Penunggang Ombak

Hiya!

Danum memicingkan mata pada seorang pria Kaukasoid yang berada di laut, duduk nyaman di atas board, dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sembari memberi wanita itu shaka sign[1] dengan mengacungkan jempol dan kelingking.

Hiya!” Wanita itu pun sontak menancapkan board yang ia angkut ke pasir pantai Tanah Lot yang berwarna gelap lantas membalas shaka sign yang ia terima meski tak mengenali pria itu. Segera setelah selesai bertukar salam, pria itu pun kembali sibuk mendayung diri ke tengah laut untuk mencari ombak dan Danum pun melanjutkan langkahnya ke bibir pantai.

Sekarang pertengahan September, cuaca di Bali masih terasa terik meski waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Danum memandang sekitar, Tanah Lot memang bukan destinasi wisata bagi peselancar dunia. Ombak di tempat ini sangat sulit didapat pun tidak begitu tinggi, lantaran pantainya yang curam dan penuh dengan karang-karang terjal. Namun, bagi Danum, Tanah Lot punya aura mistis tersendiri yang selalu berhasil membuat perasaannya nyaman.

Danum berhenti melangkah tepat di bibir pantai dan memejamkan matanya sejenak. Wanita itu pun lantas menghirup udara asin di sekitarnya dalam-dalam lalu mulai memanjatkan doa-doa di dalam hati seperti yang Apang dan Indang[2]nya ajarkan dulu. Setelah itu, barulah Danum menceburkan diri ke air laut dan mendayung tubuhnya yang tengkurap di atas board menuju lautan.

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Tentang Bali dan Keluarga Kecil Kami

Halo, Penikmat Kata! Aku datang membawa coretan liburanku ke Bali beberapa hari yang lalu, melepas sejenak rindu pada blog yang sebenarnya sedang hiatus, tapi rupanya aku punya banyak kewajiban dan imajinasi yang harus-kudu ditumpahkan ke dalam kata-kata. Maka, jadilah kisah perjalanan abal-abal ini. Semoga bisa dinikmati ya, aku nyaris gak pernah bikin cerita perjalanan seperti ini.  Oh ya, maaf ya kalau foto-fotonya kualitas jelek, soalnya cuman pakai smartphone doang. Hehehe.

IMG_20150422_080531[1]

Perencanaan liburan ke bali ini tercetus setelah aku memenangkan hadiah tiket gratis dan vocer menginap di hotel berbintang yang disponsori oleh nulisbuku.com dan tiket.com. Tiket gratis itu ada dua, pulang-pergi, dan tentu saja aku mengajak Mama buat ikutan pergi.

Ngajak Mama doang, Dict? Adik lu gimana? Ah, dia ikut dong! Kalau ditinggal bisa pundung dia sama aku, karena dia ikutan, maka dari itu liburan ini direncanakan setelah ujian nasional. Mama bilang liburan kita singkat aja, dua hari doang, karena Mama juga sibuk kerja, aku sibuk persiapan tes masuk PTN, dan adikku sibuk bercumbu dengan… game online-nya. LOL. Gak lah, dia sibuk siap-siap masuk PTN juga. Doakan kami berdua lulus di PTN yang kami inginkan ya!

Menggunakan tiket gratis ini, Mama harus berada satu kota denganku, otomatis dari Muara Teweh dia harus terbang ke Yogyakarta dulu sebelum bisa menggunakan tiket gratis tersebut, yang notabenenya pulang-pergi Yogyakarta-Bali. Sementara adikku akan langsung pergi ke Bali pada tanggal 22 April dengan transit di Surabaya terlebih dahulu.

Baca lebih lanjut