[Coretan Dicta] Menjadi Keluarga: Tentang Komunikasi dan Tempat Untuk Pulang

 

Family_quotes_3

Membaca ulang coretan sebelumnya tentang Menjadi Keluarga membuatku amat sangat bersalah dengan diriku sendiri. Ketika aku menulis coretan itu, aku benar-benar kebingungan dengan kondisiku di dalam rumah. Aku tak pernah tahu caranya berperan sebagai keluarga.

Ada banyak prasangka dalam hatiku yang mengatakan bahwa keluarga yang aku miliki sekarang bukan keluarga sesungguhnya. Karena keluarga bagiku adalah tempat untuk tidur dan makan serta mesin ATM. Sesederhana itu. Ya, aku tahu ini kasar, tapi ketika aku memikirkannya lagi, berulang-ulang dan berulang-ulang. Tradisi di dalam keluargaku penuh dengan individualisme yang tinggi hingga akhirnya aku tumbuh menjadi sosok yang hanya memikirkan diri sendiri, kaku, dan canggung. Aku tidak terbiasa menerima tanpa membalas, tidak terbiasa ditolong tanpa balas menolong, tak terbiasa memberi dengan tulus tanpa mengharapkan balasan.

Ah, susah sih menjelaskan perasaanku sekarang ini. Membicarakan hal-hal mengenai keluarga itu terdengar sederhana namun sebenarnya sulit. Ada sisi-sisi kehidupan yang begitu krusial dimulai dari keluarga, nilai-nilai kehidupan yang hanya akan kamu dapat dalam keluarga, dan hanya di dalam keluargamu saja kamu akan menemukan hal yang tak akan kamu dapatkan di luar sana.

Anyway, fyi aja sih, sekarang aku sedang dalam kelas agama, dosenku sedang membahas tentang poligami dan monogami. Memperdebatkan tentang pandangan agama tentang pernikahan tanpa menjelaskan apa esensi dari menikah itu sendiri. Sebenarnya aku menyukai gaya mengajar dosen ini, ia ingin mengajak mahasiswanya untuk lebih bisa bertindak daripada omong doang (karena iman tanpa perbuatan itu sama dengan mati, katanya). Namun bagi diriku sendiri, agama bukanlah hal yang patut untuk diperdebatkan, banyak orang-orang mencari tahu kebenaran tentang agama dan mencari kesalahan-kesalahan serta kebusukan-kebusukan agama yang penuh manipulasi dan lain-lain. Hal-hal seperti inilah yang kadang kala memicu perdebatan tentang agama sayalah yang paling benar dan aku benar-benar membenci pemikiran seperti itu. Kalau boleh jujur, aku selalui menghindari diri sendiri untuk memandang agama lebih dari sekadar rumah.

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Menjadi Keluarga

Tolong aku.

Aku merasa tak bisa bernapas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasan busuk ini. Sekarang aku sedang duduk di kamar kontrakanku, pintu terbuka, dan di luar kamarku ada teman-teman satu rumah kontrakanku yang sedang bercengkrama asyik mengenai dunia mereka. Aku tidak tahu apa yang harus lakukan sekarang. Aku ingin mengerjakan tugasku, tapi perasaan sesak ini lebih menekanku ketimbang deadline tugas-tugas anak kuliahan yang mulai terasa menggila ini.

Aku tak pernah menyangka, tinggal serumah dengan orang lain terasa begitu melelahkan dan penuh tekanan. Kalau boleh jujur, ini bukan pertama kalinya aku tinggal serumah dengan orang lain (bukan keluarga inti). Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini dua kali selama enam tahun hidupku, yang pertama aku jalani saat tinggal bersama keluarga tanteku selama tiga tahun masa SMP dan yang kedua saat aku tinggal serumah dengan eyang putri (bersama keluarga om-ku) selama tiga tahun masa SMA-ku. Dan selama enam tahun pengalaman itu…

Aku tidak belajar apa pun.

Baca lebih lanjut