[Coretan Dicta] Bagaimana Jika Aku Gagal Lagi?

Aku sudah tak punya lagi sisa kata-kata bijak untuk diriku sendiri saat pertanyaan itu terlintas di benakku hari ini. Bagaimana jika aku harus melalui perasaan seperti itu untuk kedua kalinya dan untuk hal yang sama? Apa hatiku bisa bertahan dengan gempuran perasaan menyedihkan itu lagi? Seperti keledai dungu yang jatuh pada lubang yang sama dua kali.

Sungguh, perlu waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka-luka atas kegagalanku sebelumnya, perlu masa-masa yang cukup berat tentang penyangkalan-penyangkalan diri agar aku bisa menerima sebuah kegagalan, dan aku tak ingin mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya. Tentu saja, semua orang tak ingin mengalami hal menyakitkan untuk kedua kalinya.

Tapi… bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?

Apa yang harus aku lakukan?

Aku sudah memiliki jawabannya tapi aku tak bisa menyatakannya sekarang, terlalu abu-abu dan aku tak ingin menjadi manusia munafik dan sok seperti para motivator. Okay, aku akui memang rada sentimen denga profesi motivator, tapi kadang kala aku juga melakukan pekerjaan iitu pada beberapa orang di dekatku dan hal itu membuat diriku sendiri muak karena tak ada satu pun kata-kata yang aku ucapkan mampu membuat temanku BERUBAH. Rasanya sia-sia berbicara di kuping lebar mereka dari pagi hingga subuh lagi jika tak ada satu pun dari kata-kata itu yang mampu membuat mereka “BEKERJA UNTUK MERUBAH DIRI SENDIRI”.

Jadi, aku ingatkan padamu ya, kalau kebetulan sedang membaca tulisanku ini. Tidak akan ada satu pun motivator di dunia ini yang bisa mengubah dirimu selain dirimu sendiri. Mereka—para motivator itu—memotivasi orang-orang untuk mengisi perut mereka; mereka dibayar untuk berbicara. Sementara kata-kata yang mereka ucapkan  tak bisa membuat dirimu kenyang selain kamu bekerja dan mencari uang lalu mengenyangkan perutmu sendiri.

Mengerti?

Jadi, sebelum aku kembali ke topik awal kita tentang kegagalan. Aku hanya ingin mengatakan padamu, berhentilah mengikuti seminar-seminar motivator karena hal itu tak akan berguna sebelum kalian sendirlah yang sadar dengan kesalahan di hidup kalian.

Mau tahu kenapa?

Itu dikarenakan sebagai manusia, masing-masing dari kita memiliki dua hal yang bernama “EGO dan HARGA DIRI”, terkadang, apa pun yang orang katakan tentang diri kita meskipun itu benar, ada sebagian dari diri kita yang menyangkalnya dengan memberikan alasan, bahwa: “Aku sudah baik apa adanya, jadi BUKAN AKU yang harus berubah melainkan MEREKA yang harus bisa menerimaku apa adanya.” Sifat ini alamiah, umum ada di dalam diri manusia, hanya saja, alasan ini pula yang kadang digunakan untuk menyangkal sifat-sikap jelek kita untuk menolak perubahan diri. Berjuta-juga kali pun para motivator, bahkan teman, sahabat, saudara, orangtua, keluarga besar, atau seluruh dunia mengatakan kalau kamu harus berubah tapi kamu masih memiliki alasan itu. BAH, sampai mati kamu tidak akan berubah karena kamu masih memiliki ego dan harga diri yang tinggi untuk mengakui bahwa dirimu…

BELUM BAIK.

Jadi, aku lebih menyarankan pada kalian semua—ketimbang mendengar motivator berkoar-koar sementara masih ada ego dan harga diri dalam diri kalian—berikanlah jiwa kalian makanan dengan menambahkan waktu untuk tenang setiap harinya dalam doa dan meditasi. Bayangkan bahwa roh kalian keluar dari tubuh dan melihat diri kalian sekarang ini. Refleksikan kehidupan kalian hari itu atau kehidupan kalian sebelumnya, renungkan segalanya dan teruslah bertanya pada diri kalian.

Sudah baikkah diriku?

Jika jawabannya belum, maka tersenyumlah, buka hati kalian lebar-lebar dan terimalah dengan lapang dada kesalahan kalian. Dengan menerima semua keburukan kalian dan mengakui kesalahan itu, maka di sanalah kalian menemukan kerendahan hati untuk menerima sebuah perubahan besar dalam hidup kalian.

Itu…

 SUPER SEKALI!!

*tebar konfeti* *tepuk tangan* *jikrak-jingkrak*

HUAHAHAHAHA. Alamak, macam motivator saja aku ini!😄 Baiklah, itu sedikit pendapatku tentang motivator. Yah, kalau mau diterima ya syukur ya kalau mau dicaci maki ya silakan. Sebenarnya, cara masing-masing orang untuk merefleksikan diri dan berdamai dengan diri sendiri itu ada banyak, yang paling standar ya doa dan meditasi—kedekatan kalian dengan Tuhan adalah satu-satunya cara untuk memahami kehendak Tuhan dalam hidup kalian dan seperti yang kita tahu, Tuhan hanya sejauh doa dan hening.

Selain doa dan meditasi, aku pribadi melakukan refleksi jiwa dengan menulis. Seperti saat aku menulis coretan ini. Aku tidak pernah membuat kerangka tulisan atau menyiapkan kata-kata atau menyusun kata-kata bijak atau apa pun itu saat aku sedang menulis konten “Coretan Dicta” ini. Semua yang aku tulis di dalam ini adalah perasaan jujur yang keluar spontan di dalam diriku. Maka dari itu, kadang kala susunannya berantakan, seperti halnya tadi di awal aku sedang membahas kegundahanku tentang kegagalan lalu merambah  tentang pendapatku pada sosok motivator dan  sekarang aku sedang menulis paragraf ini yang masih saja tidak ada hubungannya dengan judul. Hahaha, semua mengalir begitu saja dan terus begitu hingga akhirnya sekarang…

Aku masih tidak tahu bagaimana aku harus menjawab pertanyaan itu.

Bagaimana jika aku gagal lagi?

Aku sudah berdoa dan bermeditasi, lalu menulis coretan ini. Perasaanku jauh lebih baik sekarang, sangat-jauh lebih baik, tapi aku masih ragu dengan jawabanku. Ada beberapa pilihan jawaban yang sudah aku pikirkan, yaitu:

  1. Menerima apa yang sudah ada dan mensyukuri hal itu tanpa harus mencoba lagi. Seseorang pernah berkata padaku: “Kesalahan yang terjadi berulang kali bukan lagi sebuah kesalahan melainkan pilihan.” Jadi, dengan menyukuri apa yang telah aku dapat dan bahagia dengan hal itu, maka hatiku akan terhibur dan semuanya akan menjadi baik-baik saja. Seperti sungai yang mengalir.
  2. Terus mencoba dan mengambil risiko menjadi keledai yang lebih dungu dari keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali. Ini pikiran gila saja, tapi pikiran gila ini yang membuat Thomas Alfa Edison menjadi penemu listrik pertama di dunia dan penemu-penemu lainnya. Pepatah mengatakan ‘belajar dari kesalahan’ tapi bagaimana jika kita tak tahu di mana kesalahan kita karena ego dan harga diri yang tinggi? Apa terus mencoba dengan luka-luka yang masih basah mampu membuat kita memenangi pertarungan?
  3. Menyadari kalau seorang kesatria bijak tidak akan mengikuti pertarungan yang tidak mungkin ia menangkan. Aku menyadari, sebenarnya ada perbedaan besar antara orang gagal dan orang kalah. Seperti yang pernah didengungkan oleh penulis kegemaranku, Paulo Coelho: “Orang kalah tidak pernah gagal”. Kenapa? Karena orang gagal adalah mereka yang merasa diri gagal bahkan sebelum mencoba. Mereka yang gagal adalah orang-orang yang tak pernah terjun ke medan perang dan merasakan luka-luka akibat pertempuran. Mereka yang gagal adalah mereka yang tinggal di zona nyaman dan menipu diri kalau mereka baik-baik saja. Mereka yang gagal adalah mereka yang tak pernah merasakan manisnya sebuah kemenangan.

Jadi, siapakah aku? Orang gagal ataukah orang kalah. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri kalau aku adalah orang yang kalah bukan gagal. Aku merasakan luka-luka itu begitu menyakitkan dan membuatku menderita, tapi aku tak pernah lari dari luka-luka itu, aku terus mencari bagaimana caranya agar luka-luka itu bisa disembuhkan. Bahkan hingga hancur hatiku dan leleh air mata ini tak pernah kubiarkan diriku lari dari arena pertempuran yang telah aku masuki.

Yah, aku kalah, aku nyaris selalu kalah, hanya sedikit pertempuran yang kumenangi dan luka-lukaku pun telah banyak bernanah. Mungkin aku terlalu mengambil risiko tanpa memikirkan logika, hingga akhirnya sekarang aku sadar…

Mungkin saja kekalahan-kekalahan yang berulang kali aku rasakan itu karena aku mengikuti pertempuran yang tidak mungkin aku menangkan. ZERO POSSIBILIITY. Maka, dengan menyadari hal itu dengan bijak, sebagai kesatria aku akan mundur dari pertempuran yang tidak akan mungkin aku menangkan itu; lalu mengakui kekalahan dan kesalahanku; dan mencari pertempuran lain yang memiliki kemungkinan bagiku untuk menang. Hidup ini adalah kumpulan pertempuran berupa kesempatan-kesempatan dan risiko, bisa satu pertempuran tertutup untukku, maka aku akan mencari pertempuran lain karena aku…

Tak akan pernah berhenti bertempur.

Ya, tidak akan pernah berhenti karena hidup ini untuk menjadi seorang pemenang, bukan menjadi orang gagal.

Well, itu dia tiga jawabanku atas pertanyaan di atas. Mungkin aku lebih memilih jawaban ketiga kali ya? Sosok kesatria kayaknya terdengar keren sekali. Hahaha, entahlah, aku juga tidak tahu, tapi itu perasaan jujurku. Daripada memandang diri sebagai manusia yang menerima apa adanya atau manusia yang menyerang secara membabi buta tanpa mengetahui kesalahan-kesalahan diri. Aku mungkin lebih memilih untuk menjadi bijak dan menyadari kalaupun aku kalah dalam satu pertempuran, masih akan ada pertempuran lain yang menanti untuk aku menangkan.

Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk memenangkan sesuatu di hidup kita. Selalu. SELALU. Entah kita yang memilih untuk terjun ke arena tempur atau hanya diam dan membiarkan pertempuran itu berlalu dari hadapan kita.

Jadi, apa yang kamu pilih untuk menghadapi “kegagalan”  (atau sebenarnya aku lebih senang menyebutnya kekalahan) untuk kesekian kalinya? Berdiam diri , meruntuki nasib lalu menyalahkan Tuhan, dan menjadi orang yang benar-benar gagal atau terus terjun ke pertempuran-pertempuran lain sampai nanti kamu memenangkan sesuatu?

Apa pun jawabanmu, itu adalah pilihan hidupmu.

SUPER SEKALI.😄 Hahaha.

Okaaay, panjang banget deh coretanku kali ini. Maka, sekarang sebagai penutup, aku ingin menyampaikan kutipan dari Paulo Coelho yang merupakan kesimpulanku tentang orang gagal.

“Orang gagal mungkin hidup tanpa merasakan sakitnya luka-luka akibat pertempuran, tapi orang gagal juga tidak pernah memenangkan apa pun dalam hidupnya.”

 

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 24-06-15

01.12 WIB

Di Kamar kos yang berantakan

P.S:

Hei, aku mungkin terbaca seperti telah menjawab pertanyaan di atas, tapi jawabanku selalu berubah dan kadang kala tidak konsisten. Hahaha, jadi jangan anggap terlalu serius tulisanku ini karena setidaknya, seperti yang selalu aku katakan, aku akhirnya punya tulisan untuk kubagi dengan kalian meski aku tidak pernah menjawab apa pun.

 Wohooo, I’m back, Para Penikmat Kata! I’m back!

3 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Bagaimana Jika Aku Gagal Lagi?

  1. Hal yang sama saya rasakan. Menunggu pengumuman SBMPTN begitu mendebarkan, pikiran-pikiran mengenai “Akankah saya berhasil?” dan “Bagaimana bila saya gagal lagi?” selalu terbayang bak hantu. Terus berpikir positif dan berdoa! Hasil tidak akan pernah membohongi usaha🙂

    1. Hasil memang tak pernah membohongi usaha, tapi kadang kala usaha kita tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Hehehe. Percayalah Tuhan selalu mengambil bagian dalam tiap tahap kehidupan kita.

  2. Ping-balik: SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s