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Eddie yang menurutnya sangat idiot. “Aku tidak punya alasan untuk menghubungimu.”

“Tapi harusnya kaupeduli!” sergah Eddie, membuat Sandra semakin merasa muak. Wanita itu langsung memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi bermain di atas ranjang dengan rekan satu pertunjukan.

“Dengar, Eddie.” Sandra melipat kedua tangan di bawah payudaranya—gesture kas miliknya saat merasa lebih tinggi dari orang lain—lalu mendelik sinis pada pria itu. “Kita memang pergi keluar beberapa kali, kau juga hebat di ranjang, tapi bukan berarti aku menganggapmu lebih dari sekadar pelampiasan nafsu.”

“Tapi aku sudah memutuskan Debora demi dirimu!” Eddie melotot, merasa benar-benar dipermainkan.

Sandra sontak menyeringai. “Aku tidak pernah memintamu untuk putus, bukankah sejak awal aku sudah mengatakan kalau hubungan kita hanya sebatas ‘teman bermalam’. Kau saja yang mengira dengan begitu aku mau berhubungan lebih jauh denganmu.” Sandra berbalik, mengibaskan tangannya di udara karena namanya baru saja dipanggil untuk naik pentas. “Bye, Eddie. Kita akhiri sampai di sini saja.”

Sandra bisa mendengar Eddie mengerang dan memaki namanya, tapi seperti biasa wanita itu tidak mengacuhkan orang-orang yang berbicara di belakangnya. Seharusnya Eddie tahu betul reputasi Sandra sebelum berharap lebih, ia bukan pria pertama yang dibuat sakit hati dengan prilaku wanita itu.

Sandra mengambil posisi dengan mantap, sorot matanya menyalak garang—bersiap menarik keluar berahi seluruh penonton Zumanity malam ini. Ia melirik sekilas pada operator pertunjukan yang bertugas mengatur perkakas aerial hoop-nya agar bekerja baik, pada pria paruh baya itulah hidupnya dipertaruhkan saat bergelantungan di atas sana.

“Bersiaplah, Sandra.”  Sandra kembali menatap ke depan, hentakan perkusi dan suara melengking penyanyi sirkus yang memperingatkan para penonton tentang penampilannya terdengar. Sandra sudah siap sejak tadi. “One, two, Three… Go!

Melakukan salto di udara adalah pilihan gerakan Sandra untuk membuka pertunjukannya. Orang-orang terkesima dengan pembukaan yang tidak biasa itu dan Sandra tersenyum puas. Malam ini, entah kenapa, Sandra ingin menunjukkan lebih pada para penonton.

Sandra mulai berakting nakal dan malu-malu seperti remaja yang punya fantasi liar tentang seks. Semua mata tertuju padanya dan ia selalu menyukai perasaan dipuja seperti ini karena hanya ada Sandra seorang di atas panggung. The Hoops adalah karakter solo tanpa pemain latar, wanita itu selalu ditantang untuk membuat seluruh penonton terkesiap hanya karena dirinya sendiri, dan ia tak pernah gagal melakukannya.

Beberapa menit telah berlalu, Sandra hanya punya waktu sepuluh menit untuk menuntaskan pertunjukannya. Ia sudah selesai melakukan gerakan dasar dan remeh temeh seperti memutar sepuluh hoop dengan seluruh tubuhnya, bermain dengan LED-hoop dengan sesekali menggona nakal pada satu-dua penonton lelaki dari atas panggung, dan beberapa atraksi lainnya. Tak lupa ketinggalan tarian erotis  yang penuh sensual dengan sedikit melebih-lebihkan pada bagian acting-nya, meski terlihat seperti wanita murahan, hal itu justru membuat tarian Sandra terlihat lebih baik karena penonton bersorak lebih nyaring dari biasanya.

Tak lama kemudian, pertunjukan utama pun dimulai. Sandra bisa mendengar derit besi-besi di antara musik yang menghentak saat aerial hoop kebanggaannya diturunkan. Ia berputar tiga kali lalu berpose menyambut turunnya aerial hoop itu tepat ke atas kepalanya, sebelum akhirnya mencengkram besi dinginnya erat dan mulai dibawa terbang bersama benda itu ke udara.

Sandra bergelantungan bersama aerial hoop-nya dengan begitu luwes. Gerakannya tanpa cela, sempurna seperti biasanya. Ia melakukan hal yang orang biasa tak bisa lakukan—bergantung dengan dua kaki, bergantung dengan satu kali. Musik yang mengentak membuat tempo permainannya turut naik, ia melakukan rotasi di udara beberapa kali, bergantung vertikal terbalik dengan hanya mengandalkan kekuatan tumitnya.

Wanita itu juga bisa mendengar penonton menahan napas saat ia berpura-pura jatuh, tapi ternyata ia sudah siaga dengan tangannya yang langsung mencengkram hoop sebelum benar-benar terjun bebas. Itu bagian dari pertunjukan; acting yang ia bawakan. Sandra menatap nakal pada para penonton dan tertawa karena berhasil menipu mereka. Entah kenapa, malam ini Sandra merasa beda dari biasanya hingga menjalani pertunjukan ini dengan sangat bersungguh-sungguh. Mungkin karena pikiran wanita itu penuh dengan perintah untuk membuktikan.

Membuktikan pada seluruh penonton kalau The Hoops yang jalang itu nyata dalam diri setiap perempuan. Membuktikan pada orang-orang yang mengutuk dirinya dari belakang kalau ia memang telah jauh di depan mereka. Membuktikan pada ibunya kalau ia putri yang sempurna dan patut dibanggakan. Membuktikan pada dirinya sendiri kalau ia bahagia meski tak benar-benar menginginkan semua yang ia miliki sekarang. Membuktikan pada Dima—entah di mana pria itu sekarang berada—kalau ia tak akan kembali menjadi Sandra yang dulu.

Sandra yang dulu  pernah diam-diam mencintainya.

Pertunjukan mendekati akhir, Sandra memanjat hingga ke bagian atas hoop-nya dan mencengkram tali baja tempat cincin besi itu bergantung hanya dengan satu tangan. Ini tidak ada dalam scenario pertunjukannya, Mr. Alvaro pasti memarahinya karena tidak mematuhi koreografi yang ia berikan, tapi Sandra tidak peduli dan terus saja melambai pada penonton. Ia senang karena merasa telah berhasil membuktikan semua yang ingin ia buktikan dengan pertunjukannya malam ini.

Hingga tanpa disangka jalinan besi dari perkakas aerial hoop itu berulah—ada baut yang rompal dan luput dari perhatian tim mekanik. Dan tepat saat drummer mengumandangkan gebuk perkusi terakhir yang menandakan pertunjukan telah tuntas, jalinan besi itu putus.

Sandra bahkan belum sempat menikmati keriuhan yang penonton berikan atas pertunjukan luar biasanya, karena tubuh wanita itu sudah terlebih dulu terjun bebas bersama hoop-nya, terhempas ke lantai panggung, dan tidak sadarkan diri.

Panggung Zumanity berduka dengan darah yang bersimbah malam itu.

ooo

Mereka bilang itu sabotase. Seseorang dengan sengaja melonggarkan screw-locker pada carabiner yang menjadi kunci dari seluruh jalinan rigging agar tetap terpasang pada sling. Tapi, sebenarnya itu saja tidak cukup untuk membuat alat yang mampu menahan beban sampai berton-ton itu putus, sling atau kawat baja yang seharusnya berada dalam kondisi prima juga mengalami kerusakan, lebih dari dua puluh lima persen kawat rusak—bengkok atau sengaja dibengkokan—dan beberapa bagian mengalami distorsi. Entah, bagaimana kerusakan parah ini bisa luput dari perhatian tim mekanik Cirque du Soleil, tapi yang jelas, kejadian ini membuat nama kelompok sirkus terbaik di dunia ini tercoreng oleh media dan pertunjukan Zumanity dibekukan sampai akhir tahun.

Pihak kepolisian tengah mencari siapa pelakunya, tapi perhatian mereka tertuju pada Eddie—orang terakhir yang terlihat memiliki masalah dengan Sandra. Pria itu diperiksa selama berjam-jam di kantor polisi, tapi Eddie bersikeras kalau bukan dia pelakunya. Pria itu memberi banyak keterangan kalau tak hanya dirinya seorang yang membenci Sandra Smith. Wanita jalang itu punya banyak musuh yang tidak terlihat dan keterangan seseorang yang melihat mereka berargumentasi sebelum pertunjukan itu berlangsung tak serta merta membuatnya menjadi satu-satunya tersangka di sini.

Proses pencarian tersangka itu terus berlanjut walaupun penyelidikkan mengalami banyak sekali kebuntuan karena pengerjaan sabotase yang begitu rapi tanpa cacat. Tapi, meski kepolisian menangkap siapa pelakunya, korban dari kecelakaan itu pun sudah tak peduli lagi dengan segalanya.

Sang Pahlawan selalu datang paling akhir dan Dima sepertinya memainkan peran itu dengan sangat sempurna di hidup Sandra. Pria itu muncul seperti hantu di rumah sakit sejak Sandra kritis selama nyaris dua hari, lalu setelah itu bertandang setiap hari tanpa absen satu kali pun. Ia satu-satunya orang yang menangisi kondisi Sandra saat itu, sementara Margaret bahkan tak sudi datang ke rumah sakit untuk menjenguk putrinya—wanita itu hanya datang untuk memberi tanda tangan pada surat pernyataan kalau ia menyetujui apa saja tindakkan yang rumah sakit berikan pada Sandra.

‘Apa ia bisa bermain dalam sirkus lagi jika ia sembuh?’ itu yang Margaret tanyakan pada dokter saat ia datang untuk pertama dan terakhir kalinya. Namun, saat jawaban ‘tidak’-lah yang ia terima, Margaret langsung mengutuk dan memaki kalau lebih baik Sandra mati karena ia sudah tidak berguna lagi. Ya, sejak Sandra lahir, Margaret memang telah mematikan perasaan seorang ibu untuk putrinya itu.

Dua bulan kini telah berlalu sejak malam bersimbah darah itu. Para dokter yang menangani Sandra bilang wanita itu sangat beruntung. Ia hanya mengalami fraktura terbuka dengan tulang tibia yang masih bisa disatukan kembali melalui oprasi, serta trauma cukup berat di kepala yang sempat membuatnya kritis beberapa waktu yang lalu.

Setidaknya, batang otaknya aman. Itu yang Dokter Albert Fun—kepala tim dokter yang menangani Sandra—katakan pada Dima saat pria itu bertanya tentang kondisi Sandra untuk pertama kalinya. Maka, dengan berpegang teguh pada hal itu, Dima pun meyakinkan diri kalau Sandra masih akan hidup lebih lama lagi.

Dan benar saja, keajaiban itu datang, Sandra mendapatkan kembali kesadarannya setelah masa-masa kritis itu dapat dilaluinya. Berbagai macam terapi dimulai—segera setelah Sandra mampu menggerakan tubuhnya sendiri—dan Dima selalu ada di sana, mendampingi wanita itu dengan setia seolah-olah melupakan waktu tatkala ia menghilang secara tiba-tiba dari apartemen Sandra.

“Jadi, dari mana saja kau?”

Sandra bertanya pada Dima yang, atas izin dokter jaga, menyetel album teranyar The Script—band kesukaan Sandra—di ruangan ini. Man On A Wire tengah berkumandang sekarang dan Dima berhenti bersenandung tatkala Sandra membuka keheningan di antara mereka dengan pertanyaan itu.

“Aku selalu di sini,” jawab Dima lembut lalu terkekeh pelan; Sandra memutar bola matanya, dalam kondisi seperti ini pun Dima masih mampu membuatnya memutar bola mata berkali-kali.

“Jangan berpura-pura bodoh. Kau tahu apa maksudku.”

Dima tersenyum, memandang wajah pucat Sandra yang masih terlihat cantik seperti sebelum tragedi itu terjadi dan bersyukur karena hal itu.

“Aku pergi mempersiapkan hidup baru untuk kita.”

Dahi Sandra berkerut. “Maksudmu?”

Dima merapatkan kursinya pada ranjang rumah sakit Sandra, sedikit membungkuk untuk mengecup ubun-ubun wanita itu sayang. Lalu ia merogoh saku celana denimnya, mengeluarkan kotak persegi kecil yang sudah ia persiapkan jika suatu ketika Sandra mengungkit tentang kejadian itu.

“Menikahlah denganku.”

Sebuah cincin platina menyambut mata Sandra saat Dima membuka tutup kotak itu dan wanita itu langsung terkesiap, tak bisa mengatakan apa pun.

“Kembalilah menjadi Sandra yang kukenal dulu, yang diam-diam mencintaiku kala ibunya mengutuk dengan keras perasaan itu. Kautahu benar kalau aku pasti akan membuat cintamu menjadi kenyataan.”

Mata Sandra bergerak-gerak tidak fokus, napasnya naik turun. Ia mencoba mengingat-ingat metode-metode terapi hiperventilasi yang belakangan ini dilakukannya untuk bernapas dengan normal, tapi semua tak berguna. Ia sesak napas karena bahagia.

“Tapi, Dima…” Sandra membuka mulut untuk menyuarakan sisa-sisa keraguannya, doktrin ibunya melintas di kepala, tapi Dima buru-buru menyela.

“Kau tak punya alasan lagi untuk menolak.” Dima tersenyum lebar, ia mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan langsung menyelipkan benda cantik itu di jari manis Sandra tanpa diminta—percaya diri kalau Sandra tak akan menolaknya; tak akan lagi.

“Kau tidak bisa kembali ke sirkus dengan kaki seperti itu dan Margaret telah mencampakkanmu karena baginya kau hanya robot yang ia bangga-banggakan; kau telah dibuangnya karena rusak. Jadi, kemana lagi kau akan pulang selain ke rumah kita?” Dima melebarkan senyumnya, ia bahagia karena kali ini usahanya tidak sia-sia. Segalanya telah pria itu siapkan dengan sempurna dan selepas Sandra terbebas dari selang-selang rumah sakit, Dima akan memboyong wanita itu ke rumah yang baru saja ia beli untuk mereka, jauh dari hingar bingar dunia malam Las Vegas.

Sandra tak kuasa lagi menahan tangisnya, ia mulai mengingat kembali perasaan remajanya untuk Dima saat masih di Kooza dulu. Perasaan yang selalu ia coba matikan dengan seluruh tindak tanduk megalomaniak karena tahu ibunya tidak suka jika perasaan itu ada. Seumur hidup Sandra takut pada ibunya, tapi sekarang, ia sudah tak punya alasan lagi untuk takut karena Dima benar.

Margaret telah mencampakkan Sandra karena ia bukan lagi putri yang bisa dibanggakannya dan entah kenapa, Sandra justru merasa seperti baru saja terbebas dari kurungan—terlahir kembali. Meskipun sekarang ia tak bisa lagi berada di atas aerial hoop dan menerima segala ketenaran yang ia miliki saat menjadi karakter The Hoops, Sandra secara ajaib merasa bahagia. Bahagia karena Sandra yang sekarang tak perlu lagi membuktikan pada semua orang, bahkan pada dirinya sendiri, kalau apa yang ia miliki telah sempurna karena kini ia hanya memiliki Dima, dan itu memang sempurna tanpa perlu dibuktikan.

Tangis Sandra semakin nyaring, ia tak pernah menangis senyaring ini seumur hidupnya. Namun, ini bukan tangis kesedihan, ia menangisi kebebasannya juga menangisi Dima yang berdiri, merengkuh tubuh lemahnya dalam pelukan, dan mencium bibir pucatnya begitu lembut sembari membisikkan namanya dengan perasaan cinta yang begitu dalam tanpa dasar. Seolah-olah hanya Sandra satu-satunya wanita yang di muka bumi ini.

Hawa bagi jiwa Adamnya.

Fin.

Epilog:

“Apa menurutmu aku bisa mendapatkan peran The Hoops yang Sandra Smith tinggalkan bila aku merayu manejer?”

“Kau gila! Memangnya dari siapa kau tahu kalau hal itu benar?”

“Tentu saja dari sumber yang sangat terpercaya!”

“Sungguh?”

“Sungguh. Aku tahu dari pria Rusia yang selalu bersama dengan wanita jalang itu. Siapa namanya? Oh ya, Dima! Dia sendiri yang bilang padaku kalau kelakuan Sandra begitu jelek di belakang panggung.”

“Astaga, benarkah? Pria itu busuk sekali, tapi… bukankah mereka akan menikah sebentar lagi?”

“Entahlah, aku tidak tahu jalan pikirannya. Sepertinya pria itu lebih sinting dari Sandra.”

“Oh, wanita jalang yang malang. Hahaha.”

Yeah, Sandra yang malang.”

 


 

A/N:

Terima kasih sudah membaca sampai akhir! Fuuuhh… *kasih minum*. Sepertinya ini bukan cerpen ya, melainkan cerpan—cerita panjang, hahaha. Tapi, sungguh menyenangkan menulis kisah kehidupan Sandra dan Dima. Oh, my two little cutie! Semoga kalian menyukainya!

Cerita ini sebenarnya hendak aku ikutkan pada proyek menulis The Script Poject #2, tapi batal karena ketololanku yang salah membaca peraturan. Hahaha. Seharusnya cerpen ini hanya sepanjang 8.000 – 10.000 karakter dengan spasi, tapi mataku malah membaca karakter sama dengan kata. Alhasil, saat cerita ini sudah sepertiga selesai, aku baru tahu kalau aku sudah melampaui batas karakter yang ada di persyaratan.

Frustasi karena ketololanku itu, aku sempat mogok untuk melanjutkan cerita ini dan memutuskan untuk hiatus lebih awal. Tapi rupanya, Dima menggodaku setiap malam dan Sandra mengancam akan menggantungku di atas aerial hoop kalau aku tak menuntaskan kisah mereka😄. Jadi akhirnya, aku memutuskan untuk menyelesaikan tulisan ini dan membuat plotnya lebih kompleks dari yang aku rencanakan.

High Wire benar-benar karya yang cukup emosional untukku pribadi. Selain karena pengerjaannya yang mengharuskanku untuk riset dari A – Z, seperti menonton film dokumenter tentang kehidupan di dalam sirkus, memahami seluk beluk bisnis pertunjukkan itu, memahami perkakas setiap pertunjukan, dan lain-lain. Aku juga merasa sangat senang bisa menyelesaikannya karena High Wire adalah cerita rumit pertama yang aku buat.

Aku pribadi bukan penulis yang sanggup menulis sepanjang ini. Aku lebih senang menulis yang pendek-pendek karena saat menulis panjang aku selalu merasa ‘ada yang aneh’ di tengah-tengah cerita. Tapi akhirnya berhasil menyelesaikannya meski harus kurombak di berbagai sisi. Hahaha.

Akhir kata, aku ingin berterima kasih pada dua penulis yang tulisannya sangat mempengaruhi gaya berceritaku—Paulo Coelho untuk ketenangan narasi yang ditularkannya, juga untuk Kak Azura (Anastasia Cynhtia T.) yang dengan senang hati menjadi beta reader juga banyak mengajariku tentang teknik-teknik berceritanya yang luar biasa. High Wire tak akan ada tanpa pengaruh kalian.

Lalu, terima kasih juga untuk Uni Dzalika, karena telah menjadi komentator pertama yang sangat kritis. Sangat menyenangkan berdiskusi dengan Uni, semoga kita bisa menjadi kawan berbagi yang solid terus sampai nanti.

Juga tidak ketinggalan, Affan Naufal A., sahabat yang rela meladeni pertanyaan tololku tentang fraktura terbuka, tulang tibia, batang otak, dan lain-lain. Semoga kamu jadi Dokter hebat di kemudian hari, Kawan! FYI, Dokter Albert Fun itu kamu loh, Fan! Lihat metamorfosa namanya,  Albert Fun = A. Fun = Aefan = Affan! LOL.😄 Aku suka mainin nama tokoh kayak gini. Jangan jera kalau di kemudian hari aku bakal ngerusuhin kamu dengan berbagai pertanyaan medis juga grammar. Hahaha.

Wah, ini sudah kayak thanks to di novel-novel aja. Padahal ceritanya gak ada apa-apanya. Hahaha. Tapi yah, sekalian pamitan juga sih sama kalian semua, kebetulan ini bakal jadi cerpen terakhir yang aku tulis sebelum benar-benar hiatus. Semoga kalian puas dengan tulisanku ini ya. Jangan lupa kasih komentar di bawa tentang tangapan kalian. Aku mau tahu apa masih ada yang aneh dengan tulisanku atau tidak. Seenggaknya, meskipun hiatus, aku masih bisa belajar dari kalian.

Pokoknya, terima kasih ya! Dadah! Sampai jumpa lagi!

(Photo taken from http://hannahelizabethpolefitness.tumblr.com/)

Buat kalian yang penasaran dengan Cirque Du Soleil : klik di sini

Buat kalian yang penasaran dengan pertunjukan Zumanity : klik di sini

11 pemikiran pada “High Wire

  1. Hai Dicta!😀

    Aku suka tulisanmu. Sangat rapi dan tertata dengan baik. Sepertinya kamu sudah terlatih menulis, ya? Tulisanmu sangat menyenangkan untuk dibaca.😀

    Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)

    Semangat menulis!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s