[Coretan Dicta] Perkara Mimpi yang Terasa Hambar

Pernahkah pada suatu waktu kamu merasa bahwa mimpimu terasa hambar? Seperti tak ada lagi gairah untuk mengejarnya sampai ke ujung dunia. Seperti tak ada lagi kuasa untuk menuntaskannya dan memuaskan diri. Seperti tak ada lagi ada mimpi yang harus dibuktikan.

Beberapa waktu belakangan ini aku mengalaminya. Mimpi itu terasa hambar. Well, aku telah membuktikan pada mama yang menghidupiku sekarang dan papa di surga bahwa aku telah berhasil masuk UGM dan diterima di jurusan yang aku inginkan. Keluarga besarku yang semula meragukan mimpiku sebagai penulis kini juga mulai men-suport-ku dengan baik. Mama yang sebenarnya masih ingin aku menjadi penerus dirinya menjaga toko di kampung pun mulai maklum dan membiarkanku melakukan apa yang aku sukai. Iya, benar. Semua izin dan berkat yang mereka berikan seharusnya membuatku bahagia, senang, dan bangga tapi tiba-tiba saja sesuatu di dalam diriku menggeliat tak terkendali, lantas sebuah pertanyaan pun muncul di benakku sebagai kesimpulan yang menakutkan…

‘Lantas apa yang akan kaulakukan sekarang?’

Aku sudah tak punya orang lagi untuk mengakuiku. Mereka telah memberikan berkat dan sekarang aku seperti tak memiliki motivasi untuk membuktikan apa pun. Padahal mimpi itu masih belum terpenuhi, padahal mimpi itu tinggal separuh jalan, tinggal apakah aku ingin menyelesaikannya atau tidak. Namun, belum lagi aku memulai langkah pertamaku untuk menciptakan karya pertamaku di dunia ini, perasaan hambar itu lalu datang, mencuri akal sehatku, dan meninabobokanku dengan berbagai alasan-alasan untuk memulai mimpiku sekarang.

‘Ah, kamu kan masih sibuk persiapan untuk kuliah, Ben?’

‘Ah, ada film bagus nih, tonton aja dulu.’

‘Ah, ada komik online baru nih, baca komik aja dulu.’

Alhasil, buku-buku novel yang aku beli pun terbengkalai seperti pajangan yang tak pernah tersentuh—berdebu dan kusam. Cerita-cerita fiksi di laptop  yang telah aku mulai pun tertinggal di folder junk tanpa tahu seperti apa akhir kisah mereka. Dunia yang dulunya begitu menggairahkan, menyenangkan, dan berbinar di mataku pun semakin hari semakin terlihat abu-abu.

Aku sudah mencoba berbagai cara untuk memotivasi diri, dari membuka lowongan request cerpen sampai memaksa diriku untuk menulis setiap hari. Namun, tetap saja, taka ada satu pun yang mampu mendorongku untuk menulis bahkan menulis coretan remeh temeh seperti ini sekali pun. Aku pun akhirnya semakin tenggelam pada tugas-tugas ospek, mencari-cari kesibukan dengan menolong teman-temanku  yang belum menyelesaikan tugas ospeknya, pergi jalan-jalan dengan orang-orang baru, mengurus kepindahan adikku, dan sebagainya-dan sebagainya. Semua kesibukan yang kubuat-buat itu berhasil membuatku mengabaikan mimpi dalam berkarya.

Sampai suatu ketika… malaikat Tuhan menegurku dengan sebuah pertanda mengejutkan. Pertanda yang sama sekali tidak kusangka-sangka akan terjadi padaku. Pertanda yang muncul seperti hujan setelah kemarau panjang yang mencekik dahaga, seperti sinar matahari setelah malam yang dingin, seperti senja untuk hati yang sedang lelah.

Aku bertemu dengan salah seorang penikmat kataku!

Holy, Jesus Crist!

Dan dia bukan penikmat kata yang biasanya. Bukan penikmat kata yang muncul di blog-ku hanya sekali dua kali. Bukan penikmat kata yang berkoar-koar telah membaca blog-ku dan meneriakiku dengan puja puji. Bukan… ia bukan penikmat kata yang seperti itu.

Ia salah seorang silent reader-ku—yang mencintai blog ini diam-diam, yang ia kutit kata-katanya dalam hening, yang ia nikmati hanya karena ia suka, bukan mencari perhatian. Apakah kalian bisa bayangkan perasaannya bertemu dengan pembaca seperti itu?

Speechless.

Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Ia bilang ia telah mengikuti blog-ku sejak lama. Sejak tulisanku masih berpola anak alay, sejak tulisanku masih berbentuk keseruan semata bukan passion yang dicintai. Ia mengikuti perkembangan tulisanku dan aku benar-benar tak menyangka ia masih setia melakukannya hingga sekarang.

Astaga. Sampai mati aku akan terus mengingat momen ini dalam benak dan tulisan—momen ketika aku menemukannya, orang yang menyukai tulisanku, bukan karena keterpaksaan atau kasihan, melainkan karena itu tulisanku, itu kata-kataku. Kata-Kata Dicta.

Hah… menulis ini membuatku mengingat kembali ketika kami nongkrong di boulevard UGM dan mengobrol sepuasnya tentang hidup dan pengalaman. Namanya Vita (aku lupa nama panjangnya, LOL), ia seumuran denganku; begitu manis dan ramah. Semesta mempertemukan kami dengan cara yang sangat tidak terduga sama sekali.

Vita ternyata adalah mahasiswi UGM angkatan ’14, jurusan Sastra Prancis, FIB! Yup! Ia satu universitas denganku juga satu fakultas denganku!

WOAAAOW!

 Kebetulan yang indah bukan? Seperti ada benang merah takdir yang menghubungkan hidup setiap orang satu sama lain. semesta mempertemukanku dengan Vita bertepatan dengan perasaan hambarku pada mimpi yang kembali terasa abu-abu.

Tuhan selalu punya cara menarik untuk menyenangkan hidupku. Selalu menyediakan kejutan-kejutan menakjubkan yang tak akan pernah bisa kusangka-sangka. Selalu tahu, bagaimana caranya menunjukkan bahwa jalanku sudah tepat.

Tuhan menyemangatiku melalui Vita. Ini caranya. This is HIS WAY.

Apakah kalian pernah mengalami hal yang seperti ini?

Aku yakin kalian pasti pernah merasakannya. Pernah mengalami ketika Tuhan menjamah kalian dan berbisik di benak kalian tentang mimpi, semangat, dan gairah untuk menggapainya. Tuhan ada di setiap sendi kehidupan kita, Ia berbicara dengan cara-Nya yang unik, kita hanya harus mendengarkan dan menyadari bahwa kita tak pernah sendirian.

Tuhan tahu kapan kita memerlukan bantuannya dan kapan Ia percaya bahwa kita bisa mengnyelesaikan segala perkara tentang hidup dengan kekuatan kita sendiri. Kita hanya perlu percaya bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita memiliki alasannya tersendiri.

Coretan ini memang terbaca magis dan terlalu religius. Mungkin kalian akan merasa risih ketika membacanya, tapi pada akhirnya, aku hanya ingin menyatakan bahwa…

‘Jangan pernah menggadaikan mimpimu pada siapa pun, apa pun, bahkan pada dirimu sendiri.’

Jangan perna lakukan itu, Sobat, karena rasa sesal akan menghantuimu seumur hidup. Mengahantuimu siang dan malammu, menggerogoti hidupmu sampai akhirnya kamu mati ketika kamu masih bernapas. Apakah kamu ingin hidup dengan penuh penyesalan seperti itu? Tentu tidak bukan?

Mungkin di tengah jalan kau akan merasa hambar pada mimpimu sendiri; tidak adanya gairah serta motivasi kadang kala membunuh mimpimu pelan-pelan. Namun, jika kamu percaya Tuhan memberkati jalan serta mimpi-mimpi muliamu, maka Tuhan akan mengerahkan segala cara untuk menarikmu kembali, menyemangatimu, dan menunjukkan padamu bahwa apa yang telah kamu pilih serta perjuangkan selama ini sudah benar.

Tuhan pasti akan mencari dan mendapatkan dombanya yang hilang. Tuhan tak akan meninggalkanmu.🙂

Well yeah, akhir kata di coretan ini. Aku ingin menyampaikan kalau aku akan berjuang untuk kembali menulis dan aktif mengisi blog ini dengan kata-kataku. Aku tidak akan membiarkan mimpi ini menjadi hambar dan akan terus memenuhi diriku dengan gairah yang meletup-letup Jadi, tunggu saja kata-kataku yang akan berserakan kembali di blog ini!

Bay-bay!

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 14 Agustus 2015

20.38 WIB

Di Kedai Makan Vegieterian

Vita (kiri) and me, hahaha. Maaf mukaku berminyak banget, baru kelar nongkie2 di jalan dan pas lagi kutjel-kutjelnya.
Vita (kiri) and me, hahaha. Maaf mukaku berminyak banget, baru kelar nongkie2 di jalan dan pas lagi kutjel-kutjelnya. Location: Gelanggang Mahasiswa UGM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s