Penunggang Ombak

Hiya!

Danum memicingkan mata pada seorang pria Kaukasoid yang berada di laut, duduk nyaman di atas board, dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sembari memberi wanita itu shaka sign[1] dengan mengacungkan jempol dan kelingking.

Hiya!” Wanita itu pun sontak menancapkan board yang ia angkut ke pasir pantai Tanah Lot yang berwarna gelap lantas membalas shaka sign yang ia terima meski tak mengenali pria itu. Segera setelah selesai bertukar salam, pria itu pun kembali sibuk mendayung diri ke tengah laut untuk mencari ombak dan Danum pun melanjutkan langkahnya ke bibir pantai.

Sekarang pertengahan September, cuaca di Bali masih terasa terik meski waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Danum memandang sekitar, Tanah Lot memang bukan destinasi wisata bagi peselancar dunia. Ombak di tempat ini sangat sulit didapat pun tidak begitu tinggi, lantaran pantainya yang curam dan penuh dengan karang-karang terjal. Namun, bagi Danum, Tanah Lot punya aura mistis tersendiri yang selalu berhasil membuat perasaannya nyaman.

Danum berhenti melangkah tepat di bibir pantai dan memejamkan matanya sejenak. Wanita itu pun lantas menghirup udara asin di sekitarnya dalam-dalam lalu mulai memanjatkan doa-doa di dalam hati seperti yang Apang dan Indang[2]nya ajarkan dulu. Setelah itu, barulah Danum menceburkan diri ke air laut dan mendayung tubuhnya yang tengkurap di atas board menuju lautan.

Ada sekitar empat orang peselancar yang tengah berebut ombak di pantai ini. Danum, pria Kaukasoid tadi dan dua orang Jepang yang sedang berbicara cukup keras tak jauh dari tempat wanita itu berada. Danum pun menyingkir dari mereka semua, menunggu ombak dengan sabar tak begitu jauh dari bibir pantai.

Bagi Danum, hanya ada dua alasan yang mendorongnya bermain ombak di tempat ini. Satu, ketika ia merindukan kampung halamannya—Kalimantan—atau dua, ketika ia kalah dalam kompetisi dan perasaannya berkecambuk tentang berbagai hal. Sialnya, Danum sekarang memiliki dua alasan itu dan kini ia dalam kondisi yang sangat buruk.

Danum teringat kala lima tahun yang lalu ia pergi dari rumah diiringi kutukan dari Apang dan tangisan Indangnya. Apang menyalahkan pengaruh turis-turis yang bertandang ke kampung mereka dan membawa serta kisah-kisah tentang pesisir pantai juga lautan biru hingga anak perempuan satu-satunya ini menjadi terobsesi akan hal itu. Tapi sekali lagi, Danum meyakini bahwa itu hanyalah cara yang Dewa Mahatara[3] gunakan untuk menunjukkan jalan hidupnya.

Danum pergi ke Bali dengan bantuan seorang turis baik hati yang pernah datang ke kampungnya. Ia diberi pekerjaan serta kesempatan untuk menjadi peselancar seperti mereka secara cuma-cuma hingga Danum pun berhasil memenuhi mimpinya sebagai peselancar profesional. Bertahun-tahun ia hidup di pantai, mengikuti budaya peselancar yang unik dan menyenangkan hingga mempengaruhi kehidupannya secara menyeluruh. Namun, meskipun begitu, tak sekali-kali Danum melupakan kampung halamannya dan agama Keharingan yang ia percaya sejak kecil. Danum selalu berjanji, ia akan pulang membawa kisah, mimpi, dan kesuksesannya.

Sayangnya, Danum mulai meragukan segalanya belakangan ini. Ada kehampaan di dadanya yang entah datang dari mana. Ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri untuk menjadi peselancar wanita sukses dan pulang membawa kebanggaan pada keluarganya, maka dengan begitu, ia pun bisa diterima kembali di rumah Apang. Namun, hari demi hari Danum semakin terfokus pada tujuan itu, ia mengabaikan segalanya, dan berselancar di atas ombak bukan lagi kesenangan melainkan obsesi, hingga tiba-tiba saja Danum menyadari kalau selama ini ia…

Sendirian.

Danum tak memiliki siapa pun di tanah-tanah perantauannya—turis baik hati yang dulu membantu Danum pun sudah lama kembali ke negara asalnya dan hanya bertukar kabar dengan wanita itu sesekali—jadi, ia pun berjuang keras untuk melakukan segalanya sendirian. Danum sudah menunggangi ombak di banyak belahan dunia ini, terakhir ia baru kembali dari California untuk mengikuti kompetisi yang gagal ia menangkan. Namun, yang membuatnya sedih justru bukan kekalahan, melainkan kenyataan bahwa ia tak punya siapa pun untuk menghiburnya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Ya, Danum belum tahu, apa sebenarnya arti dari kehidupan yang telah ia pilih ini. Ia hanya menunggang ombak dan berkompetisi, seolah-olah seluruh hidupnya bergantung pada itu.

Nyaris setengah jam berlalu dan tak satu pun ombak yang berhasil Danum tunggangi lebih dari lima detik. Wanita itu mengumpat pada ombak-ombak rendah yang cepat menghilang, namun ia langsung menyadari kalau pikiran kacaulah yang membuatnya tak bisa berselancar dengan baik. Danum akhirnya memutuskan untuk berhenti, ombak Tanah Lot sudah cukup membuatnya merenung dan bermeditasi meski ia tak menemukan  jawaban dari masalahnya.

Ia mengangkat kedua tangannya dan memberi shaka sign kepada ketiga peselancar lain yang masih mengais ombak di Tanah Lot lalu mendayung kembali ke daratan. Tepat ketika kaki Danum yang masih terpaut dengan tali di board-nya menginjak pasir, mata kenari wanita itu menangkap sosok seorang bocah laki-laki yang sedang duduk sendirian di atas karang.

Danum terdiam sejenak, semilir angin mengacak-acak rambut bocah laki-laki itu hingga menutupi sebagian wajahnya, tapi wanita itu masih bisa menemukan sorot kesedihan yang diterbangkan angin menuju hatinya. Maka, seolah-olah ada tangan dewa yang mendorongnya, Danum melepaskan tali yang mengikat kakinya pada board, meninggalkannya tergeletak begitu saja di pasir, dan berjalan  mendekati bocah laki-laki itu.

“Hei,” sapa Danum saat ia sudah berdiri tepat di dekat bocah laki-laki itu. “Boleh aku duduk di sampingmu?”

Bocah laki-laki itu menoleh, ia tersenyum tipis, dan menggeser tubuhnya sedikit—memberi Danum ruang untuk duduk di dekatnya.

“Siapa namamu?” tanya Danum lagi, berharap mendengar suara bocah laki-laki itu. “Namaku Danum. Panggil saja Mbok[4] Danum.”

“Panggil saja Wayan, Mbok.” Wayan tak menelengkan pandangannya dari lautan, ia menjawab dengan sorot mata lurus ke depan. Kesedihan begitu gamblang telihat pada kilatan matanya.

“Adi[5] Wayan sedang sedih?” tanya Danum tanpa tendeng aling-aling. Sebagian hati wanita itu menyesali pertanyaannya barusan, tapi sejujurnya ia tak tahu bagaimana caranya mengorek luka di mata itu keluar dalam kata-kata.

“Iya, Mbok. Wayan sedang sedih.”

“Sedih kenapa?” desak Danum lagi.

“Wayan ingkar janji sama sahabat Wayan.” Wayan menarik kakinya merapat ke dadanya dan memeluk tungkai kurus itu. “Wayan sudah bikin dia kecewa.”

“Kalau begitu, kamu bisa kembali pada sahabatmu dan meminta maaf,” sahut Danum. “Janji dibuat memang untuk ditepati tapi ada kalanya semesta berkata lain dan dewa-dewa punya cara tersendiri untuk menepatinya.”

“Sayangnya, Mbok, Wayan tak bisa.”

“Kenapa? Kamu takut sahabatmu tidak mau memaafkan?”

Wayan menggeleng, tapi ia tak mengungkapkan alasan sebenarnya.

“Mbok Danum jago berselancar?”

Mendengar Wayan berinisiatif bertanya, Danum pun tak kuasa menahan senyumnya. “Tidak begitu jago sih, tapi Mbok sering ikut kompetisi di luar negeri.”

Seketika itu juga mata Wayan berbinar, kesedihan dan luka yang melumuri matanya pun sirna seolah-olah jawaban Danum memberinya harapan yang selama ini ia tunggu.

“Kalau begitu, Mbok Danum bisa bantu Wayan tidak?” senyum Wayan memenuhi dada Danum, gempuran pengharapan yang bocah laki-laki itu berikan padanya mengisi sela-sela hati yang kosong. Danum tak pernah merasa seperti ini sebelumnya dan entah kenapa ia ingin terus merasa seperti ini untuk waktu yang lama.

Kalau bisa selamanya.

“Boleh. Wayan mau minta tolong apa memangnya?”

Wayan melebarkan senyumnya. “Tolong bantu Wayan tepati janji pada Wulan. Sekarang, Wulan pasti sedang mencari-cari Wayan. Tolong ya, Mbok.”

Danum terperanjat, ia kebingungan, tapi mata Wayan yang begitu penuh dengan harapan membuatnya tak tega untuk berkata ‘tidak’. Maka, perlahan-lahan Danum balas tersenyum dan mengangguk mantap. Entah apa pun janji Wayan pada sahabatnya, Wulan, Danum pasti akan menolong Wayan untuk menepatinya.

“Dayu[6]! Pelan-pelan jalannya! Hati-hati jatuh!” suara serak wanita paruh baya menarik perhatian Danum. Ia menoleh ke arah suara itu berasal dan mendapati seorang ibu-ibu berkebaya bali sederhana dan tampak sedikit lusuh tertatih-tatih mengejar seorang perempuan muda yang jalanannya begitu cepat meski terpincang-pincang,

Danum mengerutkan dahi, postur tubuh perempuan itu lebih kecil dari orang kebanyakan, hal itu juga dipertegas dengan kebaya yang ia kenakan terlihat agak kebesaran. Tubuhnya gempal dengan leher yang besar serta wajah lonjong, rambutnya pun pendek hingga bentuk kepalanya yang sedikit tidak mulus itu terlihat jelas bahkan dari tempat Danum duduk. Danum memberi rasa prihatin di dalam hati dengan kondisi perempuan itu, sejenak memanjatkan doa pada dewa untuk melindunginya, lalu menoleh kembali pada Wayan…

yang ternyata telah menghilang secepat angin yang menggulung ombak pergi.

Mata Danum mengerjap, berkali-kali, hingga wanita itu yakin bahwa bocah laki-laki bernama Wayan itu kini benar-benar tidak berada di sampingnya. Sejenak bulu kuduk Danum meremang, Danum tak yakin dengan siapa ia bicara tadi, tapi kilasan akan senyuman Wayan dan matanya yang berbinar penuh harap padanya beberapa saat yang lalu membuat wanita itu meyakini bahwa semua ini bukanlah sekadar mimpi.

“Dayu! Dayu Wulan! Hati-hati!”

Danum terperanjat. Wulan?

Secepat kilat Danum berdiri, menoleh, dan dengan saksama meniti perempuan yang kini menendang-dendang air laut yang telah menenggelamkan kakinya hingga betis. Wanita paruh baya di belakangnya berusaha keras menariknya kembali ke pasir kering, tapi perempuan itu merontak sambil terus mendang air dan meneriakkan kata-kata yang tidak jelas.

Danum bergegas mendekati kedua orang itu, dadanya berdebar kencang; wanita itu tak yakin dengan apa yang akan ia lakukan, tapi ini pasti jawaban dari Dewa Mahatara atas doa-doanya selama ini. Danum semakin dekat, ia menatap wanita paruh baya yang sudah kewalahan itu lekat-lekat—meminta izin untuk mencoba membujuk perempuan yang masih saja berteriak-teriak dengan kata-kata yang tidak jelas dan menendangi air itu.

“Wulan?”

Mendapati suara lain yang memanggil namanya, perempuan itu berhenti bergerak, ia mengangkat wajahnya yang berlumuran air mata ke arah Danum dan seketika itu juga tersenyum ramah.

“Hal..oh… he…” sapa Wulan lembut, kedua tangannya mengelap air mata yang leleh di pipinya dan berjalan mendekati Danum. Kini Danum dapat melihat dengan jelas mata almon dengan kelopak tebal itu, gigi-gigi Wulan yang tak rapi, dan lidah lebarnya yang membuat ia kesulitan berbicara dengan jelas. Hati Danum mencelus, bukan lagi karena perasaan kasihan, tapi bahagia yang meledak-ledak seolah-olah baru saja menemukan harta karun kehidupan yang selama ini ia cari-cari.

“Hal-oh… akuh Wuhlan… he…” Wulan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan Danum pun menyambut jemari pendek dan gemuk itu begitu erat dan mantap.

“Hai, aku Danum.” Danum sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajah pada Wulan. “Kenapa Wulan tadi menangis?”

“Wuhlan… emmmh… ah…” bibir Wulan bergerak-gerak, ia mencoba mencari-cari kata dari koleksi kosa katanya yang terbatas. “Wahyan… janjih… itu hahrus dihtepatih… dhan Wuhlan… menungguh lamah.”

“Dayu Wulan…” wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari Danum menyela. “Wayan sudah pergi; Wayan sudah meninggal. Sudah sepuluh tahun Dayu… relakan dia.”

“Tihdak! Wahyan puhya janjih… harus dihtepatih!” Wulan membuang muka sembari melipat kedua tangannya di depan dada; matanya berkaca-kaca.

Danum terkesiap, ia sontak menoleh kepada wanita paruh baya itu dan dalam hening memintanya untuk menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Wayan itu sahabat kecil Dayu Wulan. Hanya Wayan anak seusianya yang mau bermain dengan Dayu saat itu. Mereka dekat sekali bagai saudara. Tapi sayang, Wayan meninggal saat nekat berselancar padahal laut sedang pasang waktu itu.” Wanita itu mendesah berat dan memandang Wulan prihatin. “Sepertinya ia punya janji dengan Dayu Wulan dan Dayu masih menagih janji itu. Sampai sekarang.”

Napas Danum tertahan di tenggorokan, segera setelah mendengar tentang kenyataan itu ia melangkah semakin dekat pada Wulan dan jatuh berlutut di depan perempuan itu. Air mata Danum menggenang di pelupuk mata, jemarinya gemetaran meremas bahu kecil Wulan, dan perlahan-lahan memberanikan diri untuk bertanya.

“Me-memangnya… Wayan janji apa pada Wulan?”

Senyum Wulan merekah, lalu dengan kedua tangan yang melambai-lambai di udara ia menjawab, “Wahyan berjanjih akhan… menunggahi sehluruh ombakh dih duniah… untukh Wuhlan!”

‘Wayan berjanji akan menunggangi seluruh ombak di dunia untuk Wulan’

Seketika itu juga tangis Danum pecah. Secepat kilat ia menarik Wulan ke dalam pelukannya dan membiarkan perempuan itu kebingungan untuk sesaat sebelum akhirnya Danum berkata, “Izinkan aku… izinkan aku menggantikan tempat Wayan untuk menepati janji itu.

“Wayan… Wayan telah mempertemukan kita, Wulan. Melalui Wayan, inilah jalan yang telah dewa siapkan agar kita bersinggungan. Aku dan kamu memang ditakdirkan untuk bertemu dan saling mengobati luka satu sama lain. Oh, Wulan… ” Danum terisak kembali, pelukannya semakin erat, hatinya penuh dengan perasaan cinta dan harapan yang selama ini ia cari-cari. Ia tak pernah tahu, bahwa perasaan seperti ini eksis di dalam kehidupan karena baru kali ini ia merasakannya.

“Aku akan menunggangi seluruh ombak di dunia ini untukmu, Wulan…” Danum membenamkan wajah pada bahu kecil Wulan, “dan aku akan menepati janji ini. Demi diriku sendiri, juga demi Wayan.”

Wulan terlonjak senang saat mendengar perkataan Danum, ia balas memeluk wanita itu sambil meloncat-loncat kegirangan. Sementara Danum masih menangisi hidupnya yang baru kali ini mengerti arti dari kata bahagia. Karena meskipun ia tumbuh dengan meyakini  bahwa kehidupan adalah tempat sementara bagi manusia sebelum naik ke langit, Danum menjalani hidup ini sendirian seperti robot tak punya hati, tanpa tahu kalau selama ini yang ia butuhkan untuk membuat hidupnya berarti adalah cinta, harapan, dan…

seorang sahabat.

 

Fin.

A/N:

(2.080 kata termasuk judul dan footnote)

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis.

[1] Salam yang biasanya digunakan oleh para peselancar dalam budaya peselancar, memiliki banyak arti termasuk ‘halo’ atau ‘sampai jumpa’

[2] (Bahasa Dayak) Ayah dan Ibu

[3] Dewa tertinggi dalam agama Kaharingan

[4] (Bahasa Bali)Panggilan untuk kakak perempuan

[5] (Bahasa Bali)Panggilan untuk adik laki-laki

[6] Singkatan dari ‘Ida Ayu’ nama/gelar yang menunjukkan kasta dari keturunan Brahmana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s