Reuni

Menghirup udara yang sama denganmu membuatku sadar  sudah begitu lama aku tak mencium aroma mentol itu. Lima tahun yang berjalan singkat, kita bukan lagi sepasang begudal yang acapkali disetrap di bawah bendera sambil cekikikan lantaran ketahuan merokok di pemburit sekolah. Sekarang, kamu sudah berubah menjadi tawanan kubikel kantoran di salah satu perusahaan ternama, sementara aku masih mengandalan deretan kata yang siang malam kutulis di layar datar. Kamu bilang hidupmu berjalan baik, gaji besar, imbuhmu. Namun, kutemukan ada lubang hitam di manik mata itu.

Aku tahu, Sobat, kamu iri padaku… dua tahun menggelandang lepas ditendang Bapak keluar dari rumah. Aku hidup bagai hantu siang dan malam; menjual diri pada peluh di siang hari dan komputer busuk di malam hari. Sampai akhirnya, aku berhasil menjual satu cerpenku pada sebuah surat kabar dan dibayar murah untuk itu; hari itu, akhirnya aku mampu membeli nasi padang dengan honor pertamaku.

Aku tertawa tiba-tiba tatkala mengingat kembali hari-hari mengerikan itu dan kamu pun hanya mengerutkan dahi kebingungan. Kukibaskan tangan ke udara untuk mengalihkan perhatian, sampai kutemukan lagi matamu terpaut dengan pandanganku.

“Sobat,”kataku, kutepuk bahumu, dan tersenyum. “Tidak ada kata terlambat untuk bermimpi.”

Kamu mengerjap. Terpukau.  Lalu, kutinggalkan kamu dengan selembar tiket orkestra di atas meja. Membiarkanmu menangisi mimpi masa muda yang dulu kamu serahkan pada orangtua untuk dibakar dengan “harapan dan nasihat”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s