SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar

Baiklah, coretan ini tidak akan panjang lebar ngalor-ngidul ke sana kemari karena aku tak punya waktu cukup panjang untuk curcol panjang lebar. Satu-satunya hal yang ingin aku sampaikan di sini adalah memamerkan hasil perjuanganku selama setahun ini dalam sebuah foto sederhana.

image

YAK! Benar! Aku lulus SBMPTN 2015! WOHOOOOOO! Setelah perjuangan penuh air mata, isak tangis, perseteruan dengan keluarga. Akhirnya aku berhasil membuktikan pada mama serta papa di surga kalau aku mampu! Mampu masuk universitas terbaik di Indonesia! UGM (Universitas Gadjah Mada)!

Tulisan ini sebenarnya lanjutan dari tulisanku tahun lalu yang berisi kegalauan serta optimism yang kupupuk di hatiku sejak dinyatakan gagal SBMPTN 2014. Tahun kemarin, aku begitu ingin mengejar ITB, mataku seperti ditutup karena tak pernah ada pikiran untuk berpaling dari ITB. Namun, seiring berjalannya waktu, aku sadar betul kalau ITB bukanlah jalanku.

Ya, ITB adalah cinta pertamaku, tapi cinta pertama selalu gagal meski tak pernah terlupakan. Aku percaya, bahwa Tuhan telah menyediakan sebuah tempat untukku berkarya dalam jalannya dan itu bukanlah ITB. Maka dari itu, selama berbulan-bulan aku merenung, terus bertanya di dalam hati apa yang sebenarnya ingin aku lakukan dalam hidupku. Hingga akhirnya semesta berbicara padaku melalui orang-orang di sekitarku bahwa ada sebuah universitas rakyat yang menantiku di sisi lain pulau Jawa.

Universitas Gadjah Mada.

UGM. Pada mulanya universitas ini terasa asing bagi jiwaku. Aku merasa tak punya gairah untuk mengejarnya dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya belajar pun sekadarnya saja. Padahal, aku adalah anak jurusan IPA yang “mencuri” satu tempat di jurusan IPS. Seharusnya aku belajar lebih giat, mungkin saja aku masih merasa kecewa dengan kejadian tahun lalu (aku sangat gila belajar dan berdoa tahun lalu jadi kegagalan tahun lalu benar-benar membuatku terpukul). Namun, seiring berjalannya waktu, aku pun sadar bahwa ini adalah kesempatan terakhirku untuk membuktikan pada orang-orang disekitarku!

Ini yang terakhir! Benar-benar terakhir! Karena aku tak bisa mengejar mimpi ini lagi tahun depan. Kesempatan untuk memperbaiki diri hanya sekali dan inilah saatnya.

Seperti yang aku yakini, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi, maka aku harus membayarnya dengan merelakan waktu bersenang-senangku, ngekos sendirian di Yogyakarta, mengikuti bimbel di sana, dan mengurus segalanya sendirian untuk ujian masuk. Lalu, untuk mimpi menjadi mahasiswi di sebuah universitas negeri beken, aku merelakan waktu satu tahunku untuk mengulang dan fokus mengejar mimpi ini.

Oh kawan, aku tak bisa menjelaskan padamu satu per satu, seberapa banyak yang telah aku bayar untuk mengejar mimpi ini. Harganya memang mahal, Kawan, sangat mahal, tapi perasaan memenangkan sesuatu seperti ini tidak akan pernah mampu dibeli bahkan jika aku adalah orang terkaya di muka bumi ini.

Well, seperti yang kalian lihat. Aku masuk jurusan Bahasa Korea, Universitas Gadjah Mada. Pilihan jurusan ini sebenarnya adalah pilihan ketiga. Hahaha. Semua pilihan universitas di SBMPTN 2015 ini adalah UGM. Hahaha. Aku benar-benar ingin masuk ke universitas terbaik di Indonesia ini! Eit, tapi jangan kira karena pilihan ketiga maka aku tidak menekuninya ya, justru karena pilihan ketiga inilah aku benar-benar ingin masuk UGM.

Pilihan pertamaku adalah Akuntasi UGM dan pilihan keduaku adalah Sastra Jepang UGM. Pilihan pertama adalah pilihan Mama. Mama tak menyetujui aku meletakan sastra di urutan pertama karena menurutnya sastra “tidak punya masa depan”. Baiklah, aku turuti pilihan Mama, karena aku tak bisa melawan orangtua seperti yang aku lakukan tahun lalu. Namun di dalam hati, asal kalian tahu saja, aku sudah tahu kalau aku pasti masuk sastra UGM. Entah itu sastra Jepang atau Bahasa Korea.

Tuhan telah menunjukkan padaku pertandanya dan belakangan aku nyaris tak pernah luput untuk menyadarinya. Hahaha. Mungkin aku kedengarannya begitu percaya diri, tapi sebenarnya tidak juga kok. Aku juga punya cadangan universtas swasta dan sudah diterima, jurusan Akuntasi, Universitas Atma Jaya Yogyakerta. Mama sangat senang aku keterima masuk ke Atma Jaya jurusan idamanannya dan aku pun hanya bisa bersyukur karena setidaknya aku tahu meski tak lulus SBMPTN tahun ini aku pasti kuliah tahun ini.

Tapi… seperti yang kalian tahu! Aku sudah membayar mahal untuk mimpi ini dan Tuhan tahu itu. Tuhan tahu dan aku tahu Tuhan mendengar doa-doa serta melihat pekerjaanku selama ini. Tuhan tidak pernah tidak mengabulkan doa-doa umatnya yang meminta dengan tulus dan rendah hati. Kegagalanku tahun kemarin juga adalah harga yang harus aku bayar untuk kemenanganku tahun ini. Tuhan tidak akan pernah mengecewakanku.

Tuhan tidak pernah mengecewakan siapa pun.

Kita aja yang kalau doa suka baper, jadi kalau gak langsung dikabulkan langsung menghujat Tuhan. LOL. Berdoalah dengan rendah hati dan percayalah Tuhan akan menjadikan semuanya indah pada waktunya.

Ya, semua akan indah pada waktunya dan yang harus kita lakukan sekarang adalah percaya akan hal itu.

Okay, akhir kata, aku ingin menunjukkan pada kalian coretan-coretanku dari waktu ke waktu. Semua coretanku itu berurutan sesuatu dengan tingkat kelabilan pikiranku saat itu. Maka dari itu, kalian yang hanya membaca coretan ini mungkin mengira aku begitu tenang menghadapi fase kehidupan ini. Padahal? Hahahaha, aku juga galau gak tanggung-tanggung loh!😄 Silakan baca aja kalau kepengen.

  1. Tentang Hidupku Setelah SBMPTN 2014

Aku menulis ini satu jam setelah pengumuman SBMPTN tahun kemarin. Isinya penuh dengan kata-kata menenangkan diri sendiri dan optimisme. Padahal sebenarnya aku hanya mencari-cari pembenaran diri. Hahaha.

  1. Memulai Sebuah Perjalanan

Aku melakukan perjalanan pendek dari rumah ke toko. Well, aku melakukan ini karena aku perlu waktu untuk menenangkan diri.

  1. Confession

Tulisan ini aku buat untuk menunjukkan sebenarnya aku tidaklah sekuat kata-kata yang aku tulis selama ini.

  1. Kembali Bercermin dan Menangis

Coretan ini kubuat saat aku mulai merasa tidak percaya diri dengan diriku sendiri. Meragukan segalanya.

  1. Loneliness

Aku kesepian. Aku merasa sedih dan aku merasa tak ada satu pun di dunia ini yang mengerti apa yang aku inginkan. Maka dari itu memutuskan untuk melakukan segalanya sendirian.

  1. My True Dream

Di titik ini aku menyadari apa mimpiku sesungguhnya.

  1. Unfocus Moment

Aku telah menyadari mimpiku sesungguhnya dan ada realita yang harus aku jalani saat itu. Banyak hal terjadi dalam suatu waktu dan aku merasa benar-benar tidak fokus. Kembali, aku meragukan mimpiku.

  1. Titik Balik

Aku masih memutuskan untuk mengejar ITB di titik ini. Namun tidak gelap mata seperti tahun-tahun lalu.

  1. Mimpi yang Terakomodir

Meski aku masih ingin masuk ITB, orang-orang disekitarku membujukku untuk menyerah. Sebagian diriku masih tak rela, tapi aku sadar, mengejar ITB sebenarnya hanyalah mengejar gengsiku semata dan mengabaikan mimpiku yang sesungguhnya.

  1. Mereka yang Menantiku

Ini surat untuk teman-temanku di Yogyakarta. Setelah melalui berbagai kejadian pada jangka waktu ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengejar mimpiku yang sesungguhnya. UGM, I’m coming!

  1. Mengumbar Luka

Di Yogyakarta, aku mengalami krisis pada diriku sendiri. Luka batin di hatiku membuncah dan menanti untuk disembuhkan.

  1. Bagaimana Jika Aku Gagal Lagi

Ini coretan terakhir sebelum ini. Isinya tentang kegalauanku yang tidak yakin apa aku bisa memenangkan pertarungan SBMPTN 2015 ini. Tapi ternyata… aku menang!

Nah, sekarang kalian tahu, perlu proses menjadi diriku sekarang ini. Aku menulis semua coretan itu sesuai dengan perkembangan mental dan kondisiku. Beberapa coretan penuh dengan perasaan marah dan jengkel, beberapa lagi penuh dengan penyembuhan diri. Well, kita semua pernah remaja, egois, dan gelap mata. Tentu saja aku pernah mengalaminya. Tapi ketahuilah, semua itu adalah fase keemasan kalian. Jangan pernah mengabaikan mimpi-mimpi masa muda karena di sanalah kalian akan menemukan mimpi kalian sesungguhnya dan mimpi yang sesungguhnya itu…

Punya harga yang harus dibayar.

😀

Banjarmasin,

Minggu, 12 Juli 2015

Tiga puluh menit sebelum ke Muara Teweh

P.S.

Terima kasih sudah membaca *winks*

17 pemikiran pada “SBMPTN 2015: Tentang Mimpi dan Harga yang Harus Dibayar

  1. Ping-balik: [Coretan Dicta] Tentang Hidupku Setelah SBMPTN 2014 | Kata-Kata Dicta

  2. Hai kak benedikta, sebelumnya aku tidak pernah mengenal kamu. Tapi hari ini aku mengenal kamu dari coretan” kamu di blog ini.
    pengalaman kamu luar biasa, selamat atas kemenangan kamu. Aku bisa merasakan perjuangan itu, karena aku juga mengalami hal yang sama meski dalam bentuk cerita yang sedikit berbeda tetapi kita memiliki ending yang sama. Jika aku mempunyai kesempatan, aku juga akan share perjuanganku di duniafirus.blogspot.com
    sekali lagi selamat kak benedikta🙂

  3. yulvi

    Aku baru saja dinyatakan tidak lulus sbmptn dan um ugm,pdahal saya sudah bimbel selama satu bulan di jogja,berusaha tegar itu memang sulit,tapi inilah hidup.
    Aku mau tanya apa yang membuat kamu tegar setahun kmarin?apa kegiatan kmu slma sthunan ini?mnrut kmu apa yg kurang dri prjuangan ku?
    Prlu motivasi,kasih motivasi dong🙂

    1. Halo, Yulvi. Salam kenal.

      Menjawab pertanyaanmu, sebenarnya saya merasa tidak berkewenangan menentukan benar atau salah. Jadi saya akan menjawab sesuai dengan apa yg pernah saya alami.

      Pertama, saya tidak setegar apa yg ada di benakmu. Seperti urutan “coretan dicta” di atas, saya punya masa2 terpuruk dan tidak menyenangkan. Tp saya selalu mencoba melaluinya dengan keyakinan bahwa “Tuhan punya rencana besar” dalam hidup saya. Semua ada alasannya. Hal itu membuat perasaan saya lebih baik.

      Apa kegiatan saya? Saya bekerja menjadi agen asuransi, mengikuti lomba-lomba kepenulisan yg beberapa saya menangkan, dll. Mengisi hidup saya dengan pengalaman sebelum akhirnya ke Jogja dan mulai mempersiapkan diri untuk tes masuk PTN.

      Apa yg kurang dari perjuanganmu bukan saya yg menilai. Tapi dirimu sendiri. Saya sarankan kamu bermeditasi dalam doa dan menanyakan pertanyaan itu pada dirimu sendiri.

      “Apa yang kurang dari perjuanganKU?”

      Sekian ya, semoga kamu bisa menentukan ke mana kamu akan pergi setelah ini.🙂

  4. dezani

    hai! tulisanmu sangat menginspirasiku. aku mahasiswi ugm yang masih memimpikan kuliah di jurusan idamanku. selamat ya! selamat menjadi bagian dari gamada🙂

  5. Rina

    Halo salam kenal, aku baru aja di tolak di sbmptn dan simak ui, setelah aku baca post kamu aku jadi inget sama apa yang aku rasain selama ini, kemarin aku sangat dibutakan ingin masuk ITB juga, rasa cemas, drop sampe pembenaran diri juga sempet aku alamin, setelah baca post kamu aku ngerasa ini yang aku alamin selama ini. Saat ini aku masih berjuang untuk bisa di terima di ptn mudah2an aku bisa di trima di ptn tahun ini ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s