Tentang Ani dan Senja

holding-hands

Ani,
Tolong katakan pada senja, terima kasih untuk waktu yang telah ia berikan padaku. Dua puluh menit yang lalu ia menemaniku di ujung dermaga sembari menyisipkan puisi tentang buih laut yang mencintai bulir pasir. Kepak elang di ujung cakrawala bilang puisi itu sudah basi, tapi aku menyukainya karena mayapada selalu berhasil membuatku mengingat tentangmu dengan berbagai cara.

Ani,
Tolong katakan pada senja, aku akan kembali esok hari. Jika tidak, mungkin lusa. Mungkin juga keesokan harinya lagi. Aku sudah meninggalkan janji di batu karang itu, ada namamu di sana, dilumati lendir dan lumut tapi masih jelas terasa. Seseorang bilang padaku, bangunlah rumah di atas batu karang agar bebas dari gempuran ombak. Maka dari itu, kutinggalkan namamu di sana, sejenak untuk mengingatkan karang bahwa di sanalah rumah hatiku berada.

Ani,
Tolong katakan pada senja, jangan merindukanku karena aku tak pernah merindukannya. Apa yang datang,  pasti akan pergi. Siklus itu sama persis dengan siklus yang biasa kamu sebut kehidupan sementara aku menyebutnya kematian. Iya, cara kita memandang semesta memang berbeda, kamu selalu menjadi Nona Optimis sementara aku Si Lelaki Tukang Nyinyir. Tawamu tujuh tahun yang lalu di kedai itu mengingatkanku pada gempuran ombak yang biasanya kutunggangi di Pantai Kuta; menggempurku dengan perasaan kalah yang tak berkesudahan. Kamu selalu memenangkan segalanya, termasuk hidupku.

Ani,
Tolong katakan pada senja, aku tidak mengharapkan apa pun darinya. Cukuplah aku tahu ia ada; setia di dermaga itu dan aku sudah puas dengan semua yang ada di hidupku saat ini. Bila senja tanya mengapa, tersenyumlah padanya, peluk senja dengan tangan-tangan indahmu dan ucapkan terima kasih padanya.

Karena hanya ialah satu-satunya penghubung hatiku dan hatimu…

Reuni

Menghirup udara yang sama denganmu membuatku sadar  sudah begitu lama aku tak mencium aroma mentol itu. Lima tahun yang berjalan singkat, kita bukan lagi sepasang begudal yang acapkali disetrap di bawah bendera sambil cekikikan lantaran ketahuan merokok di pemburit sekolah. Sekarang, kamu sudah berubah menjadi tawanan kubikel kantoran di salah satu perusahaan ternama, sementara aku masih mengandalan deretan kata yang siang malam kutulis di layar datar. Kamu bilang hidupmu berjalan baik, gaji besar, imbuhmu. Namun, kutemukan ada lubang hitam di manik mata itu.

Aku tahu, Sobat, kamu iri padaku… dua tahun menggelandang lepas ditendang Bapak keluar dari rumah. Aku hidup bagai hantu siang dan malam; menjual diri pada peluh di siang hari dan komputer busuk di malam hari. Sampai akhirnya, aku berhasil menjual satu cerpenku pada sebuah surat kabar dan dibayar murah untuk itu; hari itu, akhirnya aku mampu membeli nasi padang dengan honor pertamaku.

Aku tertawa tiba-tiba tatkala mengingat kembali hari-hari mengerikan itu dan kamu pun hanya mengerutkan dahi kebingungan. Kukibaskan tangan ke udara untuk mengalihkan perhatian, sampai kutemukan lagi matamu terpaut dengan pandanganku.

“Sobat,”kataku, kutepuk bahumu, dan tersenyum. “Tidak ada kata terlambat untuk bermimpi.”

Kamu mengerjap. Terpukau.  Lalu, kutinggalkan kamu dengan selembar tiket orkestra di atas meja. Membiarkanmu menangisi mimpi masa muda yang dulu kamu serahkan pada orangtua untuk dibakar dengan “harapan dan nasihat”.

SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar

Baiklah, coretan ini tidak akan panjang lebar ngalor-ngidul ke sana kemari karena aku tak punya waktu cukup panjang untuk curcol panjang lebar. Satu-satunya hal yang ingin aku sampaikan di sini adalah memamerkan hasil perjuanganku selama setahun ini dalam sebuah foto sederhana.

image

YAK! Benar! Aku lulus SBMPTN 2015! WOHOOOOOO! Setelah perjuangan penuh air mata, isak tangis, perseteruan dengan keluarga. Akhirnya aku berhasil membuktikan pada mama serta papa di surga kalau aku mampu! Mampu masuk universitas terbaik di Indonesia! UGM (Universitas Gadjah Mada)!

Baca lebih lanjut