Love Glows Like A Lighted Candle

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Aditya Nurrahman tahu bahwa lembayung senja tak akan pernah menunggu kepulangannya di pesisir pantai kampung halamannya itu. Jadi, ia hanya punya satu hal untuk dilakukan selain memaki waktu yang berjinjit melewati hari-harinya yang pendek dan padat; membuat lagu. Ini bukan perkara imajinasi yang kepalang menyesakan jiwa, bukan juga karena mengisi waktu luang di antara hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang tengah ia jalani.

Adit hanya sedang jatuh cinta.

Sesederhana menyalakan lilin di tengah-tengah ruang hatinya yang gelap. Adit mengilhami cinta itu dengan cara yang orang lain tak pernah rasakan sebelumnya.

Yah, barang tentu ini bukan kali pertama Adit jatuh cinta. Anak nelayan itu sudah jutaan kali jatuh cinta, sudah berkali-kali memagut bibir dengan wanita, memeluk mereka dengan kehangatan nyata serta cinta yang menggebu-gebu. Namun, cinta yang satu ini berbeda, ada sisi magis yang tak bisa Adit jelaskan dengan kata-kata bahkan ia nalar dengan pikiran-pikiran jeniusnya yang selalu dipuji atasan serta rekan-rekannya.

Adit lalu bertanya-tanya, apakah ini sungguh cinta? Cinta mana mungkin sesederhana ini. Ia selalu disuguhi film-film romantis serta kisah-kisah percintaan yang menunjukkan betapa jatuh cinta adalah sesuatu yang membakar jiwa hingga mampu mendorong seseorang melakukan hal-hal yang mustahil. Cinta di mata Adit adalah gempa bumi; menjungkirbalikan perasaan, membuat seseorang tak bisa berpikir jernih, dan mengganggu ritme kehidupan. Hanya saja, itu bukan pertanda yang Adit rasakan, karena sekarang, Adit hanya merasa…

Hangat.

Tenang dan damai.

Ini mengherankan, Adit bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia merasakan hal seperti ini. Ia percaya, satu-satunya hal yang meninggalkan jejak perasaan seperti ini hanyalah pelukan ibunya yang kini telah tiada; hal itu pun sudah lama sekali terjadi.

Ah, mungkin ini bukan cinta, bisik sisi lain dari diri Adit; skeptis akan perasaannya sendiri. Mungkin ini hanyalah rasa kekaguman semata atau apalah itu. Perasaan ini mungkin saja akan menghilang lebih cepat dari separuh periode bulan purnama, setelah itu ia akan kembali menjadi Adit yang biasanya—dinamis mengikuti ritme kehidupan. Hanya saja, perasaan ini terlalu nyata jika hanya disebut kekaguman semata; terlalu menyeluruh hingga kesumsum tulang jika hanya perasaan yang akan menghilang secepat ia datang. Lalu, jika ini bukan cinta, maka perasaan apa ini?

Ah, sudahlah, Adit pun berhenti bertanya-tanya pun berhenti menduga-duga juga skeptis tentang perasaan ganjil ini. Ia memutuskan untuk menerima kondisi hatinya sekarang dengan kedua tangan terbuka lebar—menikmatinya dengan sepenuh hati di hari-hari panjang juga melelahkannya. Itu lebih mudah dilakukan ketimbang menyusun serentetan alasan untuk menolak perasaan magis itu.

Toh, ia bahagia.

Memangnya apa lagi yang harus ia lakukan selain menikmatinya?

“Jadi, kamu bisa main piano?”

Adit tidak tersentak mau pun kaget dengan suara pongah yang tiba-tiba saja menyela detingan pianonya. Ia justru tersenyum, menarik satu sisi bibirnya ke atas, dan terkekeh di dalam hati karena berhasil memikat perhatian wanita itu.

“Selingan saja. Dari pada keyboard kantor nganggur,” sahut Adit sembari menarikan jemari ke atas keyboard kepunyaan bosnya itu kembali. Lagu yang sama berkumandang dari awal, menyebar ke seluruh  lantai, dan menyusup di antara kubikel-kubikel kosong yang ditinggal makan siang oleh pemiliknya.

“Gak takut dimarahin Papa?” Wajah wanita itu muncul di sudut mata Adit, rambut panjangnya jatuh sempurna di atas bahu; membingkai wajah berbentuk hati itu dengan sempurna.

“Sudah jadi inventaris kantor nih, big boss jarang pakai juga.”

“Emmmh…” wanita itu mengangguk-anggukan kepala, menarik kursi terdekat, dan ikut duduk di sebelah Adit.  “Lagu instrumental siapa nih? Yiruma?”

“Laguku,” jawab  Adit datar. Ia masih tenggelam dengan nada-nada yang ia ciptakan sendiri, hingga mengabaikan mata kenari yang melebar di sampingnya.

“Beneran?” itu pertanyaan yang tak perlu Adit jawab; ia memilih untuk diam dan melanjutkan.

“Keren banget,” komentar wanita itu lagi masih dengan ekspresi yang sama. “Aku gak bisa main piano,” imbuhnya lagi.

“Gak minta dilesin aja sama big boss?” kini giliran Adit yang bertanya.

“Seumur gini? Enggak ah, lagian juga gak minat-minta banget.”

“Emmmh…”

Bukan, bukan karena Adit tidak tahu harus berkomentar apa hingga ia hanya bisa memberi suara gumaman tak jelas seperti itu. Adit hanya ingin menikmati momen ini sejenak; kehangatan dan perasaan damai ketika wanita itu berada dalam jarak pandangnya serta cinta yang magis ini. Yah, hingga detik ini, ia tak pernah meminta lebih dari itu karena momen ini terasa tepat tanpa perlu semesta menjelaskan itu semua.

Untuk beberapa saat hanya lagu instrumental dari tarian tangan Adit yang mengisi suara di antara mereka. Wanita itu pun sepertinya memilih diam. Hingga akhirnya deretan deting terakhir berkumandang dan lagu selesai. Tepuk tangan panjang menyambut Adit dan pria itu pun tersenyum lebih lebar.

“Ih, sumpah ya keren banget,” kata wanita itu lagi, sungguh-sungguh.

“Terima kasih,” balas Adit; ia menoleh dan kini menatap wanita itu lebih jelas.

“Judulnya apa?” Adit suka rasa ingin tahu wanita itu yang tinggi. Mengingatkan Adit akan dirinya kala kecil dulu, yang begitu penasaran apakah ada dunia lain selain laut dan pesisir pantai serta jaring-jaring ikan yang rompol.

Love Glows Like A Lighted Candle,” jawab Adit hikmat, judul lagu itu muncul begitu saja di kepalanya bersamaan dengan selesainya lagu yang ia ciptakan. Mungkin karena tak ada yang bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang lebih dari itu.

Wanita itu mengerjap. “Kok sama persis dengan bayanganku?” Adit mengangkat satu alisnya, meminta wanita itu menjelaskan lebih lanjut pernyataannya. “Iya, tadi pas dengerin lagu itu aku ngebayangin lilin yang nyala, terus rasanya tenang, damai, dan…

“Hangat.”

Adit terkekeh. “Itu juga yang aku rasain.”

“Eh…” Mata wanita itu menyipit, senyum tak lepas dari wajahnya. “Kamu lagi jatuh cinta ya?”

“Iya,” jawab Adit enteng tanpa berpikir dua kali. “Aku lagi jatuh cinta,” tegasnya lagi.

Wanita itu terkesima, matanya berbinar. Adit memandangnya dengan penuh perhatian, bagaimana ekspresi wajah itu berubah-ubah tanpa ada satu raut pun  yang dipaksakan. Kejujuran dan kepolosannya, Adit menyukai itu dengan caranya sendiri.

“Sama siapa?”

“Kamu.”

Adit masih tersenyum; sementara eskpresi wanita itu kembali berubah menjadi lebih kaku dan penuh rasa keterkejutan. Entah di mana isi kepala Adit saat ini, jawaban itu terlontar dengan sendirinya seperti nada-nada yang muncul di kepalanya tiap kali memikirkan wanita itu. Ia tak berniat untuk menutupi perasaannya, jika kesempatan seperti ini datang, pria itu tak akan ragu-ragu untuk mengambilnya.

Beberapa detik berlalu, mereka saling menatap dalam hening yang hanya dapat dimaknai oleh diri mereka masing-masing. Seperti rentetan film lama yang diputar berulang kali, momen pertemuan pertama mereka berkelebat tanpa henti.

Lift kantor yang macet, terjebak dalam perjalanan ke lantai tujuh belas, detik-detik menegangkan, sinyal yang hilang. Adit berusaha tenang agar wanita yang terjebak bersamanya tidak panik. Namun, hal itu sepertinya tak perlu karena wanita itu lebih tegar dari yang Adit sangka. Nadanya yang tenang saat mengungkapkan ide agar mereka bisa terbebas dari ruang sempit itu membuktikannya. Adit kagum, ia heran juga terkesima, ia belum pernah bertemu dengan wanita itu di kantor. Mungkinkah pegawai baru?

Akhirnya, karena tak menemukan ide lain selain menunggu seseorang menyelamatkan mereka,  mengobrol pun menjadi satu-satunya kegiatan yang dapat mereka lakukan. Untuk sesaat Adit berharap lift tersangkut lebih lama dari yang seharusnya karena berbicara dengan wanita itu ternyata begitu menyenangkan. Namun, dua jam kemudian tim mekanis berhasil mengeluarkan mereka dan menuntaskan kisah-kisah luar biasa yang tertukar di bilik itu. Kemudian, satu-satunya hal yang Adit ingat saat semua itu berakhir adalah perasaan hangat yang tertinggal di dadanya, serta langkah jenjang wanita itu ketika setengah berlari memeluk papanya yang menanti dengan cemas di luar,  lalu menangis ketakutan dalam dekapan…

Tunangannya.

“Amanda?”

Sepersekian detik kemudian mereka kembali ke dunia nyata. Rentetan kejadian masa lalu itu buyar seperti kabut di pagi hari. Amanda menoleh ke belakang, mendapati dua orang pria paling ia cintai di dunia ini melangkah menujunya.

“Kamu ngapain ke kantor?”

Wanita bernama Amanda itu berdiri; Adit pun berdiri. Adit mundur sejenak, mengambil jarak aman agar tak ada prasangka yang tercipta.

“Oh, mau ketemu Papa aja,” jawab Amanda spontan.

“Lah, aku enggak?” Pria di samping Papa Amanda menyela, menggoda Amanda dengan ekspresinya.

“Hehe, Mas Rio juga,” imbuh wanita itu sembari merangkul lengan tunangannya.

Bahkan tanpa diminta pun Adit tahu kalau kehadirannya tak dibutuhkan. Perlahan Adit menyingkir, tersenyum dan mengangguk singkat pada kedua atasannya itu lalu kembali ke kubikelnya sendiri. Ia bisa merasakan ekor mata wanita itu mengikuti gerakannya, sorot mata menyesal, dan permohonan maaf. Namun Adit tidak membutuhkan hal itu. Adit tak pernah menyesali tiap detik yang ia habiskan dalam menikmati perasaan hangat dan magis situ.

Meski pada akhirnya nyala lilin itu harus padam dan hatinya kembali gelap untuk waktu yang sangat lama. Adit percaya, suatu hari nanti, akan ada cahaya lilin lain yang datang. Menyinari hatinya dan membuat hidupnya utuh dan penuh.

Ya, suatu hari nanti.

End.

(Picture taken from KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s